
“Ya. Kau pergilah Revtel. Biar aku yang tetap di sini.”
“Begitu?”
“Mm. Pergilah.”
Dan sesuai perintahnya, Revtel benar-benar meninggalkannya mengikuti jejak para saudara seperjanjian.
“Reygan Cottia. Aku penasaran apa kau benar-benar hidup kali ini,” gumam Kers sambil memamerkan senyuman tipis di bibirnya.
Sementara pertarungan gila yang dimainkan Reygan Cottia serta putranya sungguh membuat Kuyang terpukau jadinya.
Bagaimana tidak, sekarang keduanya bertarung dalam jarak dekat dengan masing-masing pedang di tangan. Bahkan jika ukuran tubuh mereka sangat mencolok, tapi Aegayon tampak mampu mengimbanginya.
Pedang hitam di tangan menghempaskan serangan kasar saat beradu dengan pedang putih sang penyimpang.
“Luar biasa, kau memang pantas menjadi Raja,” puji Reygan saat putranya berhasil mengenai helaian rambutnya. Walaupun sebenarnya dirinya juga menggores ujung lengan pakaian pimpinan bangsa Raksasa.
“Terima kasih. Tapi sayangnya, seranganku sulit untuk membunuhmu.”
“Kau berhati dingin, Aegayon,” sekarang pedang mereka saling beradu sehingga keduanya dipaksa mundur beberapa langkah akibat tekanan yang dirasa. “Tak adakah kasih sayang untuk ayahmu?”
Sang Raja bangsa gyges pun memutar pedangnya. “Kasih sayang? Apa itu masih pantas untuk sosok keji seperti dirimu?”
“Aku memaklumi kebodohanmu. Karena kau tak tahu betapa mulianya rencana itu.”
Tawa pelan tersembur dari bibir sang Raja. Walaupun wajahnya masih tak terlihat jelas di mata. “Mulia? Kau mengenyahkan satu bangsa seolah tak ada artinya. Kau bantai keluarga muridmu dengan arogannya. Kau hancurkan keseimbangan dunia, dan kau nodai gyges bersama ideologi sektemu yang gila. Benar-benar rencana yang luar biasa. Sampai kupikir kau harusnya mati dari pada di penjara.”
“Dasar anak tidak tahu diri,” Reygan pun mengarahkan pedangnya ke atas.
“Hujan petir kah?”
Aegayon tampak bersiap pada serangan brutal ayahnya. Sekilas ia menoleh ke arah perisai emas bangsanya. Di mana para rakyat berlindung di area sana.
“Apa kau pikir kau masih punya waktu untuk mengkhawatirkan yang lain?” geram Reygan Cottia. “Abteriov senka Porta, lightning of judgment (Terbukalah gerbang bayangan, petir penghakiman)”
Tapi sekarang hujan petir takkan melanda seluruh daratan dunia Guide. Melainkan hanya difokuskan pada bangsa gyges.
Begitu brutal serangannya, walau Reygan cukup kaget saat mendapati perisai emas muncul tiba-tiba bersamaan dengan petir hantamannya. Kawasan itu ditutupi kemampuan para tanzkeas (pelindung) selain perlindungan terhadap rakyatnya.
“Sepertinya, kau memiliki bawahan yang luar biasa. Tapi, apa kau pikir itu bisa menghentikan petirku?”
Dan seperti perkataan pria itu, hujan petir selanjutnya sontak saja memecahkan perisai emas tersebut. Sang Raja pun menggeram lalu langsung melancarkan tebasan berkekuatan tinggi untuk memblokirnya. Reygan pun tersenyum menyaksikannya.
“Kekuatanmu memang besar. Tapi apa kau pikir bisa bertarung terus-terusan seperti itu?!” sang penyimpang pun menerjang putranya dengan ayunan pedang yang frontal. Begitu berserakan tekniknya, tapi mampu membuat putranya kewalahan. Pada tebasan selanjutnya, langsung ia cengkeram bilah pedang Aegayon dengan mudahnya. “Sangat disayangkan karena kau putraku. Tapi, tak ada gunanya membiarkan musuh sepertimu hidup, anakku.”
Pedang sang Raja pun direbut bersamaan dengan tebasan cepat yang diarahkan pada dadanya. Tampak darah bercipratan dari tangan Aegayon yang menangkis pedangnya.
“Kau—”
“Cerma! (Terbakarlah!)”
Energi kegelapan yang diselimuti api keemasan pun menyeruak dari tubuh Aegayon Cottia. Mengerikan efek kemampuannya, karena membakar tangan Reygan sampai membusuk penampakannya.
“Api terlarang, akhirnya kau mengeluarkannya.” Tanpa keraguan Reygan Cottia langsung memotong lengannya agar jurus putranya tak menjalar ke seluruh tubuhnya. “Sehebat apa pun itu, sayangnya juga tak memberi ampun pada pihakmu.”
