
Kaki tak beralasnya melangkah. Entah kenapa, aroma campuran tadi kini cenderung anyir seperti darah. Toz tak mampu bersuara, tubuhnya seakan membatu dan mulut seperti membisu, menatap sosok dengan pijakan yang menghampirinya.
Sekarang, tepat di depan mata sejarak satu meter wanita itu berdiri tenang memandangnya. Mata ambernya benar-benar menekan keadaan.
“Lagarise, itu namaku. Siapa namamu? Wahai anak manusia.”
Tapi, apa yang terjadi? Bibir Toz gemetaran, detak jantungnya normal tapi sepertinya mulutnya seakan lupa bagaimana caranya berbicara.
Wanita itu, mengangkat tangan dan mengarahkannya tepat di depan wajah sang pemuda. “Toz Nidiel,” selesai mengatakan itu ia tersenyum. “Kenapa mereka memperhatikanmu?”
DEG!
Akan tetapi tiba-tiba dorongan aneh termuntahkan dari mulut sang pemuda. Begitu menyakitkan dan sesak di dadanya, sampai-sampai tangan yang menahan mulutnya sekarang berhiaskan darah akibat batuk kerasnya.
Toz terkesiap, darah yang keluar dari mulutnya itu cukup banyak dan masih saja menetes. Dirinya tak tahu apa yang terjadi namun sorot mata sayunya terangkat menatap wanita berwajah dingin di depan.
“A-apa yang terjadi?”
Lagarise tersenyum. Disentuhnya bibir bawah Toz dan mengusap pelan permukaannya. Perlahan, jempol tangan kanan yang berhias darah sang pemuda ia jilat dengan santainya.
Laki-laki itu terbelalak, tak percaya akan pemandangan di depan mata. Seakan ada sedikit sensasi jijik menggelitik perutnya namun tetap ia abaikan. “Sebenarnya aku ada di mana? Siapa yang memperhatikanku?”
Entah kenapa, kendali pikiran Toz begitu normal sekarang. Sepertinya dirinya memahami bagaimana situasinya.
“Gerbang.”
Seketika satu kata itu pun menyentak pikiran sang pemuda. Diliriknya sekelilingnya, mencoba memahami kembali keadaannya.
“Gerbang? Apa itu berarti ini gerbang kekuatanku? Tidak, tunggu! Di mana pria dan dua anjingnya itu? Aku masih ingin bertemu dengannya.”
Wanita itu berbalik yang sontak saja mengagetkan Toz dan langsung dicegatnya. Tetapi, tangannya yang memegang lengan Lagarise seperti menyentuh udara kosong.
Rasanya, ia seperti tak memegang apa-apa.
“Siapa anda sebenarnya?!” sekarang suara Toz lebih keras. Wanita itu mengabaikannya, perlahan langkahnya berjalan ke salah satu kursi kosong yang masih diikuti oleh sang pemuda.
“Lagarise.”
Hanya itu kata terucap saat dirinya telah duduk di salah satu kursi Raja.
“Itu kan nama! Maksudku anda siapa? Kenapa aku tidak bisa menyentuh anda?” lalu lengannya diusapkan ke mulut untuk menghapus sisa-sisa darah.
__ADS_1
Lagarise mengabaikannya, matanya hanya terpaku ke atas altar di mana ia tadi muncul dari sana. Perlahan, dirinya menyeringai tipis yang mengundang tatapan takut Toz untuk mendekatinya.
“Vanargand.”
Selesai nama itu dikumandangkan, getaran hebat mengguncang seluruh area. Toz panik dan sontak saja tenaga dikakinya menghilang dan menjatuhkan tubuhnya. Angin bergerak cepat seperti tsunami yang menghantam. Api di altar membesar seperti ingin membakar area terdekatnya, dan wanita yang memanggil nama itu tetap diam di singgasananya.
“A-apa itu?!” pekik Toz saat melihat angin yang mengila di sana mulai berkumpul di atas altar. Diiringi kobaran api besar yang tingginya hampir mencapai tinggi patung-patung lambang kemampuan.
Dan beberapa detik kemudian hempasan angin kasar menghantam seluruh area yang meretakkan kaki kelima patung raksasa itu.
Toz tersentak. Di posisinya yang jatuh terduduk di lantai pijakan, matanya menangkap sosok luar biasa.
Serigala.
Begitu besar seperti seekor gajah, berhias empat mata amber di rupanya dan tanduk rusa di kepalanya. Keempat kaki serta ujung ekornya, seperti mengibaskan api biru di setiap langkahnya.
Hewan menakutkan itu sekarang menatap tepat ke arah sang Lagarise yang tenang.
“Se-s-se—”
“Vanargand,” wanita itu memotong ucapan Toz. Dan benar saja, panggilan itu mengundang langkah hewan mengerikan itu untuk mendekatinya. Dibalas senyum dan juga sorot mata tak biasa sang putri yang angkuh tatapannya.
Napas Toz Nidiel memburu. Tubuhnya gemetaran dan tak mampu lagi bersuara. Langkah kaki sang hewan besar selalu menggetarkan area setiap ia mendekat. Sekarang, tepat di depan Lagarise, hewan itu menunduk patuh seperti meminta belaian.
“Vanargand.”
“Aaagh! S-sakit! Sakit! Sakit! Tolong aku!” pekiknya meronta. Tapi lolongan serigala kembali berkumandang yang membuat sang pemuda membenturkan kepala karena tersiksa. Ini sangat menyakitkan, karena tubuh seakan dikuliti hidup-hidup rasanya.
