Death Game

Death Game
Hukuman dan Keadilan


__ADS_3

 “D-dia Yang Mulia Blerda? Muda sekali.”


“Aku baru tahu kalau itu pimpinan kita.”


“Aku sudah pernah melihatnya. Katanya dia sangat hebat.”


“Dia salah satu murid terbaik di Hadesia.”


“Hadesia? Pelatihan kejam itu? Bukankah semua orang yang ada di sana sudah mati?”


“Siapa dua pemuda yang berada di sebelahnya itu?”


“Wah, Ratu kita memang sangat cantik sekali!”


Begitulah kicauan orang-orang di bawah. Mengumandangkan beragam pemikiran mereka, seolah lupa kalau berita eksekusi telah bertebaran di sana.


“Yang Mulia! Apa benar anda akan mengeksekusi dua bangsawan muda siren?”


“Kejam! Apa gosip itu memang benar?!”


“Katanya anda akan memenggal mereka dan menggantung kepalanya di alun-alun! Mengerikan sekali!”


Suara rakyatnya kembali berkumandang. Perlahan, Blerda menggerakkan netranya dan menatap Bleria lewat sudut matanya. Sampai akhirnya kehadiran Tuan Criber memutus pandangannya pada adiknya itu.


“Blerda. Tolong katakan pada rakyat kalau itu tidak benar. Jangan sampai keluarga Gilles dan Sidag menentang kita,” bisik pak tua itu padanya.


Bleria hanya tersenyum menatapnya. “Aku mengerti.”


Seketika lega menghantam Tuan Criber yang berharap. Sungguh dirinya tak ingin dua gadis bangsawan itu mati begitu saja. Bagaimanapun mereka adalah keturunan bangsawan, salah satu aset penting yang menunjang kemampuan di siren. Terlepas dari apa permasalahan, kehidupan mereka jauh lebih penting dari dosa-dosanya.


“Yang Mulia! Apa itu benar?!”


“Kenapa dua bangsawan itu harus di eksekusi?! Mereka salah satu rakyat penting bangsa siren!”


“Bebaskan mereka!”


“Hukum mereka jika mereka memang berbuat salah!”


Teriakan terus berkumandang. Sampai akhirnya tangan Tuan Criber terangkat untuk menyuruh mereka diam. “Silakan bicara, Blerda.”

__ADS_1


“Terima kasih.” Gadis itu lalu menyapu pandangan di sekitarnya. Perlahan, mulutnya terbuka dan melontarkan kata dengan suara penuh wibawa.


“Perkenalkan, aku Blerda Sirena. Pemegang puncak tertinggi bangsa siren, memang telah menjatuhkan hukuman mati untuk Sidag Arka dan juga Gilles Smonea.”


“Tapi kenapa?!” sekarang yang bertanya adalah salah satu ajudan dari keluarga Sidag.


“Karena mereka memasuki kawasan terlarang tanpa izin dari bangsa-bangsa.”


Seketika hening menerpa. Bahkan Aza dan Kers hanya memperhatikan sosok yang berbicara.


“Memasuki kawasan terlarang?” Tuan Criber mengulangi ucapan gadis di sebelahnya.


“Kita sama-sama tahu kalau itu bukan tempat yang boleh di datangi.”


“Walaupun begitu, hukuman mati sangat kejam untuknya. Anda adalah pemimpin bangsa ini! Seharusnya anda bisa memberikan kesempatan dan memaklumi tindakan mereka. Mungkin saja mereka khilaf. Lagi pula, itu hanya kawasan terlarang bukan? Ini tidak seperti mereka membuka gerbang iblis atau semacamnya,” sela seseorang dari keluarga Gilles. Dia adalah Vodkhas Smonea, ayah dari wanita yang akan dieksekusi.


“Apa anda mempertanyakan kepemimpinanku?” Para pendengar terkesiap karena pertanyaannya menghantam kesadaran. Empat kata yang mampu mengheningkan suasana sekitarnya. “Hanya kawasan terlarang? Begitu? Ucapan benar-benar melambangkan pengetahuan. Sedangkal itulah ocehan orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Sekarang jawab aku. Menurut kalian, kenapa area kuil-kuil Dewa disebut kawasan terlarang?”


Tak ada yang mampu menjawabnya, sampai akhirnya Tuan Criber menyelanya. “Blerda, tidak perlu banyak bicara. Batalkan saja eksekusi mereka.”


“Yang Raja aku atau anda?” sosok petinggi siren itu terbungkam dibuatnya. “Biar kulanjutkan, agar mereka tahu apa yang ada di luar sana.”


Jujur, Kers dan Aza ingin tertawa melihat keterkejutan Tuan Criber akan ucapan Blerda. Ini benar-benar tontonan menarik bagi mereka, karena begitu jarang hal seperti itu muncul tepat di depan matanya.


