
“Revtel? Ada apa?” tanya Hydragel Kers tiba-tiba.
“Sepertinya ada orang berkeliaran di lembah Hidir.”
“Wow! Luar biasa! Kau bisa mengetahuinya dari jarak sejauh itu? Sungguh teman, kemampuanmu benar-benar mengerikan,” sang pemimpin itu memakan anggurnya.
Revtel melirik jengkel. “Apa aku boleh membunuhmu?”
“Tentu saja. Tapi dunia akan menangis kehilangan makhluk berharga sepertiku.”
“Ya. Itu karena kau satu-satunya sampah mencolok di muka bumi ini.”
“Aku terharu Revtel,” Hydragel Kers memeluk dirinya sendiri.
“Diam kau bodoh!” bentaknya tak tahan. “Ah! Bagaimana bisa orang sepertimu pemimpin bangsa kita?”
“Tanyakan pada bakatku teman. Aku juga tidak tahu,” Kers pun menyunggingkan senyum sombong.
Tiba-tiba, seseorang pun masuk ke dalam ruangan.
“Wow! Anak jenius bangsa kita telah hadir,” lanjutnya sambil merentangkan tangan.
“Kau baru kembali?” tanya Revtel pada orang yang baru datang.
“Iya guru. Maaf baru menyapamu.”
“Tidak masalah. Jadi, bagaimana?”
“Mereka menyetujuinya. Walau pertemuan cukup terganggu.”
“Terganggu? Kenapa?”
“Ada orang bodoh yang mengganggu perundingan.”
“Lupakan si bodoh itu. Jadi, siapa pemenang sayembara?” Hydragel Kers merangkul Hea Alcendia.
“Salah satu si bodoh yang mengacaukan pertemuan.”
“Oh! Benarkah? Seperti apa dia?”
“Assandia (petarung) langka.”
Dua orang terhormat itu terdiam.
“Assandia (petarung) langka?”
“Ya,” angguk Hea.
“Benarkah? Ada yang seperti itu? Seperti apa ciri-cirinya? Apa dia perempuan cantik? Seksi? Atau makhluk mana?”
“Dia manusia Tuan.”
“Cantik?!” Hydragel Kers makin bersemangat.
“Laki-laki.”
Seketika ekspresi senang pemimpin hydra memudar. “Apa kau yakin dia bukan perempuan?”
“Laki-laki.”
“Persetan dengan itu bodoh!” Revtel pun menjitak kepala pemimpinnya.
Hydragel Kers mendengus jengkel. “Hei! Aku ini pemimpinmu! Bagaimana bisa kau menji-”
“Jadi dia manusia? Levelnya?” Revtel memotong perkataan laki-laki itu. Sang pemimpin pun langsung memasang tampang jelek karena diabaikan.
“Aku yakin dia level pemula. Tapi kemampuannya seperti seorang komandan. Terlebih senjatanya yang mengerikan itu.”
“Tentu saja mengerikan,” timpal Hydragel Kers. “Tak ada satu pun guider langka yang normal kemampuannya. Bisa saja seluruh tulangnya itu senjata,” ia pun kembali ke tempat duduknya dan memakan anggur.
“Apa kau akan menariknya?”
Hydragel Kers menoleh ke arah Revtel. “Untuk apa? Kita tak perlu sering-sering menampung orang tak berguna.”
“Dia memiliki kemampuan yang hebat, kau yakin takkan tertarik?”
“Cih! Kemari kau Hea!”
Petinggi itu pun menurut dan duduk di hadapan Hydragel Kers. “Encanteri prohibit, que devora imatges de memoria (Mantra terlarang, pelahap bayangan ingatan)” gumamnya sambil menyentuh kepala Hea. Tiba-tiba, darah mengalir di kedua mata Hydragel Kers dan Hea yang menutup mata.
Hea bisa merasakan sesuatu yang aneh merasuk ke tubuhnya. Seakan tubuh ringan dan pikiran mulai kosong. Perlahan, ingatan apa saja yang pernah ia lihat sebelum datang ke istana bangsa hydra mulai berputar. Hal itu juga dapat dilihat Hydragel Kers.
