
Toz terjaga dari tidurnya. Napasnya terengah-engah dan keringat mengucur bebas di dahinya. Diliriknya sekitar, bersamaan dengan pemandangan beberapa orang yang tampak terlelap di sekelilingnya.
Mereka kelelahan di matanya.
“Mimpi buruk?” sela sebuah suara tiba-tiba.
Toz pun menoleh, ke arah sumbernya. Seorang pemuda dengan kilauan rambut biru kehitaman menyambutnya. Dan seekor ular menggantung di lehernya.
“Reve,” Toz pun bangkit dari posisinya dan menghampiri assandia (petarung) langka yang duduk di jendela. “Kamu tidak tidur?”
“Aku sudah bangun.”
Dan sosok yang bertanya pun duduk di bibir jendela di sebelahnya. “Kupikir kita akan mati, tapi untung saja. Padahal aku sudah takut sekali saat kita bertemu dengan petinggi brutal itu,” diakhiri senyum olehnya.
Reve pun jadi tertawa pelan mendengarnya.
“Tenang saja. Karena takdir kita takkan mati sia-sia di tangan mereka.”
“Kamu yakin sekali Reve, apa kamu bisa meramal?”
“Tidak. Tapi karena tujuanku belum tercapai, jadi kita takkan mati. Hanya itu,” sebuah guratan tipis pun tersungging di bibirnya. Membuat Toz terkesiap akan pesona menawannya. “Kamu kenapa?”
“T-tidak, tidak ada apa-apa,” diiringi gelengan kepala dengan cepatnya. “Oh ya, di dunia manusia, kamu tinggal di mana?” tanyanya dengan maksud mengalihkan perhatian.
“Kawasan Girilg.”
“Heh?! Itu kan tidak jauh dari sekolahku!”
“Kita kan memang satu sekolah.”
“Apa!” kaget Toz mendengarnya. “Kita satu sekolah? Kenapa aku bisa tidak tahu? Kalau kamu memang sekolah di tempatku, aku pasti sering melihat bocah mencolok sepertimu.”
Seketika muka malas langsung terpampang nyata di wajah Reve. “Dasar bodoh. Kelasku di lantai dua, sedangkan kau di lantai tiga. Kantinnya saja beda, tentu saja kita jarang bertemu. Memangnya aku belum bilang ya?”
“Rasanya belum. Atau mungkin aku yang lupa?” Toz pun mengedarkan pandangan seperti sedang menerawang. “T-tunggu! Apa itu berarti kamu juga kenal dengan Jion?”
“Si keriting? Tentu saja. Aku juga kenal dengan Ellio mantan teman kalian itu,” jawabnya dengan santainya.
Sungguh benar-benar tak disangka, Toz masih tidak percaya kalau pemuda ini satu sekolah dengannya. “Jion,” lirihnya. “Menurutmu, dia sedang apa ya?”
__ADS_1
“Entahlah, mungkin dia sudah mati.”
“Mana mungkin, dia itu kuat bahkan dari keluarga guider hebat.”
“Lalu? Itu bukan jaminan. Dunia Guide seperti hukum rimba, yang terkuat akan jaya dan dia cuma semut di antara singa. Percayalah, bahkan anak perdana menteri di bangsa kita tak ada artinya di sini.”
Toz pun jadi terdiam karenanya.
Sementara di tempat lain, seorang pemuda menengadah. Suara napasnya begitu memburu di balik sakit di tubuh yang dirasakannya. Luka sayatan di bahu, paha dan perutnya, berhasil menyiksanya saat ini juga.
Tapi tak ada pilihan, kecuali sosoknya harus terus melangkah. Atau kematian akan memeluknya secara perlahan, mengingat seekor monster membisikkan kehangatan.
Singa yang bernapaskan api sedang mengamuk kelaparan.
“Lho, siapa ini?” suara seseorang berhasil mengusik pandangan anak muda itu. Terkejut, namun juga lega di satu sisi. Akan fakta kalau dirinya tak sendiri.
“Manusia?”
“Kupikir begitu.”
Dan anak muda yang terluka pun terus menatap lekat dua orang asing di hadapannya. Berharap, mereka akan membantunya. Karena bagaimanapun juga dia sedang terluka. “T-tolong aku,” ucapnya tiba-tiba.
“Dia sedang terluka, mana mungkin itu terlintas di otaknya? Maklumi saja.”
“Dasar!”
“M-maafkan aku! Namaku Anca Blake! Aku sedang dikejar singa bernapas api, jadi aku mohon tolong bantu aku!” pintanya sambil membungkuk sebisanya. Bahkan jika goresan di perut sangat menyakitkan karena tindakannya, tapi ia tidak bisa apa-apa. Karena bantuan yang lebih utama baginya.
