
Dan Capricorn pun langsung lenyap di hadapan mereka.
“Blerda!” hardik Tuan Criber kaget akan perintahnya. Tetapi, pedang panjang langsung terarah ke kepalanya. Megalodon, berdiri di atas pagar batu yang ada di hadapan Sang Ratu. “Blerda, kau—” sosoknya masih menatap tak percaya padanya.
Perlahan, gadis berdarah murni itu melirik petinggi yang berada di sebelahnya lewat sudut matanya.
“Kenapa anda semarah itu? Siren tak akan kehilangan taringnya hanya karena kematian dua bangsawan. Lagi pula, kekuatan makhluk scodeaz (pengendali) milik para dewa jauh lebih kuat. Jadi jangan cemas,” ia tersenyum tipis dan berbalik.
Bleria terkesiap. Sekarang, sorot mata tenang kakaknya menusuk ke kedalaman penglihatannya. Tampaknya, dia benar-benar sudah melakukan kesalahan dengan melakukan itu semua.
“Otama, perintahkan para pengawal untuk menyiapkan Aula Kaca.”
Seketika pendengaran orang-orang tersentak oleh perintah yang diturunkan.
“Aula Kaca?” Kers mengulanginya.
“Bukankah kita akan mengadakan pertemuan? Lagi pula, kalian kan sudah berada di sini, Yang Mulia,” ucap Blerda. Tapi, ekspresi tenangnya berlainan dengan nada suara serta sorot matanya.
Dan langkah kakinya pun meninggalkan balkon besar itu sambil diikuti beberapa mata yang memendam beragam ekspresi. Bersamaan dengan memudarnya sosok Megalodon di belakangnya.
Sungguh Tuan Criber benar-benar kecewa atas keputusan Ratunya.
“Maafkan kami Yang Mulia, karena anda harus melihat pemandangan seperti ini.”
Kers pun memiringkan wajahnya. “Pemandangan yang seperti apa, Tuan Criber? Aku tak paham dengan ucapanmu. Menurutku, tak ada yang aneh dengan keputusan Blerda. Yah, sepertinya siren harus bersiap karena para tamu terhormat akan mendatangi tempat ini,” kekehnya.
Dirinya, juga mengikuti jejak Ratu siren sambil diikuti Otama.
“Aza,” panggil Tuan Criber karena pemuda itu masih diam menatapnya. “Bukankah kamu sedang melakukan perjalanan untuk memulihkan kekuatanmu?”
Tak ada jawaban dari petinggi empusa. Kecuali melemparkan pandangan pada penampakan di bawahnya.
“Sepertinya, kalian akan mengetahui fakta tak terduga,” hanya itu yang ia ucapkan sambil tertawa pelan. Bahkan dirinya juga menunduk sopan, lalu meninggalkan petinggi tua tersebut untuk tetap memikirkan ucapannya.
“Yang Mulia?” Otama menatap bingung pada Blerda Sirena, karena gadis itu hanya memegang pion milik papan catur di kamarnya.
“Otama.”
“Ya, Yang Mulia?”
“Perintahkan bawahanmu untuk mengawasi Bleria.”
“Kenapa, Yang Mulia? Apa Non—” terkesiap. Otama langsung terbungkam saat melihat wajah pemimpinnya menyiratkan ketenangan begitu meliriknya.
“Awasi dia. Jangan biarkan dia pergi ke mana pun atau menemui siapa pun sampai perintahku turun. Paham?”
“Baik.”
Lalu bawahannya pun undur diri. Perlahan, pion yang dipegangnya, mulai menguap penampakannya.
“Istirahatlah. Karena nanti kita akan memburu pembangkang, Megalodon,” kalimat akhirnya sebelum merebahkan tubuh di ranjangnya.
Namun, di tempat berbeda, langkah seorang pemuda yang tenang memasuki sebuah ruangan. Di mana Sang Raja dari bangsa lain, sedang bersantai di sofa sambil memakan anggur-anggur kesayangannya.
__ADS_1
“Kau benar-benar menikmati hidupmu rupanya.”
Perlahan, seringai tipis tercetak dari bibir dia yang dibicarakan. Menatap remeh lalu memakan buah idaman sampai memenuhi isi mulutnya.
“Bisakah kau tidak makan seperti itu? Aku jadi ingin menampar pipimu,” Aza mendekatinya.
“Agha malamahmu? Aka lalar, an aka ak kan mambagha angarghu.”
Aza tertawa pelan. “Bicaralah yang benar Kers, sebelum aku memandikan anggur-anggurmu,” tangan kanannya terangkat dan memamerkan lelehan magma.
Sontak saja Rasa hydra mengunyah cepat anggur-anggurnya seperti tupai kelaparan. Dan menyembunyikan keranjang buah di belakang sofanya.
“Apa masalahmu? Aku lapar, dan aku tak akan membagi anggurku, memangnya kalimatku barusan kurang jelas?” jengkelnya.
“Kau pikir spesiesmu sendiri akan paham dengan ocehanmu?”
