
Kalimat tak dilanjutkan. Jantung Toz yang semula normal debarannya, sekarang memburu. Keringat di leher membasahi kerah baju biru laut miliknya. Entah kenapa, tatapannya sangat fokus pada wajah pria dengan setengah mukanya yang hancur akibat luka bakar.
“Jadi, apakah dunia sudah salah?”
Toz ragu-ragu. Suaranya enggan keluar, ia tak tahu harus mengatakan apa. Ini begitu berat dan juga menyesakkan. “Maaf, aku tidak tahu.”
“Maaf? Kenapa kamu meminta maaf?”
“Karena tak ada jawaban yang bisa kuberikan.”
“Begitu? Jadi apa yang harus kamu lakukan?” tanya pria itu.
Toz menundukkan wajahnya. “Sejujurnya, aku tidak begitu mengerti dengan dunia ini. Aku datang kemari karena tergiur dengan uang yang bisa kudapatkan. Kudengar, jika menjadi guider bisa membuatku kaya-raya lalu memiliki kekuatan seperti petinggi-petinggi di dunia manusia. Aku tidak tahu jika kehidupan di sini sangat tak biasa.”
“Ada begitu banyak jenis makhluk hidup di sini. Sistem perbudakannya juga luar biasa. Petingginya juga menakutkan, aku jadi ingin pulang.” Toz terdiam sejenak.
“Begitu?” jawab pria tersebut mendengar ocehan Toz yang panjang lebar.
“Ada banyak hal menakutkan di sini, nyawa-nyawa juga tak berharga. Padahal, menjaga kehidupan itu hal yang susah.”
Pria itu tersenyum. “Kamu benar.”
Toz menatapnya. “Aku juga tidak mengerti tentang malam bloodgrya atau nyanyiannya. Terdengar seperti mitos atau dongeng tidur untukku.”
“Ada banyak pandangan tentang itu.”
“Kudengar, jika mendapati malam itu aku akan mati,” jelas Toz sambil berwajah sedih.
“Entahlah.”
“Oh ya, tapi apa anda tahu? Kata rekan-rekanku, sistem kehidupan di dunia ini berbeda dengan yang diceritakan kepala desa kurcaci. Aku jadi bingung.”
“Karena tragedi, orang-orang mengubah kebenarannya.”
“Mengubah kebenaran? Apa itu berarti kalau kami tumbal para dewa dan mendapat siksa di malam bloodgrya itu kebohongan?” Toz tampak penasaran.
“Entahlah.”
__ADS_1
“Apa ini, sepertinya anda tahu sesuatu.”
“Segala sesuatu ada alasannya. Bahkan waktu pun menunggu saat yang tepat untuk membongkarnya. Jika kamu penasaran, pergilah ke meja batu. Jawabannya akan kamu temukan, rahasia besar para dewa dan mereka yang mencintainya.”
Mendadak, lima patung raksasa di dekat mereka bergerak begitu pria itu selesai berkata-kata. Toz terperanjat, antara kaget dan tak percaya, rupa patung itu begitu indah, sinar lambang lima kekuatan bercahaya di masing-masing dada, membuat Toz tak bisa berpaling menatapnya.
“Mereka memanggilmu.”
“Mereka? Siapa yang anda maksud?” tanya Toz.
“Mereka yang diberkati.”
Toz menatap aneh karena masih tak paham dengan jawaban itu.
Akan tetapi, di sisi lain, di tempat di mana pertarungan sengit terjadi, tampaknya Toz tak sadar kalau sinar hijau dari mantra Horusca menyelimuti tubuhnya yang meronta. Mulut masih menyemburkan muntahan darah beserta sayatan-sayatan kecil yang mampir dan memudar di lehernya secara berulang.
Bahkan Horusca benar-benar tampak kesulitan. Terlebih lagi dirinya, juga harus mengobati Doxia yang terluka parah akibat serangan mendadak monster aneh itu. Tarian dari gerakan pedang-pedang yang muncul dan patah saat menyentuh sang monster, membuat Reve menampilkan ekspresi jengkel.
Tak peduli seberapa banyak pedang-pedang mengambang di udara, itu masih tak mampu melukai makhluk keparat yang menghadang jalan mereka. Namun, lelehan magma yang berhasil menggores mulut menganga di dada monster tersebut tak memberikan dampak apa-apa.
Reve menatap ke arah tangan kanannya yang memegang pedang. Ada jejak luka dari semburan cairan hijau panas yang tadi meyerangnya. Melepuhkan kulit, namun tak berarti apa pun rasa sakitnya.
Ia pun melempar pedang ke badan monster itu namun terpental begitu saja. “Bahkan serangan fisik dan mantra tak berpengaruh padanya. Apa yang harus kita lakukan?” Osmo mulai gemetaran.
Lain halnya dengan Rexcel. Dirinya sangat ingin membantu mereka, akan tetapi posisinya dan Riz harus melindungi Horusca yang sibuk mengobati Doxia dan Toz. Ini bukan pilihan yang mudah. Terlebih melihat Aza Ergo, Reve Nel Keres serta Osmo, tersudut tanpa bisa melukai monster itu dengan benar.
