Death Game

Death Game
Akhir mereka


__ADS_3

Sementara di kawasan siren terlihat sebuah pertemuan besar di istana mereka. Para raja dunia Guide dan juga wakilnya turut hadir memeriahkan keadaan. Dan di antaranya ada Hydragel Kers yang sibuk mengganggu rekan-rekannya.


“Tunjukkan sopan santunmu, bagaimanapun aku ini Dewa, Dewa! Dewa kegelapan, hei aku Dewa kegelapan!” kicaunya sambil sibuk memindahkan anggur-anggur sajian ke dalam ember besi yang ia bawa.


Trempusa, sebagai rekan dari Hidea hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan.


“Memalukan.”


“Diam kau raja cebol!”


“Apa kau bilang! Bagaimanapun aku lebih tua darimu!”


“Tapi aku Dewa!” sergah Kers tak terima.


“Kau hanya Dewa buangan! Harusnya kau sadar diri!”


“Kau!”


“Kau!”


Akhirnya kedua raja itu terlibat pertikaian. Bahkan tertua bangsa hydra harus menahan malu akibat ulah pimpinan mereka.


Walau pertemuan ini sebagai tanda rasa syukur para makhluk di dunia Guide, nyatanya para pembuat masalah masih saja mengacaukan suasana dengan gaya masing-masing.


“Memalukan,” cibir Revtel melihatnya.


“Sepertinya mereka sangat bahagia,” raja bangsa dracula ikut berbicara. Entah kenapa sorot matanya tak mengantuk seperti sebelum-sebelumnya. Namun satu hal yang pasti, kehadirannya di sana sempat menimbulkan kehebohan mengingat Lucian Brastok tak menampakkan muka saat peperangan.


Di lain sisi Blerda Sirena menatap diam sajian di mejanya.


“Bagaimana keadaan adikmu?”


Pertanyaan itu Sontak mengalihkan atensi sang Ratu siren.


“Kenapa? Apa kau tertarik pada saudariku itu?”


Butuh sejenak waktu bagi Beltelgeuse Orion untuk menjawabnya. Sekilas, diliriknya sekitar sebelum kembali bersuara.


“Tetua memberitahuku, kalau kamu tak berniat membebaskan Bleria.”


Perlahan senyum tipis terkembang di bibir indah sang Ratu. Bukan hanya mengusik perhatian teman seperjuangannya, bahkan itu juga mengganggu pandangan Revtel yang kebetulan melihat ke arah mereka.


“Karena dia akan di eksekusi sebentar lagi.”


Beltelgeuse pun menatap tak percaya ke arahnya. “Kamu gila?”


“Pengkhianat memang harus dienyahkan. Tak peduli jika ada ikatan darah sekalipun di dalamnya. Kau tahu siapa aku, Orion. Bagiku, hanya teman seperjanjian kitalah saudaraku.”


Selesai mengatakan itu, Blerda Sirena pun pergi dari sana. Kimono gelap bermotif magnolia di badannya, memancarkan keindahan seirama aroma di raga. Setiap langkahnya diiringi banyak pasang mata akibat ekspresinya yang tak biasa.


Dingin entah mengapa.


Kawasan perang terakhir.


Di sinilah sang Raja berambut pirang emas berada. Bersama teman-temannya pemegang mantra yang masih tersisa, Aegayon terdiam menyaksikan kondisi kawasan pimpinannya.

__ADS_1


“Aku tidak tahu kita harus bersyukur atau bagaimana,” lirih Izanami Forseti. “Mengingat rekan-rekan kita yang lain masih belum menampakkan muka.”


Dan di kayangan terlihat tiga belas kursi namun tak penuh penghuninya.


Satu di antara mereka sibuk dengan buku di tangan, dan sosok yang terlalu fokus memainkan pisau untuk menyayat lengannya paling menarik perhatian.


“Bisakah kau tidak melakukan hal aneh itu? Loki.”


Perkataan Hades mengalihkan atensinya. Bahkan jika darah telah berceceran ke lantai, dirinya seperti tak peduli. Selain memasang senyum tipis sebagai jawaban.


“Jangan karena dirimu sudah berjasa membukakan gerbang yggdrasil ke dunia, kamu jadi bisa seenaknya seperti itu,” sela Poseidon.


“Diamlah pak tua. Bisa-bisa aku memotong tanganku gara-garamu.”


Jujur saja, kejengkelan mulai menghantui mereka. Apalagi darah Loki entah kenapa menguarkan aroma tak bisa. Seakan-akan mendebarkan dada siapa pun yang bisa menciumnya.


“Loki.” Thor akhirnya bersuara.


“Ayolah, Kakak. Aku bosan. Kupikir singgasana ini menyenangkan. Tapi ternyata sangat hambar dan memuakkan. Pantas saja Apophis lebih memilih mengkhianati tahta dibandingkan terkurung tak berguna di kursinya."


“Loki!” hardik Susanoo, Apollo dan Poseidon bersamaan.


Tawa pun tiba-tiba menyeruak dari sang penyulut emosi. Lambat laun berganti seringai di mata para pengamatnya.


Sosok-sosok di sana, memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Selamat tinggal.”


Selesai mengatakan itu, sosoknya pun menghilang dari sana. Seolah-olah tak peduli pada kelancangan yang tercipta, namun ulahnya memang berhasil menimbulkan geram di dada.


Di istana Siren, Kers yang mulutnya dipenuhi anggur itu tiba-tiba membisu. Dia berhenti bergerak dan seolah tuli dengan setiap panggilan yang mengganggu.