“Tentu tidak! Mereka bodoh sepertimu.”
“Apa itu termasuk yang lainnya?”
“Tentu saja! Kalian bodoh karena tak bisa memahami kalimat semudah itu.”
“Apa itu juga termasuk Blerda?”
“Kau tidak mengerti perkataanku? Kalian semua bodoh karena tidak bisa memahami kalimatku yang mudah itu.”
Seketika senyum mengembang di bibir Aza. “Dengar? Dia mengataimu bodoh, Blerda.”
Refleks Kers berbalik dan melotot pada gadis muda yang memakai gaun terusan hitam dengan ujungnya sampai menyapu lantai.
Tapi, pimpinan tertinggi siren hanya memasang muka tenang lalu perlahan mendekati mereka. “Kamu akan bersaksi di pertemuan nanti.”
“Bersaksi? Bersaksi atas apa?”
“Atas ingatan Tetua empusa yang kamu baca.”
Seketika Kers menghela napas pelan. “Blerda, apa aku boleh tanya sesuatu?” Tak ada jawaban, masih saja tatapan tenang yang dibalaskan gadis itu padanya. “Apa rencanamu? Surat-surat yang dikirimkan dengan potongan mayat, apa isinya?”
“Aula Kaca. Itu bukan hanya untuk petinggi, apa mungkin kamu mengundang para Raja?” Aza menimpalinya.
“Jangan lupa, untuk mengakui siapa saja bangsawan yang kalian bunuh sebelum kemari,” hanya itu tutur katanya. Blerda Sirena tampaknya tak berniat menjawab pertanyaan mereka. Berbalik pergi dengan langkah anggunnya, dan diiringi sorot mata yang tak lepas dari punggungnya.
“Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Aku selalu heran dengan isi kepalanya.”
Aza pun menyandarkan tubuhnya di sofa di kamar Kers. “Eksekusi, mempertontonkan kepala bangsawan di alun-alun termasuk empusa. Memamerkan scodeaz (pengendali) para Dewa. Kurasa nasibnya sama dengan Trempusa, tapi dia lebih buas darinya. Apa Tetua dari bangsamu tak pernah menentangmu?”
“Kenapa mereka harus menentangku?”
“Karena kau Raja pemalas yang tak berguna.”
“Tapi aku hebat.”
“Revtel jauh lebih hebat.”
__ADS_1
“Ah!” pekik Kers tiba-tiba.
“Kenapa kau teriak?”
“Revtel, aku sudah membohonginya! Bagaimana ini?! Kalau surat Blerda sampai ke tangannya, bisa-bisa dia malah datang kemari!”
“Kau kan di sini, kenapa dia harus datang juga?” Aza tampak tak suka mendengarnya.
“Bukan itu bodoh! Aku mengelabuinya, ya ampun ... aku benar-benar tak ingin bertemu dengannya,” Kers memijat pangkal alisnya.
“Katakan pada Blerda, untuk tidak mengirimkan surat ke bangsamu.”
“Ah, lebih baik aku tidur saja kalau begitu.”
“Hei!” Aza mulai jengkel melihat Raja hydra yang sudah merebahkan tubuhnya. “Sialan,” umpatnya lalu pergi dari sana.
Mengerikan.
Di alun-alun kota, dalam pemandangan tertinggi yang bisa tampak oleh mata, beberapa kepala telah terpampang nyata. Di atas besi panjang, menusuknya dengan sangat menakutkan.
Darah terus berceceran, gagak hitam berdatangan, mematuk bagian yang sangat diinginkan.
Sidag Arka.
Gilles Smonea.
Draco Arka.
Cobra Nehya.
Shin Nomel.
Nial Zabuza.
Dan yang terakhir, Tetua Ryujin Gosca. Sosok terhormat dari bangsa empusa. Walau tanpa kepala, badannya tergantung nyata di sana. Dihujam seperti makhluk pembakaran, namun raganya justru dimandikan gagak-gagak yang kelaparan.
Banyak pasang mata terpekik ketakutan, keluarga yang ditinggalkan histeris kehilangan, dan dendam bertaburan di rupa mereka bak lukisan kelam.
Ini pemandangan kejam di penglihatan.
“Blerda Sirena, kau benar-benar gila,” kekeh seorang laki-laki sambil melewati penampakan di atasnya.
“I-itu bukan bohongan kan?” Toz menatap tak percaya pada apa yang dilihatnya. Balkon di ruang peristirahatan mereka, jelas-jelas menghadap ke arah alun-alun kota.
Benar-benar pemandangan puncak tertinggi di kawasan siren, agar kekejian yang disebut sebagai hukuman bisa diperhatikan siapa pun juga.
“Tak salah lagi, itu kepala mereka yang ada di kawasan terlarang. Tapi, bagaimana bisa?” Rexcel ikut bersuara.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dan memunculkan sosok petinggi muda yang akhir-akhir ini jarang bersama mereka.
“Halo? Apa kalian merindukanku?”
__ADS_1