Death Game

Death Game
Diary Kuyang


__ADS_3

Sekarang, langkah Kuyang tiba di sebuah kolam berair darah. Permukaannya dipenuhi mayat-mayat tanpa kepala.


“Ayo,” lirihnya tiba-tiba. Dan serigala itu menunduk seolah bersujud kepadanya. Kuyang menaikinya sehingga mereka pun melewati kolam tersebut walau harus menginjak mayat-mayat di perairan sana.


Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di sebuah goa. Banyak kristal biru hijau di dalamnya. Memancarkan pesona yang indah namun juga mendinginkan tulang. Semakin dilewati terang di ujung sana hampir di gapai Kuyang.


Dan akhirnya sosoknya tiba di depan sebuah altar raksasa. Lebih mirip aula sebenarnya, namun tangga-tangga penaikan dikelilingi api. Hamparan serupa taman lily lah yang ada di atas pelataran itu.


“Sepertinya sudah sampai,” lirihnya lalu menoleh ke sekelilingnya. “Ayo,” selesai mengatakan itu, serigala tersebut langsung memuntahkan sebuah peti.


Penuh ukiran di atas penutupnya, namun di dominasi tulisan kuno. Dan Kuyang tak tahu bagaimana cara membacanya.


“Kau benar-benar berutang budi padaku, Reygan. Apa kau tahu? Aku sampai bersusah payah mencuri makam ini. Bertahun-tahun aku kehilangan kekuatan hanya untuk mendapatkannya, dan kau benar-benar harus membayarku setelah semua.”


Tangannya pun perlahan menyentuh penutup makam.


“Ayo. Encanteri prohibit, calsea bloodeya, abteriov roomara ensa levarian! (Mantra terlarang, pemanggilan berdarah, terbukalah ruang yang bernyawa!)”


Seketika peti itu pun bergetar hebat. Sinar hijau mulai terpancar di sana, bersamaan dengannya penampakan serupa juga muncul di tangan sosok-sosok yang tidak disangka.


“A-apa-apaan ini?!” pekik Raguel Exon Vortha. Tentunya telapak tangan kanannya yang bercahaya menimbulkan kaget para penontonnya.


“Raguel!” kaget Revtel melihatnya.


“Ini,” syok Dokter Cley saat melihat sinar hijau di tangannya. “Mungkinkah—” dan sosok-sosok yang sedang bersamanya pun menyernyitkan wajah bingung menyaksikannya.


“Bohong, ini tidak mungkin!” Izanami Forseti gemetaran melihat kondisinya. Dia yang berada di Lagarise bersama rekan-rekannya pun menatap tak percaya pada kilau terang di tangan kanannya. 


“Zeus Vortha,” gumam Bragi Elgo di rumah peristirahatannya. Matanya menatap lekat sinar menyala yang muncul di telapak tangannya.


Sementara Barca Asera serta Noa Krucoa, rahangnya sama-sama menegang saat menyaksikan kejadian yang menimpa mereka di kediaman masing-masingnya.


“Yang Mulia! Cahaya apa itu?! Aku melihatnya dari jendela kamar anda. Karena itu—” ucapan Serpens terpotong saat mendapati sinar hijau terang muncul dari balik gorden yang melindungi ranjang sang Raja gyges.


“Sepertinya ada yang bermain api,” gumam Aegayon Cottia. Dirinya tak lagi tidur seperti sebelumnya. Posisinya sekarang terduduk dengan fokus ke arah telapak tangan.


“Aku yakin ada yang tidak beres,” ucap Aza melihat ke arah jendela. “Ayo kita kembali!” ajaknya.


“Tunggu! Apa ini?!” kalimat Reve berhasil menghentikan langkahnya. Di saat sosok itu masih berusaha mencari ularnya, ia menemukan kain aneh di sela-sela rak buku yang tadi diporak-porandakan Aza. Diambilnya dan diperiksanya.


“Sepertinya baju bangsawan.”

__ADS_1


“Lihat lambangnya.”


Sang petinggi muda pun menyipitkan matanya. “Ini lambang bangsa dracula. Abaikan saja, kita harus kemba—” Aza terdiam karena merasakan hembusan angin yang tak biasa. Terlebih dihiasi aroma anyir dari sela-sela ruang kosong di mana kain tadi terselip sebelumnya.