__ADS_1
Sontak saja Sang Raja menoleh ke arah tanaman yang terkena api dari potongan tangan Reygan. Membusuk sepenuhnya, dan memancarkan bau aneh nan tak biasa.
“Bahkan asapnya juga menjadi racun untuk sekitarnya. Kemampuan mengerikan yang akan membunuh lawan dan kawan jika kau sembarangan mengeluarkannya.”
Seringai yang dipamerkan sang penyimpang membuat Aegayon agak tertunduk. Walau sorot matanya, jelas-jelas masih menatap tajam pada ayahnya. Perlahan dalam sekali sentakan api aneh itu lenyap dari tubuhnya.
Ya, Aegayon Cottia seorang merlindia (penyihir) api suci. Di mana jenis kemampuannya berbeda dengan milik Raja bangsa kurcaci. Bukan sekadar membakar lawannya, tapi membusukkan apa pun yang disentuhnya dan asap pembakaran menjadi racun bagi siapa saja.
Kemampuan luar biasa yang tak pandang kawan ataupun lawannya.
“Sekarang, bagaimana caramu melawanku? Anakku,” tekan pria itu sambil lengannya yang putuh mulai memamerkan gumpalan daging aneh di sana.
“Kau—”
Tiba-tiba tangannya muncul lagi dan utuh seperti sedia kala.
Sang Raja gyges mengepal erat tangannya akan tekanan yang dirasa. Antara bertarung habis-habisan, namun kemampuannya mungkin akan membunuh rakyatnya juga.
Sebagai Raja, dia memiliki sihir yang mengerikan tapi juga kelemahan luar biasa secara bersamaan. Yaitu nyawa orang-orangnya.
Akan tetapi, kilat aneh muncul tiba-tiba di tanah bangsa gyges. Tentunya mengejutkan para penontonnya, akan kehadiran sosok yang tak disangka-sangka. Reygan dan putranya sama-sama memandang tajam pada orang asing yang tiba.
“Dia—”
Tapi gumaman Raja gyges langsung terpotong akibat serangan brutal sabit Dewa itu. Reygan menggeram karenanya, akan kecepatan sayatan yang menggores bahunya.
Siapa lagi kalau bukan Raja bangsa empusa yang datang ke sana.
“Menilik perkataan Orion, sepertinya andalah Rajanya,” ucap Trempusa pada orang di belakangnya.
Laki-laki itu tersentak mendengar pesona aneh yang terpancar dari suara Raja gyges. “Anda— ugh!” erang Trempusa tiba-tiba akibat kemunculan Reygan yang menyerang dirinya.
Walau sabitnya berhasil memblokir serangan, itu tak menolak kenyataan kalau lengannya tergores.
“Raja empusa? Rupanya kau juga ingin mati bersama putraku ya.”
Tekanan aneh menyeruak dari tubuh sang penyimpang. Tak disangka, pedang putihnya terbakar oleh api biru tiba-tiba.
“Itu— Ayah!” kaget Aegayon melihatnya. Tapi terlambat, belum sempat mereka memasang kuda-kuda, kilatan biru secara cepat menghantam keduanya tanpa aba-aba. Tebasan Reygan Cottia, menimbulkan gelombang besar di tanah bangsa gyges dan meluluh lantakan area tanpa iba.
Kuyang bahkan ikut terkena dampaknya.
“Bangsa kita!” pekik kaget Reoa Attia yang juga berada di tempat evakuasi.
Bisa dilihat dari lokasi mereka, kalau asap pekat mengepul di area yang menjadi pertempuran mengerikan itu.
“R-Rey-gan,” gumam Kuyang yang tergeletak sekarat di tanah tak jauh dari rekannya.
Semakin detik-detik berlalu, kepulan asap mulai memudar penampakannya, dan tampaklah di mata sang Raja bangsa empusa terluka parah pada area dadanya. Walau sabitnya berhasil meminimalisir serangan Reygan, itu tak menolak kenyataan kalau dia tetap terkena tebasan barusan.
Trempusa pun jatuh terduduk karena kehilangan tenaganya begitu saja.
“Ugh,” erang Aegayon Cottia. Tak ubahnya sang pemegang sabit Dewa, dia juga terkena efek serupa. Bedanya, serangan Reygan mengenai bahu kanannya. Luka menganga di balik pakaian serta jubah gelap itu tampak nyata di mata.
“Kalian orang ketiga yang berhasil menahan serangan itu,” Reygan pun berjalan mendekati putranya. “Andai kau mengeluarkan jurusmu dengan benar, aku pasti kesusahan. Kesialan untukmu, memiliki sihir terkutuk seperti itu.” Tiba-tiba senjatanya terangkat. “Kau, benar-benar melukai hatiku, Aegayon Cottia.”
