Death Game

Death Game
Amukan tiga taring


__ADS_3

Tiba-tiba, perisai emas pun pecah di depan mata.


“Gawat!” pekit keras Orion memperingatkan.


“Apa yang terjadi?!” Dantalion menatap tak percaya, kalau Cerberus itu sudah terpecah menjadi enam di sana.


“Monsternya,” syok Gandari melihatnya.


Terlebih lagi, seekor Cerberus menggila dan mengejar perisai emas milik petinggi hydra.


“Libra!” teriak Ilhan padanya.


Akan tetapi, hantaman keras muncul dari atas cerberus yang hampir menyentuh tankzeas (pelindung). Dan sosok penolong, mengibarkan delapan ekor magmanya untuk menghujani monster di depannya.


Sampai akhirnya lima cerberus lainnya ikut memburunya. Aza pun tertawa lalu lari dari sana.


“Cerberusnya!” pekik Ivailo melihatnya.


“Sial!” umpat assandia (petarung) bangsa dracula.  


“Dantalion!” teriak Logan namun diabaikan sepupu Raja yang sudah menyusul buruannya.


“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Zeril pada Zenolea.


Tapi laki-laki pemakai cambuk itu hanya diam saja. Walau raut wajahnya jelas melukiskan tampang murka.


“Bunuh mereka semua.”


Hanzo pun terkejut mendengar ucapannya.


“Kau pikir kau bisa membunuh kami?” tantang Ilhan.


“Ayo Caspier. Mari urus mereka setelah itu kita kejar Tuan Dantalion.”


“Baik, Tuan,” angguk patuh Ksatria tidur itu pada majikannya.


Sementara di satu sisi, Aza Ergo malah tertawa. Melihat monster gila di belakangnya benar-benar mengejar dirinya.


“Sepertinya darah memang tidak bisa dibohongi ya. Mungkin memang aku santapan terlezat di antara orang-orang menyebalkan itu,” lirihnya sambil terus berlari. Sesekali melompat dengan bantuan ekor magma di punggungnya.


Sampai akhirnya, langkahnya pun terhalang oleh kemunculan tak terduga seorang sepupu Raja.


“Aku tak tahu apa yang kau lakukan. Tapi aku akan membunuhmu, agar Cerberus itu tidak mengikutimu!” dan Dantalion pun menyerang Aza dengan brutalnya.


Saking hebatnya skill petarung jarak dekatnya, pinggiran leher sang pemuda tersayat akan pedangnya. Aza menyeringai karena terkepung oleh dua jenis monster di depan dan belakangnya.

__ADS_1


“Sepertinya, aku akan mati,” dan tangan kanannya pun seakan mencengkeram udara. “Nigel, senka porta skyziria! (Terbukalah! Gerbang bayangan langit!)”


Dantalion pun terkesiap akibat pemandangan tiba-tiba di depannya. Di mana darah langsung tersembur dari bibir Aza Ergo yang mengucapkan mantra.


“Kau!”


Tawa keras malah berkibar dari sang pengendali magma. Bersamaan dengan menggelapnya langit di atas sana juga duri magma menyerang area belakangnya. Tentu saja untuk menahan para cerberus agar tidak mendekatinya.


“Itu!” kaget Thertera menyadari keadaan di belakangnya. Terlebih lagi sensasi tak biasa terasa begitu berat di udara. Kepalanya pun menengadah memperhatikan lukisan apa yang ada di atas mereka.


“Dia sudah gila ya! Apa bocah itu ingin membunuh semua orang?!” Arigan tak percaya akan jurus magma gila milik petinggi empusa.


“Itu!” kaget Trempusa.


Lokasi bangsa empusa juga chimera, adalah yang terdekat ke Kawasan Terlarang. Tapi faktanya, kemampuan mengerikan Aza bisa dilihat hampir semua bangsa-bangsa.


Karena gemuruh di langit memperlihatkan sinar merah hendak menghujani lokasi pertempuran sekaligus meratakannya.


Hujan dari magma, laksana meteor yang ingin mengikis kawasan Kuil Nagagini dari sejarah para Dewa.


Dan akhirnya, serangan tanpa ampun itu pun menyentuh permukaan serta meneriakkan histeris di daratan.  


Kawasan Terlarang, benar-benar hancur di tangan seorang pemuda yang tanpa ampun dalam menyerang.


“Ini,” kaget Trempusa saat menyadari sesuatu yang tidak biasa. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Namun yang tak habis pikir adalah kondisi telapak tangannya.  Di mana memerah dan retak seperti bara menyala mirip kemampuan Aza.


“Amukan merah dari tiga taring ya,” gumam seseorang tiba-tiba. Dirinya memperhatikan tangan kanannya yang bergerak gemetaran. “Mimpiku tidak mungkin salah. Tapi ini bukanlah yang terparah. Seandainya tidak ada yang turun tangan, Dunia Guide pasti akan berada di ambang kehancuran. Terlebih kegelapan yang bersemi pasti akan muncul kembali. Dan dia pasti akan bangkit lagi. Aku yakin sosok itu akan datang kembali.”


Selesai mengatakannya, hempasan angin kasar pun menerpa sang pemuda. Menampilkan wajah menawan berhiaskan tato emas bercahaya. Matanya berwarna amber terang dan juga dihiasi rambut belakang yang terlalu panjang hampir menyentuh betisnya.


Sosoknya, menyiratkan ekspresi tenang yang menekan.