Ditatap lekatnya jejak di mana benda itu berada. Dan lagi-lagi hembusan angin serta bau busuk memang terpancar dari sana.


“Mundur!” perintahnya pada Reve Nel Keres. Spontan saja ekor magmanya muncul dan menghancurkan rak itu beserta buku-bukunya.


Tentunya sang penontong agak kaget melihat ulahnya, tapi apa yang mereka dapatkan cukup luar biasa. Sebuah pintu, namun ada jejak cakaran dipermukaannya. Dan sang petinggi lagi-lagi mendobraknya dengan brutalnya.


Seketika syok menerpa mereka. Tepat di depan mata, banyak mayat yang gantung diri di sana. Dada orang-orang itu kosong sepenuhnya. Pertanda kalau jantungnya sudah dikeluarkan dari tubuhnya.


Reve masih tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya. Sementara Aza, beralih menuju sebuah meja. Ada tiga buku di depan mata, dua kosong dan satu berisi dengan tulisan galaunya.


Tampaknya buku itu diary milik seseorang.


“Tulisan apa ini? Aku tidak bisa membacanya,” gumam Reve ikut melihatnya.


“Aku tak tahu apa yang salah,” ucap Aza tiba-tiba.


“Apa yang kau ocehkan?” bingung Reve melihatnya.


“Isi bukunya.”


“Aku tak tahu. Mungkin karena ingatan ibuku.” Reve pun mengangguk dan memakluminya. Aza pun melanjutkan membaca buku yang dipegangnya. “Air matanya sangat menakutiku. Kami mencintainya, dan juga mengaguminya. Seharusnya dia menjadi permaisuri para Titan. Tapi Dewa-Dewa sialan yang memimpikan kursi Termulia itu mengganggu impiannya. Sampai perang itu pecah dan kami dikirim ke penjara.”


“Mengerikan. Aku tak bisa melupakan siksaan yang ada di sana. Aku merasa hidup tapi juga mati. Seperti hampa, dan rindu pada semua juga mendera. Terlebih kasih sayangku untuk Yang Mulia Helga Nevaeh. Kami mencintainya, para pengikut Hadesia sangat mengaguminya. Apa pun ucapannya akan kami turuti sepenuh hati, bahkan jika harus mati, seperti itulah keindahan yang dimilikinya sehingga membutakan kami.”


“Percayalah padaku, Yang Mulia Helga. Impian kita untuk membebaskan para Titan pasti akan terlaksana. Dewa-Dewa keparat itu akan berlutut pada kita karena sudah menyombongkan kekuasaannya.”


“Aku sebagai pengikut setiamu, berjanji akan membebaskan dirimu. Apa pun yang terjadi kamu harus menunggu kami.”


“Sayang untukmu, Yang Mulia Helga.”


Aza pun membalik kertas selanjutnya. Dan di depan mata dua pemuda itu tampak gambaran aneh seperti sosok yang dipaku pada pohon. Keduanya saling menatap lalu fokus lagi ke isi kertas selanjutnya.


“Aku tak tahu sudah berapa lama aku terkurung di sini. Walau bisa bergerak, tapi rantai yang menghujam ke jantungku begitu sakit. Lihatlah, mereka memberi banyak mayat untuk makanku selama ini. Tapi sayang, kulitnya kusulap untuk menjadi buku diary. Sepertinya aku harus berterima kasih pada Orfeus karena sudah mengajarkan ini.”


Lagi, balikan kertas selanjutnya berisi gambar aneh. Sekarang sesosok wanita yang memakan anak kecil dengan rakusnya. Harus diakui kalau gambar itu begitu luar biasa. Mungkin sang pengukir punya seni tinggi dalam menyalurkan daya khayalnya untuk dipertontonkan lewat bukunya.


“Kudengar, tiga Dewa sudah dihukum oleh mereka. Dua Dewa berpangkat tinggi dan seorang Termulia. Siapa lagi kalau bukan Apophis. Aku yakin dia pasti menyesal mengkhianati para Titan, karena sekarang Dewa-Dewa sialan itu menusuknya. Aku tak terlalu menyukainya tapi juga tidak membencinya. Andai kutahu di mana dia, akan kupakai Apophis untuk membunuh mereka semua. Bukankah itu ide yang bagus? Mengingat kemampuannya adalah kegelapan yang melahap segalanya.”

