
“Jadi, kalau seandainya aku salah satu penyimpang bagaimana?”
Sepasang Gemini pun sama-sama memiringkan wajah mereka. “Maka kami akan menghukummu, mengambil kekuatan itu dan memurnikan kembali jiwamu. Sehingga suatu saat nanti kau bisa hidup dengan benar,” jawab yang laki-laki.
Heksar pun menghela napas pelan sambil memamerkan tatapan remeh. “Kalian pikir aku makhluk apaan? Bisa diperlakukan seenak itu.”
“Kau hanya chimera kotor dari keturunan pembangkang.”
“Lalu kalian rasi bintang tolol yang menjilati kaki para Dewa. Begitu?”
“Jaga bicaramu chimera. Jika bukan karena perjanjian kuno, aku pasti sudah membunuhmu.”
“Rupanya kalian juga punya dendam terselubung padaku ya? Tapi sayang sekali, aku tidak ada niat lagi untuk berhadapan dengan kalian. Lebih baik aku berhenti di sini, karena bagaimanapun juga, aku seorang scodeaz (pengendali) level monster yang ditakuti. Kalau begitu aku kembali, Gemini,” pamitnya dengan lancangnya.
Sebuah pisau muncul dari balik sakunya dan ia sayatkan pada tangannya.
“Apollo bermimpi,” Gemini laki-laki pun tiba-tiba menyela Sang Raja chimera sebelum ia sempat membacakan mantra. “Aroma dunia mengambang di udara, pisau-pisau di jalanan, suara bagai hujan, gerbang kelam mulai terbuka, kristal biru memekarkan bunga, amukan merah dari tiga taring, dan juga kegelapan yang bersemi.”
Pernyataan itu, sontak saja membuat Heksar Chimeral mengerutkan wajah saking bingungnya. Masih mencoba mencerna apa yang barusan dikatakan salah satu sosok di depannya.
“Apa yang kau katakan?”
“Entah ramalan atau nubuat, Dewa Apollo mengatakan itu dengan ekspresi yang tidak menyenangkan.”
“Lalu hubungannya denganku apa?”
Tapi, guratan senyum pun dipamerkan sebelum sepasang Gemini menjawab pertanyaannya. “Semoga kau beruntung, chimera.” Dan kedua sosok itu langsung bercahaya wujudnya, seperti kunang-kunang yang naik ke atas sana.
Menuju kayangan, di mana dunia tempat ras mereka tinggal dan menetap. Sementara Heksar, masih tertegun dalam lamunannya. Mengulang kembali kalimat terakhir yang paling berkesan di otaknya.
__ADS_1
“Aroma dunia mengambang di udara, pisau-pisau di jalanan, suara bagai hujan, gerbang kelam mulai terbuka, kristal biru memekarkan bunga, amukan merah dari tiga taring, dan juga kegelapan yang bersemi. Apa-apaan itu? Sialan! Aku kan payah dalam teka-teki!” kesalnya. “Baiklah, lupakan saja Heksar! Mungkin saja si bajingan kembar itu cuma ingin bercanda,” keluhnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Tapi beberapa saat kemudian, “sialan!” umpatnya akhirnya. “Dasar rasi bintang sialan! Gara-gara mereka, sekarang aku jadi kepikiran kan? Sepertinya aku harus balik sekarang. Abteriov (terbukalah)”
Dan sebuah portal langsung menelan dirinya dari bawah kakinya.
Sementara Blerda Sirena, dia terlihat sedang menyentuh darah di pipinya yang tergores cukup dalam. “Dewa Poseidon ya.”
Namun ini cukup aneh, karena sosok Yang Termulia itu justru berdiri tepat di hadapan Ratu siren.
“Bahkan setelah mengetahui siapa diriku, jantungmu masih tidak meneriakkan ketakutan. Padahal kau bisa saja mati di tanganku. Jadi, apa yang bisa membuatmu gemetaran?”
Pertanyaan itu, sontak saja membuat sang gadis menengadah. Menatap lekat rupa Dewa penguasa lautan, dengan ekspresi tenangnya.
“Mata yang jernih, namun menyimpan keanehan. Wujud tenang yang menyembunyikan kengerian ya? Selama aku hidup, kau salah satu guider dengan tatapan yang mampu mengusikku. Jadi, apa keinginanmu? Auramu, tidak secerah pendahulumu.”
Akan tetapi, entah kenapa justru senyuman tipis yang terpatri di bibir Blerda. “Pendahuluku? Yang mana? Ayahku, atau para pembangkangmu?”
