
“Kau—” Doxia menunjuknya. “Hei! Apa-apaan itu?!”
“Apanya?”
“Pemandangan mengerikan itu!”
“Tentu saja tontonan di sini,” jawab santai Aza lalu duduk di sebelah Horusca.
“Tontonan? Selera macam apa itu?!” Doxia tampak emosi.
“Kenapa kau marah? Bukan kepalamu kan yang digantung di sana?”
“Bisa-bisanya Tuan Aza bercanda begini,” Riz menimpali.
“Kalian saja yang berlebihan,” ia terkekeh.
“Near bilang ada dua monster.”
Aza Ergo melirik pemuda di ranjang. Tampak sosoknya sedang mengelus kepala ular peliharaanya.
“Baguslah, jika kau tahu ada monster. Itu berarti aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Sepertinya, perjalanan kita akan terhenti selama beberapa hari ke depan.”
Orang-orang pun langsung menatap petinggi empusa. Apa yang baru saja dikatakannya, jelas-jelas mengundang kaget mereka semua.
“Kenapa?” Reve yang rebahan pun bangkit dari tidurnya dan duduk dengan benar.
“Akan ada pertemuan besar-besaran. Kuharap, kalian tetap bersembunyi di sini agar tak menimbulkan keributan.”
“Pertemuan besar-besaran?” Rexcel mengernyitkan wajah bingung.
“Ya, jadi tetaplah tenang dan duduk manis di sini. Atau mungkin kau ingin bertemu Criber tua di luar ruangan ini.”
“Apa!” pekik kaget Doxia. “G-guru ada di sini?!”
“Ya. Bahkan mungkin petinggi yang kalian temui di Bukit Kristal juga akan kemari. Jadi ikuti saja perkataanku, jangan keluar dari sini. Atau kalian ingin semua tujuan hancur karena mengabaikan peringatanku,” seringainya sambil bergantian menatap Reve dan Horusca.
“Tapi, apa ada jaminan kami tidak akan ketahuan?”
Kalimat pemuda berambut merah itu, membuat guratan di bibir Aza langsung menghilang.
“Entahlah, mungkin saja kalian akan ketahuan. Tapi, ini istana merah. Kawasan yang kita huni area tempat tinggal Blerda. Jadi takkan ada yang berani mendekatinya. Kuharap kalian tak berulah, karena kita sedang bersembunyi di belakang punggungnya.”
“Sepertinya dia orang yang hebat sampai kau menumbalkannya,” Reve mengatakannya tanpa basa-basi.
“Yah ... karena dia Raja yang luar biasa. Kalau begitu aku pergi dulu. Tapi tenang saja, karena pelayanan akan sangat menyenangkan di sini.”
Mereka hanya bisa memandangi punggung sang petinggi yang mengumbar tawa. Pintu ruangan kembali tertutup, benar-benar tak ada pendatang lain kecuali dirinya ataupun Raja hydra yang menginap entah di mana.
Detik-detik berlalu dengan mereka yang menghabiskan hari cuma untuk bersembunyi. Entah bagaimana nasib semuanya selanjutnya.
Di istana, milik bangsa ular yang melegenda, sebuah gagak merah dengan ukuran tiga kali lebih besar dari biasanya mengepakkan sayap begitu cepat. Terbang mengudara, mengitari kediaman mewah lambang kehidupan sang pemilik tahta tertinggi.
Hea Alcendia yang baru keluar dari perpustakaan kaget menatapnya. Segera ia buka jendela, dan hewan itu langsung masuk dari celah sana.
“Gagak pesan?” suara seseorang mengalihkan perhatiannya.
“Sepertinya begitu.”
__ADS_1
“Tapi, hewan sebesar ini—” tiba-tiba gagak itu mendarat di atas pijakan di hadapan mereka. Langsung meledak, dan berubah menjadi sosok tak terduga. Bongkahan besar dalam kain hitam yang meneteskan darah.
“I-itu!” pekik Hea kaget melihatnya. Dirinya langsung menghampiri benda itu dan mengambil tabung emas kecil yang diikatkan pada kain tersebut. “Surat?” sodornya pada Revtel di belakangnya. “Apa ini?”
Terdiam.
Keduanya terbungkam oleh hadiah dalam kain di tangan Hea. Sepotong tangan dan juga kaki terpamer mengerikan di depan mata. “Apa-apaan ini?”
Rahang di wajah Revtel pun menegang dibuatnya. Perlahan, guratan murka terpampang nyata, sambil tangan membuka tabung emas yang berisi surat di dalamnya.
Salam tertinggi, Sang Raja Siren.
BLERDA SIRENA.
Salam hormat dariku bagi siapa pun yang membacanya.
Kasih sayang para Dewa, dan berkat untuk tiga belas bangsa, sepuluh yang tertera, tiga tenggelam dalam nyata. Lima kemampuan, tiga belas kursi Raja. Dan nyanyian bagi kita semua.
Dengan merentangkan tangan bangsa Siren, aku mengundang para Raja dan juga petingginya untuk hadir di istana kebanggaan kami.
Sebagaimana mestinya, kunci warisan para Raja yang telah ternoda, serta hadiah berdarah sebagai bukti penghakiman, aku kirimkan mewakilkan permintaan maaf.