Benar-benar tak satu pun mampu berbicara. Mereka yang sibuk pada dunianya sekarang tahu apa rahasia di dalam kuil-kuil legenda. Monster, sosok mengerikan dan harus tetap terkubur sebagaimana mestinya.


“Tapi, monster itu tidak lepas sama sekali kan? Tidak ada alasan untuk mengeksekusi mereka.”


Blerda pun menyipitkan matanya pada ibu Gilles yang sedang berbicara. “Kalau begitu, kalian yang tidak setuju silakan angkat tangan.”


Sesuai perkataan Blerda, banyak dari rakyat di hadapannya mengangkat tangannya. Bukti kalau eksekusi merupakan hukuman tak bermoral bagi mereka.


“Hampir semua bangsawan menolaknya.” Dirinya lalu terkekeh pelan. “Seingatku, saat Tuan Criber meminta pendapat akan eksekusi seorang pencuri air suci, hampir semua bangsawan juga mengangkat tangan menyetujuinya. Aku benar bukan?”


Tersentak. Entah apa maksud ucapannya. Orang-orang tidak paham, begitu pula teman seperguruannya yang melirik heran.


“Blerda?” panggil Tuan Criber.


“Arogan. Jadi karena mereka bangsawan, harus diberi pengampunan? Lalu karena pencuri air suci itu rakyat rendahan, dibiarkan mendapat hukuman? Eksekusi terlalu kejam menurut kalian, lalu menjadi budak sampai mati apa artinya di mata kalian?”

__ADS_1


“Blerda,” sela Tuan Criber kaget akan ucapannya.


“Kenapa tak ada satu pun yang bersuara? Harus kuakui, karena para bangsawan dan tetua terlalu banyak ikut campur, hukum menjadi tak adil bagi semua penghuninya. Jika kalian berpikir status bisa memudarkan dosa, bukankah kalian lebih angkuh dari Dewa?”


“Yang Mulia, kenapa anda berbicara seperti itu?” salah satu Tetua menyuarakan keterkejutannya.


“Capricorn,” panggil Blerda.


“Blerda, kenapa kamu—”


“Megalodon.”


“Blerda!” hardik petinggi siren tiba-tiba.


Tapi terlambat, langit langsung bergemuruh gelap dan tanah seakan berair di pijakan. Hembusan angin kasar berkumandang, serta rintikan hujan kian berjatuhan. Sensasi mulai mencekam diiringi kengerian ikut menyelimuti keadaan.


Mengambang.


Tak jauh dari hadapan Blerda Sirena, dua sosok mengerikan telah berdiri mengudara di depan mata.


Capricorn, pelayan para Dewa. Tanduknya merah pekat namun tubuhnya hitam mengerikan. Enam tangannya diselimuti asap yang bertebaran. Ekornya serupa rubah liar. Namun, sorot matanya seperti kegelapan malam. Ada tombak besar di tangan, laksana akan membelah lautan.


Megalodon, peliharaan para Dewa. Makhluk dari lautan terdalam. Taring-taring memanjangnya, ibarat pisau di peperangan. Muka menyerupai manusia, kulit bersisik layaknya baja. Penglihatan melukiskan cahaya, auranya seperti kabut di depan mata. Pedang panjang di tangannya, seolah memanggilnya untuk membelah langit di atas sana.


Semua terkesiap karena kengerian sosok di pandangan mereka.


“Blerda, apa maksudmu memang—”


“Mereka, merupakan jiwa scodeaz (pengendali) milik para Dewa. Dan hanya bisa dipanggil oleh sang pemilik tahta. Di antara pemimpin bangsa-bangsa, hanya suaraku yang di dengarkannya. Jadi, lebih murni yang mana? Jiwa mereka atau kita?”


“Mereka mengikuti perkataanku. Tapi sepertinya rakyatku masih meragukan posisiku. Jika kalian tidak bisa menerima keputusanku, angkat senjata dan tantang mereka. Dan jika tidak mampu, maka tetaplah tunduk di bawah kekuasaanku.”  


Benar-benar pernyataan yang mengejutkan. Tentu saja Aza dan Kers tak menyangka, jika Blerda ternyata tidak sepenuhnya di dukung oleh bangsanya sebagai Raja. Bahkan bila kemampuannya sangat luar biasa, tapi ada orang lain yang diharapkan sebagai pemimpinnya.


Boneka kendali untuk memakmurkan kehidupan beberapa pemegang talinya. Dan Blerda, bukanlah sosok yang diharapkan oleh mereka.


“Sudah kuputuskan. Eksekusi akan tetap di jalankan! Kepala mereka akan digantung di alun-alun kota, dan potongan badannya akan dihadiahkan pada seluruh bangsa-bangsa. Sebagai tanda bersalah dari siren dan empusa, karena mengusik kawasan yang dilarang para Dewa.”


“Capricorn! Lakukan!” perintah Blerda akhirnya.

__ADS_1


 


   


__ADS_2