
“Kakak. Kakak!” pekik Bleria tiba-tiba. Ia cegat gadis itu sambil memegang kakinya. Berlutut dengan wajah beruraian air mata. “Aku mohon Kak, jangan hukum Gilles. Bagaimanapun dia temanku Kak, aku mohon,” pintanya terisak. Sosok yang selalu menentang dan memasang muka masam sekarang merengek seperti bocah kehilangan.
Akan tetapi yang di depannya adalah Blerda. Sang pemimpin siren sekaligus kakaknya.
“Lalu? Hanya karena dia temanmu, bukan berarti hukum tak berlaku. Jangan lupa Bleria, seorang Raja harus bersikap adil pada bangsanya. Sekecil apa pun kejahatan, harga yang dibayar sesuai dengan perbuatannya.”
“Tapi mereka ditipu! Mereka ditipu oleh Tetua empusa itu. Tujuan awal mereka medusa, bukan cerberus! Mereka tak ada hubungannya Kak, tolong ampuni mereka. Aku mohon,” Bleria bersujud di hadapannya. “Tolong lakukan ini sebagai kakakku, Kak. Kamu menyayangiku kan? Aku mohon tolong kabulkan permintaanku,” tatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Bleria,” Blerda pun mengusap kepala adiknya. “Jangan bawa ikatan darah dalam keputusan. Karena itu hanya akan menimbulkan celah untuk kehancuran. Bersyukurlah, karena aku hanya memakai mereka sebagai hadiah untuk bangsa-bangsa. Sebab sejujurnya, aku sangat ingin pelayan dewa menyeret kepala mereka ke jalanan sana.”
Terkesiap.
Sungguh kejam ucapan Blerda. Bahkan jika wajahnya menyiratkan ketenangan, tapi ia adalah monster di dalamnya.
“Aku tahu kalau kau juga terlibat dalam hal ini. Tapi tenang saja, hukumanmu akan kutangguhkan. Jangan melakukan hal yang gegabah, Bleria. Atau bukan hanya dirimu yang membayar harganya.”
Hancur. Bleria begitu hancur sekarang. Teriakan mereka yang diseret Capricorn menyentak kesadarannya. Gilles dijambak tanpa iba keluar ruangan. Gadis itu ketakutan, begitu gemetaran melihat siksaan yang akan dihadapi pujaannya.
“Lepaskan dia! Aku bilang lepaskan!” hardiknya menarik lengan Capricorn yang menyeret tubuh Gilles. “Lepaskan,” tatapnya tajam.
Tapi pelayan dewa itu memilih menerobos untuk melewati tubuh Bleria, sehingga gadis itu tertabrak dan hampir saja jatuh.
“Brengsek! Aku bilang lepaskan!” seketika asap putih langsung mengepul di tangannya dan memunculkan tombak kebanggaannya. Ujung tajamnya pun ia arahkan tepat pada leher makhluk di depannya.
Akan tetapi semua benar-benar di luar dugaannya. Perlahan, mata tombak melepuh dan melebur tiba-tiba. Seperti mencair senjatanya, Bleria terkesiap menyaksikan apa yang terjadi pada senjatanya.
“Hawa panas, hampir menyerupai magma. Sepertinya legenda kemampuannya memang benar adanya,” Kers tertawa pelan.
Kalimatnya barusan langsung menyentak Bleria untuk menoleh ke arahnya. Spontan saja gadis itu menghampirinya dan memegang lengannya.
“Yang Mulia, aku mohon pada anda. Tolong batalkan keputusan ini! Mereka tidak pantas dihukum, yang salah adalah dalang itu, aku mohon!” pintanya penuh harap,
Tapi, hanya guratan di bibir yang ia pamerkan sebagai jawaban.
__ADS_1
“Kenapa kamu meminta bantuan padanya? Keputusan ada pada Blerda,” sela Aza tiba-tiba.
“Kalau begitu tolong katakan pada kakakku untuk membatalkan hukumannya. Aku mohon, aku akan lakukan apa pun tapi tolong bantu mereka. A-aku mohon,” dirinya kian terisak-isak. Air matanya jelas tak terbendung lagi karena pekikan keras mereka mulai menjauh dari pendengarannya.
Kers pun perlahan melepaskan sentuhan Bleria dari lengannya. “Keputusan Sang Raja itu mutlak, Nona. Dan mengganggu Blerda, sama saja dengan mimpi buruk. Maaf karena aku tidak bisa membantumu.”
Kers pun memilih pergi dari sana sambil diiringi Aza.
“Apa kalian dengar teriakan barusan?” tanya Doxia pada orang-orang di sekelilingnya. Dirinya mencoba mengintip lewat celah pintu, memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi tiba-tiba pembatas itu terbuka dan membentur wajahnya.
Tentu saja tawa Reve dan Aza langsung berkumandang melihatnya.
