
“Di mana pun kamu berada, ibu akan selalu mendoakanmu.”
“Deg!”
Mata Reve langsung terbuka. Ia tersadar juga akhirnya, tapi di manakah dirinya? Gelap, hening, sesak, dingin, semua menyatu di sekitarnya.
“Ibu? Ibu?! Ibu di mana?” panggil Riz.
Ia yakin kalau yang tadi membangunkannya adalah suara ibunya. Tapi tak ada apa-apa di sana. Sosok wanita yang sangat berarti di hidupnya bahkan tak terlihat batang hidungnya.
“Ini di mana?” gumam Riz.
Setelah mengumpulkan semua arwah dan sadar dengan benar, ia pun berdiri. “Di mana ini?! Doxia? Tuan Doxia? Anda di mana?!” Riz menatap sekelilingnya. Gelap, tak ada apa-apa.
“Tuan Doxia? Rambut merah? Kalian di mana?” panggil Riz sekali lagi.
“Cih! Apa yang terjadi? Kenapa semuanya seperti ini?! Tunggu! Bukankah tadi kepalaku sakit? Terus apa yang terjadi? Aku merasa tuan Doxia memanggil dan menamparku!” Riz berbicara sendiri.
“Sial*n! Apa yang sebenarnya terjadi?!” gerutu Riz.
Hening ....
“Sudahlah, kalau begitu aku pergi ke sembarang arah saja!” jengkelnya.
Riz menapaki jalanan gelap itu, ia tetap fokus ke depan karena tak ada apa pun di sekelilingnya. Entah sudah seberapa jauh ia berjalan sejak tadi, tapi semuanya masih tetap sama. Udara yang mengelilinginya masihlah dingin dan terasa berat.
“Sebenarnya ini di mana?”
Gelap ....
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang menanti. Tangan yang terulur, buah dewa yang diperlihatkan, pijakan yang disediakan, semua yang ditawarkan, nyawa yang dibayarkan.”
“Suara? Dari mana arahnya?” batin Riz. Ia pun berusaha keras mencari sumber suara tersebut.
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang memberi.”
“Di mana sumbernya?” Riz mulai kesal karena tak tahu dari mana asalnya. “Hei! Siapa itu! Di mana kau?!”
“Cahaya yang diturunkan, silau yang membutakan, suara yang dirindukan, belaian yang menghangatkan, kegelapan yang dipersembahkan.”
“Cih! Aku bisa mendengarnya, tapi dari mana asalnya?! Lagi pula apa itu? Kenapa kalimatnya sangat aneh?!” dengusnya.
“Ini adalah nyanyian, nyanyian mereka yang mati. Tangan yang diangkat, suara yang menggertak, darah yang berserak, kutukan yang dilepas, lantunan doa terlarang.”
Riz terdiam, suara dengan lantunan aneh kalimatnya membuat dia terbungkam. “Itu bukan nyanyian, apakah itu sebuah doa? Tapi kenapa rasanya seperti sebuah penyesalan?” batin Riz.
“Siapa kau? Tolong hentikan itu, aku benar-benar tak tahan mendengarnya,” ucap Riz.
Hening ....
Tak ada lagi suara, kalimat aneh itu seolah tertelan dalam gelap begitu Riz memotongnya. “Aku mohon, tolong perlihatkan dirimu,” pinta Riz.
Tak ada jawaban, seolah apa yang baru saja ia dengar seperti sebuah mimpi. “Sialan! Siapa yang tadi itu?!” umpat Riz. Ia pun melanjutkan langkah kakinya, sambil berjalan kasar ia menggerutu sepanjang jalan.
“Buagh!”
“A-apa itu?!” pekik Riz kaget saat menyadari kakinya menendang sesuatu.
“Gerbang sudah terbuka.”
“Siapa itu? Siapa yang berbicara?! Perlihatkan dirimu!” Riz mencari-carinya.
“Plaassh!”
“Uwaaaa! Hantuuuu ...! Ibuuuuu!” pekik Riz ketakutan.
Sebuah bola api yang menerangi semuanya muncul tiba-tiba membuat Riz terperanjat kaget. Bukan api itu penyebab ketakutannya, melainkan sesosok makhluk berwujud wanita berambut hitam panjang dengan kulit berwarna merah darah dan mata hitam pekat laksana kegelapan yang menyertainya.
“Gerbang sudah terbuka,” ucap makhluk itu berjalan mendekat.
__ADS_1
“Jangan mendekat! Pergi! Uwaaaaa!” Riz pun berlari untuk menjauh dari makhluk berwujud aneh yang tetap mengikutinya.