“Pelindung magma?” kaget Orion melihat telapak tangannya retak seperti bara menyala. Bahkan bukan hanya dirinya, rekan-rekannya yang sama-sama datang ke sana juga mengalami hal serupa. Sehingga mereka bisa selamat dari serangan pembunuh petinggi empusa.


“Aku yakin ini jurus Aza. Tapi bagaimana bisa kita menggunakannya?” syok Toyotomi menyaksikannya.


Sesaat sebelum hujan magma akan menghantam mereka, wajah para petinggi yang hadir pada pertemuan di Aula Kaca mendadak memerah juga retak. Seperti bara namun meneteskan magma. Dan akhirnya, tubuh mereka berubah sepenuhnya.


Karena itulah mereka bisa selamat dari serangan pembunuh milik petinggi empusa. Tapi sayang, tidak semuanya bernasib sama.


Dua pengkhianat yang menjadi lawan malah harus meregang nyawa. Merekalah Ivailo Stoyan dan juga Zeril Septor.


“Ayah!” pekik Libra tiba-tiba. Dia pun beruraian air mata menyaksikan pemandangan di depannya. Di mana sosok ayah kandung yang selalu disayanginya, tewas dengan sangat mengerikan.


Lebih dari separuh tubuhnya hancur, serta organ dalam yang meleleh karena magma. Begitu pula petinggi dari bangsa manusia. Ivailo Stoyan, tubuhnya bahkan tak berbentuk lagi kondisinya. Kecuali sepertiga wajahnya yang masih bersih tak disentuh oleh magma.

__ADS_1


Dan Ilhan Leandro pun terdiam menyaksikannya. Bagaimanapun juga, pria itu merupakan rekan terbaiknya. Sekaligus sosok yang sempat menjadi gurunya. Makanya dirinya begitu kecewa saat tahu kalau Ivailo ternyata juga seorang pengkhianat yang harus diburu mereka.


Dia tak tahu lagi harus bagaimana mengekspresikan sakit di dadanya.  


“Aku kaget karena kita tiba-tiba berubah jadi bara. Padahal kupikir si gila itu akan membunuh kita. Siapa sebenarnya lawannya?! Padahal dia masih bocah, bagaimana bisa dia punya kemampuan seperti itu?! Dia seperti monster untuk kita,” oceh Doxia panjang lebar.


Anggota yang ditinggalkan di pintu masuk juga selamat kondisinya. Walau area pijakan mereka tampak mengerikan, setidaknya fisik mereka terselamatkan. Tentu saja semua berkat Aza Ergo yang membagi kemampuannya lewat darah untuk orang-orang yang menjadi rekannya.


Dia terlalu banyak berkorban dalam pertarungan ini sehingga kondisinya sangat menyedihkan sekarang.


“Senka porta, itu salah satu jurus terlarang para pemilik kemampuan. Tapi di levelmu, kau seperti berada di kelas yang berbeda. Mengingat kau seorang petinggi, apa para Raja dari Hadesia jauh lebih mengerikan dari itu?”


“Hah?” Aza Ergo yang benar-benar tak berdaya jadi bingung harus menjawab apa. Apalagi Dantalion yang seharusnya tadi terluka parah, malah mulai pulih kembali kondisinya. Setelah dengan gilanya meminum darah dari Cerberus yang sedang beregenerasi.


“Para dracula, memang sangat bajingan,” kekeh Aza. Sesekali batuk menemani dirinya. Dan darah tak henti-hentinya mengalir dari dalam mulutnya.


“Melihat dirimu yang seperti ini, sepertinya jurusmu sangat beresiko. Mungkin saja kau akan mati muda jika terus melakukannya. Apa kau tidak ada niat bergabung denganku?”


Ajakan dari Dantalion, membuat pengendali magma itu terdiam. Jujur otaknya sedang kacau sekarang, terlebih seluruh tubuhnya terasa sangat menyakitkan. Efek samping dari pemakaian kemampuannya yang sangat besar-besaran. Sekarang sosoknya, hanya bisa duduk di atas tanah berhiaskan percikan kemampuannya akibat lelah di badan.


“Bergabung denganmu?”


“Benar.”


“Apa tujuanmu?”


“Akan kukatakan kalau kau bergabung denganku.”


“Kalau tujuanku mudah saja. Aku akan bunuh para bangsawan dan juga tetua dari bangsa-bangsa yang menyusun hukum menyebalkan di atas dunia.”    


“Apa maksudmu?”


“Aku sudah katakan tujuanku. Sekarang giliranmu,” seringai Aza kepadanya.


“Kau sepertinya mulai tidak waras,” mata Dantalion pun bergerak menyoroti Cerberus yang hampir selesai regenerasinya.


“Apa kau tahu apa yang terjadi di Hadesia?” Sepupu Raja dracula itu tersentak. “Tak satu pun dari penghuninya jujur dalam berbicara. Tidak kebenarannya dan juga tidak tujuannya. Mereka yang selamat adalah orang-orang yang sudah dihancurkan oleh bangsanya. Menurutmu, apa artinya itu?”


Dantalion semakin menajamkan penglihatannya.


“Ramalan itu tidak salah. Tapi sayangnya, tidak semua orang bisa mengartikan dengan benar makna sesungguhnya. Dan kupikir, aku akan memperlihatkan padamu makna yang sebenarnya dari salah satu mimpi Dewa. Di mana amukan tiga taring akan menjadi kenangan terakhirmu sebelum mati.”


Dan raut wajah Aza Ergo pun mendadak berubah. Bukan hanya itu, struktur giginya juga berbeda susunannya. Seperti sesosok monster namun berwujud manusia.


“Kau!”

__ADS_1


__ADS_2