
“Bisakah kau tidak mengejutkanku seperti hantu begitu?!”
“Kenapa? Kau takut?” ledek Aza pada Doxia.
“Sialan! Bukan takut, tapi kau mengagetkanku!”
“Sama saja.”
“Oh ya Tuan Aza, silakan,” sela Osmo sambil menyodorkan roti bakar ke arahnya.
“Jadi, apa kita akan ke sana?” tanya Rexcel. Padahal sudah jelas kedatangan mereka untuk memasuki tempat itu, tapi masih saja ditanyakan.
“Jika tidak, kenapa kita ke sini?” Aza terkekeh.
“Tempatnya aneh, Near tak nyaman,” Reve tiba-tiba bersuara yang membuat orang-orang menoleh ke arahnya.
“Kau benar-benar aneh. Cara bicaramu seperti ular itu anakmu saja,” ledek Doxia namun diabaikan.
“Kalau mau kau bisa tinggal di sini.”
“Aku penasaran.”
Jawaban singkat Reve ditanggapi dengan seringai tipis oleh Aza. Sampai akhirnya waktu untuk keberangkatan ke bawah sana telah tiba.
Semuanya pun menuruni jalan yang dipenuhi belukar untuk bisa mencapai tanah lapang di bawah tebing.
“Ini—” kaget Toz saat kakinya menginjak rerumputan di depan bibir kawasan terlarang. Hal itu di karenakan sensasi aroma bunga menguar keras di sana.
Magnolia.
Ya, serupa dengan wangi yang terpancar dari sosok bernama Susanoo sebelumnya. Sang Dewa, bermata putih seutuhnya dan rambut undercut mempesona. Toz terperangah karena ingatan rupa laki-laki itu muncul tiba-tiba saat menikmati aroma di sekitarnya.
“Mau ke mana? Bukannya kita mau ke dalam?” tanya Doxia yang bingung mengikuti langkah kaki Aza.
“Jangan bodoh, pintu masuknya bukan di sini,” timpal Aza dengan tampang meremehkan.
Doxia hanya memanyunkan bibirnya karena dikatai begitu. Sampai akhirnya setelah belasan menit menempuh perjalanan mereka tiba di depan pohon besar yang bagian tengahnya agak berlubang.
Aza langsung menempelkan tangannya sambil menggumamkan sesuatu yang tak bisa di dengar mereka.
Dan tiba-tiba, pohon itu bergerak dengan sendirinya membuat lubang yang tadinya kecil kian membesar agar bisa dimasuki siapa pun juga.
“Wah, apa yang kau ucapkan sampai bisa begini?” kagum Doxia. Jujur dirinya hanya mendengar kawasan terlarang sebagai tempat yang tak boleh di datangi, tapi ia juga tak menyangka jika masuknya juga harus seperti ini.
Petinggi itu tak menjawabnya sehingga membuatnya mendecih. Akan tetapi, entah kenapa Aza lebih banyak menatap tenang apa pun yang mengusik pandangannya. Seperti pohon besar sekaligus pintu masuk mereka.
“Ada apa?” tanya Horusca tiba-tiba. Dirinya juga heran kenapa Aza masih diam di posisinya. Padahal sebagai elftraz (penyembuh) yang bisa mengendalikan tanaman dan mendeteksi bahaya, dirinya tak merasakan apa-apa di sekitarnya.
“Tidak. Tidak ada apa-apa. Ayo masuk,” ajaknya sambil duluan memasuki lubang besar di pohon.
Dan tak di sangka, begitu melangkahkan kaki ke dalam, semua orang disambut dengan pemandangan hutan yang cukup aneh. Langit-langit dipenuhi tanaman menjalar dengan daun berwarna merah.
Tak ada lagi langit siang, pandangan semuanya terputus oleh pesona dedaunan itu. Dan lebih parahnya lagi, aroma magnolia begitu pekat di dalam sana. Tanah dipenuhi rerumputan yang sudah dilihat mereka sebelumnya.
Tapi, ada sesuatu yang cukup mengejutkan. Munculnya api merah mengambang sebagai pencahayaan. Tak cuma satu, sangat banyak dan berjarak. Sorot mata Aza menyapu pandangan di depannya, dengan langkah kakinya berjalan duluan di depan mereka.
