
“Apa-apaan dia? Mereka sangat kurang ajar,” geram Redena mendengar ocehan Horusca.
“Ayo pergi Redena.”
“Tapi guru-”
Pak tua itu menyapu pandangan di depannya sebelum berpaling. Sorot matanya tampak menekan, “ayo.” Seketika ia lenyap yang membuat Riz terperangah. Begitu pula Redena juga ikut lenyap mengikuti jejak gurunya.
“Masih di sini? Kami tak butuh tambahan anggota,” sindir Aza Ergo melirik lelaki bermata amber.
Lelaki itu hanya tersenyum tipis. “Mencurigakan dan aku juga tidak peduli. Sampai bertemu lagi Aza. Itu pun kalau kau masih hidup,” ucapnya. Dan perlahan, tubuhnya memudar seperti angin dan tak berbekas lagi.
“Siapa orang itu? Auranya berbahaya sekali,” tanya Doxia.
“Cuma keparat yang sering ikut campur urusan orang lain. Jika ada di sekitar sini, itu berarti dia sedang berlatih. Lebih baik kita cepat-cepat pergi besok, agar tak ada yang menyadari jika petinggi sepertiku berkeliaran dengan buronan.”
Reve meliriknya, “pak tua itu, apa kau mengenalnya?”
“Tidak. Tapi pengikutnya sepertinya berasal dari bangsaku,” jelas Aza Ergo merebahkan tubuhnya.
Horusca masih terdiam menatap Toz. “Bagaimana ini? Kenapa Toz masih belum bangun?” tanya Riz menyentuh tangannya.
“Kebangkitan seseorang memakan waktu yang berbeda-beda. Tak tahu apa yang sedang dia hadapi, yang perlu kau lakukan hanya percaya dan melindunginya agar tak ada bahaya menghampiri,” Horusca pun menyentuh tanah di samping bahu Toz. Tiba-tiba, muncul tanaman dari sana yang mengelilingi tubuh pemuda pingsan itu. “Ayo istirahat, aku lelah,” ucapnya berbaring di tempat.
Riz terdiam, ia benar-benar khawatir, walau sudut hatinya mencoba yakin dengan perkataan Horusca kalau dirinya harus percaya.
Beberapa jam pun berlalu. Sinar matahari pagi mencoba menyusup dari rimbunnya pemandangan. Ini adalah sinar yang selalu dinantikan bagi mereka yang tak menyukai suasana malam.
Aroma pembakaran yang tak jelas menusuk hidung Riz, mencoba menyadarkannya kalau perut sudah lapar. Perlahan, tubuhnya menggeliat dan menyadari dua sosok sedang duduk di dekat unggun sambil membakar ikan dan burung yang tak jelas di dapat dari mana.
“Kau sudah bangun?” sapa Osmo. Ia pun menyodorkan ikan bakar pada Riz. “Cobalah.”
“T-terima kasih,” sambil menatap lekat ikan bakar di tangan. “Oh ya Reve, bagaimana tanganmu?”
“Baik-baik saja. Untung kita punya elftraz (penyembuh) di sini.”
“Ya! Aku juga bersyukur, setidaknya jaminan hidup kita lebih terkendali,” timpal Aza Ergo tiba-tiba.
“Dari mana saja kau?”
“Tentu saja melihat situasi,” jelas Aza Ergo menatap jengkel Reve. “Mengerikan, sepertinya mayat-mayat itu ulah monster itu.”
“Apa semua akan baik-baik saja?” Osmo tertunduk cemas.
“Kenapa Tuan?” Riz menanggapi.
“Itu-”
“Kita harus segera pergi,” potong Aza Ergo.
“Kenapa?”
“Ada begitu banyak yang mati. Menara ini juga mengundang perhatian. Seperti yang kukatakan, akan bermasalah jika petinggi sepertiku berkeliaran dengan buronan. Akan lebih buruk lagi jika mata amber keparat itu berkoar-koar tak jelas tentangku.”
Riz terdiam, ia paham maksud Aza Ergo. Dirinya pun melirik Toz. “Tapi Toz masih belum sadar.”
“Kita akan menggendongnya secara bergantian,” jelas Aza Ergo lalu mengaambil sebuah ikan bakar di depan Reve. Ia pun melanjutkan, “bagaimana dengan kendali mantramu?”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Apa kau bisa mengendalikan pelindungmu dengan baik?” tanyanya pada Riz.
“Itu, aku,” sambil tertunduk lesu.
“Sepertinya kau perlu belajar banyak. Selama kau ingat mantra yang akan dibaca, perlahan pelindungmu akan menguat seiring waktu.”
“Mantra? Aku bahkan tak tahu harus membaca apa.”
“Mantra tak dipelajari. Itu muncul sendiri di kesadaran karena kau sudah menandatangani kontrak dari salah satu kemampuan,” Aza Ergo pun membakar ikan yang ia makan sekali lagi.
“Begitu? Pantas saja waktu itu aku bisa mengucapkan mantra yang tak pernah kudengar secara tiba-tiba,” Riz bergumam.
“Near, kamu sudah kembali?” Reve memecah pembahasan sambil melirik ular yang muncul tiba-tiba di antara rerumputan.
