Death Game

Death Game
Mantra ahli kunci


__ADS_3

Tradio.


Keluarga atau bangsa yang memakai sumpah terlarang. Ciri khas mereka bisa memunculkan lukisan berupa tato aneh di badan. Semua terjadi karena beragam emosi di pikiran. Dan itu semua berkaitan dengan energi kemampuan.


Mereka bisa mematahkan hukum alam dunia Guide dengan mantra terlarangnya. Walau harga yang harus dibayar juga sangat setimpal. Dan itu berkaitan dengan darah dan juga pengorbanan.


Entah apa yang dikorbankan para penggunanya, tak satu pun tahu itu. Kecuali Para Dewa serta tradio sendiri yang menjalaninya.


Dan sekarang, Reve Nel Keres menampilkan pemandangan yang menjadi kebiasaan mereka. Serupa seperti Aza, namun ukiran keduanya jelas berbeda. Entah dari mana guider muda itu mempelajarinya.


Tentu saja orang-orang yang sudah pernah melihat dan menjadi lawannya akan bertanya-tanya. Karena mantra para tradio takkan bertebaran dengan mudahnya. Kecuali mereka menurunkan pada orang lain lewat garis darahnya.


Jadi, bagaimana bisa Reve Nel Keres serta Aza Ergo menggunakan mantra bangsa mereka?


Sampai akhirnya, kata maaf pun terlontar tiba-tiba dari bibir Noa Krucoa.


“Maafkan kami.” Reve terdiam. “Maafkan kami atas apa yang terjadi pada bangsamu. Kalian penghuni tanah biru, memang tidak seharusnya mati pada tragedi itu. Tapi kami juga tidak punya pilihan, karena Reygan Cottia adalah monster untuk dunia kita. Maafkan kami karena terlambat memberikan bantuan. Sekali lagi maafkan kami, Reve Nel Keres.”


Cukup lama bagi Reve untuk memberikan jawaban. Lambat laun bayangan masa lalu menyusup masuk ke ingatan.


Insiden terakhir dari kematian sosok tercinta, yaitu ibu dan ayahnya yang meregang nyawa di tangan guider biadab bernama Reygan Cottia. Dan sekarang hanya dirinya yang tersisa dari garis darahnya.


Makhluk tanah biru. Makhluk suci keturunan phoenix. Salah satu dari tiga bangsa yang tenggelam dalam nyata. Merekalah salah satu bangsa guider yang punah dalam pembantaian berdarah.  


Bangsa abadi, jika mati akan hidup kembali. Bereinkarnasi, dengan api biru di jiwa sebagai penyebabnya. Keberadaan mereka serta tanah kelahiran orang-orang itulah sehingga kristal biru bisa ada.


Kristal yang menjadi sumber kehidupan untuk bangsa manusia.


Dan Reygan Cottia pun mematahkan hukum dunia guide dengan membantai mereka. Menggunakan sesuatu yang tak disangka-sangka, sehingga kemampuan abadi para makhluk keturunan phoenix tak berlaku lagi di tangannya.


Dia penjahat keji dan akan selalu diingat sepanjang masa.


Tanpa sadar Reve Nel Keres pun meneteskan air mata.


“Semua sudah berlalu. Tapi dendamku takkan jadi debu. Aku akan tetap menemuinya, dan membuatnya membayar harga yang seharusnya. Hanya itu yang tersisa dariku sebagai guider tanah biru di sini.”

__ADS_1


Pernyataan pemuda ular itu berhasil menusuk kesadaran dua pak tua di depannya. Sebagai tanda kalau balas dendam memang jawaban atas kehadirannya. Mungkin itulah yang terbaik, demi harga diri bangsa phoenix.


Dan Noa Krucoa pun memaklumi ambisi Reve Nel Keres sambil melangkah pelan ke arahnya.


“Satu pertanyaan untukmu, Nak. Seandainya kuberitahukan kuncinya, apa ada jaminan kalau kau benar-benar bisa membunuhnya?”


“Yang Mulia!” sela Barca Asera tiba-tiba.


Jujur, Reve agak terkejut mendengarnya. Masih tak menyangka, kalau pak tua itu akan bertanya begitu kepadanya. Beberapa detik kemudian, senyum tipis pun tersungging di bibirnya.


Sangat menenangkan, berlawanan dengan ekspresi sebelumnya. Dan Noa Krucoa pun paham apa makna yang tersirat di dalamnya.


“Aku tidak punya jaminan. Tapi pelarian sepertiku pasti akan membunuhnya. Karena aku datang dengan mempertaruhkan segala yang kupunya sebagai keturunan bangsa phoenix yang tersisa. Jadi aku mohon, tolong bantu aku Yang Mulia,” ucapnya sambil membungkuk di hadapan mereka.