Eksekusi berdarah telah dilakukan dengan mengadili beberapa bangsawan Siren dan juga Empusa.
Dan untuk itu semua, pertemuan di Aula Kaca bangsa Siren akan dimulai setelah lima hari surat undangan dikirimkan.
BLERDA SIRENA
HYDRAGEL KERS
AZA ERGO
“Apa-apaan ini?!” pekik kaget Reoa Attia membacanya. Bukan hanya dirinya, Beltelgeuse Orion serta Serpens yang merupakan tangan kanan Raja gyges menatap tajam surat di tangan rekannya.
“Jadi bagaimana?”
Serpens menatap Orion yang bertanya. “Kalian petingginya, pergilah ke sana.”
“Yang Mulia?”
“Entahlah. Aku akan bawakan surat ini ke istananya."
Di sebuah kastil dengan pencahayaan hanya dari lilin bergantungan di dinding, terlihat seorang seorang lelaki berusia sekitar 27 tahun menapaki lorong panjang.
Hanya sendiri, langkahnya bergema seperti alunan musik yang rapi. Aroma darah sesekali menguar beriringan dengan bau dari bunga poppy. Desiran air berkumandang, di bawah lantai pijakannya.
Jalanan di atas sungai jika orang-orang melihatnya dari luar sana. Perlahan, tubuhnya terhenti di depan lubang. Cukup besar untuk memakamkan tiga mayat, tapi itu bukan kuburan melainkan jalan ke bawah dengan tangga berhias kegelapan.
Tampaknya, penyambutan di sana takkan diiringi cahaya lilin lagi sebagai penerangan.
__ADS_1
Akhirnya, sosoknya terhenti di depan sebuah gerbang. Dari kayu, namun berhias ukiran. Berupa lukisan naga kembar, dan sangat indah untuk dipandang.
Begitu memasukinya, tampaklah lima peti mati. Saling sejajar ke selatan, dikeliling oleh pagar tembok berhias api.
Pada lantai di tepian, ada ceruk kecil sebagai tempat genangan air. Namun itu diisi oleh kumpulan darah.
Dan sosok yang datang, menatap lekat pada salah satu peti mati.
LB, begitulah dua huruf terpahat di atas penutup peti. Perlahan disentuhnya, sambil menggumamkan kata dengan suara baritonnya.
“Ada undangan dari Raja Siren. Sepertinya masalah besar, karena nama Raja hydra dan petinggi empusa juga tercantum di dalamnya. Apakah kamu ingin ke sana?”
Hening, tak ada jawaban. Lelaki yang menyentuh peti kembali membenarkan posisi berdirinya. Perlahan, sesuatu berderit di hadapan. Pertanda kalau kotak panjang berpenghuni mulai terbuka untuk memamerkan sosok di dalamnya.
“Blerda? Kupikir dia benar-benar gila, menghadiahi potongan mayat untuk bangsa terhormat seperti ini. Apa kata Heksar?”
“Ayo jalan-jalan,” jawab petinggi chimera itu pada rekannya.
“Ah, bocah rumahan itu tak pernah melihat dunia luar ya.”
“Begitulah,” sambil tangan melempar potongan setengah badan tanpa kepala dari kain hitam, ke arah hewan peliharaan Raja mereka.
“Apa kau akan ikut?”
“Tentu saja. Kapan lagi melihat wanita cantik seperti Blerda? Kudengar dia yang terbaik dari bangsanya.”
“Ah, Ratu siren itu pasti akan mengeluarkan kukunya jika mendengar ocehanmu.”
“Bukan peliharaannya? Kudengar dia satu-satunya yang bisa memanggil scodeaz (pengendali) para Dewa.”
“Hanya Capricorn. Yah, setidaknya dia hebat.”
“Dia cantik dan seksi.”
“Otakmu mesum, sialan!”
Tapi di kawasan berbeda, angin kencang berhembus kasar. Menerpa daratan hijau yang dipenuhi bangunan tinggi. Aroma pembakaran serta bumbu masakan berkumandang di beberapa sisi. Tentu saja, hingar bingar berupa tawa atau teriakan menyeruak di pinggiran yang tak terjamahi.
“Surat dari siren? Pertama kalinya Rajanya ambil bagian langsung di sini. Sepertinya, ini benar-benar masalah besar.”
“Apa yang harus kita lakukan, Tuan? Mengirim ini ke dunia manusia? Atau anda saja yang pergi?”
“Mm ... sepertinya, kita saja yang pergi. Para luwak tua itu pasti enggan menanggapi hal seperti ini.”
“Baiklah, jika itu keputusan anda.”
“Oh ya, mana Tuan Ivailo? Sejak kembali aku tak pernah melihatnya lagi.”
“Kudengar dia pergi untuk mengumpulkan kristal.”
“Benar-benar pria yang gigih.”
“Saya pikir juga begitu. Beliau, benar-benar luar biasa.”
Dan kain hitam yang berisi potongan paha sampai ujung kaki, dibakar di dalam perapian. Begitu pekat aromanya, mulai menghiasi ruangan dengan bau aneh daging bakar. Dan dua sosok itu, hanya santai memperhatikan penampakan di depannya.
__ADS_1