Death Game

Death Game
Cley Vortha & Ragraph Revos


__ADS_3

“Kau yang bodoh karena kabur, bocah pecundang,” Cley mengatainya balik.


“Anda, baik-baik saja?” Anca menyela tiba-tiba sambil memandang lekat pemandangan miris dari tangan kanan dokter itu.


“Nah! Ini baru benar. Seharusnya anak muda zaman sekarang seperti ini. Aku suka padamu,” sahutnya sambil menyentuh bahu sang pemuda.


Terkesiap tentu saja. Anca syok dikatai begitu karena ia seorang laki-laki normal. Tampangnya langsung berubah seperti enggan entah jijik kepada penolongnya barusan.


“Kenapa kau begitu? Aku mencintai Nami. Jadi jangan harap aku akan jatuh cinta kepadamu,” ocehnya seolah tahu apa yang ada di otak sang pemuda. Anca pun jadi malu karenanya. “Sudahlah, aku lelah. Ayo lanjutkan perjalanan kita,” ajaknya sambil menggerakkan siku tanpa lengan itu. Tiga detik kemudian, gumpalan darah berkumpul di sana seperti membentuk gelembung yang aneh.


Dan tak butuh waktu lama, lengannya kembali tumbuh seperti sedia kala. Tidak ada luka lagi di fisiknya, seperti wujud awal sejak kedatangannya.


Anca terpana melihat kemampuan penyembuh yang dimiliki Cley Vortha.


“Kenapa memandangiku seperti itu? Kau ingin minta tolong untuk disembuhkan? Liaythax nehriem miaglea (Bola hijau nehriem)” ucapnya dan memunculkan bola penyembuh yang menyelubungi Anca.


Benar-benar cepat reaksinya. Luka-luka yang di derita pemuda berhoodie yang menutupi kepala itu sembuh seketika. Dia semakin takjub dengan kemampuannya.


“Anda, seorang penyembuh?”


“Tentu saja. Apakah kau ingin tanda tanganku?”


Ragraph makin jengah mendengar gurauannya. “Abaikan dia, atau kau akan gila.”


Anca malah tersenyum mendengarnya. “Apa anda tidak keberatan membawaku?”


“Hah?” tanggap Cley dan Ragraph bersamaan.


“Apa bocah ini baru saja mengatakan ingin ikut kita?” dia melirik ke arah rekannya dan dibalas anggukan.


“Aku mohon tolong bawa aku! Sejak datang ke dunia Guide, aku tidak pernah bertemu siapa pun, aku mohon izinkan aku ikut bersamamu,” pintanya sambil membungkukkan kepala.


Dan Cley serta Ragraph saling melirik tanpa memberikan jawaban kepadanya.


“T-tuan?”


“Kami ini gelandangan. Lebih baik kamu tidak ikut dengan kami,” Ragraph menyuarakan pendapatnya.


Seketika tampang kecewa terlukis jelas di wajah Anca. Padahal dia sudah berusaha keras untuk banyak bersuara jika bertemu orang lain saat memasuki tempat ini.


Semenjak melewati gerbang, dia terdampar di tempat aneh dan tak menemukan siapa pun untuk bisa diajaknya bicara.


Tapi nyatanya, dua orang ini malah menolaknya.


“Baiklah. Kau bisa ikut dengan kami, Nak,” pernyataan Cley sontak saja mengejutkan dua orang di dekatnya.


“Apa kau yakin?”


“Dia sepertimu, Ragraph. Apa kau tak merasa kasihan?”

__ADS_1


Dan pemuda itu pun langsung buang muka karenanya. “Ayo jalan. Lebih baik kita tidak buang-buang waktu di sini,” ajaknya sambil melangkah duluan.


Anca yang mendapat persetujuan pun langsung membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Sungguh senang menerpanya, karena itu berarti sosoknya tidak akan sendirian lagi. Dia benar-benar bahagia sudah bertemu dengan dua penyelamatnya. Dirinya, takkan mensia-siakan kesempatan yang telah diberikan mereka.


Akan tetapi di tempat berbeda, terlihat senyum tipis tersungging di bibir pemuda pengendali magma. Sambil salah satu tangannya meneteskan darah terus dalam setiap langkahnya. Dia hanya sendiri, sampai akhirnya suara seseorang menghentikan langkahnya.


Sosoknya pun menoleh ke arah sumbernya.


“Ada yang bisa kubantu? Yang Mulia,” tanyanya pada laki-laki pemakan anggur itu.


“Apa kau habis bertarung?” sang penanya mendekatinya.


“Tidak. Ah, karena darahku ya.”


Kers hanya menatap datarnya. “Aku akan pergi hari ini.”


“Baguslah, jadi aku tidak perlu melihatmu lagi.”


“Jangan lupa kirimkan suar saat kau akan mati ya? Aku pasti akan datang ke pemakamanmu.”


“Ya, kirimkan juga bunga indah untukku.”


“Tentu saja. Kalau begitu, sampai jumpa lagi adikku,” kekeh Raja hydra sebelum pergi meninggalkannya.