Pertama kalinya bagi Noa Krucoa dan Barca Asera melihat sang pemuda bersikap seperti itu. Begitu sopan dan santun dalam berbicara, berharap banyak pada mereka dan menggantungkan tujuan setinggi angan yang ia bisa.


Reve Nel Keres tampaknya sangat serius dalam perkataannya.


“Bragi Elgo, Sif Valhalla, Izanami Forseti, Barca Asera, Noa Krucoa, Aegayon Cottia, Zeus Vortha, dan enam hantu tanpa nama. Memang benar kalau kami semualah orang-orang yang memegang kuncinya.”


“Mantra. Dan masing-masing dari kami memegang kata kuncinya.”


“Itu berarti, aku harus mendapatkan kata kuncinya dari kalian semua untuk bisa mengucapkan mantranya?” timpalnya pada Noa Krucoa.


“Benar.”


“Cih!” Reve pun mendecih tiba-tiba. Seketika dirinya meradang karena itu berarti dia sudah gagal mendapatkan kata kuncinya dari Izanami. Jadi apa yang harus ia lakukan pada guider pengendali darah tersebut? Kembali lagi ke Lagarise jelas-jelas memakan waktu baginya.


“Firezakia Redas Phoenoros (Membakar dalam kehampaan)” ucap Raja kurcaci tiba-tiba. “Itulah kata kunciku.”


Reve pun menoleh ke arah pak tua penjual rongsokan. “Apa aku juga harus mengatakan ini?” keluhnya. Dan perlahan Noa Krucoa mengangguk sekilas kepadanya. “Barcaria Redas Mardobos (Membutakan dalam penglihatan)”


“Itu kata kunci kedua?”


“Ya. Setiap kata kunci harus kau kumpulkan dan baca di depan gerbang bunga lily. Gerbang penjara di tanah suci para kaspera. Atau biasa disebut dengan para garuda. Burung legenda yang menjadi peliharaan para Dewa dahulu kala.”

__ADS_1


Penjelasan Noa Krucoa berhasil membangkitkan sesuatu di hati Reve. Sebuah harapan, bahwa tujuannya untuk datang kembali ke dunia Guide ternyata tidak sia-sia. Dan tanpa sadar senyum pun terukir di bibirnya.


“Terima kasih karena sudah memberi tahuku. Suatu saat nanti, jika aku masih hidup aku pasti akan membalas kebaikan kalian. Sekali lagi terima kasih,” bungkuknya pada mereka.


Dan pak tua penjual rongsokan pun menyuarakan isi hatinya.


“Saat penjara kembali terbuka, daratan akan gempar dan langit pasti bergemuruh karenanya. Reygan Cottia, dia seperti kematian. Jujur aku tidak setuju dengan rencanamu, tapi aku hargai balas dendammu. Karena itu aku membantumu. Langkahmu takkan mudah, karena tidak semua ahli kunci akan bermurah hati padamu, tapi semoga kau sukses dalam perjalananmu.”


“Terima kasih.”


“Jika kau bekerja sama dengan Aza Ergo, maka mintalah dia mengantarmu ke tanah para kaspera. Karena itu tidak jauh dari tanah Hadesia dan dia pasti tahu jalan masuknya.”


Penjelasan pimpinan bangsa kurcaci pun berhasil menyentak pendengaran pemuda ular yang mendengarnya. Sepertinya ada hal lain yang sedang dipikirkannya.


“Hadesia, aku terlalu sering mendengarnya. Itu tempat pelatihan dingin bukan?”


Barca Asera pun menganggukinya.


“Dan petinggi magma itu salah satu muridnya?”


“Ya.”


“Apa aku boleh tahu siapa saja yang pernah menjadi murid di sana?”


“Hampir para Raja muda dan petingginya, merupakan murid Hadesia.”


“Termasuk Raja siren dan juga hydra?”


“Kupikir, akan lebih baik kalau kau tanyakan langsung pada petinggi empusa. Karena kami sudah tidak punya hak lagi untuk membahasnya. Selamat malam, anak muda. Semoga kau sukses dalam langkahmu selanjutnya.”


Selesai Noa Krucoa mengatakan itu pintu pun diketuk tiba-tiba. Sehingga Reve Nel Keres yang terkejut pun menjatuhkan dirinya lewat jendela. Disambut mulut lebar Near sang ular di bawahnya.


Melahap sang pemuda, agar lenyap tak bersisa di udara yang dilewatinya. 


 

__ADS_1


__ADS_2