Rangkaian beberapa kejadian yang sudah pernah dilihat dan dialami Hea seolah tersambung ke ingatannya. Cukup lama, sampai akhirnya laki-laki itu melepas tangannya dari kepala Hea.
__ADS_1
“Bagaimana?” tanya Revtel.
“Apa dia benar-benar assandia (petarung) langka?”
“Kenapa?” Revtel menatap bingung.
“Pedangnya, bukankah senjata itu terlalu banyak untuk ukuran seorang assandia? (petarung?)”
“Berapa senjata yang bisa dia keluarkan?”
“Ribuan.”
Revtel terdiam. Ia kembali melanjutkan, “setahuku assandia (petarung) langka hanya bisa mengeluarkan puluhan senjata dari tulangnya.”
“Jadi kau juga berpikir seperti itu,” Hydragel Kers tersenyum meledek. Tiba-tiba ia terdiam. Lalu memakai bajunya dengan benar.
“Mau ke mana kau?”
“Aku akan jalan-jalan sebentar. Tolong siapkan air panas untukku mandi begitu aku kembali nanti.”
“Baiklah,” Revtel dan Hea sama-sama memandang ke arah kepergian pemimpin bangsa mereka.
Di tempat lain, langkah rombongan petinggi bangsa empusa dan buronan itu terhenti karena ada jembatan akar panjang di depannya.
“Apa jembatan ini aman?” tanya Doxia.
“Entahlah,” Aza Ergo tersenyum. “Coba jalan, kalau kau jatuh berarti jembatannya tidak aman.”
Doxia menatap jengkel pada petinggi itu. “Kenapa tidak anda saja yang mencobanya?”
“Aku tak ingin mati duluan.”
“Dasar! Hei elftraz (penyembuh), lakukan sesuatu.”
Horusca masih diam menatap jembatan akar yang tampak reot itu.
“Horusca?” panggil Riz.
“Hah,” Horusca menghela napas pelan. Ia pun mengulurkan kedua tangannya menyentuh jembatan akar itu.
“Jadi? Kalian mau ke mana?” sela sebuah suara tiba-tiba.
“Siapa itu!” teriak Doxia berbalik. Dan ya, tampaklah seorang laki-laki yang terlihat sebaya dengan petinggi empusa itu, sedang duduk di atas tanah sambil mengangkat anggur di tangan.
“Kau,” Aza Ergo mengernyitkan dahi menatapnya.
“Aku hanya menumpang lewat. Kau tidak keberatankan?” Aza Ergo ikut memamerkan senyum menyebalkannya.
“Keberatan? Tentu saja tidak. Aku ucapkan selamat jalan,” ucapnya memakan lagi anggur di tangan.
“Siapa dia?” bisik Toz. Horusca yang tadi ingin mengeluarkan tanamannya, terdiam saat melihat sosok itu. Pohon-pohon berteriak dan rerumputan menangis karena kehadiran laki-laki itu.
“Banyak wajah menarik. Oh ya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Hydragel Kers, pemimpin bangsa hydra. Bukankah aku hebat?”
Mereka yang hanya tahu namanya, namun tak tahu rupanya seketika kaget dibuatnya.
“Kau masih belum berubah,” Aza Ergo mendekatinya.
“Kau juga. Siapa yang menyangka orang gila sepertimu menjadi petinggi?”
“Siapa juga yang mengira makhluk tak waras sepertimu menjadi pemimpin?”
“Tanyakan pada bakatku,” Hydragel Kers tersenyum sombong.
“Malas. Mati saja kau Tuan,” Aza Ergo mengambil sebuah anggur dengan lancangnya.
“Kau ingin kulelehkan?” Hydragel Kers menatap menyeringai.
“Bukankah itu jurusku?” Aza Ergo juga menampilkan ekspresi yang sama.
“Bagaimana bisa petinggi magma itu bersikap kurang ajar pada Yang Mulia Kers?” tanya Rexcel.
“Dia sudah gila,” sahut Doxia.
“Sayang sekali. Aku sedang lelah dan juga tidak ada urusan denganmu. Hei, kau mata biru. Siapa kau sebenarnya?” tanya pemimpin Hydra itu memandang ke arah Reve.
