
“Kenapa semua ini terjadi?”
Mendadak perisai emas serupa payung raksasa langsung menutupi langit-langit gyges.
Apophis dan Helga terperangah, karena bagaimanapun mereka bertarung di udara. Menatap tak percaya pada kemampuan tankzeas (pelindung) terkuat yang pernah ada.
“Kenapa semua ini terjadi?” ulang Riz sekali lagi.
“Dia,” Leduo Perseus menatap lekat pemuda itu.
“Riz!” pekik Reve tiba-tiba.
“Kenapa semua ini terjadi?” air mata begitu tercerai-berai di pipi. Sungguh sendu ekspresinya, dan jelas menyayat hati siapa pun yang merasa kehilangan. “Apa begitu sulit untuk saling memahami?” ucapnya terisak-isak. Sesak rasanya, karena perasaan di dada berkecamuk dengan kejam. Dan ia pun menatap lekat pada Helga. “Bukankah tidak ada alasan bagi kami harus mati?”
Perempuan itu menyipitkan mata, melirik tajam dengan rahang menegas. Tersirat raut tak suka dari wajahnya, saat mendengar untaian kata sang anak manusia.
“Padahal, ada orang-orang yang menanti kami untuk kembali,” lanjutnya.
Akan tetapi hal itu, berhasil menusuk kesadaran Helga Nevaeh. Tiba-tiba ia angkat tangannya sehingga akar juga dahan Yggdrasil bergerak sesuai keinginan.
“Tutup mulutmu, Bocah. Kau membuatku muak.”
“Awas!” teriak Apophis bersamaan dengan serangan Helga yang memburu Riz.
Secepat kilat Reve juga Ares mencoba melindunginya, tapi Perseus dan Reygan malah mengganggu mereka.
Dan tiba-tiba, perisai emas muncul layaknya dinding raksasa di depan Riz Alea.
“Aku, tak sanggup lagi menghadapi ini semua,” sosoknya bangkit dan berjalan melewati perisai di depannya. “Aku tak ingin lagi ada darah berserakan di sini,” tubuhnya mulai dipenuhi sinar keemasan.
Apophis terkesiap, saat menyadari kalau kegelapannya bereaksi dan memudar. “Tidak mungkin, juru kunci?” gumamnya.
Helga yang mendengar itu pun seketika langsung murka. Urat-urat di lehernya kian menonjol bersamaan dengan aura pembunuhnya semakin terasa.
__ADS_1
“Juru kunci? Setelah sekian lama, setelah para Titan mati, kau baru muncul kembali?! Keparat sepertimu?! Kau manusia tak tahu diri!” emosinya.
Amarah yang berkobar itu pun berhasil memicu gempa dari Yggdrasil. Begitu kuat getarannya, membelah tanah gyges yang semakin tak berbentuk kondisinya.
Dan lagi-lagi perisai emas melindungi Riz Alea. Tatapannya kosong, walau tangisan masih terurai ke pipi.
Tiba-tiba sensasi aneh menyeruak di sana, menusuk kesadaran para Dewa dan juga guider yang ada. Bahkan fenomena tak biasa hampir mencapai seluruh tanah Guide.
Sementara Riz Alea mulai mengucapkan kata-kata di luar kesadarannya.
“Tiga belas singgasana, tiga belas Termulia, tiga belas Dewa, tiga belas bangsa, tiga belas penyimpang, di hadapan Yggdrasil, nyanyian terlarang dipanjatkan. Perjanjian berdarah diagungkan, demi kesepakatan perdamaian.”
“Sumpah terlarang ahli kunci, aku hadir sebagai saksi, atas pelanggaran tiga dunia di tanah ini. Sebelum dua bulan menggapai puncaknya, inti Yggdrasil di tangan pendosa, hukuman dari ahli kunci dipersembahkan. Pemulihan diturunkan, dan darah-darah dikembalikan.”
“Perjanjian tiga belas, kuasa gelap ahli kunci, Yggdrasil melebur diri, mantra terbangkitkan.”
“Tidak ... tidak ... tidak ... tidak! Hentikan keparat! Aku masih belum balas dendam!” teriak Helga tak terima. Akibatnya akar juga dahan Yggdrasil mulai menghujani Riz Alea. Setiap pasang mata terbelalak menyaksikannya, karena tak satu pun serangan wanita itu mengenai sang pemuda.
Perisai tankzeas (pelindung) itu benar-benar melindungi penggunanya. Sungguh luar biasa, mengingat Yggdrasil merupakan pohon kehidupan. Bahkan lima kemampuan seharusnya tak berkutik jika di hadapkan padanya.
