Death Game

Death Game
Pemuda berambut merah


__ADS_3

“Aku mendengar teriakan kematian di sini,” lirih pemuda itu sambil menyisir rambutnya ke belakang dan memamerkan mata emerald yang menggelap tatapannya.


“Siapa kau?!” tanya laki-laki pemegang cambuk itu.


Angin malam yang lembut pun menyapu rambut sang pemuda, membuat pesona anehnya semakin meggelora. Ia tak membalas pertanyaan laki-laki itu, melainkan menolehkan wajahnya ke arah yang berbeda.


“Dia sekarat,” gumam pemuda tersebut.


“Hei! Apa kau tuli? Kutanya siapa kau?! Beraninya mengganggu pertarunganku!” bentak laki-laki itu.


“Aku bisa mendengar tangisan kesakitannya,” pemuda tersebut melangkahkan kakinya menuju induk beruang yang terluka.


Wajah laki-laki pemegang cambuk menjadi merah padam karenanya, “dasar br*ngs*k! Beraninya kau mengabaikanku!”


“Ptaaasz!” serangan dari ayunan cambuknya pun menggores tanah di depan pemuda yang melangkah itu. Goresan tanah yang berjarak dua langkah di depannya, membuat sang pemuda menoleh ke arah laki-laki yang hampir menyerangnya.


“Kamu ingin menyerangku?”


“Tidak, aku ingin menyiksa dan membunuhmu kepar*t!” rahang laki-laki itu menegas karena geram.


“Maka itu juga berlaku untukmu,” tangan sang pemuda pun terangkat dan diarahkan pada laki-laki pemegang cambuk yang berdiri dengan angkuhnya.


“Heh! Kau ingin menyerangku?! Kalau begitu ayo lakukan! Akan kulihat apa seranganmu bisa menyen-”


“Kraaak! Kraak! Craat!”


Hening, laki-laki itu tak lagi melanjutkan ucapannya. Riz dan Doxia sama-sama menatap ngeri pada pemandangan yang ada di depannya. Sebuah pohon besar, muncul tiba-tiba dan ******* tubuh laki-laki itu hingga remuk.


Saking cepatnya mata mereka tak bisa mengikuti gerakan pohon yang muncul tiba-tiba, menjepit dan memecahkan kepala laki-laki itu di antara dahan besarnya. Mulut dari wajah yang menjadi saksi hanya bisa menganga membisu, dengan kengerian yang berlalu singkat di mata mereka.


“Kenapa tak dilanjutkan perkataannya? Ah! Benar juga, kau sudah mati. Tentu saja aku tak bisa mendengar suaramu lagi,” tukas pemuda itu datar. Tak ada rasa bersalah, seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang normal.


Dengan wajah tanpa ekspresi, ia melanjutkan jalannya menuju induk beruang yang sekarat. Riz tak bisa berkata apa-apa, kecuali memeluk erat anak beruang yang sudah tenang.


“Ka-kau mau a-apa?” tubuh Riz bergetar hebat saat menatap sosok pemuda yang sudah berdiri di sampingnya.


“Liaythax Nehriem Miaglea (Bola Hijau Nehriem)” ucapnya tiba-tiba. Lalu sebuah bola hijau pun muncul mengelilingi tubuh induk beruang.


“I-ini!” pekik Riz kaget.


Luka-luka di tubuh beruang pun langsung menguap dan lenyap seketika. Bahkan luka terparah di punggungnya seolah tak ada artinya di dalam bola hijau itu, membuat induk beruang yang sekarat tak berdaya langsung menggerakan kepalanya ke arah anak beruang. Bola hijau pun lenyap seketika.


“Groaar ....”

__ADS_1


“Grroaar!” pekik anak beruang. Riz pun melepas pelukannya sehingga anak beruang langsung melompat ke tubuh induknya. Induk beruang lalu memeluk tubuh anaknya, menjadikan itu sebuah pemandangan haru yang cukup indah.


Tak peduli seberapa buas suatu binatang, bahkan kasih sayangnya tak ada bedanya dengan manusia. Perlahan induk beruang mengusap-usapkan kepalanya pada Riz, membuat dirinya merasa gugup dan geli dengan perilaku binatang itu. Ia pun tersenyum melihat tingkah induk beruang yang seperti kucing baginya.


Lalu induk beruang beralih mengusap-usapkan kepalanya pada pemuda yang sudah menyembuhkannya. Bahkan induk beruang itu juga menjilat rambutnya sehingga tampak lengket di mata.


“Kamu senang? Sepertinya binatang lebih tahu cara berterima kasih ya,” tukas pemuda itu. Ia mengelus-elus tubuh induk beruang dengan penuh kelembutan, membuat wajah datar sang pemuda bertambah aneh jadinya.


“Apa yang kamu lihat-lihat?” pemuda itu membuyarkan tatapan Riz padanya.


“Ti-tidak ada apa-apa,” balas Riz gelagapan.


Doxia pun mendekati mereka dengan kapak yang masih tergenggam di tangannya. “Kau,” ucapnya menatap pemuda yang sedang mengelus pipi induk beruang dan anaknya.


