Death Game

Death Game
Pemimpin pemalas


__ADS_3

Horusca sudah mempersiapkan jalan dengan menyelimuti jembatan memakai tanaman rambatnya agar lebih kuat.


“Lancang sekali. Kalian benar-benar akan pergi di depan pemimpin hydra?”


“Abaikan dia! Duluan saja!” perintah Aza Ergo pada mereka.


“Sepertinya kalian benar-benar meremehkanku,” Hydragel Kers tersenyum remeh.


“Gawat! Kalau tuan Revtel sampai datang kemari!” pekik Rexcel


Tiba-tiba, Reve sudah berada di dekat pemimpin hydra dan menghunuskan pedang padanya. “Kau tak terlihat seperti ingin mengacaukan perjalanan kami.”


“Ya. Karena aku tipe pengganggu. Bagaimana jika kita bersenang-senang dulu?” Kers merentangkan tangan kanannya.


“Jangan dengarkan dia Reve. Dia licik dan tak bisa dipercaya!” cegat Aza Ergo.


“Hei! Kapan aku begitu?”


“Kau selalu begitu!” Aza Ergo menyeringai.


“Sepertinya aku harus menghukum mulutmu dulu Aza.”


“Pembunuh itu, jika kau biarkan kami pergi aku akan memberi tahu siapa dia,” ucap Aza Ergo tiba-tiba.


Orang-orang yang bersamanya menatap kaget pada ucapan Aza Ergo.


“Apa yang kau inginkan?”


Aza Ergo menghampirinya. “Tidak terdengar buruk kan?”


“Aza. Kau tahukan aku bisa saja mengetahuinya hanya dengan menyentuh kepalamu?”


“Aku juga tahu kalau kau cuma pemalas. Lebih baik kembali ke ranjangmu dan biarkan Revtel bekerja.”


“Sayangnya sekarang, aku berniat melakukan pekerjaan dengan benar. Revtel pasti akan memujiku.”


Rasanya, tak ada ketegangan dalam pembicaraan mereka.


“Apa cuma perasaanku kalau tuan Aza agak gugup dengannya?” tanya Riz.


“Tidak. Dia tidak gugup, hanya saja keberadaan tuan Kers bukanlah pertanda baik. Karena jika ia sampai menggunakan kekuatan, itu akan mengundang kedatangan kaumnya. Semua akan memburuk jika tuan Revtel juga ikut datang kemari.”


“Tuan Revtel?”


“Wakil pemimpin hydra. Dia merupakan mimpi buruk,” jelas Horusca.


Riz bergidik. Seorang wakil pemimpin? Tapi kenapa rasanya ketakutan mereka terhadap sosok itu melebihi pada pemimpin hydra sendiri? Riz masih bingung.


“Ayolah tuan Kers. Bukankah kita ini teman?” tiba-tiba Aza Ergo merangkulnya.


“Ho? Karena takut kau bersikap baik padaku?”


“Aku sedang dalam misi penting. Aku tak ingin kekuatan sialanmu mengundang setan itu. Kau pasti tahu apa yang terjadi jika wakilmu datang.”


“Tentu saja dia akan membereskan semuanya.”


“Akulah yang membunuhnya,” ucap Reve.


“Lelucon apa yang sedang kau katakan?” Hydragel Kers menyeringai.


“Aku yang menumbalkan pemburumu di malam nyanyian itu.”


Semua terdiam mendengar pengakuan Reve tiba-tiba. Konflik yang sedang menimpa bangsa hydra disebabkan oleh Reve? Tentu saja itu mengundang rasa tidak percaya.


“Jadi, kau ingin bilang kalau dirimu pemuja terlarang dewa?”


“Aku ingin bilang kalau aku iseng membunuhnya dan membuatnya seperti itu. Ah! Aku juga yang membunuh para pemuja gila di bukit kristal. Jadi, apa yang akan kau lakukan Tuan?”


“Kau menantangku? Tentu saja aku akan membunuhmu.”


Reve tertawa pelan. Tapi, tak ada satu pun pandangan tenang dari orang-orang yang menjadi rekannya.


“Dia, yang membunuh komandan hydra?” Doxia berekspresi tak karuan.


Lain halnya Aza Ergo. Walau masih tak percaya, tapi setelah menghabiskan waktu bersama Reve ia yakin kalau hal itu mungkin terjadi.


“Apa ini Aza? Bagaimana bisa ada pembunuh yang kucari dalam rombonganmu?” seringai Hydragel Kers membalas rangkulan Aza Ergo.


Spontan petinggi Empusa itu merasakan firasat tak enak saat diperlakukan seperti itu.


“Ini tak ada hubungannya dengannya. Jika aku membunuhmu, setidaknya hydra akan kehilangan mahkotanya,” pungkas Reve.  


“Bocah nakal,” Kers membuang anggur di tangannya.


