
Beberapa saat sebelumnya.
“Tolong cepat obati dia!” pinta Arigan yang berhasil membawa Thertera ke tempat Horusca juga Cley Vortha.
Mengerikan sensasinya, lubang besar akibat serangan Aza membuat napas laki-laki itu berjarak sekarang. Jika tak segera diobati, dia jelas-jelas akan mati.
Tapi di satu sisi, keterbatasan tenaga dan pengobatan luar biasa yang mereka lakukan langsung membuat keringat mengalir di pelipis.
Bagaimanapun juga, luka-luka yang diderita para Raja muda dan murid-murid Hadesia tergolong fatal kondisinya. Rata-rata mereka semua hampir berada di menit-menit akan meregang nyawa.
Apalagi ditambah Izanami Forseti juga Castroz Keres. Pengobatan yang memakan waktu lama jelas harus dilakukan dua elftraz (penyembuh) sebagai gantinya.
“Kuharap, tak ada lagi orang sekarat yang datang,” keluh sang Dokter jenius. Bagaimanapun juga, sosoknya harus bisa mendapatkan kembali peti mati Raja bangsa elf.
Sementara Blerda Sirena yang terpisah badannya, lambat laut daging-daging berdarah itu mulai bergerak agar menyatu kembali.
Sakit tentunya. Tapi kesadarannya masih bertahan menatap langit-langit di atas sana. Selama kontrol kupu-kupu kayangan masih aktif di tangannya, para murid Hadesia yang terikat janji berdarah jelas aman nyawanya.
Walau roh mereka akan mengambang jika tubuh mereka mati.
“Blerda,” panggil Beltelgeuse. Perlahan sorot mata mereka bertemu dan sang gadis memekarkan senyum padanya.
“Bertarunglah.”
Sang ksatria bintang bangsa gyges pun menggeleng. “Walau ada perisai, tak ada jaminan akan bertahan. Harus ada yang melindungi di sini.”
Blerda tampak puas akan jawaban saudara seperjanjiannya. “Aza,” ucapnya yang berhasil mengundang atensi orang-orang yang sadar. Gadis itu pun menggerakkan wajah untuk menatap ke arah petinggi muda. “Penyakit yang dia punya, adalah kutukan para penyimpang untuk ibunya.”
Para pendengar pun terkejut mendengarnya.
“Apa maksudmu?” syok Beltelgeuse.
“Capricorn pernah berkata, kalau ibu Aza pengkhianat para penyimpang. Akibatnya, kutukan pun ditanamkan dan aktif ketika mengandungnya. Dia anak langka dari tiga bangsa. Jika dia mati, tubuhnya akan tetap murni. Tapi penyakit yang dia punya akan menyebar ke dunia bersamaan dengan meluapnya kemampuan yang dipunya. Kita harus melakukan sesuatu padanya agar Guide tidak tertelan magma,” jelas Blerda dengan suara lemahnya.
“Jangan gila! Mana bisa begitu?! Dia bahkan bukan Dewa! Kenapa sosoknya malah segila itu?!” pekik Arigan yang tak terima.
Beltelgeuse pun berbalik dan menatap Aza yang berjalan gontai kondisinya. Serupa Reve Nel Keres, setiap langkahnya meninggalkan jejak magma. Percikan cairan merah menyala itu juga terbang mengudara untuk menghiasi sekitar.
Sampai menyentuh dedaunan dan tanaman, hal itu pun berhasil menghancurkannya.
“Arigan, tetaplah di sini,” suruhnya.
__ADS_1
“Lho, kau mau ke mana?” kaget laki-laki itu.
“Aku akan membantu mereka. Bagaimanapun juga, kita harus bekerja sama untuk menghentikan para bencana,” selesai mengatakannya, tubuh Beltelgeuse pun berubah menjadi air dan lenyap ke tanah.
“Sial! Sepertinya, kita harus berjaga-jaga ya,” gumam Arigan menyaksikan sekitarnya.
Walau Lascarzio Hybrida masih berdiri bersama Trempusa yang terantai, tampaknya ia tidak berniat membantu sekitarnya. Kecuali tatapannya bertemu dengan sosok Raja hydra.
Lain halnya Laraquel Hybrida, laki-laki berwajah setengah tengkorak itu pun akhirnya memilih turun tangan. Menuju ke tempat Reve Nel Keres juga Sif Valhalla.
“Kau, lawanlah dia,” ucapnya sesampainya di sana. “Biar aku yang menangani si magma.”
Reve pun menatap heran pada pendatang itu.
“Laraquel,” pandangan Sif mengikuti langkahnya.
“Laraquel!” panggil Reygan yang mengalihkan fokusnya. “Kau juga bocah pemalas. Masih saja keras kepala mengarahkan pedang padaku. Apa kau ingin mati?”
