Death Game

Death Game
Eksekutor berdarah Empusa


__ADS_3

“Sial!”


Izanami Forseti menatap tajam monster merah menyala itu. Tangannya pun dimajukan untuk melancarkan serangan selanjutnya.


“Jangan Izanami! Dia—”


Terlambat. Begitu monster itu melirik Izanami, duri-duri magma besar pun bermunculan menyerang tangan yang terjulur ke depan. Bahkan jumlahnya semakin banyak membuat laki-laki yang tampak hebat sebelumnya, harus melompat tinggi agar tak diserang jurus aneh itu.


“Sial!” Caprio menekan tenaga di kakinya, menghasilkan retakan besar di tanah lalu melompat ke arah Izanami untuk menyelamatkannya. Daya kemampuan di kakinya benar-benar luar biasa.


“Ugh!” erang Izanami begitu rekannya berhasil merangkulnya dan melompat ke arah pohon elm yang tinggi.


“Izanami, tanganmu,” pria berbandana itu tersentak begitu menyadari sosok yang dibantunya ternyata terluka.


“Tak kusangka dia sehebat itu,” lirih Izanami sambil menyentuh perutnya yang juga kena luka bakar dan tangan dipenuhi sayatan akibat duri sebelumnya.


“Ini buruk,” keluh Caprio menatap monster yang tampak mencari sosok-sosok mangsa sambil berjalan pelan. “Tapi,” Izanami pun menoleh padanya. “Sepertinya kesadarannya takkan menyerang rekannya.”


Pandangan keduanya terarah pada sosok yang tergeletak sekarat di tanah. Reve Nel Keres, benar-benar menyedihkan kondisinya. Mata nanar yang menatap sayu, aliran darah mengalir membasahi tanah di sekitar area dadanya, dia sungguh tak berdaya.  


“Kita harus membunuhnya,” ucap Izanami merobek baju bagian bawahnya lalu melilit tangan terlukanya.


“Haruskah?” Tak ada jawaban. Kecuali tatapan dingin yang terpancar di wajah Izanami Forseti. Tampak dirinya bersiap-siap melancarkan serangan berikutnya. “Izanami?”


Sekarang, Izanami berdiri dengan gagahnya. Mata dinginnya, terarah jelas pada monster yang diperkirakan Aza Ergo. Petinggi gila dari empusa, dialah tujuannya.


Sang pengetahui kunci Reygan mengangkat tangannya. Huruf kuno di telapak itu menyinarkan cahaya merah, sampai akhirnya pedang darah panjang muncul lagi digenggaman.


“Izanami, kau—”


Sosok itu sontak langsung melompat dari ketinggian posisinya ke arah monster di bawah. Pria berbandana rekannya, hanya bisa menatap lekat dengan pandangan khawatir akan apa yang terjadi.


Seketika duri-duri raksasa dari magma bermunculan di tanah hendak menyerang Izanami yang menghindar dengan lihainya. Kemampuannya memainkan pedang benar-benar seperti tarian nan indah. Menghancurkan setiap duri terarah padanya dalam gerakan ayunannya.


Lahan hutan itu benar-benar dibuat sang monster menjadi arena pamer kemampuan. Entah apa yang dia gumamkan, tapi duri-duri merah menyalanya sungguh mencolok warnanya. Apa pun yang tersentuh di sana langsung melebur cepat karena panasnya magma.


Tapi, tak sedikit pun duri itu bangkit di area Reve yang terbaring lemah. Mungkin saja, kesadarannya menahan serangannya untuk menyentuh Reve.


“Tak peduli sehebat apa kemampuanmu. Rasa dalam pertemananmu benar-benar kelemahanmu,” ucap Izanami tiba-tiba. Dirinya melompat tinggi hendak menghampiri Reve Nel Keres.


Monster itu tersentak. Spontan dia berteriak aneh yang membuat retakan magma mirip akar di tanah bergerak cepat sampai ke area Reve.


“Ini!” pekik Izanami dan Caprio hampir bersamaan.


“Jangan Izanami! Lari!” teriak temannya memperingatkan.


Akan tetapi, ledakan besar yang menggemparkan tanah Lagarise benar-benar mengejutkan seluruh penghuninya. Bahkan beberapa pasang mata dengan energi tak biasa di tubuhnya, menatap ke arah sumber ledakan yang jelas gila kekuatannya.