“Hentikan!” cegat Aza Ergo. “Aku tak tahu seperti apa kemampuanmu Reve. Tapi, jika kalian bertarung itu akan mengundang kedatangan Revtel.”


“Kau benar-benar takut padanya,” Kers menyeringai.

__ADS_1


“Aku butuh darah amarilis Kers. Aku butuh mereka,” jelas Aza Ergo.


“Itu bukan urusanku.”


“Aku memerlukan kunci Reygan Cottia.”


Hydragel Kers tersentak, lalu menatap tenang Reve. “Reygan?” ia lalu berjalan mendekati Reve. “Apa kau tahu siapa dia?”


“Dia penjahat terbesar di dunia guide.”


“Kau salah. Dia hanya orang gila.”


Reve menatap bingung padanya. Ekspresinya tak seperti yang dibayangkan. Dirinya mengira kalau pemimpin hydra itu mungkin saja akan emosi mendengarnya mengakui kejahatan dan menyebut nama penjahat itu.


“Apa yang kau harapkan?” Hydragel Kers mencengkeram pipi Reve dengan tangannya. “Kau pikir aku akan marah-marah setelah mendengar pengakuanmu? Apa kau pikir aku bodoh?”


“Apa maksudmu?”


“Kau bukan manusia kan?”


“Apa!” Doxia dan Rexcel bersuara bersamaan.


Reve menatap tajam padanya. “Apa yang kau ocehkan?”


“Bocah. Apa kau pikir aku tak tahu siapa dirimu?” Kers tertawa pelan.


“Lepaskan dia Kers!” Aza Ergo hendak menyentuh lengannya, akan tetapi tiba-tiba pemimpin hydra itu mengangkat tangan agar petinggi empusa tak lagi melangkah maju.


“Kau ...” Kers berbisik padanya.


Reve hanya mencengkeram lengan Kers agar tak lagi menyentuhnya. “Kau benar-benar pemimpin hydra.”


“Terima kasih pujiannya,” Hydragel Kers tersenyum senang.


“Apa yang kalian bicarakan?” Aza Ergo menatap jengkel.


“Pergilah. Aku sudah selesai bermain-main. Semoga kalian tidak mati sampai kita bertemu lagi,” pemimpin hydra itu akhirnya pergi meninggalkan mereka.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Rexcel.


“Ayo kita pergi,” Reve berbalik menyeberangi jembatan akar itu sambil diiringi tatapan dari mereka. 


Di perjalanan tak ada yang saling bicara. Misteri yang masih menyelimuti Reve Nel Keres pun menjadi tanda tanya. Tapi, semua enggan bersuara dan sibuk memikirkan apa yang sebenarnya ia sembunyikan.


“Dari mana saja kau? Air panasmu sudah siap dari tadi!”


“Siapa yang kau temui di lembah Hidir?”


Hydragel Kers tersenyum mendengar perkataan Revtel. “Tak ada satu pun yang luput dari pengawasanmu.”


Pria itu hanya menatap jengkel. “Kenapa ada Aza di sana?”


“Kenapa? Dia hanya ingin menumpang lewat.”


“Kau pikir aku bodoh Kers? Ada energi tak normal bersamanya.”


“Kalau aku memberi tahumu semuanya, bukankah posisiku sebagai pemimpin sangat tak berguna?” pemimpin itu menyodorkan segelas anggur padanya.


“Apa yang akan dikatakan para tetua jika mengetahui hal ini?”


“Apa kau tak kasihan pada Aza? Bagaimanapun dia adik seperguruan kita,” seringai Kers makin melebar. Ia pun meneguk minumannya.


“Ya, aku kasihan. Sampai serasa ingin membunuhnya,” ujar Revtel.


Hydragel Kers pun menyembur tawa. “Sudah kuduga, orang gila sepertinya memang sangat dibenci.”


Di tempat berbeda, di jalan terjal tertutup rumbut dan tanaman lebat berduri, rombongan itu mencari jalan setapak untuk melewatinya. Horusca ada di depan, diiringi Riz, Rexcel, Doxia dan Toz, Osmo, lalu Reve serta Aza Ergo.


“Apa yang dikatakan Kers?” tanya Aza Ergo.  


“Kenapa kau penasaran begitu?”


“Karena kalian mencurigakan.”


“Kau pikir aku pengkhianat?”


“Jadi kau memang membunuh orang-orang itu?”


“Ya.”


“Apa kau tidak berpikir kalau ini akan membuat perpecahan?”


“Tidak semua rahasia harus disebarkan,” sahut Reve.


Aza Ergo berhenti melangkah. “Kau bukan manusia?”


Reve berbalik menatapnya. Tampak guratan senyum terpancar di wajah Aza Ergo. “Berhenti buang-buang waktu.”

__ADS_1


Petinggi empusa itu tersenyum remeh. “Apa kau tahu siapa aku Reve?”


“Apa yang ingin kau katakan?”