“Sekarang aku mengerti kenapa ini disebut kawasan terlarang,” bisik Rexcel pada Doxia.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Apa kau tidak merasakannya? Sensasi di tempat ini begitu aneh dan membuat bulu kuduk merinding.”
“Ya, kau benar. Apa kita akan baik-baik saja?” sambil tangan Doxia menyentuh api yang mengambang dan tak merasakan apa-apa. “Tempat ini begitu horor, sialan!” umpat pelannya.
Akan tetapi, Aza tetap diam dan mengabaikan ocehan orang-orang di belakangnya. Berbeda dengan Horusca yang memandang aneh sekelilingnya.
“Ada apa?” tanya Riz menyadari arti raut wajah dari pengendali tanaman itu.
“Aneh, aku tidak bisa merasakan apa-apa. Seolah tempat ini menetralkan deteksiku.”
Riz terkesiap mendengarnya dan langsung melirik sekelilingnya. Jujur saja ia agak tidak nyaman dengan kawasan ini. Entah kenapa, semenjak memasukinya dirinya langsung waspada. Seolah tempat yang di datangi memiliki sesuatu dengan pesona memakan keberaniannya.
Tiba-tiba Aza Ergo menengadah dan ditatap heran oleh Reve yang berjalan di samping namun tertinggal selangkah di belakangnya. “Ada apa?”
“Tempat ini membuatku tidak nyaman.”
“Kau benar. Bahkan ularku gemetaran hebat sekarang.”
Petinggi itu tersenyum mendengar kalimatnya. Padahal itu bukanlah lelucon namun fakta. Tiba-tiba dia memanggil Horusca.
“Bisakah kau memastikan apa ada orang lain di sekitar kita?”
Pemuda itu menggeleng. “Aneh, aku tak bisa mendeteksi apa pun di sini. Seolah kemampuanku tak berlaku di kawasan ini.”
Kalimat Horusca, jelas memunculkan polemik tersendiri di hati masing-masing pendengarnya. Berbisik keras kalau tempat yang di datangi memang tidak normal untuk mereka.
Tiba-tiba, tanpa kode apa pun Aza Ergo mengeluarkan pedang dari magma yang membuat mereka terkesiap.
Tanpa menjawabnya, pedang pun langsung ditancapkan sang petinggi ke tanah. “Nedierma (menyebar)” desisnya sehingga percikan merah langsung bertebaran dari senjata Aza membentuk benang-benang akar ke sekitarnya.
“Hei, apa yang dia lakukan?” tanya Doxia namun tak ada satu pun yang menjawab.
Sampai akhirnya petinggi dari empusa itu mencabut pedangnya dan melebarkan seringai di bibirnya. “Luar biasa. Rupanya kalian ya,” gumamnya dengan nada aneh dan menekan.
Di tempat berbeda, seseorang yang tadinya kaget, sekarang menatap tajam sisa-sisa benang akar dari magma.
“Aza, apa yang kau lakukan di sini?” geramnya menatap tajam ke hadapan.
“Nyonya, sekarang bagaimana? Jalannya tidak mau terbuka,” keluh seseorang menatap tajam wanita yang sedang kesal itu.
“Tetap coba, kita tidak boleh tertangkap!” perintah Aquila Ganymede pada bawahannya.
“Bagaimana ini? Aku tidak menyangka kalau Aza akan kemari. Apa ada yang memberi tahunya?”
“Pasti begitu! Kalau tidak, mana mungkin bocah sialan itu kemari? Padahal dia bilang kemampuannya sedang menurun tapi malah menggangguku di sini! Benar-benar brengsek!”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya sosok itu pada Aquila.
“Apa lagi? Bunuh saja. Jika dia sampai tahu rencana kita, bisa habis semuanya.”
“Tapi dia Aza Ergo, Aquila. Bahkan kemampuannya tak bisa dibandingkan denganmu walaupun sama-sama petinggi.”
“Tapi kita berdua! Bahkan ada bawahan kau dan aku juga! Kita pasti bisa membunuhnya tak peduli sehebat apa dia! Lagi pula kemampuannya sedang tidak baik, jadi kita pasti bisa,” yakinnya.
Tampak sosok yang berbicara dengan Aquila Ganymede itu menampilkan ekspresi ragu. Dan akhirnya, kalimat tak terduga pun terlontar di mulutnya.
