
“Masuk.”
Selesai Dokter Cley mengatakan itu, dalam satu kedipan saja semua kembali seperti semula. Tentunya mengejutkan bocah magma.
Karena hutan telah tiada, aroma lily telah sirna, sakit di fisiknya tak lagi merona, semua normal apa adanya.
“Mau apa kau ke sini, Nak?”
Pertanyaan sang Dokter ditatap heran oleh Ragraph Revos.
“Aza Ergo? Sedang apa kamu di sini?” cecarnya sambil berjalan mendekat.
Sosok petinggi muda itu hanya tersenyum. “Aku pergi,” ucapnya tiba-tiba dan berlalu dari sana.
“Dia—”
“Ada apa?” Dokter Cley merangkulnya.
Tangan Ragraph terangkat dan menampilkan sebuah botol bening kecil berisi cairan berwarna merah.
“Darah siapa?”
“Kau lupa? Tentu saja Masamune.”
Seketika senyum aneh pun berkobar di bibir sang Dokter. “Benarkah? Bukankah mereka sudah mati?”
“Lalu kalau mereka mati terus apa? Keturunan lainnya kan masih ada. Ini darah Kagura Masamune. Jadi jangan memaksaku untuk mengambilnya lagi. Kalau kakakku tahu, bisa-bisa dia mengirimku ke penjara gara-garamu. Ingat itu.”
Dan adik dari Trempusa pun pergi meninggalkannya. Membuat rekannya melebarkan seringai tipis di sana.
Entah eksperimen seperti apa yang ingin dilakukannya. Tapi, ekspresinya memang mencurigakan sebenarnya.
Di satu sisi, Kers sedang tertawa riang bersama Xavier. Tentunya mengundang tatapan jengah Revtel yang menyaksikannya. Ia tidak tahan lagi berada di sana, tanpa aba-aba berlalu meninggalkan mereka.
“Si Pangeran kenapa berubah drastis? Padahal sebelumnya dia sangat cengeng.”
“Bukankah Aza Ergo juga berubah drastis?” Kers terkekeh menimpalinya.
“Ah, si Azkandia penipu. Aku tak menyangka saudara-saudara kita akan berubah kepribadiannya.”
Sang Raja hydra tertawa pelan. Tapi ekspresi santai Xavier Lucifero seketika berubah dan membuatnya mengernyitkan wajah bingung.
“Ada apa?” tanggap Kers saat melihatnya. Tapi tangannya masih sempat-sempatnya meraih anggur di atas meja.
“Apa kau tahu apa saja yang sudah dilakukan Blerda?”
“Mengumpani cerberus?”
“Mencari para penyimpang.”
Sang Raja ular pun memiringkan wajahnya. “Penyimpang? Kau tahu dari mana?”
__ADS_1
“Dari orang suruhannya. Dia sudah gila,” Xavier menjeda ucapannya. Tampaknya ia benar-benar ragu mengatakan sambungannya.
“Apa? Katakan saja.”
“Dialah yang membunuh ayahnya.”
Kers pun terdiam sejenak. Mengedarkan pandangan sekilas entah apa maknanya. “Lalu? Apa hubungannya para penyimpang dengan kematian ayahnya?”
“Ini rahasia. Tapi apa kau tahu kalau leluhurnya merupakan otak dari penyerangan terhadap bangsa elf?”
“Tidak.”
“Ayah dan kakeknya merupakan salah satu pengikut aliran sekte Hadesia.”
Sekarang, Kers pun menaruh anggurnya. “Kalimatmu terlalu berbelit-belit, Xavier. Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?”
Akhirnya, sosok itu menghela napas pelan karenanya. “Dia mencurigakan.” Kers tidak menjawabnya. “Aku tak pernah mengatakan apa-apa karena kita rekan seperguruan. Tapi, bagaimana bisa dia tahu masa laluku dan juga lainnya? Tentang kita yang dikhianati bangsa masing-masing.”
“Sirena keturunan Orfeus sang penyair legenda. Jika aku tidak salah, selain elf dan bangsa naga, siren merupakan bangsa dengan sumber informasi luar biasa.” Tapi Xavier malah menyipitkan matanya. “Dia memang aneh, tapi entah kenapa aku mempercayainya. Walau insiden cerberus memang tak disangka-sangka merupakan rencananya, namun tindakannya lagi-lagi berhasil mengukuhkan posisi kita. Jangan lupa dia sangat berjasa untuk semuanya,” sahut Kers kepadanya.
“Apa mungkin kamu menyukainya?”
Kers yang mendengar omong kosong Xavier pun langsung menatap masam. “Apa maksudmu? Dia sudah seperti adik bagiku.”
Namun justru sebuah senyuman yang terukir di bibir sang petinggi liar bangsa empusa.