Monster itu sibuk memutar tubuhnya, memandangi siapa mangsa yang menyeruakkan energi besar di antara mereka. Sekarang, matanya tertuju pada arah tak terduga. Horusca Aste, elftraz (penyembuh) itulah yang memancarkan energi terbesar saat ini.
“Ini!” Aza Ergo menyadari arah pandangan lawan.
“Sial!” pekik Reve. “Nigel! (Muncullah!)” sebuah pedang hitam pun tiba-tiba muncul di tangan Reve. Ia berlari ke arah monster sambil mengayunkannya, serangan berhasil ditahan makhluk itu dengan tangan tanpa menoleh ke belakang, membuat Reve sedikit kesal.
Tanpa berpikir panjang, dirinya melancarkan serangan bertubi-tubi ke punggung monster, membuat mata-mata yang terpampang di seluruh tubuh makhluk tersebut menatapnya tanpa berkedip.
Aza Ergo yang tak ingin membuang kesempatan, melancarkan hujan magma dari kanan monster, membuat makhluk itu menjadi bulan-bulanan serangan keduanya. Tak ada jeda, kombinasi keduanya yang tampak ahli membuat monster itu berteriak akhirnya.
“Aargh! Ggrrr!”
__ADS_1
“Buagh!” suara dari serangan sang monster yang memutar tubuhnya mematahkan pedang hitam Reve. Dirinya lebih fokus pada bocah itu dibandingkan serangan hujan magma Aza Ergo, mengingat pedang Reve mengandung sesuatu di dalamnya.
“Ki-kita harus membantunya,” gumam Riz bercucuran keringat.
Akan tetapi, tubuh Reve yang mundur beberapa langkah ke belakang menangkap keanehan. Perlahan, luka-luka dari serangan mereka bertiga sembuh di badan monster itu, membuat mata yang memandang semakin kesal dengan lawan menyebalkan di depannya.
Tiba-tiba, ada getaran aneh di tanah akibat makhluk itu. Tubuhnya mengeluarkan gelombang berwarna merah yang menyelimuti, membuat udara semakin mencekam dan menusuk kulit. Orang-orang di sana terperanjat kaget dan gugup akan apa yang terjadi. Hembusan angin semakin kencang, menyapu apa pun untuk mengambang dan tak tentu arah di udara.
“Apa-apaan makhluk itu?!” jerit Osmo merasa ketakutan.
“Sialan, aku benar-benar lelah,” gerutu Aza Ergo. Ia melirik Reve, tampak tangan pemuda itu mengalirkan darah akibat serangan monster yang berhasil melukainya. Sekarang, apa yang harus mereka lakukan? Tak ada satu pun serangan yang mampu melumpuhkan makhluk itu mengingat ia juga bisa menyembuhkan diri.
Reve mendecih, akibat rasa sakit di tangannya. “Sudah cukup. Tanganku panas makhluk keparat!” tukasnya dengan nada kesal. “Kalau begitu mari kita lihat, sampai kapan kau bisa menyembuhkan diri,” Reve mengangkat tangannya ke atas.
Seketika tubuhnya mengeluarkan aura berat dan cahaya berwarna ungu, membuat mereka yang ada di sana terpekik pandangannya akibat kemampuan Reve Nel Keres.
“Ini!” gumam seorang lelaki memandang ke arah di mana aura itu berasal. Mata ambernya menatap tajam pada arah di balik bukit yang cukup jauh di pandangan.
Dan di tempat yang berbeda, “sensasi ini,” lirih seorang pria tua berambut hitam legam yang memancarkan asap di tubuhnya. Pandangannya sama dengan lelaki bermata amber itu, menatap ke arah di mana aura aneh menyeruak ke udara dan bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki kemampuan tak biasa.
“Ada apa guru?” tanya seorang wanita pada pria tua tersebut.
Di tempat pertarungan berlangsung.
“Grrr ... grrr!” makhluk itu berlari cepat ke arah Reve yang memancarkan energi tak biasa.
“Reve!” pekik Rexcel dan Riz bersamaan.
“Sial!” Aza Ergo tiba-tiba memukul tanah dengan kedua telapak tangannya, membuat duri-duri magma tiba-tiba muncul ke permukaan menghalangi langkah monster tersebut. Sekalipun berhasil melukai, tapi monster itu masih tak berhenti dan tetap berlari ke arah Reve.
Kejadian berlangsung cepat. Beberapa langkah lagi sebelum sampai ke tempat Reve. “Nigel, el rugit de l’espasa plou! (Muncullah, raungan hujan pedang!)” teriak Reve tiba-tiba. Langit sekitar mendadak gelap, ribuan pedang berselimut aura ungu mendadak muncul di udara yang jatuh seketika di hadapan Reve.
“Bruagh! Braak! Braak!” suara hujan pedang yang menghujam area.
Masing-masing pasang mata menatap tak percaya, aura ungu menyeruak ke udara, tanah berpijak menimbulkan retakan, aroma darah yang menguar ke sekeliling, menampilkan sosok monster yang tak bisa diduga, berdiri kokoh namun berlumuran darah dengan lubang-lubang pedang yang menembus dirinya.
__ADS_1