Death Game

Death Game
Scodeaz


__ADS_3

“Ugh!” pekik Gilles tiba-tiba, karena pedang magma Aza menyayat pinggiran lehernya. Tapi, perlahan luka itu berasap dan mulai pulih seperti semula.


“Apa ini? Aku tidak tahu jika kamu bisa menyembuhkan diri. Sepertinya, scodeaz (pengendali) menang banyak ya. Kalau begitu, kenapa tidak berubah sepenuhnya saja? Aku jadi ingin melihat wujud asli kalian,” sambil terkekeh pelan.


“Kau akan menyesal karena telah meminta ini,” raut wajah wanita itu pun sedikit menggelap sebab dirinya mulai menundukkan kepala. Bahkan, ketegangan perlahan mulai menekan mereka.


Aza mengangkat pedangnya, karena dirinya yakin kalau sebentar lagi serangan akan menjadi sangat tak terduga.


“Abteriov! Senka Porta! (Terbukalah! Gerbang bayangan!)”


Dan selesai teriakan itu dikumandangkan, energi berwarna hitam langsung pecah dari tubuh Gilles seperti menyelimutinya. Menimbulkan sensasi aneh seakan ingin menyayat kulit para penontonnya.


Sampai akhirnya lima detik kemudian energi pekat yang mengurung Gilles berputar hebat lalu menghempaskan angin kasar ke sekitarnya. Dan membuat pemandangan tak terduga, telah berdiri nyata di depan mereka.


Monster.


Di balik tanduk unicorn yang berdiri gagah, surai merah pemiliknya telah menyentuh permukaan tanah. Semua gigi runcing terpamernya, bahkan seperti ingin merobek leher lawan-lawannya. Dan empat kaki laksana kuda menawan para raja, namun diselimuti sisik setiap permukaan kulitnya.


Begitulah rupa Gilles sekarang. Tak ada lagi pemandangan menawan dari dirinya, kecuali kengerian. Terlebih, enam tangan yang diselimuti cakar setajam pedang, seolah bersiap menyayat sosok apa pun bila datang mendekat.


“Itu!” pekik kaget Rexcel.


Tapi tekanan monster itu hanya ditatap tenang oleh Aza. Tak ada lagi senyuman dari bibir ranumnya, sampai akhirnya suara seseorang mengalihkan perhatian dan hanya dilirik lewat sudut matanya.


“Akhirnya ... tanganku, kembali seperti semula,” Ahool tertawa pelan. Bahkan tangannya yang tadi diputus Aza, terlihat baik-baik saja sekarang.


Menyebalkan. Itulah ekspresi yang tercetak jelas di wajah petinggi muda empusa. Saat dirinya menatap elftraz (penyembuh) paruh baya di belakang Aquila dan Ahool yang tertawa.


“Kenapa menatapku seperti itu? Tidak suka?” pria itu menyeringai di hadapannya. Membuat Aza memilih kembali menatap Gilles sang scodeaz (pengendali) tipe kuda. “Hei! Kau mengabaikanku?!”


Tak ada jawaban.


“Sialan, bocah itu benar-benar mengabaikanku?” ekspresi Ahool mulai menggeram.


“Jangan gegabah! Serangan fisik tidak mempan kepadanya,” Aquila memperingatkan.


“Kenapa raut wajahmu seperti itu, Aza? Merasa tersudut oleh kami semua?” Gilles ikut menimpali. Ke enam tangannya, bahkan bergerak-gerak setiap ia berbicara.


“Tersudut?” pemuda itu tersenyum miring. “Apa kau tidak tahu kalau tikus yang tersudut itu sangat berbahaya?”


“Entahlah. Karena bagiku, kau sudah kalah.”


“Kalau begitu, ayo kita buktikan apa aku benar-benar akan kalah,” seringai Aza sambil melebarkan matanya.

__ADS_1


Selesai mengatakan itu, lima ekor magma di punggungnya langsung menjulang tinggi dan mengagetkan orang-orang sekitarnya.


“Mau apa dia?!” kaget Doxia melihatnya.


“Mulai,” gumam Aza.


Dan ekor-ekor yang berdiri tegak itu sontak saja jatuh ke arah tak terduga. Menghempaskan apa pun di permukaan tanah di mana musuhnya berpijak tadinya. Bergerak cepat, mencoba mengejar Gilles, Aquila, Ahool dan eltraz (penyembuh) tanpa ampun untuk mereka.


“Kau pikir serangan ini bisa melukai kami?!” ledek Ahool padanya. Tapi, sang petinggi hanya memainkan matanya. Melancarkan serangan membabi buta pada mereka yang diburunya.


Perlahan, seringai mulai berkembang di bibirnya.


“Awas!” pekik Aquila tiba-tiba.


Dan sesuai prediksi instingnya. Duri-duri dari magma bermunculan di permukaan tanah membuat sosok-sosok itu harus melompat agar bisa menghindarinya.


“Jangan meremehkanku!” teriak Gilles sambil meninju semua duri yang menghalangi jalannya.


