Death Game

Death Game
Teriakan sang tengkorak


__ADS_3

“Qatil? Sedang apa kamu di sini? Mana tumbalnya?”


“Sedang ditangkap mereka Yang Mulia,” balasnya pada Mosia. “Bagaimanapun saya datang untuk membawakan berita penting!” sosoknya tampak benar-benar panik.


“Ada apa?” Zenolea pun berjalan mendekatinya.


“Kata Tuan Thertera, bantuan musuh mungkin sudah berada di depan Kawasan Terlarang!”


Sontak saja hal tersebut berhasil mengubah ekspresi dua pendengarnya.


“Cih!” Mosia mendecih sambil mengedarkan pandangan.


“Bagaimana bisa Thertera mengetahuinya? Dia bukan elftraz (penyembuh) kan? Bahkan deteksi kemampuan tanaman itu takkan berpengaruh di setiap Kawasan Terlarang.”


“Lupakan tentang kemampuannya. Jika dia memberitahu kita, itu berarti dia cukup ahli dalam hal ini. Sekarang bagaimana? Kita harus cepat membangkitkan Cerberus sebelum bantuan musuh sampai,” lirihnya sambil berekspresi jengah ke arah Zenolea.


Setelah sama-sama berpikir keras selama puluhan detik, sorot mata laki-laki itu pun teralihkan ke arah sosok tak terduga.


“Tuan?” Qatil jadi bingung melihatnya.


“Qatil. Kamu sudah berjuang keras selama ini. Karena itu sekarang adalah akhir dari perjalananmu bersama kami.”


“A-apa maksud and—”


Tak berkutik. Bahkan tak ada lagi kata-kata yang bisa dilanjutkan. Karena dalam sekali ayunan tangan Zenolea, bagian kepala Qatil di area mulut terbelah jadi dua. Memperlihatkan struktur lidah dan gigi bawahnya untuk menjadi tontonan berdarah di depan Mosia serta pelakunya.


“Selamat tinggal, Qatil,” ucapnya sebagai salam perpisahan. Bersamaan dengan robohnya tubuh korbannya itu ke atas altar. Mengalirkan darah kental untuk menggenangi pahatan mantra yang ada di sana.


“Sayang sekali, padahal dia sangat berguna karena sudah membunuh salah satu petinggi,” dan diiringi tawa pelan di mulut Mosia.


“Baguslah kalau begitu. Setidaknya sekarang dia jadi lebih berguna setelah mati.”


“Dasar tidak berperasaan.”


Zenolea yang dikatai begitu hanya tersenyum menanggapinya. Dan perlahan, genangan mantra di atas altar mulai terpenuhi oleh darah.


Kondisi di dalam Kuil lambat laun juga berubah. Kobaran api di salah satu dinding makin menggila dan mencoba menyebar ke bagian lainnya.


“Sudah saatnya?” lirih Mosia.


Mendadak, getaran aneh muncul dari meja batu. Meleburkan mayat empat orang dari bangsa dracula menjadi cairan merah pekat seperti darah.

__ADS_1


Sontak saja Mosia dan Zenolea melangkah mundur. Terkejut tentunya, sambil bersikap waspada. Terlebih lagi, penampakan seperti itu cukup membuat bulu kuduk berdiri melihatnya.


Dan tengkorak yang terikat salib di antara cairan mayat itu bergerak tiba-tiba. Mengagetkan mereka sampai-sampai mata terbelalak dibuatnya.


“Apa memang begini prosesnya?”


“Tidak salah lagi! Memang beginilah prosesnya! Tuan Dantalion tidak mungkin membohongi kita!” yakin Mosia sambil menyunggingkan seringai tipis di bibirnya.


Akhirnya, pekikan keras pun memekakan telinga semuanya. Berasal dari tengkorak yang berteriak tanpa aba-aba.


Mosia dan Zenolea sama-sama menjerit karena sakit yang dirasa. Bahkan darah juga mengalir dari indera pendengaran mereka. Sekuat itulah efek yang diberikan sang tengkorak kepada mereka.


Seperti muntahan sangkakala. Bahkan teriakan itu tidak hanya menggetarkan tanah di kawasan terlarang. Tapi juga berefek ke seluruh daratan Guide.


Para Raja di masing-masing bangsa, spontan memandang kaget ke arah titik yang sama. Tak peduli jika dibatasi hutan, dinding atau jarak jauh di mata, tapi sumber penglihatan mereka tetaplah serupa.


Kuil Nagagini, di dalam Kawasan Terlarang, itulah lokasi yang mengundang lirikan mata mereka namun tak bisa digapai penglihatannya.


“Sensasi ini,” gumam Heksar dengan raut muka masamnya.


“Yang Mulia!” pekik kaget Otama.


Dan Tuan Criber, sedang berusaha keras melakukan semua cara untuk membebaskan Rajanya. Bagaimanapun dirinya yakin, kalau arti ramalan Dewa Apollo menurut bangsa empusa tidaklah benar adanya.


Tidak mungkin para murid Hadesia yang menjadi sumber bencana dunia. Itu pasti hanyalah akal-akalan Tetua empusa, karena orang-orang tersebut sangat dendam pada murid yang selamat sekaligus ingin menggulingkan Trempusa dari singgasana.