“Gerbang sudah terbuka.”
“Sial*n! Kenapa kau muncul lagi di sini?!” pekik Riz saat menyadari makhluk tersebut sudah berdiri di depannya.
“Gerbang sudah terbuka.”
“Persetan dengan gerbangmu!” Riz berlari lagi.
“Gerbang sudah terbuka.”
Makhluk itu muncul tiba-tiba di depan Riz. “Hentikan sial*n! Jangan mengikutiku!” teriak Riz sejadi-jadinya. Ia lari tunggang-langgang demi menghindari mahkluk mengerikan itu.
“Gerbang sudah terbuka.”
“Hentikan ocehan sial*n itu!” Riz yang ketakutan kesal juga jadinya.
“Gerbang sudah terbuka,” dan sekarang makhluk itu bergelayutan di punggung Riz.
“Hantuuuu! Lepaskan aku sial*n! Lepas!” jerit
Riz.
Riz pun jatuh tersungkur karena rasa berat dari makhluk yang bergelayutan padanya. “A-aku mohon lepaskan aku. Aku tidak salah apa-apa,” ucap Riz terisak karena sangat ketakutan.
“Gerbang sudah terbuka, gerbang sudah terbuka, ucapkan sumpahmu. Ucapkan sumpahmu,” lirih makhluk itu.
Riz tertegun sejenak, “ gerbang sudah terbuka? Gerbang apa? Kenapa makhluk ini mengucapkannya berulang kali?” batin Riz.
“Gerbang apa? Sumpah apa?! Aku tak paham.”
“Gerbang guidermu sudah terbuka, ucapkan sumpahmu. Ucapkan sumpahmu.”
“Hiks ... Sial*n! Sumpah apa?! Aku tak tahu dan aku tak pernah bersumpah!”
“Gerbang guidermu sudah terbuka, ucapkan sumpahmu. Ucapkan sumpahmu.”
“Wuushh! Sraaak! Sraak! Sraak!”
“Aagh! A-apa yang ka-kau lakukan siluman?” ucap Riz terbata-bata.
“Waktumu hampir habis, gerbang sudah terbuka. Ucapkan sumpahmu, ucapkan sumpahmu,” makhluk itu mengikat Riz dengan rambutnya seperti ingin membunuhnya. Cabang rambutnya yang lain lalu berubah seperti ribuan jarum panjang di sekeliling Riz.
“Tu-tung-gu! Ke-napa kau ingin mem-bu-nuh-ku?”
“Waktumu hampir habis, gerbang sudah terbuka. Ucapkan sumpahmu, ucapkan sumpahmu,” jarum-jarum panjang yang tercipta dari helaian rambutnya tampak bersiap-siap hendak menghujani tubuh Riz.
“Su-sum-pah a-apa?” lirih Riz terpotong-potong.
Ia masih tak tahu apa maksudnya, berbagai macam ingatan secepat kilat berputar di otaknya. Berusaha mengingat kembali berbagai kenangan, apakah ada salah satunya tersirat kata sumpah di sana.
Sepanjang aliran ingatannya, tak ada satu pun sumpah yang pernah tertera di sana. Kecuali ingatan tentang kontrak perjanjian yang berhubungan dengan dunia ini.
“Apakah kontrak perjanjian adalah sumpah? Waktuku tak banyak. Haruskah kuucapkan?” batin Riz.
“Tak ada gunanya berpikir lama-lama, aku
akan mati jika terus begini. Ucapkan saja, ucapkan saja!” batin Riz.
“Blee-dya (perjanjian)” ucap Riz berjeda.
Ikatan rambut yang menjerat lehernya perlahan melonggar membuat Riz kaget karenanya. “Jadi memang ini sumpahnya?” oceh Riz dalam hati.
“Aemus obdeas riad sain (semua dimulai dari sini), nebia nad aseka sistora maharz (hidup dan mati milikku sendiri), til daa hanlaask ukntu kareem (tak ada kesalahan untuk mereka), obberaa sistora (di tanganku milikku), zesora istora kareem (cahaya milik mereka), akura hersa bleedya flowda leyros (tunduk dalam perjanjian bunga lily), libamek hersa endds gerbanas Tisea (kembali dalam akhir gerbang Tisea), nebia nad aseka sistora maharz (hidup dan mati milikku sendiri), aemus obdeas riad sain (semua dimulai dari sini),” ucap Riz secara hati-hati.
Entah kenapa ia bisa mengingat isi kontrak perjanjian padahal baru dua kali membacanya.