Aza Ergo terdiam saat mendengarnya. Apa yang tak ia harapkan, justru malah benar-benar terjadi.
“Aku?” Reve menunjuk dirinya sendiri.
“Ya kau.”
“Aku guider pemula dari bangsa manusia.”
“Oh! Pemula? Assandia (petarung) langka?”
__ADS_1
Mereka sama-sama terbungkam dengan pertanyaan Hydragel Kers.
“Ya.”
“Benarkah?”
“Jika tak percaya, kau bisa tanyakan pada bakatku.”
“Boleh begitu?” Hydragel Kers berdiri.
Ekspresi Aza Ergo dan Horusca seketika berubah mendengarnya. “Mau apa kau?” petinggi empusa itu seketika menahan lengannya.
“Tentu saja bertanya pada bakatnya.”
Aza Ergo seketika melirik Reve. “Apa kau tidak bisa biarkan kami pergi saja? Setahuku kau bukan tipe orang yang ikut campur urusan orang lain.”
Hydragel Kers langsung tertawa. “Tapi aku tipe orang yang mengganggu orang lain. Kenapa tidak kau layani saja aku, Aza?”
Aza Ergo pun menampilkan ekspresi jijik. “Sesama orang gila, jelas tak bisa akur,” seringainya.
“Tentu saja. Tapi aku akan melayanimu jika mau.”
“Hentikan!” cegat Horusca. Mereka lalu menoleh padanya. “Yang Mulia Kers. Kami sedang dalam perjalanan, jadi apa bisa kau biarkan saja kami pergi?”
“Entahlah,” ia menarik lengannya yang ditahan Aza. “Lagi pula, kenapa aku harus melepaskan buronan seperti kalian?”
Rombongan itu seketika memasang kuda-kuda mendengar kalimatnya. “Hentikan!” teriak Aza Ergo tiba-tiba. “Jangan lakukan apa pun. Aku sedang tidak ingin tamu gila lainnya datang juga ke sini.”
“Ah, Revtel? Benar juga. Kau kan takut padanya,” seringai pemimpin hydra itu melebar.
“Baguslah kau tahu. Karena itu, biarkan kami pergi.”
“Baiklah. Kalian boleh pergi.”
“Benarkah?”
“Ya tentu saja. Kecuali dia,” tunjuknya pada Reve Nel Keres.
“Apa! Reve? Kenapa?!” Riz menatap kaget.
“Dia berbakat. Aku menginginkannya.”
“Kau pikir aku barang?” sela Reve berekspresi datar.
“Tidak. Tapi aku menginginkanmu.”
“Sayangnya aku tak menginginkanmu.”
“Bocah keras kepala.”
“Orang gila,” balas sindir Reve.
“Aku tak peduli dengan hobimu. Kau tidak bisa membawa rekanku begitu saja,” Aza Ergo menimpali.
“Rekan? Kau tidak mengigaukan?”
“Dia memang rekanku.”
“Petinggi dan buronan. Apa kau berkhianat Aza?”
“Bukan urusanmu.”
“Kau tahu apa yang terjadi pada bangsaku kan?”
Aza Ergo menatap remeh. “Pemimpin pemalas sepertimu berkata begitu? Sepertinya matahari akan terbit dari barat.”
“Aku juga tahu diri.”
‘Ya-ya! Terserah kau saja. Kalau tidak turun tahta saja dan lanjutkan malas-malasanmu itu.”
“Apa yang kau rencanakan Aza?”
Petinggi itu tersenyum. “Bukan urusanmu. Horusca, siapkan jalannya.”
“Aku penasaran apa yang akan dilakukan Revtel jika melihat ini.”
“Karena itu jangan katakan apa pun padanya agar dia tak melihat ini,” ucap Aza Ergo mulai melangkah meninggalkannya.
“Entahlah. Tapi aku masih menginginkan bocah itu.”
“Aku juga membutuhkannya.”
“Ayo kita bagi dua saja dia.”
“Kau gila Kers.”
__ADS_1
Sementara mata Reve masih tak terlepas dari Hydragel Kers yang juga ikut menatapnya.