__ADS_1


“Aku juga harus menemui kedua Dewa itu. Tapi siapa mereka? Aku tak tahu. Aku hanya tahu yang satu tukang tidur dan satu lagi pemalas luar biasa. Kalau ketiganya dihukum karena pengkhianatan mereka, seperti apa siksaan yang diterimanya ya?”


“Dipasung kah? Atau disalib. Tidak mungkin eksekusi mengingat mereka tidak bisa mati. Ah, jika para Dewa saling membunuh bukankah itu lebih baik? Aku memang harus mencari ketiganya. Mulai dari mana? Rantai ini masih mengikatku. Aku harus melepaskan diri dari sini.”


Dan gambar selanjutnya benar-benar membuat kedua pemuda itu terdiam. Sesosok gadis cantik sambil memeluk sekuntuk bunga. Rambutnya panjang, dan ada tanduk di kepala. Juga makhluk aneh di belakang punggungnya.


Aza cepat-cepat membalik lembaran selanjutnya untuk dibacakan.


“Lagi, mereka datang membawa mayat. Bernyanyi sebagai sosok paling suci, nyatanya orang-orang itu memakai para penyembah sebagai makananku. Siapa yang lebih keji? Para Dewa atau kita sang penyimpang? Aku selalu bertanya-tanya tentang itu.”


“Setelah berpikir panjang, aku sekarang mengerti. Kenapa Yang Termulia itu mengkhianati semuanya. Para Titan, begitu bijaksana dan bertahta tinggi, sementara dia cukup murah hati. Berlawanan dengan dunia kayangan. Andai Apophis itu ada di sini, bukankah dia bisa saja membebaskanku?”


“Bahkan sosoknya rela memberikan ambrosia yang tak sepantasnya untuk kami. Kasih sayangnya terlalu berlebihan pada pemuja, tapi itulah kelemahannya. Dia akrab dengan orang-orang dari kasta di bawah kakinya. Aku tak suka aturan dunia kayangan yang membedakan kita. Walau nyatanya kami sangat menghormati keputusanmu, Yang Mulia Helga.”  


“Kenapa kau berhenti?” sela Reve karena masih penasaran dengan bacaan lanjutannya.


“Bukankah kita terlalu lama di sini?”


“Biarkan saja. Bacakan kalimat selanjutnya,” desak Reve kepadanya.


Mau tidak mau sang petinggi muda membalik halamannya. Tapi tak ada gambar di sana. Di berapa lembar kosong tak berisi. Sampai akhirnya hanya di bagian penghabisan yang ada tulisannya.


“Keparat! Brengsek! Makhluk-makhluk terkutuk! Aku bersumpah, akan kubunuh mereka semua! Akan kumakan mereka, kujadikan jiwanya sebagai kunci kebebasan rekan-rekanku di dunia. Lihat saja, kalian akan menerima bayarannya! Makhluk kayangan! Tiga belas bangsa! Kalian akan karam di tangan kami para penyimpang dari Hadesia!”


Seketika Aza dan Reve saling melirik bingung karena tulisan yang tercantum di diary itu.


“Dan kau keparat terkutuk! Pengkhianatanmu akan dibayar oleh semuanya! Gara-gara kau kami hancur! Dan gara-gara kau juga kami terkurung selamanya. Lihat saja, sebentar lagi aku akan bebas! Dan akan kumakan seluruh guider di dunia sebagai pembalasan karena kalian sudah menghancurkan keluargaku seutuhnya!”


“Aku Kuyang, dengan scodeaz (pengendali) terkutukku akan menyiksa kalian semua!”


Selesai membacakan itu, Aza pun menutup buku. Diberikannya pada Reve sehingga pemuda itu menerimanya dan kembali membalik-balik isinya.


“Aneh,” gumamnya tiba-tiba.


“Apanya?”


“Sepertinya permasalah yang menimpa sang pemilik buku cukup buruk.”


“Bukan urusanku,” jawab Aza dengan santainya. Matanya pun tertuju pada sebuah pedang aneh yang ada di sudut pintu. “Apa mungkin ini senjatanya?” bingungnya. Tapi begitu menyentuhnya, sensasi tak biasa merasuk ke dalam jiwa.


Entah apa yang terjadi, pandangan Aza Ergo pun menggelap seutuhnya.  

__ADS_1


 


 


__ADS_2