Death Game

Death Game
Sang Raja dan Petinggi


__ADS_3

Tiga hari kemudian setelah surat undangan dikirimkan, kehebohan menyapa orang-orang di pintu masuk kawasan siren.


Para pengawal yang bertugas menjaga gerbang, menyambut sosok pendatang di hadapan mereka.


Begitu gagah pesonanya, turun dari tiga ekor kuda terbang yang memang dipelihara khusus sebagai kendaraan.


“Wah, jadi ini kediaman bangsa siren? Aku mencium aroma bunga dan makanan. Zarca, apa kamu juga merasakannya?”


Petinggi chimera itu pun menoleh pada sosok yang ada di sebelahnya. “Ayo cepat jalan, Heksar. Orang-orang memperhatikanmu.”


Seketika laki-laki yang diperintah mendengus sebal. “Kapan Tuan Barca akan datang?”


“Entahlah. Katanya pak tua itu sudah jalan,” sahut Hanzo menimpali. Di belakang punggungnya, terdapat pedang panjang namun memiliki sarung yang aneh. Seperti kumpulan benang besi, tapi memancarkan aroma kayu cendana.


“Bukankah ini Yang Mulia Heksar?” sapa seseorang yang juga baru datang.


Seketika tiga orang dari bangsa chimera menoleh ke belakang. “Wah, Tuan Logan? Anda di sini juga. Mana Yang Mulia Lucian?” Heksar Chimeral membalas ucapannya.


“Dia masih di perjalanan.”


“Anda pergi duluan?” Hanzo kaget melihatnya yang sendirian.


“Aku juga tidak punya pilihan.”


“Tenang saja Tuan Logan. Ada aku dan rombonganku, anda bisa bergabung dengan kami tanpa malu-malu,” Heksar pun menarik lengan petinggi dracula untuk berjalan bersamanya. Tentu saja kedua rekannya menggeleng kepala melihat sikap pemimpinnya.


Entah seperti apa pandangan bangsa siren jika melihat sosok pemimpin chimera yang tampak seperti bocah sekarang ini.


“Selamat datang di istana merah Raja siren. Saya Otama, perwakilan bangsa yang akan menuntun tamu mulia dari bangsa chimera dan juga bangsa dracula ke tempat peristirahatan.”


“Wah, wanita yang cantik.”


Seketika orang-orang menoleh pada Hanzo. “Bodoh! Apa yang kau katakan?!” Zarca menyikut perut rekannya.


“Agh! Sakit bodoh!”


“Kau yang bodoh.”


“Abaikan saja mereka. Apa aku bisa bertemu dengan Blerda? Jangan Kers atau Aza, mereka menyebalkan,” pinta Heksar tiba-tiba.

__ADS_1


“Akan saya sampaikan. Kalau begitu, silakan Yang Mulia sekalian ikuti saya terlebih dahulu,” tuntun Otama.


Mereka pun memasuki kawasan gerbang istana merah yang besar. Halamannya sangat luas, dan kediaman mewah ini terdiri dari tiga kubah raksasa di puncaknya sebagai hiasan.


Kubah pertama di area bangunan sayap kanan, merupakan kediaman penuh untuk Ratu Blerda. Tak ada siapa pun yang boleh menginjakkan kaki di sana kecuali bawahan dan pengawalnya.


Kubah kedua di bangunan tengah, merupakan tempat pertemuan dalam beraktivitas para Raja serta bawahannya. Dan juga menjadi lokasi peristirahatan para tamu Raja.


Sedangkan kubah ketiga di bangunan sayap kiri, menjadi tempat para bawahan dan pengawal serta Tetua bangsa ini. Tentu saja istana bisa menampung hampir seluruh penghuni bangsa siren jika mereka mau.


Namun sekarang, tamu terhormat yang sudah datang duluan dalam perjalanan hendak menemui Ratu Blerda. Entah apa tujuan Heksar Chimeral, tapi suara hati Otama jelas kurang setuju mengingat suasana di sekitar pemimpinnya sedang tidak baik-baik saja.


Terlebih, masih banyak keluhan para Tetua yang menentang keputusan eksekusi sebelumnya. Tindakan Blerda Sirena benar-benar mengundang kebencian bagi mereka yang dari awal memang tidak pernah menyukainya.


“Apa kepala di alun-alun itu adalah bangsawan yang dipenggal Blerda?”


Otama terkesiap dan menoleh ke belakang. “Benar Yang Mulia,” jawabnya pada Logan Centrio.


“Sepertinya Blerda terlalu berani. Kudengar orang-orang dari empusa juga menjadi korbannya. Apa yang dipikirkan Aza?”


