
“Aagh! Celanaku!” pekik Kers karena darah dari jantung yang ia injak terciprat mengenainya. “Sial! Padahal aku baru selesai mandi,” gerutunya membersihkan darah itu dengan tangan. Lalu tiba-tiba dihapuskannya sisa-sisa yang melekat ke baju Aza Ergo di depannya.
“Sialan kau, Kers. Kau pikir aku kain kotor?” Aza pun langsung menepisnya.
“Ah, bukan ya? Kupikir iya,” dirinya malah tertawa.
Tentu saja sosok aneh itu menjadi tontonan tak terduga untuk orang-orang sekitarnya. “Bagaimana bisa kau di sini?!” pekik Cobra tak terima. Bahkan Draco yang tadi berbicara sombong pada Aza sekarang sudah tergelatak tak bernyawa dengan mata terbuka.
Biasanya, siapa pun yang dikeluarkan jantungnya selama beberapa menit masih bisa bergerak sebelum menemui ajal. Tapi, ada sesuatu yang tak biasa dari Kers. Dirinya, bisa mematahkan hukum alam itu di dunia Guide.
“Oi ... oi, mana sopan santunmu? Aku Raja lho. Raja, seperti Trempusa yang kau layani itu,” dirinya mencibir ke arah lawan bicaranya.
“Persetan dengan itu!” Sidag yang beruraian air mata menatap tajam ke arah sang pemimpin hydra.
“Dia kenapa?” Kers melirik bingung ke arah Aza sambil menunjuk bangsawan siren itu.
“Kenapa lagi? Kau baru saja membunuh kakaknya,” dirinya menjawab sambil tertawa. Sosok yang mengaku-ngaku Raja itu langsung syok sambil menutup mulutnya.
“Bagaimana ini? Aku tidak tahu. Bangun ... bangun! Jangan mati!” perintah Kers sambil mencekik leher Draco agar bisa berdiri kembali. “Kenapa matamu tegang begitu? Cepat bangun bodoh!” sambil menampar-namparnya.
Aza Ergo pun tertawa dibuatnya. Jujur ini benar-benar tontonan yang sangat menghibur baginya. Dan orang-orang di sekitar, jelas hanya bisa bergidik ngeri melihatnya. Entah apa yang lucu mereka tak bisa memahaminya.
“S-selera humor mereka mengerikan sekali,” lirih Toz tiba-tiba. Jujur badannya masih sangat gemetaran akibat pemandangan di depan mata. Pembunuhan, dan kematian yang tampak tak berharga. Seolah nyawa adalah mainan dan bisa diambil seenak hati dan perut mereka yang berkuasa.
Riz pun juga sama. Namun ia memilih diam. Bahkan jika tindakan berdarah Aza tak bisa dibenarkan, dirinya sadar kalau petinggi itu adalah rekannya. Dunia ini begitu kejam, dan pemuda tersebut sudah menyadarinya. Dari sejak awal sosoknya bertemu dengan beruang yang tersiksa.
__ADS_1
Tak peduli apa pun alasan mereka datang ke sini. Jika seandainya rekan-rekannya yang berada di posisi berbeda, bukankah mereka mungkin akan melakukan hal yang sama?
Jika bukan mereka yang membunuh, maka mereka akan dibunuh. Sepertinya begitulah alur kehidupan di Dunia Guide. Seperti hukum rimba, entah apa keinginan masing-masingnya namun yang terkuat akan tetap bertahan.
“Cih ... sialan. Dia benar-benar sudah mati,” Kers pun melempar sosok di tangan seperti barang tak berguna. Padahal Draco, merupakan salah satu bangsawan dari bangsa siren. Tersungkur tepat di hadapan adiknya yang menatap tak percaya, kalau kakaknya benar-benar telah mati. “Bagaimana ini? Aku tidak tahan melihat tangisan seorang wanita. Hibur aku, Aza.”
Namun pemuda itu masih tertawa. Sepertinya, kekonyolan itu benar-benar menjadi acara komedi baginya. Matanya sampai berkaca-kaca karena terlalu terbahak dalam tertawa.
“Mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali? Kau bodoh Kers! Sudah melakukan hal tak berguna,” kekehnya sambil menunjuk wajah sang pemimpin bangsa ular.
Kejengkelan makin tercipta di diri laki-laki itu sampai keduanya terkesiap dan Kers langsung mengangkat tangannya.
