
“Ugh!” Dantalion pun sontak langsung mengeluarkan dua pedang dari dalam mulutnya. Bilah yang terbuat dari tulangnya itu diayunkan pada Aza Ergo yang berlari ke arahnya. “Kau! Ternyata kau— agh!” wajahnya kena hajar tiba-tiba.
Petinggi empusa dengan tangan kosong itu melancarkan serangan jarak dekat yang frontal kepada lawannya.
Begitu besar daya pertahanan dalam fisiknya, sampai-sampai setiap ayunan pedang Dantalion tidak mampu memundurkan langkahnya.
Aza Ergo masih belum dalam wujud sempurnanya.
“Aku sudah mendengar rumor tentangmu. Tidak kusangka kalau selama ini kau menipu orang-orang dengan tampangmu itu. Kau— ugh, i-ini,” kaget sepupu Raja dracula akan serangan tiba-tiba yang menusuknya dari belakang. Perlahan, ia menoleh memastikan siapa pelaku lancangnya.
Terdiam. Darah terus mengalir dari dalam mulut dan juga lubang hidungnya. Saat dirinya menyadari ternyata orang yang melukainya tidak lain dan tidak bukan adalah Aza Ergo sendiri.
Pemuda di depannya, menanamkan ekor panjangnya yang seperti ujung pedang ke tanah untuk bangkit di belakangnya. Melancarkan serangan pembunuh dalam diam tanpa disadari olehnya.
“Kau, bagaimana bisa? Bagaimana bisa tak ada yang tahu siapa kau sebenarnya? Apa empusa—”
“Ini tak ada hubungannya dengan mereka. Ini hanya masalah kita di mana aku harus membunuhmu demi kelancaran rencana. Maafkan aku, Yang Mulia,” dan Aza pun mencengkeram udara di depannya.
Bersamaan dengan munculnya duri-duri magma dari tanah yang memenuhi tubuh sosok dari bangsa dracula. Andai dirinya tidak ditusuk dari belakang, mungkin saja Dantalion bisa menghindarinya.
Dan sekarang raganya dipenuhi lubang-lubang oleh jurus petinggi empusa, yang menjadi Dewa Kematian dalam akhir hidupnya.
“Apa ini? Kenapa kau tidak membantunya?” tanya Aza tiba-tiba sambil melirik ke kanannya.
Sosok yang diajak berbicara, menatap murka dirinya, dan terus berjalan mendekat sambil mengabaikan para cerberus aneh di sampingnya.
“Aku memang merasa aneh saat melihat tindakan mereka. Tapi sekarang aku yakin kalau tiga orang itu ada hubungannya denganmu. Terlebih lagi jurus kendaliku tidak berlaku lagi pada Cerberus.” Mendengar pernyataan itu, Aza Ergo hanya tersenyum. “Kau bukan empusa. Siapa kau sebenarnya?”
Sang petinggi muda pun menyentuh wajahnya. Perlahan, mulai kembali normal seperti sedia kala. Tak ada lagi taring-taring mirip gergaji di mulutnya. Tidak juga ekor panjang serupa cambuk berujung pedang atau cakar hewan di raganya.
“Aza Ergo, itulah aku. Tidak mungkin kau tidak mengenalku kan? Kita dulu pernah bertemu. Saat Bragi Elgo turun dari tahta waktu itu.”
Zenolea pun menyipitkan matanya. Sambil tangan kanan membuang tubuh Caspier yang sudah tidak bernyawa. Akibat melindunginya dari jurus petinggi empusa. Fisiknya hanya tinggal kurang dari separuh dengan sangat menyedihkannya.
Sang Ksatria tidur, telah mati dengan tenang dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pengawal pejuang.
“Apa maksudmu harus menjadi tujuh?” Aza berekspresi tenang. “Apakah itu cerberus?”
“Ya.”
“Mau kau apakan cerberus itu?”
__ADS_1
“Kupakai untuk sesuatu yang lebih berguna.”
“Dan kau pikir aku akan membiarkannya?”
“Lalu kau mau apa? Kau hanya sendirian sekarang. Tiga rekanmu bahkan mengkhianati dirimu. Petinggi yang lain mungkin saja akan mendatangi tempat ini dan membunuhmu. Apa yang bisa kau lakukan?”
“Kutanya sekali lagi, mau kau apakan cerberus itu?”
Sang pengendali magma tersenyum. Melirik ke arah kanannya, tangan kirinya tiba-tiba terangkat dan menembakkan suar sebanyak lima kali secara bersamaan entah apa maknanya.
Zenolea pun terkesiap melihat ulahnya.
“Ikut aku, jika kau memang ingin tahu jawaban dari pertanyaanmu,” Aza pun berjalan ke arah kiri mereka.
