
Tapi tiba-tiba, tangan Kers yang bebas memegang kepala Medusa dan mengeluarkan asap hitam.
“Ayolah, bukankah sudah kubilang kita melakukan gencatan senjata?”
Perseus pun tersenyum. “Gencatan senjata? Apa seorang Termulia pantas mengucapkan itu?”
“Aku Raja hydra.”
Tiba-tiba, Perseus mengeluarkan pedang Athena dan menebas Kers. Tapi, walau lehernya tersayat, goresannya hanya memamerkan pancaran energi hitam.
“Termulia memang beda ya,” sosok berkepala plontos itu pun menarik kepala Medusa. Seketika diperhatikannya penampakan wajah itu dari samping, di mana berwujud keriput akibat ulah Kers. “Jadi tak berguna ya,” ia pun langsung membuangnya.
“Wah, kau membuang peninggalan sejarah. Bukankah dia juga rekanmu?” kekeh Kers melihatnya.
Perseus tidak menanggapinya. Kecuali menatap lekat sang Raja dan beralih ke arah Laravell yang masih berteriak keras.
“Bunuh anak itu, sebagai gantinya, kupastikan Helga takkan membunuh kalian para Dewa,” perintahnya pada Kers tiba-tiba.
Semua yang mendengar mengerutkan dahi akan ucapannya. Merasa tak percaya kalau dia baru saja memberikan tawaran gila.
“Kau,” ucap Ares sambil menatap lewat sudut mata. “Apa kau baru saja mengancam kami?”
Perseus pun tersenyum dan menoleh ke arahnya. “Tawaran dariku, kalau kalian ingin terbebas dari hukuman yang tersisa.”
Tiga Dewa itu tidak menjawab, kecuali bising di sekitar disebabkan oleh pekikan Megalodon juga Laravell yang berkumandang. Sepertinya, butuh waktu lama bagi Kers, Lascarzio dan Blerda memindahkan rohnya.
Ares pun tiba-tiba merebahkan tubuhnya. Entah awan dari mana langsung muncul untuk menjadi ranjangnya. Dia tiba-tiba berubah di hadapan mereka dan menjadi ular seperti biasa.
“Lho! Bukannya itu Near?!” pekik Toz dari kejauhan.
Tapi tatapan aneh diperlihatkan Lascarzio juga Perseus saat melihat wujud baru Ares.
“Aku sudah menduga kalau ular aneh itu makhluk tingkat tinggi tadinya. Tapi, tak kusangka jelmaan haus darah yang gila akan menyedihkan seperti ini. Kesalahanmu pantas membuatmu menjadi salah satu dari kami,” lirih Perseus dengan santainya.
Tapi Near, tidak Ares, dia malah melingkari tubuh seperti ingin bermalas-malasan.
“Tutup mulutmu. Kicauanmu takkan mempengaruhiku. Aku sudah nyaman tidur-tiduran seperti ini. Terserah dengan kegilaanmu, aku tak peduli,” awan yang menjadi alasnya pun bergerak mengudara menuju Reve yang masih meringkuk menatapnya.
Lewat dengan santainya, seolah tak peduli jika Reygan Cottia menatap tajam ke arahnya. Parahnya lagi, ia juga menguap di hadapan sang penyimpang yang mencengkeram erat pedangnya.
__ADS_1
“Sampah tak berguna,” sindir Lascarzio tiba-tiba.
“Aku mengerti,” Kers menyela mereka. “Jika anak ini dibunuh, apa kita tidak perlu bertarung lagi?” tanyanya pada Perseus yang menatapnya.
“Ya, tentu saja.”
“Kalau begitu jawab satu hal, wahai Perseus. Jika kau tidak melawan kami, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”
Butuh sejenak waktu bagi sosok itu untuk menjawabnya. Tiba-tiba ia malah berbagi pandangan dengan Reygan Cottia.
“Kami akan menyambut kebangkitan Helga, dan menyerang kayangan.” Jawabannya membuat Lascarzio menyipitkan mata. Berbeda dengan Kers yang tidak berubah ekspresinya. “Aku tahu tentang pengkhianatan kalian bertiga. Walau tak menyangka akan dihukum menjadi seperti ini. Aku juga tahu tentang perjanjian para Dewa, di mana kalian tak bisa menyentuh kami seenak hati. Kau sedang diasingkan. Jika kau melakukannya, membunuh salah satu dari kami lagi, menurutmu hukuman apa yang akan kau dapatkan?” tekannya.
Kers pun memiringkan wajah. Diliriknya rupa Aza, di mana setengah lagi milik Laravell yang tak begitu akrab dengannya. Entah apa yang terjadi namun butuh beberapa detik baginya untuk berbicara.
“Aku mengenal Helga, juga cintanya pada Titan,” sahutnya tiba-tiba.
