
“Jadi ini Hadesia?” gumam anak-anak dari bangsa empusa.
Kekaguman menyeruak dari mulut-mulut mereka. Begitu pula dengan Trempusa. Sorot matanya menatap lekat pemandangan di depan mata.
“Hei, miskin!” sela seseorang tiba-tiba. Sehingga lamunan putra Revos itu teralihkan kepadanya. “Jangan sampai kau membuat malu bangsa kita, ingat itu!”
Dan Trempusa pun mau tidak mau terpaksa mengangguk ke arahnya. Dia tidak membantah mengingat posisinya cuma anak setengah bangsawan yang diperlakukan seperti pelayan oleh mereka.
Hadesia.
Akhirnya para murid menginjakkan kakinya di sana. Mereka terpana dengan semua sajian keindahan yang ada. Sampai akhirnya sambutan pun datang menghampirinya.
Sosok Remus Eterno yang merupakan guru besar dari siren pun merentangkan tangan sebagai tanda selamat datang kepada mereka.
“Selamat datang semuanya. Selamat datang di Hadesia yang sangat diagungkan ini.”
Para tamu pun terdiam sambil menatap lekat sosok pembicara. Dan Remus pun mengibarkan senyum di bibirnya sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Namaku Remus Eterno, salah satu guru besar di sini. Hari ini, aku sangat bahagia bisa menyambut kedatangan para murid baru yang akan menjalani pelatihan di sini,” sorot matanya pun menyapu rupa para daun muda bangsa-bangsa dunia Guide.
“Seperti yang kalian tahu, di sini kalian akan dilatih untuk menjadi sosok penting di tanah kelahiran masing-masing. Entah itu akan menjadi Raja, Tetua, Petinggi, atau apa pun itu nantinya, yang jelas inilah langkah awal bagi kalian sebelum menginjakkan kaki di sana.”
“Karena itu, Buka mata dan telinga, tak ada satu pun yang bisa dipercaya. Dunia tak seindah khayalan, kenyataan tak seindah impian. Tak ada perdamaian yang ada hanyalah hukum rimba. Kitalah Rajanya, kitalah aturannya. Yang bernyawa pasti akan mati. Jadi nikmatilah selagi kehidupan masih bersemi. Jadilah yang terkuat bahkan jika harus mengorbankan semuanya. Jangan lemah karena dunia tidak butuh sampah yang bisa ditindas. Mati lebih terhormat daripada hidup tak berguna. Kita adalah Hadesia. Kitalah yang terbaik di antara semuanya. Itulah semboyan dalam pelatihan ini. Jadi resapilah dan tegarkan diri untuk memulai kehidupan di sini. Kalian mengerti?”
Anak-anak itu pun terdiam mencerna ocehan Remus Eterno. Sepertinya, kalimatnya terlalu berat bagi para daun muda bangsa-bangsa.
Sampai akhirnya mereka pun diizinkan untuk memasuki kawasan itu lebih jauh tanpa kereta kuda.
Dengan barang-barang di tangan yang terpaksa di bawa masing-masingnya. Sebuah bangunan besar pun menyambut di depan mata.
“Ini,” gumam Revtel menyaksikan pemandangan menakjubkan di penglihatannya.
Seperti istana besar, namun terbuat dari bebatuan gelap dan dihiasi tanaman menjalar di permukaannya. Jendela yang jumlahnya sangat banyak memenuhi dinding di sana dan bagian dalamnya ternyata lebih luar biasa.
Para guru besar sudah menyambut mereka di dua bibir tangga dan mengarahkan para murid untuk mengikuti langkahnya. Dituntun menuju kamar yang sudah di tetapkan untuk anak-anak itu.
“Ini,” kaget Trempusa menyadari kalau kamar yang dituju ternyata pintu masuknya terpampang sebuah kertas.
“Wah, sepertinya kita sekamar Revtel,” sela seseorang tiba-tiba. Sehingga anak muda dari empusa pun menoleh ke sampingnya.
__ADS_1
“H-halo,” sapa Trempusa kepadanya.
“Halo,” Kers membalasnya.
“Kamarmu di sini juga?”
“Iya. Namaku Kers. Namamu?”
“Trempusa,” tangannya pun disodorkan pada sosok hydra itu. Dan dirinya juga berkenalan dengan Revtel yang tampak hangat senyumannya.
Mereka bertiga lalu memasuki ruangan yang akan menjadi kamar masing-masingnya.
“Wah ... seperti rumah,” kagum Kers menyaksikan sekelilingnya. Sampai akhirnya sorot matanya menangkap rupa yang tak disangka-sangka.