Tak ada jawaban yang bisa dibalaskan wanita itu pada Heksar Chimeral. Mengingat dirinya hanya perwakilan sekaligus pengantar pesan sekarang.


“Mungkin akan lebih baik langsung ditanyakan saja,” Hanzo menimpali.


“Mau ke mana?”


Begitulah sapaan pertama kali untuk pimpinan siren, begitu dirinya melangkahkan kaki keluar kamar. “Aza.”


“Sepertinya tamu pertama sudah datang. Apa kamu ingin menjemput Kers?” Blerda tak membalasnya, kecuali lirikan mata menyoroti tampang Aza dan berjalan melewatinya. Tentu saja sang pemuda juga mengikutinya di belakang. “Mereka pasti akan mempertanyakan kekejamanmu pada orang-orang dari bangsaku.”


Masih saja gadis itu menutup mulutnya. Sampai akhirnya tanpa sopan santun ia buka pintu kamar yang ditempati Raja hydra. Terlihat oleh mereka, pimpinan bangsa ular sedang bermalas-malasan dengan buah anggur memenuhi meja dan sofa.


“Siren akan kehabisan anggurnya jika tetap menampungmu di sini.”


Tapi, Hydragel Kers tetap saja mengunyah dan memperhatikan mereka.


“Ikut aku,” hanya itu yang dilirihkan Blerda lalu keluar duluan.


“Dia seperti bos besar. Apa aku pensiun saja dan jadi bawahannya ya?” Kers bergumam setelah menelan makanannya.

__ADS_1


“Ya. Bukan ide yang buruk, karena kau hanya akan mencemarkan bangsamu dengan kelaparanmu.”


“Sialan! Justru hydra harusnya merasa bangga karena memiliki pemimpin terhormat yang santai sepertiku. Orang-orang sejenisku hanya bisa lahir seribu tahun sekali.”


“Ya-ya, terserahlah.”


Mereka berdua akhirnya keluar kamar, dan disambut muka tenang Blerda di ujung sana. Seketika keduanya terkesiap karena yakin sudah membuat Sang Ratu menunggu lama.


“Kuharap dia takkan menguliti kita.”


“Blerda takkan sudi mengotori tangannya dengan menyentuhmu,” Aza terkekeh.


Dalam sebuah ruangan besar, berhias sofa merah dengan pinggiran emas sebagai pengikat serta kaki-kakinya, tamu terhormat siren tengah menanti tuan rumah tertinggi di sana. Sambil menikmati sajian, walau nyatanya salah seorang harus diam memperhatikan karena garis darahnya identik meminum cairan merah.


Perlahan namun pasti, ada aroma yang mendekat. Lambang dari tiga bangsa, sambil dihiasi wewangian bunga magnolia di sekitar ruangan.


Langit-langit dengan lukisan kaca, memamerkan penampakan beberapa wanita bersayap memegang harpa di pinggiran kolam. Cantik dan menawan bagi mata yang memandang.


“Blerda.”


Sapaan pertama yang muncul dari Heksar Chimeral begitu melihat gadis itu datang. Di belakangnya, tampak kehadiran dua laki-laki milik empusa dan juga hydra.


“Wah, bukankah ini Yang Mulia Raja tetangga yang jarang keluar rumah? Ada angin apa anda ke sini?” Kers memulai pembicaraan dengan tampang menyebalkannya.


Seketika Heksar menatap jengkel sosok cerewetnya itu. “Apa yang lucu? Aza."


Sosok petinggi empusa, sejak memasuki tempat itu tampak sedang menahan tawa. Membuat orang-orang menoleh padanya. Bahkan Blerda juga menyipitkan mata.


“Tidak. Sepertinya mataku sedang mendapat pencerahan,” tapi tawa justru tersembur di akhir katanya. Membuat Logan Centrio geleng-geleng kepala, karena harus bertemu lagi dengan petinggi paling menyebalkan di dunia Guide.


“Pertemuan ini, akan menjadi yang pertama untuk era Raja sekarang ini,” petinggi dracula akhirnya memulai pembahasan normal.


“Tuan Logan. Di mana Raja dracula?”


Pertanyaan dari Blerda, sontak saja membuat laki-laki itu menoleh ke arahnya. “Maafkan hamba Yang Mulia. Tapi, Tuan Lucian tampaknya masih dalam perjalanan.”


“Kenapa anda tidak bersama dengannya? Pasti merepotkan ya karena dia tukang tidur,” Aza terkekeh pelan.


“Yang termuda yang paling cerewet.” Kalimat Heksar langsung membuat semua pasang mata menatap kepadanya. “Apa?”

__ADS_1


Perlahan, Aza Ergo menyeringai. “Dan sepertinya, yang terpendek paling bijak di sini.”


 


__ADS_2