“Wah ... wah ... lihat ini. Apa Nona cantik ini tidak diajari sopan santun kalau tidak boleh mengganggu orang yang sedang berbicara?” dirinya berhasil menangkap ujung rantai yang ingin menusuk dadanya.
“B-bagaimana bisa?” Sidag kaget karena tak menyangka jika Raja bangsa lain itu berhasil menghentikan serangannya yang berkecepatan tinggi. Dengan tangan kosong, rantainya ditangkap seperti tidak ada apa-apanya.
“Kau!” Cobra langsung mengayunkan gada di tangan ke arahnya. Tapi, serangan tersebut mutlak dihentikan hanya dengan satu tangan. Mengejutkan mereka, dan mulai merasa takut kepadanya.
Rumor beredar yang menyebutkan kalau dirinya hanya pemimpin boneka dan di dampingi seorang Dewa Kematian bernama Revtel begitu kencang hembusannya. Lelaki 24 tahun, pemimpin pemalas dan tenggelam dalam kehidupan bersama anggur-anggurnya.
Tak begitu kuat kecuali dirumorkan mampu membaca ingatan lawannya. Sosok dengan wakil mengerikan yang akan selalu mengikutinya.
Tapi dia ternyata begitu hebat di mata mereka. Kers bertampang santai, menepis gada itu sehingga langsung terlempar dan merobohkan pepohonan yang disentuhnya.
“Medusa ya? Gadis cantik dengan mata terkutuknya. Jadi, akan kalian gunakan untuk apa dirinya itu?” tanyanya sambil melirik Tetua empusa.
__ADS_1
“Jangan harap aku akan mengatakannya padamu!” Tiba-tiba pijakan mereka berair dan seperti ingin menenggelamkan semuanya. “Tak kusangka akan jadi seperti ini! Tapi, kalian harus mati!” pak tua itu lalu menusuk dirinya sendiri. Begitu tajam kekuatan di tangan kosongnya, diiringi muntahan darah dari dalam badan yang terluka. Perlahan, badannya memudar sewarna dengan air sekitarnya. Hanya jejak darah yang tersisa, dari Tetua empusa yang sudah tak terlihat di depan mata.
Ini benar-benar luar biasa. Pemukaan air pun begitu tinggi seperti mencapai langit-langit kawasan terlarang. Jangkauannya laksana lautan yang menenggelamkan seluruh kawasan. Tak terlihat sedikit pun celah yang tidak terendam.
Tapi ada satu keanehan. Ke mana pun mata memandang, sosok-sosok yang menjadi rekan pak tua berkemampuan air tak dapat ditemukan lagi. Mereka seolah lenyap dalam kubangan air dalam ini.
Dan beberapa orang tampak mencoba menahan napas dengan baik. Mengingat mereka tak punya insang, dan tak satu pun berasal dari spesies ikan.
Toz mulai kesusahan, dirinya tak begitu baik dalam berenang kakinya perlahan terasa keram. Jika bukan dengan bantuan Horusca yang memegang kerah bajunya, bocah itu pasti akan kesusahan.
Tapi hal tak biasa mulai terjadi. Sensasi berwarna merah seolah mengalir dari lubang indera di wajah mereka.
Darah.
Tentu saja hal tersebut menimbulkan kekagetan, mengingat mereka tak terluka namun cairan merah itu terus keluar dari mulut, hidung, mata, dan telinga yang bercampur dengan air di sekitarnya.
Sepertinya, jika terus seperti ini mereka akan kehabisan darah dengan sia-sia.
Tiba-tiba Aza pun mengangkat tangan sebagai kode yang tak jelas maksudnya. Beberapa dibuat terpekik, karena ternyata itu adalah pertanda untuk mengeluarkan kemampuan.
Telapak tangannya memerah seperti bara dan mulai menerangi sekitarnya. Dan akhirnya, magma mencuat dari sana seperti seekor ikan laut dalam yang berenang cepat ke sekelilingnya. Entah apa maksudnya melakukan itu, namun yang pasti alirannya tak tentu arah lagi.
Akan tetapi, Kers langsung menyentuh lengannya seperti menyuruhnya melakukan sesuatu. Dipegangnya kepala Aza, seakan itu adalah hal yang wajar baginya.
Dan sang petinggi empusa menatap masam ke arahnya. “Nedierma! (Menyebar!)” pekiknya di dalam air. Seketika ikan yang berenang itu langsung menggembung dan pecah tiba-tiba.
__ADS_1