__ADS_1
“Apa aku harus kirim pesan pada tetua?”
“Jangan!” cegat petinggi empusa itu. “Bagaimanapun tetua sedang sibuk membuka jalan lainnya, kita tidak boleh mengganggunya. Biarkan semua tetap berjalan sesuai rencana, lalu kau dan aku saja yang mengurus Aza.”
“Baiklah kalau begitu,” setuju laki-laki berusia 30 tahun itu.
Dan sekarang di sinilah kelompok Aza Ergo. Doxia, Rexcel serta Reve sibuk menanyai Aza siapa yang di maksudnya tadi. Tapi, pemuda itu hanya tersenyum dan tak memberikan kejelasan.
Sampai akhirnya langkah mereka dihentikan oleh perintah aneh dari sang petinggi empusa.
“Kalian tetaplah di sini. Aku akan ke sana sendirian.”
‘Hei, jangan gila! Kau ingin kami kenapa-kenapa?” sergah Doxia yang tampak tak terima.
“Justru jika kalian ikut denganku itu akan sangat berbahaya. Di depan ada petinggi dari bangsaku. Jika ketahuan aku berjalan-jalan dengan buronan, menurutmu apa yang akan terjadi?”
“Cih!”
“Tenang saja. Tempat ini aman. Lagi pula kalian kan ada banyak, jadi pasti akan baik-baik saja. Kutinggalkan satu gagakku untuk jaga-jaga. Kalau begitu sampai jumpa,” lirihnya santai.
Dan burung gagak yang seharusnya diberikan pada masing-masing orang jika mereka berpisah, sekarang bertengger di atas bahu Horusca entah untuk apa.
Di sinilah Aza. Langkahnya yang santai menapaki jalanan tanpa beban. Sorot matanya fokus ke depan, sampai akhirnya tubuh pun tiba di tempat dengan tontonan luar biasa.
“Nyonya Aquila? Tak kusangka kita akan bertemu secepat ini. Jadi, apa yang kalian lakukan di sini?” begitulah kalimat sapaan Aza Ergo begitu bertemu dengan sosok tak disangka itu.
“Aza? Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Kenapa kau bisa ada di sini? Tempat ini tak bisa dimasuki siapa pun kalau tidak punya kuncinya.”
“Dan aku punya kuncinya.”
Aquila Ganymede pun menyipitkan mata menatap tajam sang petinggi muda dari bangsanya. “Apa Trempusa yang mengirimmu?”
“Oh? Apa itu berarti kalian masuk ke sini tanpa sepengetahuan Raja kita?”
“Cih! Sialan!” jengkelnya. “Sepertinya, kau tidak mendapatkan kunci darinya.”
“Dan sepertinya kalian juga begitu. Apa yang kalian lakukan di sini? Jika bangsa lain tahu, ini akan mencoreng nama empusa.”
“Bukan urusanmu, Aza. Jika kau ingin selamat, lebih baik tutup mulutmu dan bersikap tidak tahu apa-apa. Karena aku takkan melunak bahkan jika kita sebangsa.”
Aza Ergo terkekeh pelan. Tiba-tiba, pedang magma yang tadinya sudah tidak ada di tangan muncul kembali dan membuat Aquila memasang kuda-kuda waspada.
“Padahal anda orang yang sangat terhormat, Nyonya. Jangan bilang kalau anda tidak tahu, apa yang akan terjadi pada Trempusa jika petinggi bangsanya ketahuan memasuki kawasan terlarang ini.”
“Kau pikir aku peduli? Dia bukanlah Raja yang sesungguhnya.” Wajah Aza pun berkerut bingung karena ucapan aneh wanita di hadapannya. “Orang buangan sepertimu memang tidak akan pernah mengerti. Siapa Raja yang seharusnya disembah dan siapa yang harus dibuang. Karena itulah kau harus tetap tinggal di belakang Aza, agar nyawamu selalu aman dan hidupmu juga tenang.
Tersentak.
Tiba-tiba, sebuah aura membunuh mendekati Aza dengan kecepatan tinggi dari belakang. Sontak saja pemuda itu berbalik dan mengayunkan pedang magmanya, akan tetapi semua sudah terlambat.
Sebuah tusukan tak terduga, telah bersarang di dadanya bertepatan dengan seringai lebar Aquila Ganymede sebagai pelakunya.
__ADS_1