Sosok di luar nalar mereka, sebagai timbangan tiga dunia jika kekacauan mulai terjadi. Dan dengan punahnya bangsa gyges, menjadi langkah awal kebangkitan juga penghakiman darinya.
“Memanggil dalam ketiadaan, penghakiman abadi. Nigel, senka porta. Statera trium mundorum (Terbukalah, gerbang bayangan. Neraca tiga dunia)”
Tiba-tiba hentakan kasar dari perisai emas menghantam semuanya. Bukan hanya sosok-sosok di tanah para gyges, tapi serangan ini berlaku untuk tiga dunia.
Dunia kayangan.
Dunia Guide.
Dunia manusia.
Siapa pun yang masih bernyawa, diselimuti kegelapan seluruh inderanya. Dan itu juga termasuk para Dewa juga penyimpang.
Lambat laun Hydragel Kers membuka mata. Sensasi tak asing menyentak kesadarannya. Aroma rerumputan, bisikan ambrosia, seketika merangkul dirinya. Ia pun terperangah mendapati pemandangan di depan mata, di mana dirinya berada di salah satu singgasana Termulia dan duduk di sana.
__ADS_1
Dan yang lebih parahnya lagi, wujudnya bukan lagi Raja hydra. Tetapi, seorang Dewa yang dikenal dengan nama Apophis.
“Ini gila,” gumamnya tiba-tiba sambil memegang rambut hitam keputihannya.
Ares juga ikut tersadar. Terlebih parahnya lagi, sosoknya berada di pinggiran sungai. Di mana di depan matanya tampak Athena sedang mengasah pedangnya.
Dewa Seth terdiam menyaksikan penampakan di sekitar. Di sebuah altar, tempat tidurnya di kala ia bermalas-malasan dahulu kala.
Sedangkan Helga, terdiam menyaksikan sekelompok Titan di rumah kaca. Bercengkerama, seperti membahas hal seru diselingi tawa. Dan tangisan pun tak terbendung darinya akibat rindu yang dirasa.
Dengan pedang sama-sama terayun, Reygan juga Perseus menatap tak percaya, kalau mereka sedang berlatih di colosseum. Terlebih sorakan dari para penyimpang yang seharusnya sudah mati bersenandung di sekitar keduanya.
Apalagi kehadiran Olea Zoyaveira bersama Zeus Vortha membuat ayah dari Aegayon Cottia tak bisa berkata-kata, kalau kenyataannya mereka baik-baik saja.
Dan untuk para Raja muda beserta wakil juga petingginya, semua menjadi bingung karena berada di sebuah istana. Dihiasi penampakan sabana di sekitar, semakin membisikkan keadaan yang sulit diterima nalar.
Ahli kunci yang juga merupakan murid-murid serta rekan Reygan Cottia, membisu karena berada di pinggiran sungai bangsa kurcaci. Disambut dengan hidangan ular panggang di depan mata, membuat Laraquel Hybrida juga Izanami Forseti sama-sama hampir muntah jadinya.
Dan di dunia manusia, Riz Alea dibuat tak percaya, saat sosoknya yang tadi aneh sekarang justru berada di rooftop sekolah. Terlebih parahnya lagi, ada sosok Ellio, Toz Nidiel, juga Reve Nel Keres sedang bermain kartu di sampingnya.
“Apa aku sedang bermimpi?” gumam Toz tiba-tiba.
Lain halnya UKS sekolah. Di mana sang Dokter jenius justru mengomel tidak jelas. “Kenapa tidak mati saja? Tanganmu kan cuma patah, dasar bocah manja!” umpatnya.
Pasien yang merupakan si bangsat Jion hanya bisa menangis di atas brankar. Bukannya diobati ia malah dicaci.
Doxia Mero, Rexcel Sirenca dan juga Osmo, siapa sangka mereka juga berada di dunia manusia. Berkeliaran di salah satu pusat perbelanjaan dan menggoda wanita. Nyatanya, umpatan dan hinaan yang justru di dapat ketiganya.
Dan tiba-tiba, pintu rooftop mendadak terbuka. Mengejutkan empat pemuda di sana saat mendapati siapa tamu mereka.
“Apa kalian merindukanku?” sang pengendali magma, dengan pakaian santai ala pemuda di dunia manusia, memamerkan senyum tipis di bibirnya. Bersamanya juga telah hadir dua sosok yang tak disangka-sangka, merekalah Laravell Axadion Ergo dan juga Horusca Aste.
__ADS_1