Blerda Sirena yang menatap tenang ke arah mereka.
“Perempuan? Kita sekamar dengannya?” tanya Kers sambil menunjuknya.
“Apa mungkin kamu Blerda Sirena?”
Dan anggukan pun dibalaskan gadis itu atas pertanyaan Trempusa.
“Sirena?” gumam Revtel. “Keturunan murni siren?”
“Apa dia tidak bisa bicara?” Kers pun merebahkan tubuhnya di sofa.
“Hei,” sela Revtel karena tidak suka mendengar perkataan adik sepupunya.
“Aku Revtel, salam kenal Kakak,” sambil melambaikan tangan ke arah Blerda.
“Kakak? Bagaimana bisa kamu tahu kalau dia lebih tua darimu?”
“Bukankah karena dia tinggi? Sudah pasti dia lebih tua dariku,” tanggapan santai Kers pun membuat Revtel geleng-geleng kepala.
Bersamaan dengan terbukanya pintu yang membuat semua menoleh ke arah sana.
“H-halo,” sapa sosok dari gyges itu dengan senyum canggung di muka.
“Hei! Jangan menghalangi jalanku, bodoh!” kesal seseorang di belakangnya lalu menendang anak barusan sampai jatuh tersungkur di depannya. Sontak saja sosok yang baru datang itu tertawa menyaksikannya. “Dasar bodoh!” dirinya pun tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Tanpa keraguan ditolong Revtel anak itu. Tapi, siapa yang bisa mengira justru kalimat tajam terlontar dari mulut Pangeran pertama kepadanya.
“Heh, mau berbuat baik ya? Asal kau tahu saja. Kau itu cuma anak haram. Mau kau menabur banyak kebaikan kau tetap anak haram. Jadi jangan bermimpi bisa mendapatkan teman, ingat itu!” selesai mengatakannya, sosoknya pun pergi meninggalkan mereka. Memilih kamar di lantai dua.
Ruangan yang mereka masuki tampak seperti rumah. Dengan sembilan kamar di dalamnya dan sekarang baru ditempati Blerda Sirena, Revtel, Kers, Trempusa, Pangeran pertama dan juga Beltelgeuse Orion. Ya, bocah dari gyges itulah yang tadi ditendang sosok Pangeran hydra.
Bahkan setelah menaruh barang-barangnya di kamar, dirinya malah pergi entah ke mana. Meninggalkan mereka tanpa kata namun berwajah sombong dalam setiap langkahnya.
“Tak kusangka kita bertemu lagi setelah sekian lama, Tuan Betsheba.”
Tetua dari bangsa gyges pun tersenyum melihat rupa kenalannya. Disentuhnya sajian di depan mata sambil sesekali melirik ke ujung sana.
Di mana dua anak sibuk bermain sambil tertawa dengan puasnya.
“Benar. Ini memang sudah lama. Jadi, bagaimana kabarmu? Maximus.”
Sosok berambut hitam ikal dan bermata emerald itu pun tertunduk jadinya. Sejenak kemudian barulah dijawabnya pertanyaan pak tua di hadapan.
“Seperti yang anda lihat. Keadaanku, masih sama seperti dulu, Yang Mulia.”
Tanpa menyeruput minuman di tangan, Betsheba Voskha pun kembali menaruh cangkir berisi teh ke atas meja.
“Sang Pangeran perang akhirnya menjadi sosok buangan dan juga pelarian. Apakah kamu bahagia? Yang Mulia.”
Maximus Ergo pun terdiam. Tubuhnya bergetar hebat tapi hanya sekilas saja. Karena panggilan sang putra membuyarkan suasana mereka.
“Rambut hitam dan mata ruby menyala, apakah dia putra wanita itu?” tanya sang Tetua.
“Ya. Memang dialah putranya.”
Suara helaan napas pelan pun berkumandang dari lawan bicara Maximus. “Bragi Elgo seperti menangis darah mencari keberadaanmu. Apa kamu tidak ada niat kembali? Bagaimanapun kamulah yang akan menggantikannya di singgasana itu.”
Maximus pun tertawa pelan menanggapinya.
“Aku,” tunjuknya pada diri sendiri. “Bagaimana mungkin pengkhianat sepertiku duduk di atas tahta? Lagi pula Paman kan masih baik-baik saja. Kudengar Hadesia telah dibuka, suruh dia mengirimkan Zargion ke sana. Karena keponakanku itu, pasti bisa menjadi Raja yang baik menggantikan dirinya.”
__ADS_1