
“Aku tidak tahu apa yang anda inginkan di Hidea. Tapi, jika anak itu memang bisa dibangkitkan di sana, semoga semuanya baik-baik saja. Kuharap tidak ada malapetaka yang akan terjadi karena rencana anda, Yang Mulia.”
Begitulah gumaman kakek Heksar saat melihat langit malam. Sementara di perjalanan, Revtel tak henti-hentinya melihat wajah adiknya.
Pucat dan menusuk perasaan. Dan api hijau yang menyelimuti mata biru itu masih saja menemani mereka berdua.
“Terima kasih.” Bragi Elgo menoleh ke arahnya. “Terima kasih untuk semuanya Tuan. Terima kasih karena sudah membantu kami berdua,” ucapnya terisak.
Pak tua itu pun tersenyum melihatnya. “Jangan menangis,” dan sebelah tangannya mengelus kepala Revtel lalu kembali menggendong Kers.
Entah sudah berapa jauh keduanya berjalan. Walau keringat mengucur di badan, Revtel tak merasakan lelah. Nyatanya yang ada di otaknya hanya adiknya saja.
Sungguh ia takkan bisa memaafkan dirinya kalau sampai Kers tidak sembuh seperti sedia kala.
Tapi, tiba-tiba sosoknya teringat pada rupa monster sebelumnya. Dan ucapannya tentang Kers yang tidak akan mati karena dia abadi. Tapi sekarang bukankah kenyataannya sangat berbeda?”
“Tuan.”
“Ya?”
“Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?”
“Silakan. Tanyakan apa pun yang kamu inginkan.”
Revtel tersenyum mendengarnya. Perlahan rupanya tertunduk sekilas sebelum mengeluarkan kalimat yang diinginkannya.
“Apakah kita makhluk abadi?”
Bragi Elgo tersentak. Dirinya menoleh penuh arti kepada pangeran haram bangsa hydra.
“Kenapa kamu menanyakan itu?”
“Aku hanya penasaran saja.”
Sekarang hening menerpa keduanya. Walau lolongan binatang dan suara angin yang menghantam dedaunan menemani mereka, nyatanya Bragi Elgo seperti enggan membalas pertanyaannya.
Tampaknya butuh beberapa saat bagi Revtel untuk direspons olehnya.
“Tuan?”
Bragi Elgo tersenyum. “Kita bukan makhluk abadi, Nak. Di dunia ini, hanya ada beberapa ras yang diberkahi keabadian.”
“Beberapa ras?”
“Makhluk tanah biru, bangsa naga dan juga makhluk kayangan.”
Revtel terkesiap. Dirinya terdiam sejenak. Mengingat kembali akan perkataan monster di dalam danau yang mengusik pikirannya. “Makhluk kayangan?”
“Para Dewa.”
“Apa mungkin Yang Termulia?”
“Dari mana kamu mendengar sebutan itu?!” kaget Bragi Elgo. Melihat raut wajah pak tua itu, jelas saja membuat Revtel jadi waspada. Sepertinya pertanyaannya mungkin saja akan menimbulkan masalah nantinya.
“Aku hanya kebetulan membacanya di salah satu buku di Hadesia.”
Sang Raja pun menghela napas pelan mendengarnya. “Yang Termulia, itu adalah sebutan untuk mereka yang memegang tahta di kekaisaran langit. Dari merekalah kekuatan kita, dan dari merekalah kita bisa mendapatkan wujud seperti manusia.”
Revtel yang mendengar menjelasan itu hanya menatap lekat pak tua.
“Apakah itu termasuk keabadian?”
“Mungkin saja.”
“Aku tidak pernah mendengar kisah itu.”
“Benar, karena semuanya hanya bisa diketahui saat kita sudah menjadi Raja.”
“Jika aku jadi Raja, apakah mungkin aku akan tahu semua kisahnya?”
Bragi Elgo menggeleng. “Tidak semuanya, karena yang sempurna berada di prasasti Hidea.”
“Tempat yang akan kita datangi?” Revtel tampaknya benar-benar tertarik dengan pembahasan ini.
“Ya.” Wajah sang Pangeran pun berubah semringah. “Tapi,” seketika ekspresinya memudar. “Tak ada yang tahu seperti apa Hidea. Walau bisa masuk ke dalamnya, entah prasastinya bisa di baca atau tidak mungkin saja kematian yang akan menyambut kita.”
Entah kenapa rasa takut memeluk Revtel sekarang. Diliriknya sang adik, lalu digenggamnya tangannya.