“Revtel?” panggil Kers saat menyadari pria itu menutup buku yang dibacanya. Mereka berdua sedang beristirahat di balkon istana dengan santainya.


Tapi, sang pria berkacamata justru menatap ke arah hamparan hijaunya hutan yang jauh di ujung sana. Menyeringai tipis membuat Hydragel Kers jadi bingung.


“Jangan tersenyum Revtel, karena membuatmu tambah jelek,” sela Kers membuyarkan tatapannya.


“Sungguh, aku jadi ingin membunuhmu,” ucapnya yang membuat sang pemimpin hydra bergidik ngeri.


“Oh, ayolah teman. Jangan menatapku begitu,” rayu Kers berdiri dari duduknya sambil memijat bahu Revtel. “Tapi, kenapa kamu tersenyum?”


“Tidakkah kamu merasakannya?”


“Merasakan apa?” sang pemimpin mempertajam indera di seluruh tubuhnya. “Ah,” seringainya.


Gelap. Hutan yang menjadi tempat pertarungan dipenuhi asap hitam pekat mengudara. Sungguh tak bisa dibayangkan, orang-orang di bukit Lagarise menunjuk-nunjuk asap yang menjadi sumber kegemparan.


“Guru!” Redena menoleh pada pak tua yang berambut hitam legam itu.


Sementara, sosok pengasah senjata di dalam penjara ikut melirik ke tempat sumber ledakan, walau tatapannya dibatasi dinding berhias jeruji besi.


Di tempat berbeda, di dekat kolam ikan dengan jembatan membentang di tengah-tengahnya, tampak tiga orang berdiri di sana dan salah satunya berekspresi tak biasa.


“Orion? Ada apa?”


“Tidak ada apa-apa,” jawabnya pada Reoa Attia.


“Benarkah? Tapi kamu terlihat cemas,” timpal salah satunya.

__ADS_1


“Tiba-tiba aku hanya teringat dengan Aza.”


Reoa Attia tersentak kaget. “Aza? Aza Ergo?”


“Ya.”


“Oh, ayolah Orion. Kenapa kamu selalu mencemaskan bocah cerewet itu? Kamu terlalu baik saudaraku,” keluh Reoa.


“Bagaimanapun dia tetap adik seperguruanku.”


“Bahkan Kers dan Revtel takkan secemas dirimu,” ledek petinggi bangsa gyges itu.


Beltelgeuse Orion tak menanggapi sindiran Reoa. “Tapi, aku juga penasaran kenapa bocah itu bisa menjadi petinggi empusa,” sambung Hellbertha.


“Entahlah. Mungkin karena dia adik seperguruan kalian?” lirik Reoa pada Orion.


“Karena dia hebat,” sahutnya membela petinggi empusa itu.


“Benarkah? Dia memang hebat karena bisa mengendalikan magma, tapi menurutku dia bahkan tak lebih hebat dari Hea kecuali mulut pedasnya,” sindir Reoa.


“Aku juga berpikir begitu, aneh mendengarnya disebut sebagai bocah jenius hanya karena dia bisa menjadi petinggi di usia muda,” setuju Hellbertha yang merupakan tabib bangsa gyges.  


Beltelgeuse Orion pun mengalihkan pandangan ke sekitar. Menatap tenang permukaan kolam di mana ada sekumpulan ikan yang memakan bangkai serigala.


“Dia disebut jenius bukan karena menjadi petinggi di usia muda.”


Reoa Attia memiringkan wajahnya. “Lalu?”


“Bahkan walau penampilannya seperti itu, empusa tetap harus mengakuinya. Karena bagaimanapun juga, hanya itu salah satu cara untuk menghentikan kegilaan Aza yang merupakan eksekutor berdarah dalam pelatihan dingin Hadesia.”


“Itu, apa itu benar-benar ulahnya?” Reoa mendelik. “Bukankah itu ulah Revtel?”


Beltelgeuse meliriknya. “Ya, itu memang ulah Revtel. Karena jika bukan dengan pengorbanannya, bisa dipastikan seluruh Hadesia sudah menjadi lautan magma dan membunuh semua penghuninya.”


Reoa Attia dan Hellbertha pun terdiam.