Dengan langkah gagahnya, ia hantam segala rintangan di depan mata untuk mencapai Aza. Karena bagaimanapun juga, di balik penampilan monster terlihat kenyataan tanpa iba.


Dirinya, tetaplah petarung jarak dekat untuk semua musuhnya.


“Menakutkan,” Aza pun mengayunkan tangan sehingga salah satu ekor magma di belakangnya bergerak cepat menuju Gilles.


Walaupun punggung tangannya yang terkepal itu terluka, tapi kemampuan penyembuh masih berpihak tegas padanya. Sampai akhirnya Aza merasakan hawa membunuh di belakangnya.


Ya,  Aquila. Assandia (petarung) itu dengan lihainya berkelit menghindari ekor magma Aza. Bahkan jika setiap serangan menghasilkan percikan untuk melukai kulitnya, tapi tak berdampak apa-apa.


“Kau lengah!” teriak seseorang tiba-tiba.


Aza terkesiap melihat sosok yang berdiri tepat di atasnya. Ahool sang scodeaz. Telah berubah wujud seperti kera raksasa namun bersayap kelelawar. Memuntahkan cairan hijau dari mulutnya yang dibalas dengan tameng pelindung dari magma.


Aza, berhasil membentengi dirinya dengan bola merah dari jurusnya. Dia yang diselimuti pelindung itu masih saja memainkan mata.


“Jangan pikir jurus hebatmu itu bisa melindungimu selamanya!” pekik Gilles tiba-tiba di belakang.


Aza tersentak, saat menyadari sebuah pukulan bertenaga tinggi telah dihantamkan ke pelindung magma. Sontak saja tekanan dari serangan tersebut memukul mundur langkah Aza dengan paksa.


“Mati kau!” Ahool yang terbang di atasnya, mengayunkan tangan untuk mencakar area dadanya.


Berhasil, pinggiran baju Aza. Telah robek oleh serangannya yang tiba-tiba. Dipusatkan ke dada namun bisa dihindarinya.


Ahool mendecih melihat dampak yang diberikan ternyata sia-sia. Aza Ergo terdiam, saat menyadari seseorang tak tampak di depan matanya.

__ADS_1


“Kau melihat ke mana?!” tiba-tiba tanah di samping kirinya retak dan memunculkan sosok tak terduga.


Aquila Ganymede. Dengan pedang di tangan, secepat kilat ia serang Aza Ergo. Benar-benar rencana licik untuk muncul di sana sambil memakai yang lainnya sebagai pengalihan.


Tapi, bahkan jika bahu Aza Ergo berhasil digores itu tak menutup kenyataan akan kegagalan. Tangan sang petinggi wanita yang memegang pedang, telah tertangkap oleh Aza Ergo di luar prediksi mereka.


“Aquila!” pekik Ahool tiba-tiba.


Terbungkam.


Aquila terdiam. Darah, perlahan berjatuhan dari dalam mulutnya. Sebuah serangan tak terduga, duri besar muncul dari perut Aza Ergo dan telah menikamnya.


Wanita itu mulai merasakan sensasi aneh melebihi terbakar di organ dalamnya.


“Brengsek!” pekik Ahool dengan napas memburu mendekatinya.


“Awas!” akan tetapi, hal yang sama juga terjadi. Teriakan Gilles tak berarti apa-apa. Karena pedang panjang berbahan magma, telah muncul tanpa iba dari pohon di sekitar mereka dan menusuk tubuh Ahool yang mengambang di udara. Bahkan serangan itu mulai meleburkan sayap kelelawar yang menjadi lambang kebanggaannya.


“K-kau,” tatap Ahool dan membuat sang petinggi muda mendongak.


“Bahkan tanpa aku harus serius, kalian sudah sekarat di depan mataku,” tangannya pun perlahan menyentuh darah yang mengalir di  dagu Aquila. “Hanya karena kita berasal dari bangsa yang sama, bukan berarti aku harus melunak kan? Aku sudah memberi peringatan sebelumnya, tapi kalian benar-benar keras kepala.”


“K-kau me-lukai peting-gi,” sahut Aquila sambil terbata-bata. Rasanya benar-benar menyakitkan. Bahkan para bawahannya yang menonton itu semua, hanya bisa menatap takut dan tak membantu apa-apa.


Tekanan dari Aza benar-benar membekukan tulang para bawahan kelas rendah untuk melemah.


“Petinggi? Aku bahkan membunuh guruku sendiri. Kalian tak berarti apa pun bagiku, jadi jangan kesal begitu,” kekehnya.


Pemandangan mengerikan itu, hanya bisa dibalas Gilles sambil menatap tajam Aza Ergo. Bahkan jika dirinya seorang bangsawan, namun level kemampuannya benar-benar di bawah sosoknya.


Mereka benar-benar tak berkutik pada sosok yang bisa mengendalikan magma seenak perutnya.


“Jadi, kenapa kalian kemari?” hanya satu kalimat itu yang benar-benar menjadi tujuannya saat ini.


 


 


 


   


 

__ADS_1


 


__ADS_2