“Kenapa? Apa yang membuatmu lebih istimewa?” pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Lagarise tanpa kasihan. Tatapan dinginnya, seakan tak peduli dengan apa yang terjadi. “Perlihatkan padaku, harga milikmu,” ucapnya sambil berjalan mendekati.
Toz yang masih meraung-raung kesakitan, hanya ditatap tenangnya. Tangannya perlahan menggenggam kepala sang pemuda yang tak berdaya dan berubah menjadi menjambaknya.
Anak manusia itu hanya bisa meronta dan menatap samar sosok yang berbicara lewat pandangan buram berdarahnya.
“S-sakit,” lirik Toz terisak. Ia menangis karena tak sanggup lagi merasakan itu semua. Entah kenapa, bayang-bayang mati sempat menghampiri pemikirannya.
Lagarise tersenyum, satu tangannya naik dan mencekik leher sang pemuda, untuk menggantikan tangannya yang tadi menjambak rambutnya.
“Apa yang membuatmu berharga?”
Toz hanya menatap pilu. Dirinya benar-benar tak bertenaga dan tak kuat untuk bersuara. Mata mereka yang saling bertemu seperti melukiskan jawaban masing-masingnya. Seketika, Lagarise mengayunkan tangannya dan menghempaskan tubuh sang pemuda.
__ADS_1
Toz berteriak kesakitan dan menatap sosok kejam itu dengan pupil bergetarnya. Tapi apa yang ia lihat adalah pemandangan tak terduga. Lagarise mengarahkan tangan ke mulutnya sendiri seperti menarik sesuatu dari atas lidahnya.
Sontak saja sebuah pedang panjang muncul dari dalam sana dan ditebaskan ke sekitar. Menghempaskan api biru yang menyelimuti senjata itu akhirnya. Gadis itu pun melemparkan pedang di tangan tepat di depan tubuh tergeletak sang pemuda.
“Rasa sakitnya takkan berhenti, sebelum kau membunuh sumbernya.”
Toz masih tak bergerak, matanya hanya menatap sayu pada sosok yang berbicara. Aliran darahnya mengalir tanpa henti dari mata, hidung, mulut dan telinga. Ini benar-benar menyakitkan seperti ingin membunuhnya.
Lagarise tersenyum. Tangannya pun terangkat dan menunjuk serigala raksasa yang masih menundukkan kepala. “Bunuh dia, dan rasa sakitmu akan memudar sebagai gantinya.”
Tapi Toz masih tak bersuara, hanya netranya yang bergerak untuk menyoroti hewan mengerikan itu. Seperti anjing peliharaan yang disuruh duduk oleh majikan. Matanya pun bertemu dengan manik amber sang serigala.
“Bahkan jika itu menyakitkan, kau pasti memiliki sedikit tenaga untuk membunuhnya kan?” Lagarise bersuara. “Vanargand adalah sumber rasa sakitmu. Dan rasa sakitmu adalah Vanargand. Hanya satu di antara kalian yang bisa selamat. Sekarang bunuh dia,” perintahnya.
Toz masih tak bergerak. Walau rasanya tubuhnya memang mampu untuk dibangkitkan, tapi sensasi sakit seperti memaku kepala dan kakinya agar tak melakukan apa-apa. Dan matanya belum beranjak dari netra sang serigala.
“K-kenapa aku harus membunuhnya?” untaian kata itu akhirnya keluar setelah Toz mengumpulkan tenaga. Tak disangka selesai mengatakan itu ia memuntahkan darah karenanya.
“Vanargand adalah rasa sakitmu, dan rasa sakitmu adalah Vanargand.”
“Bagaimana mungkin rasa sakitku adalah serigala?” entah kenapa setiap bersuara sensasi kejam di seluruh tubuhnya membuat mulutnya kembali menyemburkan darah. Toz terdiam, jika terus seperti ini tak lama lagi dirinya pasti akan mati karena kehabisan darah.
“Karena ini adalah kenyataan. Untuk bisa selamat hanya satu yang mampu bertahan. Dirimu atau rasa sakitmu. Dan aku akan menjadi saksi untuk itu.”
“Kau gila.”
“Bunuh Vanargand.”
Toz menggeleng, sambil menutup mulutnya agar tak memuntahkan darah lagi. Rasanya seperti dadanya disayat-sayat begitu ia selesai bersuara. Ini begitu menyakitkan sampai dirinya mulai terbiasa.
Perlahan, kakinya yang lemah dipaksa untuk merangkak. Tangannya menggapai langkah untuk menyeret tubuhnya, karena Toz tak ingin lagi berurusan dengan wanita gila.
Dia tak mengerti dengan posisinya.
“Bunuh Vanargand,” Lagarise kembali bersuara. Toz mengabaikan itu, dan tetap menyeret paksa tubuhnya. “Kubilang bunuh Vanargand.” Sekarang, wanita itu telah berdiri tepat di hadapannya dengan memegang pedang. Ditancapkannya ujung pedang tepat menusuk punggung tangan kanan Toz yang terulur ke depan.
“Aaagh!” pekikan keras memecah malam. Toz berteriak kesakitan karena ulah gila Lagarise. Semakin ia meraung, semakin gadis itu memutar pedang dan makin menusukkannya di sana. Sang pemuda mendongak dan menatapnya tersiksa.
“Bunuh Vanargand.”
“K-kau gila.”
__ADS_1
Lagarise tersenyum. “Apa susahnya membunuh Vanargand? Dia hanya serigala tak berguna.”