
“Kau—”
“Hei, kita ini saudara seperjanjian. Apa harus berdebat begini?” Xavier menengahi mereka.
“Revtel,” panggilan dari Kers berhasil membuat sang Wakil buang muka dan memilih pergi dari sana.
“Apa yang terjadi padanya? Padahal aku merindukan Pangeran lembek yang dulu,” ledek Xavier setelah kepergian Revtel dari sana.
“Lupakan itu. Jadi, kenapa kamu mengadakan pertemuan di sini? Blerda.”
Pertanyaan dari Raguel pun mengheningkan suasana. Orang-orang di sana mulai melirik Blerda. Penasaran dengan undangan pertemuan yang di adakannya di kediaman Raja hydra.
“Blerda?” Raguel kembali memanggilnya.
Perlahan buku di tangan ditutup gadis itu. Ia edarkan pandangan untuk melirik rupa-rupa para hadirin di ruangan.
“Reygan Cottia.”
Seketika ekspresi semuanya berubah. Tak ada lagi raut santai atau datar. Empat laki-laki yang bersamanya sekarang memandang dengan tatapan menekan.
“Apa ini? Kenapa kau menyebut nama terlarang itu tiba-tiba?” nada suara Xavier terkesan tidak suka.
Lain halnya Kers, dia memiringkan wajah dan menggelengkan kepala. Entah kenapa sosoknya malah memasang tampilan seperti itu pada sang Ratu.
“Reygan Cottia. Salah satu penyimpang yang sangat ditakuti di dunia Guide. Jangan bilang pertemuan ini berkaitan dengannya,” Raguel berdiri dari duduknya dan mendekati Blerda.
Dan gadis itu melempar bukunya tiba-tiba sehingga mengejutkan semua.
“Ya. Pertemuan ini memang tentang dirinya. Karena sebentar lagi dia akan bebas.”
“Apa!” Xavier menatap tak percaya. “Kau gila?! Kata siapa dia akan bebas?! Dia masih di penjara! Jangan mengada-ada Blerda!”
Terlihat kemarahan terlukis di wajahnya. Tapi sang Ratu tidak peduli dan bangkit dari posisinya. Berlalu menuju pinggiran jendela yang terbuka.
“Blerda.” Menusuk tulang. Mungkin pertama kalinya bagi mereka mendengar Raguel memanggil dengan nada sedingin itu. Sosok yang disebut pun mulai berbalik dan menatapnya. “Jangan main-main, apa maksudmu?”
“Apa masih kurang jelas? Seperti kataku, Reygan Cottia akan bebas.”
“Brengsek! Jangan bilang kau yang membebaskannya?!” marah Xavier dengan emosi yang menggebu-gebu.
Tapi justru seringai tipis tercetak di bibir sang Ratu muda.
“Bukan. Tapi adik terkecil kita. Sang petinggi jenius dari empusa.”
Sontak saja apel di genggaman Xavier hancur karena di cengkeramnya. Sosoknya jelas-jelas memendam emosi sekarang. “Kau bercanda?”
__ADS_1
“Aku serius. Dia akan membebaskan Reygan bersama pelarian tanah biru.”
“Cih, yang benar saja. Lelucon macam apa ini?!” suara Xavier seketika naik dua oktaf. “Pelarian tanah biru? Kalau begitu kenapa mereka harus membebaskannya?! Monster itu pasti akan membantai semuanya!”
“Kers,” panggil Raguel tiba-tiba. “Apa kamu tahu sesuatu?” tanyanya karena sosok itu memamerkan wajah cuek di sana.
“Jangan tanyakan apa pun padaku. Karena itu bukan urusanku.”
“Hei, ini Reygan Cottia! Apa kau tidak tahu dia siapa?! Dia penjahat keji yang memusnahkan satu bangsa! Bagaimana bisa kau sesantai itu?! Adik seperguruanmu akan berbuat gila!” jelas Xavier kepadanya.
Namun tampaknya Kers memang tak peduli dengan ocehannya. Terlihat dari penampilannya yang sibuk memasukkan anggur satu persatu ke dalam mulutnya. Sekarang ia tak ada bedanya dengan tupai kelaparan.
“Memang susah bicara dengan orang rakus sepertimu,” kesal Xavier akhirnya.
Dan di asrama di mana sosok yang sedang dibicarakan sedang merebahkan tubuhnya. Tampak lelah sampai ia tak sadar kalau seseorang baru saja memasuki ruangannya.
“Near menemukan tempat aneh.”
Seketika sang petinggi tersentak dan balik badan. Terlihat olehnya, laki-laki muda dengan rambut biru kehitaman duduk santai di sofa. Sambil mengelus lembut leher ular black mamba yang selalu setia bersamanya.
“Tak bisakah ketuk pintu dulu? Kau hampir membuatku jantungan,” kekeh Aza sambil memandang hangat ke arahnya.