“Apa Kers, akan baik-baik saja?”
Pak tua itu pun menatapnya lewat sudut matanya. “Gagak pesannya mengatakan kalau dia akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu cemas.”
Tapi, bukannya merasa tenang sekarang Revtel malah menjadi curiga. Entah kenapa pak tua di sampingnya tampak seperti mengetahui sesuatu menurutnya.
__ADS_1
“Anda terlihat biasa saja.”
Raja empusa itu seketika menoleh. “Maksudmu?”
“Apakah anda tidak merasa aneh? Dengan ini semua. Anda yang merupakan Raja dari bangsa lain, menolong anak seperti kami tanpa peduli posisi anda. Aku masih tidak bisa melupakan sikap anda yang memohon pada Ratu untuk mengampuni kami berdua.”
Sekarang, raut wajahnya keduanya jelas berbeda. Tak ada lagi Revtel cengeng atau rupa ramah Bragi Elgo. Ekspresi sang Raja tampak tenang di mata.
itu seketika menoleh. “Maksudmu?”
“Apakah anda tidak merasa aneh? Dengan ini semua. Anda yang merupakan Raja dari bangsa lain, menolong anak seperti kami tanpa peduli posisi anda. Aku masih tidak bisa melupakan sikap anda yang memohon pada Ratu untuk mengampuni kami berdua.”
Sekarang, raut wajahnya keduanya jelas berbeda. Tak ada lagi Revtel cengeng atau rupa ramah Bragi Elgo. Ekspresi sang Raja tampak tenang di mata.
“Empusa, dulunya dikenal sebagai bangsa setengah Dewa. Beberapa di antaranya memiliki insting yang luar biasa, atau meramal secara tiba-tiba. Dan aku tahu bahwa menyelamatkan kalian berdua merupakan hal terbaik yang bisa kulakukan sebagai orang tua.”
Sungguh di luar prasangka. Revtel tak mengira akan mendengar hal seperti itu dari mulut pak tua. Lelah benar-benar tidak terasa hanya dengan saling berbicara. Namun suasana mereka, jelas tak seramah tadinya.
“Anda tidak tulus membantu kami?”
Bragi Elgo tersenyum. “Apa pun yang kulakukan, hanya demi masa depan. Terlepas dari tulus atau tidaknya itu, tidak menolak kenyataan kalau aku harus menyelamatkan kalian. Karena bagaimanapun juga, dirimu dan Kers sudah seperti cucu untukku walau berasal dari ras yang berbeda.”
Akan tetapi, langkah mereka tiba-tiba terhenti karena bola mata berapi itu berputar hebat mengelilingi mereka.
Keduanya terkesiap saat menyaksikan pemandangan di hadapan. Di mana ada rawa besar namun di penuhi akar permukaannya.
“A-apa ini?” kaget Revtel melihatnya.
Seekor gagak pun mendadak muncul dan hinggap di bahu Hydragel Kers.
“Ini,” gumam pak tua.
Seketika, hewan itu memekik keras yang membuat pendengaran seakan tersiksa. Dan sensasi aneh mulai terjadi di depan mata.
Akar di rawa bergerak hebat seperti ular raksasa yang mengamuk di sana. Namun penampakannya justru membentuk sebuah jembatan. Melayang di udara dan mengarah ke atas sana.
“J-jembatan?” Revtel benar-benar syok melihatnya.
Suasana berkabut pun mulai menghantui mereka. “Ayo,” ajak pak tua. Mereka akhirnya mendekati rawa. Perlahan kaki menginjak jembatan yang memancarkan sensasi merinding untuk tubuh masing-masingnya.
Revtel meneguk ludah kasar. Saat melihat penampakan di bawah. Seolah berjalan di udara saat menyaksikan pemandangan semuanya. Semakin menuju ujung jembatan, hawa dingin kian terasa.
Kaget. Salju berjatuhan di sela-sela langkah mereka. Sang Pangeran mendongak saat mendapati awan di hadapan. Sontak saja ia menoleh ke belakang dan ternyata bibir jembatan sudah jauh di bawah sana.
Sampai akhirnya langkah mereka terhenti saat melihat sambutan yang ada. Gerbang besi, namun di baliknya terdapat hutan.
Pohon magnolia dan hamparan bunganya yang gugur berterbangan. Aromanya mengenakkan tapi hawa di sana tidaklah menyenangkan.
Mau tidak mau mereka harus tetap melangkah untuk melewatinya.