“Perasaanku atau dia memang bertambah besar?” Riz memandang lekatnya.
“Dia hanya bertambah gendut. Apa kamu menemukan makanan lezat?” Reve mengelus leher black mamba itu.
“Ssshh,” ular itu membuka mulutnya.
“Bukankah dia bisa makan senjata? Kita bisa membawa Toz di peutnya,” tukas Aza Ergo tiba-tiba.
“Apa! Toz bisa mati!” sergah Riz.
“Aku tak ingin Near keracunan kotoran,” tolak Reve.
“Berisik apa ini?” gumam Doxia tiba-tiba.
Horusca yang juga ikut bangun dari tidurnya, perlahan melangkah mendekat dan mengambil minum. Ia juga memakan ikan bakar tanpa peduli sekelilingnya.
“Aku mengantuk. Tidur kalian berisik,” sindirnya tetap mengunyah.
Riz pun tertawa kecut mendengarnya. Lain halnya dengan Aza Ergo yang tersenyum tipis. “Aku penasaran apa makhluk itu sudah mati atau belum.”
“Itukan jurusmu. Masa kau tidak tahu?” ledek Reve.
“Itu karena aku tidak merasakan apa-apa.”
“Menyedihkan. Apa kau benar-benar petinggi?”
“Kau ingin merasakan magmaku?” Aza Ergo menyeringai.
“Kau ingin kukoyak mulutmu?”
“Sudah-sudah, t-tolong sabar Tuan,” Osmo menengahi. Tampaknya kedua orang itu sangat akur dalam hal berdebat.
Horusca melirik menara itu. “Dia masih hidup.”
“Hah? Bagaimana kamu bisa tahu?” timpal Rexcel yang sudah duduk di sebelahnya.
“Aku bisa mendengarnya,” Horusca menunduk sekilas.
“Elftraz (penyembuh) memang ahli dalam hal ini ya. Bukankah kalian juga bisa mendengar kematian?” Aza Ergo menyeringai.
“Aku selalu bertanya-tanya apa saja yang bisa dilakukan elftraz (penyembuh)” Doxia tampak menerawang.
__ADS_1
“Sepertinya kemampuan itu sangat hebat,” puji Riz.
“Ya. Karena nyawa akan aman jika kau seorang elftraz (penyembuh)” lanjut Aza Ergo.
Waktu pun berlalu dengan perjalanan mereka yang terus berlanjut. Osmo dan Doxia terpaksa ganti-gantian menggendong Toz yang masih pingsan karena badan mereka jauh lebih besar. Sementara Aza Ergo dan Horusca memimpin jalan karena mereka lebih memahami keadaan.
“Berapa lama lagi kita akan sampai di tempat tujuan?” tanya Riz.
“Dua hari lagi, itu pun kalau tidak ada halangan,” jelas Aza melirik ke kanan.
Riz mengangguk paham lalu menoleh ke arah Reve. “Kamu benar-benar hebat Reve. Padahal saat pertama bertemu, kupikir kamu cuma bocah aneh yang suka malas-malasan.
“Kau menilai seseorang dari kulitnya? Bisa-bisa kau mati konyol.”
Riz tertawa pelan. “Tapi aku senang, karena kamu sangat hebat.”
“Karena jika kalian lemah aku bisa mati konyol.”
Riz tertawa lagi mendengar kalimat Reve. “Terima kasih, karena selama ini sudah berada di sisi Toz,” ucapnya.
Reve hanya menatap aneh akibat ocehannya. Langkah mereka pun tiba-tiba tertahan karena Horusca yang berhenti. “Ada apa?” tanya Rexcel yang jalan paling belakang.
“Pohon-pohon berbisik.”
“Berbisik?” Doxia memandang heran. “Para elftraz (penyembuh) memang selalu aneh. Jadi, apa yang dikatakannya?”
“Mereka sedang mencarinya.”
“Mereka? Siapa?” tanya Aza Ergo penuh selidik.
“Pembunuhnya.”
“Siapa yang dikatakan bocah ini?” Doxia memandang bingung dengan ucapan Horusca.
“Mungkin monster itu?” tanya Riz cemas.
Aza Ergo menatap berkeliling. “Tempat ini,” ia memandang langit-langit.
“Ada apa dengan tempat ini?” Doxia mulai khawatir.
“Menilik keadaannya, kemungkinan ini kawasan lembah Hidir,” gumam Rexcel sambil ikut melirik sekeliling. Pemandangan ini tak begitu asing, karena beberapa tahun yang lalu, ia pernah lewat sini.
“Lembah Hidir? Bukankah hampir berdekatan dengan pinggiran kawasan terbengkalai hydra?” timpal Osmo tiba-tiba.
“Ya, kau benar,” angguk Rexcel.
“Oi-oi, bukankah ini buruk? Bisa saja kita bertemu bangsa hydra di sini,” Doxia benar-benar cemas.
“Kau benar, kita harus cepat-cepat pergi. Walau kawasan tak berpenghuni, tapi pasti ada yang berkeliaran. Hydra benar-benar bangsa merepotkan,” Aza Ergo menghela napas jengkel.
Sementara Reve, ia memandang ke timur di mana sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. “Reve? Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa,” balasnya pada Riz yang masih menatapnya.
__ADS_1