“Semoga dia tidak menusuk kita dari belakang,” ucap Xavier lalu bangkit dari duduknya. “Aku istirahat dulu,” pamitnya.
Setelah kepergian sosok itu, Kers pun menyandarkan tubuhnya dalam posisi menyamping. Dengan satu tangan yang tertahan pada punggung sofa lalu menopang wajahnya
“Cih, apa yang sebenarnya kau rencanakan? Blerda,” gumam Kers jadinya.
Tapi memang tak ada satu pun yang tahu apa keinginan Ratu siren itu sebenarnya. Terlebih saat Aza Ergo membuka mata dari tidurnya, sosoknya dihantui siluet aneh di sofa.
Kamarnya yang lumayan gelap membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Perlahan ia bangkit dengan mata sayu ke arah pengusiknya.
“Siapa?”
Perlahan namun pasti, tamu asing itu berjalan menuju perapian. Menyalakannya sebagai bantuan penerangan. Aza semakin menyipitkan mata setelah menyadari siapa di sana.
“Kenapa kau di sini? Blerda.”
Gadis itu pun mengukir senyum tipis di bibirnya. Berjalan mendekati ranjang Aza. Tentunya sang petinggi tak memperlihatkan sikap ramah tamah kepadanya.
“Bukankah kau terlalu lancang memasuki kamarku?” lanjut pengendali magma itu.
Tapi bukannya menjawab pertanyaan, Sang Ratu justru mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.
Sebuah pisau berkarat di tangannya, namun dihiasi kristal putih di gagangnya. Membuat adik seperguruannya jengah menatapnya.
“Mau membunuhku?”
__ADS_1
Tiba-tiba Blerda melempar pisau itu dan tertancap di ranjang. Posisinya tepat dekat tangan kanan Aza Ergo. “Ambil itu.”
“Untuk apa?”
“Pisau Orfeus sang penyair.”
“Untuk apa?” ulang sang petinggi empusa.
“Helga Nevaeh.”
Mendengar nama itu Aza pun mengernyitkan wajah bingung. “Helga?”
“Pimpinan para penyimpang dan pelopor sekte Hadesia.”
Tak habis pikir, lagi-lagi ia harus mendengar nama pelatihan yang menyebalkan itu. Membuatnya jengah sebab teringat akan kematian kakaknya.
“Lalu kenapa diberikan padaku?”
“Kau, akan membuka penjara Reygan bukan?”
Sekarang sang petinggi justru beranjak dari ranjangnya. Menghampiri Blerda Sirena yang berpenampilan serba hitam di depan mata. Ada hiasan bunga baby breath di rambut gadis itu, mempercantik penampilannya sehingga lebih tepat disebut Tuan putri dari pada seorang Ratu.
Akhirnya keduanya saling berhadapan dengan jarak tiga puluh cm memisahkan mereka. Ditatap lekat Aza rupa itu, memang indah namun sangat mengganggunya.
“Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Blerda.”
Tampaknya butuh sejenak waktu bagi gadis itu untuk mengatakannya. Dirinya memilih menoleh hendak pergi meninggalkan adik seperguruannya. Tapi ia tertahan karena Aza memegang lengannya.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Blerda.”
Lagi-lagi pengendali magma itu memberikan pertanyaan. Tapi sekarang tak menekan seperti sebelumnya.
“Aku ingin semua yang mengganggu rencanaku mati dan energinya tersimpan dalam pisau itu.”
Aza agak terkejut. Namun ia kembali menormalkan ekspresinya. Perlahan sentuhan di lengan Blerda dilepaskannya.
“Apa rencanamu?”
Senyum hangat terpancar di bibir Sang Ratu. Aza bergeming, rasanya aneh. Karena Blerda Sirena agak menakutkan jika bersikap seperti itu.
“Bukan saatnya bagimu untuk tahu saudaraku.”
Sontak saja pengendali magma itu memiringkan kepalanya. Jujur ia tak suka mendengar pernyataan gadis di depannya, seolah sengaja membuat penasaran dan benar-benar ingin memanfaatkannya.
“Dan kau menyuruhku membawa pisau itu tanpa mengatakan rencanamu? Apa kau gila?”
Tapi tiba-tiba Blerda Sirena menyentuh pipi Aza tanpa aba-aba. Mengusap lembut seolah ingin menggoda. Namun tampangnya menyiratkan tekanan yang luar biasa. Seakan ingin merobek sang adik seperguruan dan memakannya.
“Dengar Aza. Sebentar lagi perang besar akan dimulai. Pisau itu akan menjadi jaminan kita, dalam memenangkan pertarungan melawan kaum penyimpang dan juga makhluk kayangan. Jadi lakukan tugasmu dengan benar. Kita saudara seperjanjian bukan? Adikku.”
__ADS_1