Napas Revtel pun tercekat saat matanya menangkap rupa aneh di samping sana. Tubuhnya seketika bergetar dan langsung memegang ujung baju Bragi Elgo.
Tentunya sang Raja sadar apa yang menyebabkan anak itu ketakutan. Seekor makhluk penuh rambut, rupanya mirip wanita dan merangkak posisinya. Bahkan jumlahnya bukan hanya satu, bisa dikatakan lebih dari tiga puluh di hutan ini.
Untung saja api hijau yang menyelimuti mata biru itu bersama dengan mereka. Mengingat sosoknya merupakan kumpulan dari tujuh roh sebagai penyamar ketiganya.
Setidaknya makhluk mengerikan itu akan mengira jika pendatang tersebut merupakan anggota kawanan mereka.
Goa bercahaya. Ada kristal hijau memenuhi dindingnya. Banyak kelelawar bertengger di sana. Aroma anyir dan busuk dari darah juga bangkai menghiasi isinya.
Revtel ingin muntah dan enggan memasukinya. Tapi tak ada pilihan karena mungkin inilah jalan menuju Hidea.
Dirinya pun dikejutkan dengan tetesan darah yang berjatuhan ke kepalanya.
“Jangan mendongak,” ucapan Bragi Elgo menghentikan aktivitasnya. “Jangan berbalik dan fokus saja ke depan.”
Mau tidak mau sang Pangeran terpaksa mengikutinya. Ini benar-benar perjalanan yang berada di luar nalarnya.
“I-itu,” kaget Revtel melihat apa yang ada di ujung sana. “Apa kita juga harus melewatinya?” paniknya.
Bragi Elgo tidak mengatakan apa-apa. Karena sang gagak yang terbang di depan mereka sekarang berhenti di pinggiran danau.
Memekik untuk kedua kalinya, dan menimbulkan getaran aneh di untuk sekelilingnya. Sekarang hujan perlahan berjatuhan. Tak deras tapi cukup untuk mendinginkan tubuh mereka.
Revtel tersentak dan menoleh pada mata biru di belakangnya. Ternyata api hijau tersebut masih berkobar seperti sebelumnya.
Tapi sesuatu yang aneh melesat cepat di belakang sana. Tak jauh dan membuat anak itu menatap lekat ke arahnya.
“Fokuslah ke depan, Revtel.”
Perintah Bragi Elgo memudarkan tatapannya. Revtel seketika menoleh dan mendapati kereta kuda aneh di tepi danau. “Bagaimana bisa?”
“Ayo masuk.”
__ADS_1
Mungkin, mereka tidak akan bisa bernapas lega. Bagai di neraka rasanya. Saat mendapati bagian dalam kereta kuda dipenuhi mata yang membuat bulu kuduk Revtel berdiri melihatnya.
Ini lebih menakutkan daripada kematian. Bahkan dua kursi yang saling berseberangan juga di penuhi oleh organ-organ itu.
Tak terbayang rasanya, duduk di atas mata yang jelas-jelas melotot pada ketiganya.
Tentu saja sang gagak juga bola api ikut bersama mereka. Tapi, pak tua Bragi Elgo hanya menampilkan ekspresi tenang dengan suasana di sekelilingnya.
“Selamat datang di jalan kematian menuju singgasana perjanjian Hidea.”
Terkesiap. Revtel terbelalak. Saat mendapati seseorang ternyata duduk di sampingnya. Sungguh bola matanya ingin terpelanting keluar, begitu tahu ternyata penampakan anehlah yang berbicara.
Seperti kurcaci. Tapi tidak punya wajah. Hanya ada sebuah mulut dan juga lubang aneh di lehernya. Seperti lubang kegelapan jika disaksikan secara saksama.
Bragi Elgo yang berhadapan langsung dengan makhluk itu hanya diam memperhatikannya.
“I-itu!” kaget Revtel saat melihat pemandangan di luar jendela.
Sementara di Hadesia, kegemparan sedang terjadi. Karena pertarungan Aza dan Pangeran pertama. Semua diakibatkan oleh ucapan bocah empusa yang menghinanya.
Kalau kakak Revtel itu, anak yang bermodalkan mulut besar dan status dalam menjalankan hidupnya.
Tentu saja dia yang tak terima langsung mengeroyoknya bersama teman-temannya. Tapi apa mau dikata, lawan mereka seseorang yang baru saja diangkat menjadi petinggi termuda di sana.