“Jadi ingatanmu benar-benar kembali ya,” kekeh Perseus menanggapi. “Jika para Dewa itu tahu, menurutmu apa yang akan terjadi?”
Tatapan Kers berubah dan terasa dingin di pandangan. Perseus terdiam karena ketenangannya serasa dihujam.
“Menurutmu apa yang akan terjadi? Aku berdarah dengan Titan,” ucapannya berhasil mengusik perhatian siapa pun juga.
Kers melepaskan sentuhannya pada kepala Laravell begitu saja. Sehingga sang pemuda langsung tumbang dan buru-buru ditangkap Blerda. Dia agak tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan rekannya.
“Kers, tugasmu masih belum selesai,” ucapnya namun terabaikan.
“Ares,” panggil Kers. “Urus roh itu. Karena sepertinya, ada yang harus aku beri hukuman,” Raja hydra pun beranjak dari posisinya. Tentu saja mengganggu ular yang sedang tiduran. Fisiknya langsung berasap dan berubah menjadi seperti manusia.
“Benar sudah kembali ya, ingatanmu itu,” sang Dewa bergumam.
Tampaknya, putra Zeus baru saja melakukan kesalahan. Di mana dia mengusik Sang Termulia yang seharusnya masih tak beranjak dari penjara.
Sontak saja ia langsung mundur seirama langkah Kers padanya.
“Kenapa kau menjauh? Itu tidak sopan, Perseus.”
Merinding.
Siapa pun juga merasakan hal serupa. Sekarang Ares yang menggantikannya memindahkan roh Laravell ke tubuh Megalodon. Mengingat itu mantra terlarang, para Dewa bisa melakukannya. Tapi tak ada yang seahli Apophis ataupun Susanoo.
__ADS_1
Reygan pun menatap tajam ke arah Kers yang terus berjalan. Dia seperti akan bersiap-siap, tapi Raja hydra malah menoleh padanya.
“Ingin dihukum juga? Kemarilah penyimpang. Sepertinya, akan menyenangkan jika aku yang turun tangan.”
Selesai mengatakan itu, aliran energi hitam merembes dari lengan kanan Kers. Bahkan telapak kakinya juga serupa, sehingga setiap pijakan meninggalkan jejak di tanah.
Di mana permukaannya seperti di makan sesuatu dan tanaman mendadak layu juga menguap.
“Aku akan mulai darimu,” dan dalam sekali ayunan tangan, serangan kasat mata terhantam ke arah Perseus. Spontan ia gunakan pedang Athena untuk menahan, tapi sayang senjata itu berkorosi dan hancur seperti serpihan.
“Ini—”
“Aku, Apophis. Aku Termulia, bahkan Zeus bukanlah tandinganku. Secuil darahnya di tubuhmu seperti duri di kakiku. Tidakkah kau terlalu arogan? Putra Dewa. Jangan lupa kalau ulahku lah yang membuat ayahmu bisa memimpin kayangan sana,” Kers menekannya.
Bahkan jika ia tetap melangkah maju, Perseus terus-terusan mundur. Sepertinya ini memang bencana jika Apophis lagi-lagi serius melanggar perjanjian para Dewa.
Di mana mereka, diberi ultimatum oleh Titan kalau siapa pun makhluk kayangan tidak bisa mengusik para pembawa darah Helga. Itulah bentuk penghargaan padanya, karena wanita itu begitu mencintai dan menghormati Titan.
“Sudah kuputuskan. Aku akan memotong tanganmu, dan menggantungnya di depan mata Helga,” seringainya.
Tapi, kemunculan Reygan juga Kuyang cukup menegangkan suasana. Di mana keduanya, sama-sama mengarahkan senjata yang ditahan Kers dengan mudahnya. Geraman pun terasa dari penyimpang yang merasa tidak berdaya.
“Perseus! Suarnya!” teriak Kuyang.
Secepat kilat sosok itu menembakkan kilatan cahaya ke langit sana. Seperti membentuk lingkaran mantra, dan Kers tahu apa artinya.
“Pemanggilan? Aku penasaran dia bereinkarnasi jadi siapa.”
“Agh!” pekikan Kuyang menyentak keadaan.
“Kuyang!” teriak Reygan. Dirinya langsung menghunuskan pedang ke wajah Kers.
“Jangan serang mukaku, ini lukisan bersejarah bangsa hydra,” kekehnya. Terlebih tangannya berhasil mencengkeram leher Kuyang secara tiba-tiba. Dan energi hitam di tangannya, mulai merambat pelan agar kulit perempuan yang meronta keriput wujudnya.
Tapi sekejap mata, tangan Kers yang berulah langsung putus begitu saja.
Karena siapa sangka kalau Perseus berhasil memotongnya dengan pedang Athena yang kembali beregenerasi di tangannya.
__ADS_1