
“Kau bisa bilang begitu. Lagi pula, yang aku bohongi bukan hanya dirimu. Tapi semua orang.”
Reve benar-benar tak habis pikir dengan ketidak jujuran orang di depannya. Sekarang Aza berhenti, tangannya fokus membalik salah satu buku yang ia ambil namun isinya hanya percikan darah. Sepertinya jejak di sana sudah lama melekat di buku kosong itu.
“Itu berarti sebelum Dokter sialan itu bicara kau sudah tahu apa saja kuncinya? Dan kau pura-pura tidak tahu?!” nadanya terdengar mulai menekan.
“Sayangnya aku hanya tahu satu kuncinya. Jadi pencarian kita tidaklah sia-sia.”
“Lalu kenapa kau selama ini tidak jujur kalau ibumu seorang ahli kunci?!”
“Karena aku tidak punya ingatan apa pun, Reve Nel Keres.” Sekarang, sosok itu menatap lekat ke arah rekan kerjasamanya. “Ingatanku disegel, begitu pula wujud dan kemampuanku. Tapi itu kembali setelah insiden cerberus. Sepertinya, sekaratnya diriku melemahkan segel ingatanku. Dan sekarang, tinggal melepaskan segel kemampuan serta wujudku.”
“Siapa kau sebenarnya?”
Suara helaan napas kasar pun terlontar dari sang petinggi empusa. Tampaknya dia mulai lelah menutupi semua kenyataan yang ada.
Bahkan tak terhitung berapa banyak buku kosong yang ia hambur-hamburkan. Mengingat entah apa yang dicarinya sekarang.
“Aza Axadion Ergo. Putra Pangeran perang bangsa empusa. Dan ibuku, putri dari Raja naga sekaligus cucu Tetua bangsa tradio dahulu kala.” Tiba-tiba ia menyeringai membuat Reve terusik melihat ekspresinya. “Kau tahu apa yang lebih mengejutkan?” Lawan bicaranya pun menyipitkan matanya. “Ibuku orang kepercayaan Helga, dan turut serta menjadi pelopor terciptanya sekte Hadesia. Menurutmu berapa usia ibuku itu?” kekehnya.
Sungguh Reve Nel Keres tak bisa berkata-kata. Bagaimanapun juga, cerita yang terlontar di depannya jelas di luar nalarnya. “Ibumu—”
“Ibuku pengkhianat. Setelah turut serta meneteskan darah untuk sekte itu, dia malah menusuk para penghuninya. Dengan memberitahu makhluk kayangan apa saja tujuan aliran kotor tersebut di dunia. Salah satu contohnya dengan menjadi tukang segel untuk Reygan Cottia.”
Tak bisa dilukiskan. Ini jelas-jelas informasi berharga. Entah kenapa tubuh Reve bergetar hebat setelah mendengar ocehannya. Mungkin ia tak mengira, kalau kehidupan di dunia Guide yang sudah lama tak ditempatinya ternyata punya rahasia sepelik ini.
“Dan gara-gara ibuku juga, kakakku Laravell harus kehilangan orang tua kandungnya. Dan karena efek samping dari segel terlarangnya pula ayahku serta aku harus menderita sakit parah. Dosanya di masa lalu, benar-benar menghancurkan hidup kami. Karena itu, aku harus mendapatkan darah amarilis. Sebab hanya darah itu yang bisa kugunakan untuk melepaskan jiwa kakakku dari tubuhku, dan melemahkan segel-segel yang mengikatku. Bukankah sangat menyedihkan jika bocah tiga ras sepertiku mati sia-sia?”
Dia tak lagi seperti Aza Ergo sebelumnya. Layaknya sosok nan berbeda, senyuman tipis di bibirnya melenyapkan tampang menyebalkan yang selalu ia bawa.
“Ibumu, pasti punya alasan kuat untuk melakukan semua itu.”
“Benar,” jawabnya tanpa keraguan. “Apa kau mau tahu itu apa?” tawa pelan pun bernyanyi di akhir kata. “Sayangnya aku takkan memberitahumu,” Aza pun terbahak-bahak dan mengejutkan Reve yang melihatnya. “Tenang saja, kau tak perlu memasang tampang aneh begitu. Aku takkan mengkhianatimu. Lagi pula, bukankah kita sudah bekerja sama? Jadi mari lupakan apa yang aku katakan sebelumnya dan fokus saja pada balas dendammu. Tidakkah kau setuju? Reve Nel Keres.”
Sang petinggi muda, memang berkata seperti itu. Walau tak ada perubahan dari ekspresinya, tapi Reve Nel Keres merasakan sensasi aneh pada sosoknya. Perasaan tak nyaman, seolah berhadapan dengan sosok berair tenang namun membunuh dalam diam.
__ADS_1
Ia tak bisa memahaminya, tapi satu hal yang pasti. Jika semua ucapan Aza Ergo benar adanya, pasti berbahaya jika sampai bocor ke luar sana. Mengingat laki-laki di depannya, merupakan keturunan penting dari dua bangsa yang menghilang di peredaran dunia Guide.
“Near?” pekik Reve menyadari kalau peliharaan black mambanya tak lagi bersamanya. “Sial! Near?!”
“Ularmu hilang?”
“Tadi dia bersamaku saat kita berbicara.”
“Mungkin dia lapar dan cari makan.”
“Jika begitu aku pasti tahu keberadaannya. Tapi sekarang dia tidak ada! Koneksiku dengannya terputus!” panik Reve.