“Baiklah kalau begitu. Namaku Cley Vortha, Nak. Jangan lupa kalau aku lebih tua darimu.”
“Bagaimana kau bisa tahu kalau dirimu lebih tua?” tanya rekannya.
“Tentu saja karena aku lebih tinggi darinya.”
“Alasan konyol.”
“Tidak, aku yakin kalau dia lebih muda dariku. Pendeknya sekitar telingaku.”
“Dasar bodoh.” Akan tetapi, tiba-tiba terdengar raungan keras tak jauh dari mereka. Begitu memekakan telinga dan membuat bulu kuduk merinding mendengarnya. Tapi, itu tak berlaku untuk dua laki-laki asing yang baru datang itu. “Apa mungkin itu singanya?”
__ADS_1
“Ayo Ragraph! Bunuh makhluk itu dan kita ambil dagingnya!” titah Cley dengan senangnya.
Sementara rekannya memilih buang muka dan berlalu begitu saja. Berjalan mendekati Anca Blake yang menatap gugup ke arah mereka.
“Jangan takut, aku tidak akan membunuhmu,” sahutnya sambil memegang lengan pemuda itu tiba-tiba. Dan sontak saja, ia melompat sambil membawanya. Membuat Anca terpekik akan ulahnya.
“Hei! Kenapa kau malah melompat ke pohon? Dasar anak-anak kurang ajar. Makanya banyak yang mati muda karena tidak sopan meninggalkan orang tua!” cerca Cley padanya.
Tapi Ragraph Revos hanya tersenyum tipis ke arahnya. Sampai akhirnya seekor singa dengan mulut menyemburkan api pun mendadak melompat di kanan Cley Vortha yang bersuara.
Begitu bengis tampangnya. Meneteskan air liur di sela-sela taringnya. Mata merah menyala dan surai kehitaman menghiasi penampakannya. Hewan buas yang memang banyak berkeliaran di hutan dunia Guide.
“Hei, apa mungkin kalian ingin aku yang bertarung dengannya?” seringai Cley ke arah dua pemuda yang sudah berdiri di atas pohon. Walau salah satunya agak panik karena tidak tahu lagi harus bagaimana. Mengingat hewan buas itu yang sudah melukainya.
“Tentu saja. Memangnya siapa lagi? Kan kau yang di bawah.”
“Dasar bocah laknat.”
“Awas!” pekik Anca tiba-tiba. Karena hewan buas itu meraung dan menyerang Cley Vortha yang masih menengadah ke atas.
Tangan kanan yang diarahkan sang dokter pun langsung putus akibat dimakan singa itu. Sehingga sosoknya malah tertawa melihat kondisinya sekarang.
“Lihat Ragraph! Tanganku tidak ada!” kekehnya sambil memamerkan siku yang meneteskan darah itu.
Tentu saja hal tersebut membuat Anca bergidik ngeri. Mengingat bukan raut wajah histeris ketakutan yang dipamerkan Cley tapi malah sebaliknya. Dia tertawa dengan puasnya.
“Dasar bodoh. Kenapa tidak kepalamu saja yang putus?”
“Kan tidak keren kalau Dokter jenius sepertiku jalan tanpa kepala. Ayo Nak, selanjutnya gigit kakiku,” sodornya pada singa itu dengan senangnya.
Benar-benar tidak normal. Anca terkejut bukan kepalang melihat laki-laki di bawahnya. Dia seperti bahagia akan siksaan yang di deritanya.
“Eh!” kaget Cley karena tiba-tiba manga shoujo jatuh dari balik bajunya. “Komikku!” pekiknya tiba-tiba. Dan bersamaan dengan datangnya sergapan yang mendarat ke bahunya.
Sementara Ragraph yang berdiri di atas pohon bersama Anca malah tertawa pelan. Karena merasa lucu dengan pemandangan di hadapan. Benar-benar selera humor yang mengerikan.
“Kau, berani-beraninya kau menodai Maria tercintaku!” dan hewan buas itu langsung tercabik-cabik begitu saja. Oleh kemampuan aneh yang keluar dari badan Cley Vortha. Seperti tanaman berduri namun setajam pedang dalam menyerang. Sehingga di saat terakhir hanya menyisakan rahang sang hewan yang masih melekat di bahunya. “Maria, kamu baik-baik saja?!”
Tangannya lalu mengambil manga shoujo yang covernya sudah dinodai darah. Tentu saja itu berasal dari cipratan miliknya. Saat singa tersebut menggigit bahunya. Dia pun memperlakukan komik tercintanya seperti kekasih yang harus ia jaga.
__ADS_1
“Dasar bodoh,” ledek Ragraph sambil melompat ke bawah dengan memegang lengan Anca yang masih syok melihat tontonannya.