Tampang laki-laki itu pun berubah jengkel karenanya. “Siapa bilang aku mengarahkan pedang padamu? Aku akan menantang magma itu!”
“Itu tak menolak kenyataan kalau kau juga pemegang kunci keparat.”
Laki-laki yang satu golongan keluarga dengan Lascarzio itu pun tertawa. Ditatap remehnya sang guru, lalu mengangkat pedangnya. “Ah, sayang sekali Raja elf tidak di sini. Andai dia ada, akan kupastikan kau disegel kembali.”
Tapi bersamaan dengan itu, gelombang air raksasa pun menghantam Aza Ergo.
“Tsunami?!” pekik kaget Laraquel.
“Aza! Sadar Aza! Kau seperti kerasukan!” teriak Beltelgeuse mengingatkan.
“Dasar bodoh! Dia memang dirasuki kutu— awas!” teriaknya tiba-tiba. Bersamaan dengan gerakan tubuh yang luar biasa diselamatkannya petinggi gyges. “Sial! Hampir saja!” syok Laraquel akibat lengan bajunya yang terkena magma.
Sementara Reygan terkekeh menyaksikannya.
“Sudah cukup! Aku takkan main-main lagi!” Api bangsa phoenix yang menyelimuti mulai lenyap akibat menjalar ke arah pedangnya. Membuat senjata Reve memancarkan asap biru tiba-tiba.
Hanya dengan sekali lihat, orang-orang berkemampuan tingkat tinggi itu tahu apa yang akan dilakukannya. Apa pun jenis ayunan dari Reve Nel Keres jelas mematikan dampaknya.
Tubuh Reygan pun mendadak gemetar dibuatnya.
“Aza!” lagi-lagi Beltelgeuse memanggil dirinya. Tapi sosok yang kesadarannya terkurung entah di mana itu hanya melancarkan serangan gila.
__ADS_1
“Hentikan, Bodoh! Dia itu kerasukan! Tak ada gunanya bicara selain membunuhnya!”
“Tutup mulutmu!” hardik petinggi itu tak terima. Dia terus mengurung Aza dengan gelombang besar airnya. Akan tetapi, tipe jurus yang bertolak belakang membuat kemampuan Beltelgeuse menguap. “Sial!”
“Bahkan kau juga tidak berguna!” ledek Laraquel. “Matendo! (Rantai jiwa!)” ucapnya begitu ujung pedang ditancapkan ke tanah. Getaran hebat bak gempa memenuhi daratan tanah gyges.
“Ini!” kaget Aegayon melihatnya.
Area setengah tengkorak di wajah Laraquel pun semakin terbakar. Bersamaan dengan itu, muncul struktur topeng di sana. Diiringi tiang-tiang besi sekitar tiga belas buah bermunculan di pijakan mereka.
Cukup besar seperti batang pohon kokoh berwarna gelap gulita.
“Apa itu?” Xavier memandang heran pada tiang aneh yang baru muncul.
“Abaikan saja, fokus saja padanya,” ucap Aegayon yang berdiri bersamanya juga Raja hydra.
Bagaimanapun juga, penyimpang yang merupakan putra Zeus jelas menjadi lawan mereka.
“Kudengar, Raja gyges itu punya rambut pirang yang sangat menawan. Jadi apa anda takkan memamerkan?” tanya Kers padanya.
Sosok dengan wujud tertutup itu pun menoleh. “Bukan saatnya, Yang Mulia.”
“Sayang sekali.”
Dan tiba-tiba, tiang-tiang milik Laraquel pun mengeluarkan rantai berduri yang merah menyala. Diikatnya tubuh sang petinggi empusa, sehingga pemuda itu menjerit keras karenanya. Apalagi ekor magma andalan tak bisa apa-apa.
Rantai jiwa benar-benar melumpuhkan gerakannya.
“Sial, aku butuh Izanami!” keluhnya. Mengingat mantra tradio mungkin bisa membantu untuk melemahkan Aza.
Akan tetapi, di sela-sela geliat sang petinggi muda, wajahnya malah retak tiba-tiba. Dan itu cukup mengejutkan Beltelgeuse yang menyaksikannya.
“Tunggu, rantaiku!” jerit Laraquel menyadari sesuatu mulai aneh.
Benar saja, sebuah gelombang dahsyat pun langsung pecah dari sang petinggi empusa. Tekanannya bahkan mencapai kawasan tetangga.
Parahnya lagi, rantai jiwa yang digunakan Laraquel untuk mengikatnya justru memaksa Aza membangkitkan wujud tak terduga.
Bersamaan dengan retaknya kendi sang ayah di kesadaran terdalam pengendali magma, kemampuan tersegelnya pun akhirnya keluar di hadapan mereka.
__ADS_1