Dan Aza, hanya tersenyum melihat kepergiannya.


“Ini,” lirih Toyotomi yang menatap heran gelas sajian darah di tangannya.


“Tidak. Tidak ada apa-apa,” jawabnya lalu meminum kembali darah yang menjadi makanannya.


Tapi, raut wajah berbeda diperlihatkan oleh Lucian Brastok dan Blerda. Di ruang makan itu, hanya keduanya yang memamerkan tampang tak biasa. Dan itu disadari Revtel karena dirinya juga duduk bersama mereka.


“Kenapa tanganmu berdarah begitu?” sambutan yang dilontarkan Reve pada petinggi empusa. Dan sosok di depannya cuma tertawa pelan menanggapinya.


“Sepertinya dia sudah gila,” Horusca menimpali tiba-tiba.


“Kata Near juga begitu.”


“Horusca, ayo obati tanganku. Setelah itu kita pergi dari sini, yang lainnya mana?”


“Di kamar,” Reve pun mengedarkan pandangan ke lukisan kota siren di sampingnya.


“Liaythax nehriem miaglea (Bola hijau nehriem)” sahut elftraz (penyembuh) muda sehingga kemampuannya pun menyelimuti Aza. “Kamu kehilangan banyak darah, apa kamu tadi bertarung?”


“Tidak. Aku hanya melakukan taruhan dengan kemampuanku. Hanya itu,” seringainya sambil memperhatikan lukisan darah kering di tangannya. Sebagai tanda kalau dirinya sudah melakukan hal tak terduga dan mungkin hanya dua orang yang menyadari tindakannya.


Mereka dengan penciuman luar biasa, di ruang makan yang tak diikuti olehnya.  


 “Itu kawasan terlarang?” tanya Libra pada dua rekan di sebelahnya. Mereka sudah tiba dan berdiri tepat di bibir tebing yang menghadap pada hutan aneh di depannya.

__ADS_1


“Ya. Akhirnya kita sampai juga,” Logan Centrio menyahutinya.


“Bagaimana dengan yang lain? Apa mereka sudah datang?” Reoa Attia ikut bersuara.


Namun butuh sejenak waktu bagi rekannya untuk menjawabnya. “Entahlah, tapi lebih baik kita coba saja masuk untuk mengetahui jawabannya,” ajak Logan lalu ia melompati tebing di depannya.  


Reoa dan Libra pun mengikuti langkahnya.


“Yang mana jalan masuknya?” Libra Septor melirik penampakan di depannya.


“Kupikir di sana, karena seingatku kata Raja siren jalannya ada di dalam pohon yang tampak tak biasa. Bagaimana menurut kalian?”


“Kupikir juga begitu,” Logan menyetujuinya.


Karena memang sesuai perkataan petinggi gyges. Pohon yang ditunjuknya, sangat tak biasa penampakannya. Begitu besar dan dipenuhi lumut hitam. Di tengah-tengah batang tunggal itu terdapat lubang serta tak ada dahan kecuali ranting kecil memenuhi bagian atasnya.


Pohon gaharu yang berbeda dari biasanya.


Logan Centrio pun menyentuh batangnya, memicingkan mata dan mengucapkan mantra tanpa suara. Sampai akhirnya, di detik-detik selanjutnya gerakan tak biasa berkumandang dari pohon gaharu di depan mereka.


Berputar, di saat petinggi dracula tak lagi menyentuhnya. Membuka lubang besar di tengah-tengahnya yang begitu gelap dan juga aneh sensasinya.


Libra Septor agak terkejut merasakan hawanya. “Firasatku buruk.”


“Padahal kita bukan Bletelgeuse, tapi aku juga merasakan hal yang sama sepertimu,” Reoa menanggapinya.


Dan perlahan, Logan Centrio menempelkan tangannya ke tanah. Membuat dua rekannya mengernyitkan wajah bingung karenanya.


“Tuan?” Libra menyelanya.


“Ayo kita masuk,” ajak petinggi dracula akhirnya.


Tentu saja keduanya menyetujuinya tanpa bertanya lagi tentang apa yang ia lakukan tadinya.


“Itu pasti kawasan terlarang,” kelompok Hanzo akhirnya sampai di tebing tak lama setelah pasukan yang dipimpin Logan memasukinya.


“Mantranya bagaimana?” tanya Estes tiba-tiba. Sehingga Hayato dan Hanzo pun sama-sama melirik ke arahnya. Membisu seperti memikirkan sesuatu yang tak terduga. “Tunggu, kenapa tampangmu begitu?”


Hanzo yang ditanya mulai berkeringat dingin.


“Sepertinya, ketua kita tidak tahu mantranya,” Hayato pun tersenyum meledek ke arahnya.


“K-kupikir kalian berdua pasti tahu! Jadi aku lupa menanyakannya! Bagaimana dengan kalian berdua?!” 


Estes pun memilih geleng-geleng kepala, sementara Hayato membuang muka sambil tertawa pelan.


“Dasar,” keluh petinggi empusa atas sikap ceroboh ketuanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2