Ia tak lagi kesusahan dalam berbicara, karena rambut makhluk yang menjerat dan mengikatnya sudah lepas seluruhnya.
__ADS_1
“Sumpah sudah selesai, gerbang akan terbuka, ulurkan tangan,” perintah makhluk itu.
Walau tubuhnya masih gemetaran karena takut menatap wajah makhluk tersebut, tapi ia memilih untuk menurutinya. Tangannya pun diangkat ke depan, dengan pupil bergetar ia sesekali melirik wajah makhluk mengerikan itu.
Makhluk itu mengangkat tangannya dan menjatuhkan sebuah dadu ke telapak tangan Riz. Dadu yang sama persis dengan dadu saat ia bertemu tengkorak berjubah sebelum memasuki dunia Guide.
“Lempar dadu, lihat jawaban, itu takdirmu.”
“A-apa? Baiklah kalau begitu,” Riz pun melempar dadunya.
Dadu menggelinding, perlahan-lahan gerakannya melambat dan terhenti. Mata dadu menunjukkan angka dua. “Dua!”
“Gerbang sudah terbuka, masuklah, kau akan dapat jawaban. Saatnya bagimu sudah tiba.”
“Gerbang yang mana? Aku tak lihat apa pun!”
“Masuklah! Gerbang sudah terbuka, saatnya bagimu sudah tiba.”
“Sial*n! Bicaranya jelas, artinya yang tidak jelas! Dasar makhluk idiot!” gerutu Riz dalam hatinya.
Mendadak angin yang cukup kencang menyelimuti tempat Riz berdiri. Semakin lama aliran anginnya semakin parah putarannya, membuat Riz sedikit kesusahan untuk berdiri.
“Masuklah, gerbang sudah terbuka, saatnya bagimu sudah tiba,” makhluk itu kembali mengulangi ucapannya.
“Masuk? Masuk ke pusaran angin itu?! Yang benar saja! Kau ingin aku seperti kain mesin cuci?!” emosinya.
“Masuklah, gerbang sudah terbuka, saatnya bagimu sudah tiba,” ia mengulanginya kembali.
“Iya-iya aku akan masuk! Tunggu! Aku tidak akan matikan?”
“Masuklah, gerbang sudah terbuka, saatnya bagimu sudah tiba.”
“Cih! Siluman ini hanya mengulangi kata-katanya! Sudahlah, aku masuk saja sebelum dia berubah pikiran,” oceh Riz.
Ia pun melangkahkan kakinya untuk memasuki tempat itu dengan wajah penuh waspada.
Riz mengulurkan tangannya ke arah pusaran angin, mencoba memastikan seberapa kuat tekanan angin itu. “Hah?! Aku tidak merasakan apa-apa!” teriaknya.
“Masuklah, gerbang sudah terbuka, saatnya bagimu sudah tiba,” makhluk tadi kembali mengucapkan kalimat yang sama.
“Iya br*ngs*k!” Riz pun menoleh ke belakang tapi makhluk tersebut sudah hilang. “O-oi , ma-mana dia?” gumam Riz kaget. “Sudahlah, a-aku akan masuk sesuai katanya.”
Dengan memantapkan hati, Riz menerobos pusaran angin yang mengelilinginya.
“I-ini!”
Sebuah ruangan besar dengan batu amber
memenuhi dinding menantinya. Di tengah-tengah ruangan terdapat lantai yang rusak dan ambruk ke bawah. Tapi bukan itu masalahnya, Riz merasa ada yang tidak beres saat menatap tiga buah salib melayang bebas di langit-langit.
Perasaan resah dan takut menemaninya, terlebih lagi aroma anyir dari darah sangat pekat di ruangan tersebut.
“D-di mana ini?”
Sebuah bunyi seperti langkah yang rapat mengitarinya, Riz langsung menoleh ke sekeliling sambil memasang kuda-kuda layaknya petarung tak andal. “Siapa itu?!”
“Selamat datang di gerbang cincin Guide anak manusia,” sambut seseorang tiba-tiba.
Riz langsung menoleh ke arahnya, tapi apa yang ia lihat?
Kosong.
Tak ada siapa pun di posisi suara berasal, membuat keringat dingin Riz langsung berseluncur mewakilkan kondisinya.
“Siapa kau? Perlihatkan wujudmu!”
“Kau tidak bisa melihatku?!”
“Aku tak melihat apa pun!” teriak Riz.
__ADS_1
“Nigel (muncullah)” ucap sang suara tak berwujud.
Mulut Riz langsung menganga saat melihat sosok yang muncul tiba-tiba begitu kata terucap. “Mo-monster?”