“Melihat gelagat Kers, sepertinya aku tahu apa yang ia bicarakan.”


“Sekarang petinggi berubah jadi peramal?” sindir Reve.


“Mm? Kenapa mereka berhenti?” Doxia menyadari kalau dua orang itu tak lagi mengikuti mereka. Mereka terdiam melihat sosok keduanya karena jaraknya lumayan.


Horusca menatap diam keadaan itu. Bagaimanapun, ia bukan tipe orang yang suka terlibat.


“Assandia (petarung) langka, ular, mata biru bercahaya, dan juga aura gelap,” Aza Ergo tertawa pelan. “Kau pendosakan? Pelarian tragedi tanah biru.” Reve Nel Keres terdiam. Tapi sorot mata tajam jelas terukir di wajahnya. “Sekarang aku mengerti, kenapa kau mengincar Reygan Cottia.”


“Kau pikir aku bodoh? Sejak awal melihat kemampuanmu, aku sudah curiga, terlebih tujuanmu itu. Beruntung karena kita bertemu Kers bukan Revtel. Tapi tenang saja, karena bagaimanapun juga kita itu rekan, jadi aku akan membantumu,” lanjut Aza Ergo menyentuh bahunya.


“Kau mengkhianati bangsamu.”


“Kau salah. Merekalah yang mengkhianatiku. Aku tak peduli apa yang akan terjadi, selama tujuanku tercapai.”


“Kau gila.”


“Tidak sekali dua kali aku mendengarnya,” Aza Ergo terkekeh lalu berjalan duluan.


Beberapa jam menempuh perjalanan, mereka pun sampai di pintu masuk berupa gerbang batu di tengah hutan. “Apa ini?”


“Jalan menuju lembah Lagarise.”


“Lembah Lagarise?” Riz menatap bingung.


“Masuk saja, kau akan tahu isi di dalamnya,” tiba-tiba Doxia mendorong Riz.


“Aagh! Apa yang-” ia terdiam. Pemandangan di depan mata sangat berbeda. Ini bukan lagi hutan, melainkan pemukiman warga dengan bangunan dan jalanan terbuat dari kayu namun ditetesi hujan salju yang tak begitu dingin.


“Kita akan cari penginapan di sini,” Aza Ergo berjalan duluan.


Keramaian yang cukup aneh, karena orang-orang di sana cenderung memakai pakaian berwarna merah.


“Ini kawasan bebas. Walau berdekatan dengan wilayah kekuasaan hydra, tapi daerah ini tak masuk ke dalam kekuasaan bangsa mana pun.”


“Kenapa?” tanya Riz pada Horusca.


“Entahlah.”


Karena Aza Ergo sudah pernah mendatangi tempat ini sebelumnya, mereka menjadi mudah menemukan tempat penginapan.


Aza pun memesan satu rumah yang berisi banyak kamar. Sebagai petinggi ia memiliki uang banyak yang terus mengalir.


“Wah! Rumah ini begitu bagus,” ucap Riz. Tiba-tiba ia menoleh pada Toz yang masih digendong Doxia. “Ayo kita baringkan Toz di sini,” ucapnya menunjuk salah satu kamar yang pintunya terbuka.


Doxia mengangguk menyetujui.


“Tempat ini,” gumam Reve tiba-tiba.


“Kenapa?”


“Siapa pemimpinnya?”


“Kenapa kau menanyakan itu?”


“Aku hanya penasaran.”


“Entahlah. Aku juga tidak tahu,” Aza Ergo tertawa pelan. Reve menatap curiga padanya. “Apa? Aku benar-benar tidak tahu. Bahkan jika para pemimpin bangsa yang berkeliaran di sini, ia tetap tidak akan keluar,” ucapnya sambil merebahkan tubuh di sofa. “Lagi pula, apa untungnya kalau kita tahu siapa pemimpinnya?”


“Mungkin saja aku bisa mengetahui tentang kunci-kunci itu.”


“Oh! Ide bagus Nak. Aku suka rencanamu!” Aza Ergo pun bangkit dari tidurnya. Ia lalu melirik ke sekeliling. “Hei bocah!”


“Siapa yang kau panggil?” Rexcel memandang heran.


“Bocah pelindung! Ayo ikut aku!”


“Aku?” Riz menunjuk dirinya sendiri.


“Ya. Ayo kita pergi. Kau juga,” lirihnya pada Reve.


“Memang kalian mau pergi ke mana?” tanya Horusca.


“Tentu saja mencari siapa pemimpin di sini.”


“Kenapa harus kalian yang pergi?” tanya Doxia.


“Karena aku tahu jalan. Jika aku mengajak salah satu dari kalian, bisa kupastikan kita takkan akur mengingat kepribadian masing-masing,” ledeknya.


“Kepribadianmu yang bermasalah,” oceh Doxia.


“Baiklah! Ayo kita pergi pelindung! Reve!”      

__ADS_1


 


__ADS_2