Dan para guru besar tampaknya tak berniat menghentikan pertarungan itu. Bagi mereka yang terpenting adalah buku sang penyair, Orfeus. Juga penyusup serta pembunuh Helgida dan Romario.
Menjengkelkan rasanya, sebab tak adanya jejak di sana. Tak peduli siapa pun itu, tidak ada tanda dari seorang merlindia (penyihir) atau scodeaz (pengendali) yang berkemampuan melelehkan.
Karena bagaimanapun juga, siapa pun sosoknya, bisa dipastikan ia sudah bertemu dengan mayat salah satu sang penyimpang yang berada di Hadesia.
Itulah, Cindaku Aftoria yang tubuh aslinya berada di lemari di perpustakaan dalam keadaan tidak berkepala.
Terdiam.
Revtel benar-benar tak berkedip menyaksikan apa yang ada. Banyaknya mayat di dalam danau yang dilewati kereta.
Ya, kendaraan itu tenggelam sekarang. Bergerak dalam air sehingga penghuninya bisa menyaksikan kehidupan di sana.
Banyak mayat anak-anak yang hewan aneh di sekitar mereka. “Apakah mereka dibunuh?” Revtel bersuara tiba-tiba.
“Sayang sekali. Mereka semua adalah pengorbanan untuk perjanjian di Hidea.”
Sontak saja para pendengarnya terkesiap. Saling menatap ke arah makhluk aneh yang duduk di sebelah Pangeran hydra.
“Kenapa?!”
“Karena semuanya adalah korban dari perperangan besar dahulu kala.”
Revtel kembali menoleh ke luar jendela. Dan dia bisa menyaksikan banyaknya patung batu raksasa yang berjejer seperti pagar dalam perjalanannya.
Patung pria tanpa kepala dengan tangan terangkat ke atas keduanya. Semakin lama semakin kecil ukurannya. Dan kereta pun terhenti sekarang.
Tentunya menimbulkan kepanikan di diri Revtel akibat rasa tak percaya. “Jangan bilang kita akan turun di sini? Ini di dalam air!” pekiknya.
Tapi, pintu mendadak terbuka dan tak ada genangan yang disebutkannya.
“Selamat datang di istana kematian. Apa pun yang kalian lihat akan menjadi mimpi nantinya. Sampai jumpa wahai ras para pembangkang.”
Selesai mengatakan itu, kereta kuda tersebut meninggalkan mereka. Sekarang, ketiganya berada di halaman istana. Kediaman megah yang dikelilingi balon raksasa sehingga membuat semuanya bisa bernapas dengan lega.
Dan lagi-lagi, gagak yang terbuat dari jantung Kers itu terbang duluan di depan mereka. Menuju pintu utama yang aneh ukirannya. Seperti ukiran perang. Melukiskan kehidupan zaman dahulu kala. Mendadak terbuka tiba-tiba tanpa harus menyentuhnya.
Seketika hembusan angin dan asap kasar menghantam para tamunya. Revtel tertegun karena di dalamnya tampak seperti lubang kegelapan.
Tapi begitu memasukinya yang ada di sana hanyalah kediaman terang benderang.
Tapi anehnya setiap dinding di penuhi lukisan. Potret dari rupa-rupa asing nan diselimuti kegelapan. Seolah hidup jika disaksikan. Dan jelas menusuk tulang untuk merasakan ketakutan.
Tangan dan kaki Revtel langsung berkeringat di buatnya.
Terlebih lagi pandangan di dalam lukisan itu seperti mengikuti langkah mereka. Detakan di jantungnya kian akibat teriakan di perasaan.
Kalau tempat ini mungkin saja akan mendatangkan kesialan nantinya.
“Ini,” kaget Bragi Elgo saat melewati tangga. Karena di sampingnya terdapat sebuah lukisan dari wajah yang tidak asing menurutnya.
Tentunya Revtel menatap lekat ke arah pandangan pak tua. Seorang pria sebaya sang Raja, ada sayatan di lehernya dan mengalirkan darah. Ekspresinya seperti berteriak ketakutan karena tangannya seolah hendak keluar dalam gambaran.
Walau benda mati, pemandangan yang ditorehkan benar-benar tampak nyata. Dan sekarang Revtel tersadar kalau setiap lukisan memiliki ekspresi yang berbeda.
Terlebih parahnya lagi, ada lukisan tak asing di matanya.
Sang ayah, Raja bangsa hydra. Rupanya tampak penuh dendam sambil menunjuk ke arah tak terduga. Pada Hydragel Kers yang telah membunuhnya.
__ADS_1