Dan di sebuah tanah lapang. Terhampar patung-patung seukuran manusia. Gambaran mereka melukiskan sosok-sosok dengan tangan terangkat, seolah mencoba menggapai langit. Mulut menganga, mata terbuka lebar, mungkin jika patung-patung itu nyata penampilan histeris seperti lari dari sesuatu lah yang dipamerkan semua.
Tukak Kuyang tak peduli. Dia terkekeh. Kian lama tawanya mengeras. Entah apa yang lucu, namun jelas mengerikan. Wajah cantiknya benar-benar menakutkan.
“Akhirnya aku di sini,” gumamnya dan terus melangkah maju. Akan tetapi, sepanjang aliran perjalanannya terdapat jejak mengerikan.
Kaspera atau para burung garuda. Makhluk-makhluk yang mendiami tanah itu mengerikan kondisinya. Tinggal tengkorak di tubuhnya, tiada organ tersisa namun kepala sampai leher masih utuh wujudnya. Entah bagaimana cara wanita tersebut menghabisi semuanya.
Sekarang sosoknya terhenti di depan sebuah gerbang. Lokasinya ada di antara hamparan patung-patung itu. Unik penampilannya. Karena gerbang tersebut terbuat dari sebatang akasia putih namun dipenuhi kepala.
Ya, kepala dari banyaknya orang-orang yang berkorban untuk memenjarakan Reygan Cottia. Mereka menumbalkan kehidupan yang ada sehingga terciptalah sebuah gerbang terlarang dan takkan bisa dimasuki siapa pun juga. Kecuali, menggunakan mantra tertentu dan serupa dengan harga pengorbanan.
Bayaran dari seribu tiga ratus nyawa, itulah tumbal untuk bisa memasuki gerbang berdarah itu.
“Kau pasti akan sangat berterima kasih padaku, Reygan Cottia,” dan wajahnya pun mulai dipenuhi jahitan.
“Nigel! (Muncullah!)” Dan sebuah retakan pun tiba-tiba muncul di udara. Tepat di belakang Kuyang, menimbulkan sensasi aneh di tanah Kaspera. Aroma darah benar-benar menguar dari sana.
Akhirnya, tampaklah wujud sesungguhnya dari sosok yang dipanggil penganut sekte keji Hadesia.
Serigala, tapi bersurai singa. Begitu banyak aliran liur menetes dari dalam mulutnya. Besarnya lima kali gajah di dunia manusia. Dan tubuhnya yang seperti kaca memamerkan penampakan api hijau bergerak aneh di sana.
Itulah perwujudan roh-roh dari orang-orang yang telah dibantai adik Bartolomeo Kuyang demi membebaskan rekan-rekannya.
__ADS_1
“Sembilan ribu tiga ratus sembilan puluh tiga jiwa. Kupikir itu lebih dari cukup untuk membebaskanmu, Reygan,” ucapnya. “Mulai.”
Tiba-tiba saja, hewan itu meraung sekeras-kerasnya. Sehingga menimbulkan hempasan angin kasar ke sekelilingnya.
Langit mendadak bergemuruh. Cuaca berubah, dingin menusuk dan aliran angin tak tentu arah. Dunia guide diterpa keadaan aneh akibat raungan serigala raksasa itu namun tak terdengar keluar Kaspera.
“Cuacanya,” gumam Raguel Exon Vortha. Sosoknya dan para saudara perjanjian lainnya masih ada di kediaman Raja hydra.
Reve dan Aza yang sibuk mencari Near tersentak, karena perubahan cuaca secara tiba-tiba.
“Firasatku buruk,” sang petinggi muda bersuara.
Dan bukan hanya dirinya, bahkan Trempusa Revos, Xavier Lucifero, Zargion Elgo, juga Bragi Elgo, di tempat peristirahannya ikut merasakan hal yang sama.
Terlebih parahnya lagi, Beltelgeuse Orion sang pemilik firasat tertinggi gemetar tubuhnya.
“Orion? Ada apa?” bingung Serpens sang Wakil Raja.
“Entah kenapa ... entah kenapa rasanya ada malapetaka yang akan datang.”
Memang sesuai ucapannya. Sebuah penampakan gelap seperti lubang hitam muncul di dalam gerbang di depan Kuyang.
Serupa pusaran angin besar, tapi menimbulkan tawa wanita itu karena ia tak takut dengan suasana sekelilingnya.
Terlebih lagi api hijau di dalam perut serigala itu tampak berkobar hebat di sana. Diiringi teriakan aneh dan kemungkinan memang berasal dari roh-roh yang terkurung di dalam badannya.
“Sebentar lagi, sebentar lagi semua keinginanmu pasti akan terwujud Wahai Ratuku, Helga Nevaeh!”
Dan dirinya pun masuk ke dalam pusaran itu bersama serigala raksasa yang mulai menyusut badannya.
Di satu sisi, sosok dengan rambut pirang yang memancarkan kilauan emas itu terbangun dari tidurnya. Matanya senada kemilau tersebut dan hanya itu yang terlihat di ranjang gelap nan ditidurinya.
Aegayon Cottia. Walau hanya mata yang tampak, bisa dipastikan seberapa mempesona dirinya.
Dialah Raja bangsa gyges sekarang dan tertawa pelan di dalam kamarnya. Entah apa maksudnya, tapi beberapa pelayan di luar ruangan takut mengganggunya.
__ADS_1
Mereka tak punya keberanian setelah mendengarkan seberapa merdu suaranya.