__ADS_1
Belum sempat tebasan eksekusi dilayangkan, hantaman kasar muncul di tanah belakang sang penyimpang. Begitu dahsyat kehadirannya, meretakkan pijakan mereka.
“Siapa?”
“Rambut pirang dan pedang putih, apa kau Reygan Cottia?” tanya Heksar Chimeral tanpa basa-basi. Sosok yang ditanya pun menyeringai menyaksikannya. “Sepertinya, aku terkenal ya.” Raut muka Raja cebol itu pun berubah. “Chimera ya.”
“Jadi kau Reygan?! Bagaimana bisa kau di sini?!”
Tiba-tiba sesosok wujud aneh berlalu cepat ke arah sang penyimpang. “Brengsek! Padahal aku sudah bersusah payah membantumu! Bisa-bisanya kau juga menyerangku! Aku jadi menyesal karena sudah membebaskanmu, Reygan!”
“Ah, maaf-maaf. Aku lupa kalau kamu di sini, Kuyang.”
“Kuyang?” potong Heksar tiba-tiba. “Jadi kau yang membebaskannya?!”
“Siapa bocah keparat ini?!” jengkel siluman itu.
“Berani-beraninya monster seperti kalian muncul lagi. Sekarang jawab aku, apa tujuan kalian sebenarnya? Agar aku tahu, cara seperti apa yang bagus untuk menangani kalian berdua,” Heksar pun memamerkan seringai dengan sikap meremehkannya.
“Dia—”
“Menilik dari aromamu, kemungkinan kau Raja bangsa chimera. Rencana kami?” Reygan pun tertawa pelan. “Baiklah, akan kuberitahukan padamu sebelum kau mati. Kami,” ucapannya tertelan jeda karena seringai muncul di bibir Reygan Cottia. “Akan menggunakan bangsa-bangsa untuk membangkitkan Helga Nevaeh juga para Titan. Demi kejayaan kami, dalam membantai para Dewa yang abadi. Itulah arti sesungguhnya dari sekte Hadesia!”
Dan penyimpang itu pun langsung melayangkan serangan tiba-tiba ke arah Heksar Chimeral yang menatap murka.
“Abteriov! Senka Porta! (Terbukalah! Gerbang bayangan!)”
Memekik keras. Begitulah hempasan angin kasar yang berkumandang dari serangan Reygan saat menghantam Heksar.
Bahkan gelombang yang muncul begitu dahsyat sampai menggetarkan perisai emas para tankzeas (pelindung).
“Ini!” kaget Revtel yang bisa merasakan tekanan tak biasa dari tanah gyges.
“Heksar ya,” gumam Blerda menyadari sensasi mengerikan yang mengudara di sekitar kulitnya.
Begitu mengejutkan para penontonnya. Hempasan angin kasar langsung muncul dari sosok yang diselimuti asap ledakan milik Reygan Cottia. Siapa lagi kalau bukan Heksar Chimeral.
Dua penyimpang itu terdiam menyaksikan penampilan mengerikan di depan mata mereka.
Sosok cebol yang tadi diserang Reygan, sekarang justru memancarkan hawa panas tak biasa di sekitar tubuhnya. Taring atas dan bawah di mulutnya yang saling beradu, mata emerald yang tergantikan warna merah serta menatap tajam itu menghiasi penampakan di rupa Heksar.
Tanduk rusa di kepala serta cakar bak pisau di tangannya semakin memperkokoh fisiknya. Tapi yang membuat mereka terbungkam bukan hanya itu saja. Melainkan sayap aneh serta tanaman tak biasa yang melilit kedua lengannya.
Di mana kepakan berbulu di belakang punggung tersebut dipenuhi mata yang meneteskan darah.
“Apa-apaan wujudnya itu?!” syok Kuyang melihatnya. Terlebih lagi, ada ekor di tubuh Heksar namun berwujud ular kobra berkepala tiga.
“Scodeaz (pengendali) level monster ya.”
“Apa!” kaget Kuyang mendengarnya. “Dia—”
Dalam satu kali ayunan tangan Heksar, dua penyimpang itu langsung terpukul mundur olehnya. Bahkan dampaknya juga semakin memperparah area yang hancur tadinya.
“Serangannya,” wanita jejadian itu terengah-engah dibuatnya. Bahkan Kuyang terpaksa membangkitkan wujud laba-labanya agar bisa terlindungi oleh jaringnya.
“Dia benar-benar berbeda dari lawan yang sebelumnya.”
__ADS_1
Dan memang seperti ucapan Reygan Cottia, kalau Raja cebol dari chimera, berada di level yang berbeda dibandingkan para Raja lainnya.