“Berterima kasihlah. Karena dia tak pernah menanggapi sindiran kalian. Sebab jika Aza yang dulu, takkan segan-segan memburu siapa pun bahkan jika itu gurunya sendiri,” lanjut Orion berlalu meninggalkan mereka.


Bising, suara kepulan asap berterbangan. Panas yang dirasa benar-benar melelehkan seperempat daratan hutan Lagarise.


“Ugh, sialan!” rintih seseorang tiba-tiba. Di balik gumpalan asap yang memudar, pemandangan mengejutkan justru terlihat jelas. “Dia benar-benar gila! Apa dia serius ingin membunuh temannya?!” geram Caprio yang terduduk dengan tangan terbakar sambil melindungi tubuh Reve Nel Keres. Akan tetapi, ada yang jauh lebih mengagetkan tatapannya. “Izanami!”


Sang pengetahui kunci Reygan, berdiri kokoh dengan setengah pakaian bagian atasnya tak bersisa lagi. Dada bidangnya, memamerkan tulang-tulang berdarah yang tampak mengerikan untuk dipandang. Dia tersengal-sengal dan tangannya pun mulai menyentuh kepalanya.


“Izanami! Kau baik-baik saja?!” pekik Caprio. Dirinya tak menyangka, kalau laki-laki itu akan melindungi dirinya dan Reve Nel Keres sampai seperti itu. “Badanmu,” pria berbandana pun bergidik ngeri.


“Tak kusangka dia sehebat itu. Ini benar-benar buruk karena tanah dialiri magma miliknya.”


“Dibanding membunuhnya, sepertinya kita harus menghentikannya.” Caprio pun melirik telapak tangannya yang terbakar. “Kau pergilah, biar aku yang melakukannya.”


“Jangan gila. Bahkan jika kau melepaskan segel, dia takkan bisa kau hentikan sendirian. Kita lengah karena dia pemakai kutukan tradio.” Caprio pun terdiam mendengarnya. “Kau dan aku sama-sama tahu apa artinya itu.”


Namun, suara aneh dari mulut monster itu justru mengalunkan kata-kata aneh. Membuat keduanya melirik cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Izanami pun menoleh ke belakang, menatap sosok Reve dalam keadaan benar-benar sekarat. Sepertinya, kurang dari 10 menit lagi dia pasti akan mati.     


“Tak ada pilihan,” lanjut Izanami menyentuh darah di tulang lalu menjilatnya.


“Apa yang mau kau lakukan?!”


“Hexlama (kutukan kegelapan) harus dibayar dengan harga yang sama.”


“Jangan gila Izanami! Kau ingin meratakan tempat ini?!”


“Itu lebih baik daripada menjadikannya lautan magma.”


Kalimat laki-laki itu langsung membuat pria berbandana menoleh ke arah retakan yang mirip akar besar di tanah. Mulai mengalirkan magma secara perlahan untuk tumpah dari sana.


“Ini gila!” umpatnya.


“Aza,” lirih pelan Reve.


Keduanya sama-sama menoleh pada pemuda itu. Suatu keuntungan, karena Izanami sudah menebar darahnya untuk melindungi pijakan mereka dari akar magma Aza Ergo.


“Hei!” pekik Redena tiba-tiba. Dirinya tersentak begitu menyadari pijakan kakinya hampir saja menginjak retakan magma. “Dia!”


Pak tua berambut hitam legam terdiam begitu mereka sampai di sana. Monster yang masih berdiri tenang, tampaknya sedang memfokuskan kekuatan untuk mengalirkan energi ke kakinya.

__ADS_1


“Dia! Bukankah dia petinggi bangsaku?!”


“Iya! Lakukan sesuatu! Dia pakai kutukan tradio,” jelas Caprio.


Redena yang menatap kaget semakin tak percaya akan kondisi yang dilihatnya. “Iza!” begitu menyadari laki-laki itu terluka parah.


“Lupakan aku! Tanah di sini sudah dicemari jurusnya, kita harus menghentikannya atau tempat ini akan jadi lautan magma!” jelas Izanami Forseti.


“Kupikir juga begitu,” ucap seseorang tiba-tiba mengalihkan tatapan mereka.


“Kau! Siapa kau?! Muncul tiba-tiba!” tatap tajam Redena.