“Jangan ungkit mereka, Nak. Karena aku, tidak suka mendengarnya.”
“Seseorang pernah berkata, segala sesuatu terjadi karena ada alasannya. Baik buruknya itu bukanlah hal yang bisa kita nilai seenak hatinya. Karena kenyataannya, akan terlihat di permukaan saat semua mengakui kebenaran di tangannya.”
Entah kenapa kalimat Blerda barusan, seperti memanggil angin sepoi-sepoi dari timur untuk datang menyapa mereka. Menyentuh lembut permukaan danau di mana mayat mengambang tak lagi bergerak sesuka hatinya.
“Kalimat yang bijak untuk kalian yang tidak mau mengakui kejahatan.”
Dan Raja siren pun langsung menyipitkan matanya. Merasa aneh, atas ucapan Sang Dewa di depannya.
“Kejahatan mereka tidak ada hubungannya denganku.”
__ADS_1
“Dan itu mengalir di dalam nadimu. Rasa iri, dengki, jahat dan benci, semua bercampur aduk karena ulah leluhur kalian. Para pembangkang yang tidak tahu diri.”
Blerda Sirena pun bangkit dari posisinya. Berdiri tegak sekarang, menatap sosok yang berpose sejajar dengannya.
“Aku tidak peduli, atas dosa-dosa yang pernah dilakukan para leluhur. Jika kalian tidak suka dengan keberadaan kami, maka para Dewa bisa menghabisi kami. Tapi nyatanya, kalian hanya diam menonton semuanya. Dan turun saat ujian seperti ini, untuk mencerca garis darah dan juga mengumbar tentang penyimpang yang akan mungkin terlahir kembali. Aku tidak mengerti, jika kalian kesal karena lima kemampuan kalian tersebar pada para guider, kenapa tidak direbut kembali? Kalian, mampu melakukannya bukan?”
Namun tak ada jawaban. Beberapa detik berlalu tenang. Sampai akhirnya Dewa Poseidon itu menghentakkan pangkal trisulanya sebanyak tiga kali ke tanah.
“Apollo bermimpi. Melirihkan kata yang aneh bagi kami. Aroma dunia mengambang di udara, pisau-pisau di jalanan, suara bagai hujan, gerbang kelam mulai terbuka, kristal biru memekarkan bunga, amukan merah dari tiga taring, dan juga kegelapan yang bersemi.”
Blerda pun terkesiap mendengarnya.
“Itulah yang dia katakan pada kami. Dan semua itu pasti berhubungan dengan dunia Guider yang kalian tempati,” lanjutnya berbicara.
“Karena itu, jika semua yang dikatakan Apollo ada benarnya, tolong lakukan sesuatu untuk menghentikannya. Kegelapan yang bersemi, bagaimanapun akan menjadi pertanda buruk bagi pihak kayangan seperti kami. Kalian para guider, bisa menanganinya bukan?” sahut Dewa Osiris akhirnya di tempat yang berbeda. Dirinya sedang bersama Horusca. Pemuda elftraz (penyembuh) itu tampak dikelilingi tanaman merambat yang melayang di udara.
Dirinya hanya menatap datar pemandangan di depannya, karena bagaimanapun juga tak ada teriakan ketakutan dari tumbuhan yang berada di dekat Sang Dewa. Pertanda kalau sosoknya mungkin hanya ingin berbicara.
“Kegelapan yang bersemi?” Beltelgeuse mengulangi kalimat terakhir yang diucapkan oleh Dewa Siwa.
“Benar.”
“Bukankah kalian para Dewa bisa menghentikannya?”
"Tahukah kau tentang prasasti di altar Hidea?” Beltelgeuse hanya mengangguk sekilas. “Di dalam prasasti itu, tercantum semua kisah. Awal mula dunia ini tercipta dan juga cerita para pembangkang di dalamnya. Serta, perjanjian para bangsa-bangsa dan juga makhluk kayangan. Bukannya kami tidak mampu menghentikannya, tapi kami tidak bisa melanggar perjanjian yang sudah dituliskan. Karena kalian adalah penghuni di dunia Guide.”
Beltelgeuse masih tidak paham. “Lalu bagaimana dengan ujian level kemampuan kami?”
Dan senyum pun tertoreh di bibir Sang Dewa. “Buktikan pada kami. Bahwa kepercayaan yang kami berikan, bisa membuat semua Dewa yakin kalau kalian pantas naik ke level selanjutnya.”
__ADS_1