“Jangan lihat aku dengan tatapan menjijikan itu.”
“Sebuah perpustakaan.”
“Oh.”
Jawaban singkatnya berhasil membuat sang pengendali ular melirik bingung. “Sepertinya kau tahu tempat itu.”
“Begitulah.”
“Apa itu berarti mayat yang ada di sana ada hubungannya denganmu?”
“Mayat?” bingung Aza mendengarnya. Sontak saja ia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Reve Nel Keres. Tentunya anak itu tetap mengekorinya dan sampai di depan pintu kokoh namun rusak gagangnya.
Tanpa keraguan Aza Ergo masuk ke sana. Mendapati pemandangan perpustakaan yang masih sama dengan sebelumnya tapi dihiasi tambahan aneh di langit-langit ruangan.
Tiga mayat yang tampak seperti gantung diri di depan mata.
“Mereka—”
“Kenalanmu?” potong Reve tiba-tiba.
Sang petinggi hanya menyipitkan mata. Mendekat dan menatap lekat mayat busuk namun masih utuh tampilannya.
__ADS_1
Seorang wanita dan dua laki-laki di sana. Kulit-kulit yang tak tertutupi kain memamerkan bekas jahitan buruk rupa. Seperti korban siksaan atau mungkin uji coba. Bahkan pakaiannya seperti sosok-sosok bangsawan.
Tanpa keraguan disentuhnya salah satu dari mereka, di tempat jejak darah mengering yang ada pada bekas jahitan.
“Sepertinya sudah lama.”
“Kupikir juga begitu,” sambung Reve sambil melewati mayat-mayat itu. Langkahnya terhenti di depan salah satu lemari kaca yang menampilkan berbagai macam senjata. Di tatap lekatnya pisau berkarat di dalamnya. “Apa mungkin mereka bahan uji coba?”
“Entahlah.”
“Mungkin ada orang lain di sini selain kita.”
“Mungkin saja,” tiba-tiba Aza Ergo terkekeh tanpa aba-aba. Membuat Reve melirik bingung ke arahnya.
“Apa yang lucu?”
“Tidak ada. Ayo kembali. Berlama-lama di tempat menyeramkan ini membuat bulu kudukku berdiri,” ajaknya dan pergi duluan.
Akhirnya mereka berdua pun berlalu dari sana tanpa memeriksa lebih lanjut keadaan perpustakaan yang bersih tanpa debu.
Perlahan terdengar bunyi aneh. Seperti cakaran kuku pada kayu namun tak begitu keras. Lambat laun berganti dengan suara tawa. Pelan sehingga takkan terdengar keluar ruangan.
Tiba-tiba sesosok siluet aneh mengintip dari balik lemari zirah. Tak jelas rupanya akibat sinar samar di dalam perpustakaan.
Tapi tawanya jelas akan membuat bulu kuduk berdiri jika di dengarkan. Bersamaan dengan hembusan angin di luar yang kasar menerpa bangunan asrama.
Seolah seperti bisikan sebelum bom waktu meledak di kawasan hancur Hadesia.
“Tak peduli apa pun yang terjadi. Kita harus menghentikan si bodoh itu membebaskan Reygan,” ucap Xavier tiba-tiba dan memasang jubahnya.
“Kau mau ke mana?”
“Tentu saja menemuinya!” sosoknya bersuara keras menjawab pertanyaan Raguel.
Lascarzio yang sebelumnya diam saja, sekarang akhirnya bersuara. “Biarkan saja. Dia pasti punya alasan melakukannya.”
“Alasan?” nada suara Xavier terdengar meremehkan. “Hei, apa kau tidak tahu siapa Reygan Cottia? Apa bangsamu tak pernah mengocehkan tentang sejarahnya? Apa kau tidur saat ceramah guru di Hadesia? Dia monster dari gyges! Iblis yang membantai satu bangsa seolah bukan apa-apa! Seluruh ras harus kehilangan banyak prajurit hanya untuk menghentikannya! Setelah bersusah payah memenjarakannya, sekarang si bodoh itu ingin membebaskannya?! Apa kau pikir itu tindakan yang wajar? Itu malapetaka!”
Xavier Lucifero tampak terengah-engah sekarang. Aliran napasnya begitu menggebu-gebu setelah mengoceh panjang lebar. Tapi sepertinya ia tak berniat menghentikan ucapannya.
“Apa pun alasannya, membebaskan kriminal itu bukanlah tindakan yang benar! Dan kita tak bisa membiarkannya! Karena nyawa seluruh guider akan di pertaruhkan sebagai bayarannya,” selesai mengatakan itu, Xavier pun melesat cepat dari sana. Melompati balkon seolah bukan apa-apa.
Mengingat sosoknya bisa bergerak di udara yang pasti tujuannya sekarang adalah menemui Aza Ergo bagaimanapun caranya.
__ADS_1