“Daripada memikirkan aku, lebih baik kalian pikirkan monster itu. Aliran magmanya sudah sampai ke penjaraku. Jika begini, Lagarise sebentar lagi akan punah dari peta.”


“Sial!” umpat Redena. “Kupikir dia cuma petinggi tak berguna, apa-apaan kemampuan gilanya itu?!”     


“Tak diragukan lagi, dialah penyebab kegilaan di Hadesia.”


Orang-orang di sana pun menatap kaget akan ucapan orang baru yang tampak aneh itu.


“Jangan mengada-ada, itu ulah Revtel.”


“Terserah kalian percaya atau tidak. Tapi yang jelas kita dalam bahaya sekarang,” ucapnya menarik senjata aneh di balik punggungnya. Setongkat besi, namun mirip ranting kayu.


“Kita bunuh saja dia,” sahut Redena dengan beberapa burung elang berterbangan di atas kepalanya.


“Redena,” sela pak tua berambut hitam legam.


“Memang sangat disayangkan jika empusa harus kehilangan petingginya. Tapi akan lebih baik dari pada orang-orang di kota ini mati,” lanjut wanita itu.


“Bukan ide yang buruk. Tapi, jika dia mati apakah ada jaminan magmanya juga hilang?” orang asing itu menatap area sekitar pijakannya yang belasan menit lagi akan digenangi magma.


Tiba-tiba, pepohonan di hutan Lagarise bergoyang hebat seakan dihempas angin membuat orang-orang terperanjat akan apalagi yang mungkin terjadi. Perlahan, tumbuhan kecil mulai bangkit di area yang tak terkena magma.


Saling menyatu di udara membentuk bongkahan dari kumpulan tanaman menjalar. Dan di detik-detik tertentu, menampilkan siluet aneh seperti sesosok tubuh manusia sebelum akhirnya berpijak ke tanah.  


“Kau!” pekik Redena menyadari siapa itu.


Rupa yang tak disangka, berbalik menatap tubuh tergeletak sekarat itu. Tangannya terangkat, ke arah tiga orang yang posisinya saling berdekatan.


“Liaythax Nehriem Miaglea (Bola Hijau Nehriem)” ucapnya yang memunculkan bola hijau mengelilingi Izanami, Caprio dan Reve Nel Keres.


“Ini,” gumam Caprio menatap pelindung penyembuhan itu.


“Aza Ergo,” gumam pemuda berambut merah.


Namun tak ada jawaban jelas kecuali lirihan aneh dari monster bara. Tekanan di kakinya jelas terasa aneh mengingat ia sedang memfokuskan kekuatan di daratan Lagarise.


“Hei elftraz (penyembuh), kau rekan dia kan? Lakukan sesuatu,” keluh Redena.


Horusca hanya melirik sekilas perempuan cerewet itu. “Aku juga tidak mau mati muda.”


“Hentikan,” cegat pak tua berambut hitam legam. Dirinya menyentuh belakang lehernya lalu menarik rantai berduri dengan aura merah dari sana.


“Guru!” Redena kaget melihat pak tua itu mengeluarkan senjatanya.


“Assandia (petarung),” orang asing dan Horusca berkata bersamaan.


“Apa tanamanmu bisa melakukan sesuatu dengan magma di tanah ini?”


“Entahlah,” jawab Horusca singkat.


“Dasar tidak berguna!” umpat Redena.


“Aku akan membantu kalian, walau aku juga tak yakin dengan kemampuanku,” sahut sosok asing itu. Dia memutar tongkat besi aneh di tangannya, memunculkan kilau aneh seperti serbuk besi dari putaran senjatanya.


“Merlindia (penyihir) ya,” gumam Horusca.


Akan tetapi saat hendak memulai serangan, tiba-tiba monster itu berteriak keras yang memunculkan hempasan angin kasar serta hawa panas.


“Gawat! Dia akan menyerang!” teriak pria berbandana. Dan seperti katanya, tanpa memberi jeda terbentuklah ekor sebanyak tujuh buah dari punggung monster bara.


Ekor meleleh dari magma, bergoyang cepat seakan bersiap hendak menyerang. Mulai terangkat tinggi mengudara seperti mengukur jangkauan jarak serangan.


“Sial!” umpat Redena begitu ekor-ekor sialan itu menyerang bersamaan ke arah mereka seperti cambuk raksasa.

__ADS_1


__ADS_2