“Bre— eh Yang Mulia, anda rupanya,” Doxia tidak jadi menghardiknya. Karena yang membuka pintu rupa-rupanya sosok Raja hydra. “Aku mendengar teriakan tadi. Ada apa?” tanyanya pada Aza sambil mengelus hidungnya yang untung tidak patah.
“Bukan apa-apa, hanya kegilaan Ratu kita,” jawabnya seadanya.
Kers yang berdiri di balkon pun menatap pemandangan di bawahnya.
“Kata Near ada eksekusi besar-besaran,” ucap Reve tiba-tiba.
“Ya. Tadi dia menyusup keluar. Katanya ada eksekusi besar-besaran.”
“Benarkah? Apa ular ini bisa dipakai untuk mengintai juga?” Kers tampak tertarik.
“Dia juga bisa memakanmu jika kamu mau.”
“Tidak, terima kasih,” Raja hydra terkekeh mendengar ucapannya.
Dan di sebuah kamar besar melebihi milik peristirahatan kelompok Aza, terlihat Blerda melepaskan kimononya. Menggantinya dengan pakaian ksatria wanita. Tiba-tiba pintu terbuka oleh sosok dengan sayap di punggungnya.
“Yang Mulia. Kudengar anda memanggil saya?” Gadis itu berbalik. Seketika orang yang bertanya mendelik, karena di langit-langit terdengar kepakkan sayap dari banyaknya gagak merah. “I-ini—”
“Jadikan itu surat, dan kirimkan ke seluruh bangsa-bangsa bersama potongan mayat mereka. Pastikan sampai dengan benar. Paham?”
__ADS_1
“Baik Yang Mulia.”
Wanita itu lalu berjalan melewatinya. Di luar kamar, terlihat ada seorang petinggi siren yang menatap penuh arti padanya.
“Bukankah lebih baik, berunding dulu sebelum bertindak?” tanya Tuan Criber padanya.
“Berunding? Apa yang ingin dibicarakan? Mereka sudah jelas salah.”
“Blerda. Orang-orang itu merupakan bangsawan bangsa ini. Bahkan juga bangsawan dari bangsa lain. Apa kamu tidak punya rasa kasihan pada mereka? Sidag dan Gilles itu masih muda.”
Seketika senyum tipis tersungging di bibir Sang Raja. “Muda? Mereka? Lebih tua dariku. Lebih lama hidup dariku. Jika perundingan dilakukan, maka akan banyak pertentangan untuk mengampuninya.”
“Lalu apa yang salah dengan itu? Mereka orang-orang dari bangsa kita. Mereka bangsawan Blerda, aset siren yang berharga.”
“Begitu?”
“Aku mohon, Blerda. Cabut hukumannya, beberapa bangsawan akan menentangmu jika kamu tidak melakukan ini. Tolong Blerda, lakukanlah. Demi bangsa kita,” Tuan Criber masih mencoba meyakinkan.
“Akan kupikirkan,” ucap wanita itu dan berjalan melewatinya. Atas keputusan beberapa petinggi, mereka masih belum dipenggal. Karena itulah Blerda bersiap dengan dandan ksatrianya untuk menemui para bawahan yang berkumpul di halaman istana merah.
Fakta eksekusi secara tiba-tiba, telah tersebar akibat langkah cepat Bleria. Dia memutar balikkan cerita, dan menyanyikan kisah tentang penipuan yang dilakukan Tetua empusa. Berharap, rencana ini akan berhasil menyelamatkan Gilles. Bagaimanapun dia adalah belahan jiwanya.
“Otama, panggilkan dua tamu agung kita,” perintahnya saat bertemu dengan pelayannya. Wanita dengan rambut undercut seperti laki-laki. Bawahan sekaligus ksatria kepercayaan miliknya. Mengangguk cepat dan pergi.
Di sekitar, begitu banyak sosok-sosok penting bangsa siren yang berdiri. Seakan memang menanti kehadiran pemegang puncak tertinggi. Bahkan Bleria juga berada di sana, memilih memalingkan muka enggan menatap kakaknya.
“A-anda!” pekik kaget Tuan Criber saat melihat kedatangan Hydragel Kers serta Aza Ergo. Seketika beberapa orang mengatur hormat untuk sosok tamu agung dari dua bangsa itu.
Kers hanya tersenyum dan terus berjalan mendekati Blerda. “Apa ini? Kupikir tidak akan ada tontonan seperti ini.”
Tapi, sedikit pun tak terlihat keinginan gadis itu untuk menjawabnya. Memilih menatap ke depan, dengan rupa tanpa ekspresinya.
“Perhatian! Yang Mulia Blerda Sirena, telah datang!” begitulah teriakan salah satu prajurit saat sosok yang disebutkan melangkahkan kaki ke balkon. Terlihat, begitu banyak orang di bawah sana, bukan hanya sekadar sosok penting tapi juga rakyat bangsanya. Walau itu belum semuanya.
__ADS_1