Membuat Zenolea bingung namun terus mengikutinya.
Sementara enam cerberus yang sudah berubah perilakunya semenjak kemunculan fisik asli Aza malah seperti kucing rumahan. Tidak menyerang mereka dan tampak bermalas-malasan.
Di pinggiran tebing, napas tiga orang pengkhianat terlihat terengah-engah. Akibat menghindari jurus Aza Ergo yang tidak kenal pantang menyerah. Seolah ingin membunuh semuanya tanpa menyisakan satu pun makhluk yang bernyawa.
“Itu tandanya, sekarang bagaimana? Aku lelah,” keluh Arigan sambil menjatuhkan tubuhnya untuk duduk di atas batu.
“Bagaimana bisa malah kita berdua yang ditugaskan untuk ini? Gadis itu benar-benar gila.”
“Lebih baik kita lakukan saja secepatnya. Agar semua tidak melenceng dari rencana yang ada.” Thertera pun mendudukkan tubuhnya sejajar dengan Arigan Arentio.
“Hei Zargion. Jangan tusuk aku dari belakang. Kau, rekanku kan?”
“Fokus saja Arigan. Biarkan dia melakukan tugasnya,” suruh Thertera pada rekannya.
Dan mereka berdua pun mulai menutup mata. Bersamaan dengan kedua telapak tangan yang ditempelkan ke atas permukaan tanah.
Mereka bergumam walau tidak bersuara, sehingga getaran tak biasa di pijakan serta angin kasar di udara bergerak tak tentu arah di sana.
Pengendalian akhirnya dilakukan Thertera dan Arigan dalam menaklukan sang monster legenda. Cerberus yang jauh dari mereka, lambat laun matanya mulai memerah dan melolong keras suaranya.
Berlari menjauh dari tempat tadi menuju enam arah yang berbeda. Sesuai keinginan Thertera dan Arigan sebagai pengendali serta tuannya.
“Kita sudah sejauh ini.”
“Kenapa? Kamu lelah? Sepertinya kekuatan fisikmu mulai melemah,” sindir Aza.
__ADS_1
“Aku tak peduli dengan ocehanmu, Bocah. Jadi, mau kau apakan cerberus itu?”
“Kau?” sang pengendali magma memiringkan wajahnya. “Itu bukan aku. Aku hanya pelaksana, karena otak sesungguhnya adalah Blerda Sirena.”
“Apa! Apa maksudmu?!”
“Semua ini dan juga pengkhianatan tiga orang itu merupakan rencana Raja siren muda.”
Zenolea pun terdiam. “Semua ini? Pelepasan cerberus itu?”
Aza pun mengedarkan pandangannya. “Cerberus itu bukan tujuannya. Kami hanya meminjam rencana kalian untuk memuluskan keinginan. Bukankah, ini ide yang sangat brilian?”
“Kau—”
“Kami tidak tahu siapa yang menjadi dalang dalam membangkitkan cerberus. Tapi, menghentikannya sekaligus mewujudkan tujuan, bukankah itulah cara yang benar dalam menanganinya?”
“Dan karena itu Thertera, Arigan, serta Zargion mengkhianati kami?”
“Berkhianat?” Aza pun tersenyum remeh. “Apa yang kau katakan? Mereka tidak pernah berkhianat. Sejak awal mereka memang mata-mata, yang kalian jadikan anggota dengan polosnya. Salah sendiri karena bodoh memilih teman dalam menyusun rencana.”
“Kau,” geram Zenolea memandangnya.
“Apa? Kau ingin membunuhku? Apa kau mampu? Jika bukan sekelas Raja, tak ada yang bisa menyentuhku. Lebih baik kau urungkan niatmu dan ikuti aku.”
“Apa!”
“Bukankah Kakakmu dibunuh salah satu Tetua empusa?” Zenolea pun terkesiap mendengarnya. “Aku tidak tahu siapa yang ada di belakangmu atau apa tujuan kalian itu. Tapi satu hal yang pasti, jika rencanamu berkaitan dengan balas dendam lebih baik ikuti aku. Karena ambisi kita tidaklah berbeda.”
“Tunggu, apa mungkin cerberus itu—”
“Wah, sepertinya kau bisa menebaknya. Anak pintar. Tak kusangka kau bisa mengetahui ke mana arah rencana kami.”
“Blerda, kau, dan tiga orang itu, kalian—” manik mata Zenolea pun bergetar. “Jangan-jangan kalian ingin balas dendam pada Tetua kalian masing-masing?!”
“Selamat Tuan. Kau menebak dengan tepat sekali,” semringah Aza sambil bertepuk tangan.
__ADS_1