Seakan-akan waktu terhenti bagi sang dewa jatuh milik kayangan itu.


“Hei, brengsek! Ada apa?!” bingung sosok yang dipanggil raja cebol di sampingnya.


“Tolong anda jaga, dan jangan sampai anggurku kenapa-kenapa. Atau aku takkan segan-segan mendatangkan perang di tanahmu, Yang Mulia.”


Sang raja yang diajak bicara pun terperangah mendengar kalimat pimpinan bangsa hydra.


Bagaimana bisa orang gila itu mengatakan hal konyol barusan dengan nada yang sangat serius?


Kalau wakilnya sampai tahu Kers bercanda seperti itu, tak bisa dibayangkan hukuman seperti apa yang akan diberikan pada sang sepupu.


Tidak, bahkan orang-orang yang ada di sana mungkin akan gempar.


“Kau tidak diundang,” Kers bersuara tiba-tiba.


Dan sosok yang sibuk memandangi istana Siren dari kejauhan mulai menyeringai. Terlihat tatapan puas dari pancaran matanya akan kehadiran tiba-tiba orang di belakang.


“Aku senang kau akhirnya muncul, saudaraku.”


“Loki.”


Dewa dengan pakaian seperti pengelana itu pun menyandarkan tubuhnya pada salah satu pohon pinus. Di tangan kanannya mengalir darah akibat luka di lengan.

__ADS_1


Sedangkan di tangan kiri, pisau yang tadi dimainkan di istana kayangan masih bersamanya.


Dan penampakan dewa yang berambut sepinggang itu, mendapat lirikan aneh dari Kers.


“Kau menjadi lebih gila semenjak terakhir kali kita bertemu.”


“Benar, aku gila. Aku memang sudah gila karena tak sabar ingin bertemu denganmu.”


Kernyitan dahi bingung pun terlukis dari sosok raja bangsa ular. Jujur saja, di antara para makhluk kayangan yang pernah ditemuinya, hanya adik Thor inilah yang sangat tidak logis baginya.


Selain aneh dan tak bisa di prediksi, dia memang memiliki tipikal wajah sangat mencurigakan sekali.


Muka-muka penipu jika harus diakui.


“Apa maumu? Kau membuatku takut Loki,” padahal ia mengatakan itu, namun raut wajahnya justru meremehkan.


“Aku ingin dirimu.”


“Kau!” syok Kers mendengarnya. “Ya ampun apa yang sebenarnya terjadi?! Thor pasti akan bunuh diri jika tahu adiknya gila seperti ini. Sejak kapan kau jatuh hati padaku?!”


Tampang jijik langsung tercetak di wajah pendengar itu. “Kau, sepertinya kau salah paham. Maksudku aku ingin kekuatanmu. Bukan dirimu, tapi kekuatanmu, Apophis.”


Mendadak suasana langsung berubah. Angin dari barat tiba-tiba ribut dan kencang hempasannya. Seolah berteriak demi menegangkan suasana di sekitar mereka.


Bukan hanya itu saja, sorot mata Kers yang sebelumnya penuh canda, berbalik menjadi dingin tak sesuai dengan tipenya.


Perlahan, aroma seperti mawar menguar di antara mereka. Bersamaan dengan itu berisik dedaunan yang gugur menyelimuti keadaan keduanya.


Sampai sang Dewa pengacau tersadar dengan keadaan di sekitar. Kalau asap hitam telah bermunculan dan melayukan tumbuhan di sekelilingnya.


“Ini!” pekik Beltelgeuse di istana tiba-tiba.


Bukan hanya dirinya, orang-orang di sana bahkan kayangan juga bisa merasakan getaran milik dewa kegelapan mereka. Pertanda kalau kemampuan Apophis yang tersegel memang sudah terbangkitkan sepenuhnya.


“Jawab aku, apa yang kau inginkan dengan kegelapan itu?” Kers pun mendekat.


Sepanjang melewati tumbuhan yang mati, semuanya mendadak menjadi debu berterbangan, seolah-olah apa pun kehilangan wujudnya karena di hadapkan pada kemampuan sang termulia.


Mendengar itu seringai tipis membelah wajah sang Dewa. Memang inilah yang diinginkan olehnya. Pertanyaan menggetarkan jiwa dari Apophis sang termulia.


“Tujuanku?” sesaat kemudian pekikan guntur pun turun ke bumi. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Awan di langit ikut menggelap pertanda hujan akan turun tak lama lagi. “Tentu saja kematian para termulia di penjara itu. Tidakkah kau juga setuju? Wahai Rajaku. Tidak, atau haruskah kupanggil sang pemakan kematian para Dewa? Kau iblis dunia sana.”


Tawa pelan pun pecah dari mulut Raja hydra. Tiba-tiba retakan muncul di wajahnya. Bersamaan dengan berubah warnanya rambut dan juga matanya.


Penampakan sang pimpinan bangsa ular tak lagi sama.


Di balik penampilan termulianya, tanduk aneh telah muncul di kepala. Bersamaan dengan mata ketiga membelah dahi. Ia pun menyisir surai gelapnya.


“Ah, sial. Tak kusangka, ternyata Dewa kecil sepertimu tahu rahasiaku ya?” senyum miring pun tercetak di bibirnya. “Kalau begitu ingin mati di tanganku? Bocah.”


“Kau—”


 


...-END-...

__ADS_1


__ADS_2