“Oh, assandia. Aku mencium snakeya (racun ular) di tubuhmu.”


“Itu karena aku memang memakainya. Siapa kau bocah? Jika melihat dari kemampuanmu sepertinya kau seorang elftraz.”


“Kalau sudah tahu kenapa bertanya?”


“Sial*n!” batin Doxia. “Aku menanyakan namamu! Apa kau tak tahu sopan santun? Saat ditanya seperti itu harusnya kau memperkenalkan diri!” tukas Doxia emosi.


“Tidak ada aturan seperti itu. Sepertinya hidup anda kolot sekali karena terlalu bergantung pada aturan. Apa anda pernah bahagia?” tanya pemuda itu pada Doxia.


“Hei bocah sial*n! Apa maksudmu bertanya seperti itu? Apa mulutmu ingin kujahit hah?!”


“Para wanita selalu berkata, jika marah bisa menambah kerutan di wajah. Sekarang anda sudah membuktikannya,” sahut pemuda itu tanpa rasa bersalah.


“Kau!” Doxia semakin emosi dibuatnya.


“Tu-tuan!” potong Riz tiba-tiba. Ia menahan pria itu agar emosinya tak meledak di sana.


“Tu-tuan, jangan bilang kalau anda sudah lupa dengan apa yang dilakukan pemuda itu barusan,” bisik Riz padanya.


Mendadak ingatan di mana pemuda itu sudah membunuh laki-laki pemakai cambuk tanpa sisa langsung muncul di otaknya. Keringat dingin langsung mengucur di wajah Doxia tiba-tiba. Ia meneguk kasar ludahnya sambil melirik pucat pada pemuda yang masih sibuk dengan beruang dan anaknya.


“Sampai kapan kamu akan mengintip? Aku tidak suka dengan mata-mata,” lirih pemuda itu. Riz dan Doxia terperanjat kaget karena mendengar perkataan sang pemuda.


Pemuda tersebut melirik ke arah di mana pohon besar yang ia ciptakan untuk membunuh laki-laki pemakai cambuk berdiri kokoh dengan darah.


“Tak kusangka kau menyadarinya, elftraz memang beda ya,” puji sang mata-mata. Ia keluar dari persembunyiannya, membuat pohon besar itu meleleh dengan hawa panas dari tubuhnya.


“Kau!” tunjuk Doxia kaget.

__ADS_1


“Hai tuan ... Akhirnya aku menemukanmu,” balas orang itu sambil tersenyum senang.


“Sial*n! Sekarang gara-gara kau usahaku untuk kabur gagal!” gerutu Doxia yang tak jelas ditujukan pada siapa.


“Hmm? Apa yang dilakukan orang Siren di sini?” tanya pemuda itu pada sang mata-mata.


“Woah! Kau tahu siapa aku? Padahal aku sudah menghapus semua aroma di tubuhku.”


“Menghapus aroma? Hapus saja sekalian dengan tubuhmu maka aku takkan mengenalimu,” timpal pemuda tersebut tanpa basa-basi.


“Mulutmu lancang sekali ya, kau pasti sangat kuat jika mampu berbicara kurang ajar seperti itu.”


Pemuda itu tak menjawabnya dan memilih mengalihkan perhatian pada beruang dan anaknya yang bersikap manja. Sang beruang tidur-tiduran sambil memeluk kaki pemuda yang mengelusnya dengan semangat.


“Heh! Benar-benar anak yang kurang ajar,” potong mata-mata yang masih berdiri memandang mereka.


“Lupakan itu! Kenapa kau masih mengikutiku?! Jika sudah kutolak maka jangan ikuti aku lagi! Sampai kapan kau akan bersikap keras kepala? Dasar makhluk menyebalkan!” tukas Doxia jengkel. Ia tampak seperti orang bodoh karena marah-marah tak jelas.


“Jangan keras kepala Doxia Mero! Jika kubilang ikut maka lakukan saja, apa kau pikir aku akan menyerah?”


“Apa yang mereka bicarakan? Apa Doxia sial*n itu bersembunyi karena menghindarinya? Tatapannya aneh, seperti binatangkah?” batin Riz saat menatap orang yang berdebat dengan Doxia.


Riz tersentak kaget saat anak beruang menggigit tangannya. Ia pun tersenyum dan mengelus kepala binatang itu.


“Syukurlah untukmu,” akan tetapi mendadak kepala Riz pusing, “ke-kepalaku?” gumamnya.


Semuanya perlahan mulai gelap, tak terasa ia pun jatuh pingsan di sana.


“Hei bocah! Kenapa kau?” Doxia mendekatinya dan menampar-nampar pipinya.


Riz bisa mendengar suara dan tamparan Doxia. Akan tetapi, semakin ia berusaha untuk kembali ke permukaan kesadarannya, semakin berat beban di tubuhnya.


Semuanya hening, dingin yang menusuk dan memberatkan tubuh mengambil alih kesadaran dirinya agar tertelan oleh kegelapan di sekitar jiwanya.


Hening ....


Dingin ....


Berat ....


Sesak ....


“Di mana pun kamu berada, ibu akan selalu mendoakanmu.”

__ADS_1


“Deg!”


__ADS_2