Mereka sungguh kurang ajar dalam melakukan rencana.


“Kalian ingin aku turun tahta? Setelah apa yang terjadi?” Hydragel Kers bersuara di pertemuan besar bangsa hydra.


“Ya! Karena bagaimanapun juga kau salah satu murid dari Hadesia!” cerca salah satu Tetua.


Tapi bukannya gemetar akan tekanan di depan mata, Raja bangsa ular itu justru menopang wajahnya dengan punggung tangan begitu santainya.


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan melepaskan posisiku sebagai Raja.”


“Kers!” Revtel dan salah satu Tetua yang selalu mendukung mereka pun menatap tak percaya.


“Tapi sebagai gantinya, siapa pun yang duduk di singgasana tolong urus tragedi selanjutnya. Karena getaran tadi pasti berasal dari Cerberus yang sudah bangkit ke dunia.” Seketika wajah orang-orang di dalam ruang pertemuan pun berubah tegang. “Revtel, karena kamu Wakil Raja, tolong ambilkan mahkotaku di dalam kamar. Bagaimanapun juga, aku akan mengangkat Raja selanjutnya, agar para bangsawan dan Tetua kita tersenyum bahagia.”


Dan hal itu berhasil membuat beberapa pasang mata terbelalak tak percaya. Kalau sosok yang menjadi pemimpin mereka akan semudah itu melepaskan kekuasaannya.

__ADS_1


“Kenapa kamu diam saja Revtel? Cepat ambil mahkotanya. Kita tidak punya banyak waktu, karena kalau sampai Cerberus mendatangi bangsa kita, kau dan aku bisa tidur dengan tenang di penjara tanpa harus repot-repot bertarung melawan monster legenda.”


Bagai sambaran petir di masing-masing pendengar suara Raja. Pernyataannya, berhasil membungkam semuanya. Panik dan gelisah bertebaran di setiap muka, melukiskan beragam ekspresi untuk dibaca penikmatnya.


“Y-Yang Mulia.”


“Apa?” Kers tersenyum ke arah sosok yang menyela.


“A-apa maksud anda akan tidur di penjara?”


“Lho? Apa ini? Anda tidak hilang ingatan bukan? Bukannya kalian sendiri yang mengatakan kalau kami harus masuk penjara. Karena bagaimanapun juga, kami murid dari Hadesia.”


“I-itu!” bangsawan yang tadi berbicara pun melirik panik ke sekelilingnya. Jelas baginya, jika para Tetua serta bangsawan lain tertunduk dalam rasa aneh di dada. Antara menyesal, bersyukur dan takut, campur aduk di dalamnya.


“Ayolah. Aku sudah bersedia turun tahta dan ditahan seperti ucapan kalian. Mana senyum bahagia dan tepuk tangannya? Jangan lupa setelah itu bersiaplah di medan perang melawan monster legenda. Karena cerberus itu, pasti mendatangi setiap bangsa-bangsa. Terlebih lagi mereka tidak hanya punya satu kepala untuk memakan semuanya.”


“Yang Mulia. Apa anda yakin akan begitu? Bagaimanapun anda seorang Raja dan ini bangsa kita. Anda tidak bisa seenak hati anda melepas tanggung jawab begitu saja. Bagaimanapun juga, tidak ada yang lebih hebat dari Tuan Revtel di dalam bangsa kita.”


Pernyataan salah satu tetua reot berkepala mirip nanas menurut Kers itu, berhasil mengusik amarah Revtel yang mendengarnya. Dia masih belum pergi mengambil mahkota kecuali tetap berdiri di posisinya dengan muka sangarnya.


“Brengsek.” Orang-orang pun terkesiap. “Apa kalian sedang bermain-main denganku?”


“Revtel?” Kers menanggapinya dengan ekspresi bahagia.


“T-tuan, k-kenapa anda berkata seperti itu?” salah seorang bangsawan lanjut usia berbicara dengan nada ketakutan.


“Tadi kalian mendesak kami untuk turun tahta dan masuk penjara. Sekarang kalian ingin aku melawan cerberus, begitu? Apa kalian pikir aku suka mendengar omong kosong seperti itu?”


“Revtel, tenangkan dirimu,” Tetua yang selalu mendukungnya dan juga Kers mencoba menenangkan dirinya.


“Lupakan mereka, Revtel. Tidak perlu buang-buang energi untuk menghadapinya. Ayo kita ke penjara, kudengar pelindung di sana sangat kuat sampai tak bisa ditembus para Raja,” sosok pemakan anggur itu pun berdiri dari kursinya.


“Y-Yang Mulia, tolong tunggu sebentar!”


“Apalagi?” Hydragel Kers pun memiringkan wajahnya, diiringi senyum manis yang lebar di bibirnya.


“Tolong pikirkan lagi untuk turun tahta, Yang Mulia. Bagaimanapun juga, tak ada yang lebih lihai dari anda dan juga Tuan Revtel dalam menangani masalah bangsa kita,” cegat Tetua dari bangsawan Septor itu.


Dan sosok yang ditahan mereka, hanya menghela napas pelan sebagai jawabannya.


 

__ADS_1


__ADS_2