
Dan Blerda Sirena hanya menajamkan penglihatannya, pada Raja cebol yang cerewet di telinga mereka.
“Kesampingkan hal itu. Jadi, bagaimana dengan perburuan selanjutnya? Kita sudah kehilangan satu rekan tanpa disangka-sangka,” potong Aza Ergo tiba-tiba.
“Hei, masalah kerasukan Blerda juga bencana. Bagaimana bisa kau menyuruh kita mengabaikannya?”
Sang petinggi empusa pun tersenyum karenanya. “Itu masalah siren, jadi biar mereka yang menanganinya. Tujuan kita adalah para pengkhianat.”
Benar-benar membuat Heksar kesal. Bahkan Hydragel Kers tampak seperti menahan tawa sehingga dirinya sungguh ingin menjambak dua laki-laki itu dengan geramnya.
“Kami akan melanjutkan perburuan.” Pernyataan Orion berhasil mengalihkan perhatian mereka.
“Dengan kondisi Zarca serta Toyotomi yang tanpa ketua? Kalau begitu kelompok empat dibubarkan.”
“Tidak bisa!” Toyotomi tiba-tiba menyela ucapan Revtel. “Aku akan tetap berburu apa pun yang terjadi.”
“Aku juga,” setuju Zarca.
“Tapi kalian tidak punya ketua,” Raja Trempusa sepertinya juga tidak menyetujuinya.
“Ketua hanya status agar kelompok tidak terpecah. Aku dan Zarca akan tetap memburu mereka, karena aku tak bisa membiarkan keinginan Arjuna pupus begitu saja. Jadi tolong hargai keputusan kami Yang Mulia.”
Orang-orang pun terdiam sejenak karena permintaan Toyotomi itu.
“Aku setuju saja, lagi pula tujuan kerjasama kita kan memang begitu awalnya.”
“Heh, Aza! Kau tidak lupa kan kalau kau juga hutang penjelasan pada kami semua? Kau jalan dengan buronan di belakang kami tanpa aba-aba.”
Sepertinya Heksar Chimeral takkan berhenti mendebat petinggi muda itu jika dia berbicara. Bahkan sekarang sorot mata orang-orang mulai terarah pada lawannya.
“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Mereka rekanku saat sedang melakukan perjalanan.”
“Dan kamu tahu kalau mereka itu buronan.” Aza Ergo pun melirik Tuan Criber yang menyelanya. “Kamu ada di Bukit Kristal saat mereka berulah.”
Perlahan, pemuda itu memamerkan senyum menyebalkan khas miliknya. “Ayolah Tuan Criber. Mereka berulah karena ada alasannya. Padahal Blerda yang punya kuasa untuk budak itu saja tak bersuara, kenapa kalian terlalu memikirkannya?”
“Kau—”
“Aku benarkan?” dia pun memotong ucapan Heksar. “Lagi pula, Raja Kers juga sudah menjamin mereka. Kita punya masalah yang jauh lebih besar selain menangani buronan sepele itu. Jadi aku harap kita lupakan pembahasan tentang tunas-tunas kecil itu dan lebih fokus pada cerberus juga medusa. Karena aku akan ikut perburuan nantinya.”
__ADS_1
Mereka pun terkesiap mendengarnya.
“Aza, kamu serius?” Orion tampak tak percaya.
“Tentu saja. Sebagai gantinya aku juga akan bawa buronan-buronan itu sebagai temanku nantinya.”
“Aza!” Tuan Criber tiba-tiba menghardiknya. “Apa yang kamu pikirkan?!”
“Kenapa membentakku begitu? Kalian yang sama-sama hadir di Bukit Kristal, pasti sudah tahu seperti apa kemampuan mereka. Aku butuh jaminan dalam pertarungan karena kemampuanku tidak baik-baik saja. Kalian juga pasti memahami situasiku bukan? Tuan Barca, Yang Mulia Blerda, Raja Kers dan juga Tuan Orion. Bagaimana menurut kalian?”
Sontak saja orang-orang yang disebutkan namanya merespons tatapan sang pengendali magma. Entah apa maksudnya mengatakan itu, tapi salah satu dari mereka mulai bisa menebak alurnya.
Barca Asera pun bertemu pandang sekilas dengan Raja kurcaci yang berada di seberangnya. “Aku tidak masalah, lakukan sesukamu, Aza Ergo.”
“Tuan Barca,” syok Heksar mendengarnya.
“Aku juga tidak masalah,” Noa Krucoa bahkan menyetujuinya.
“Aku sudah dengar seperti apa kemampuan para buronan itu. Tapi tujuan utama kita para pengkhianat yang menginginkan medusa dan cerberus. Jadi aku juga menyetujuinya. Mengingat kemampuan Tuan Aza memang akan sangat membantu perburuan kita,” Gandari sang petinggi manusia ikut serta membelanya.
Sampai akhirnya, kesepakatan pun tercapai.
Memang harus diakui, bahwa lima kelompok belum tentu bisa menjamin keberhasilan misi mereka, mengingat sosok ghoul juga ikut serta dalam pertarungan itu.
Hellbertha yang tampak tak berdaya tertawa di ruang Exedia. Sebuah tempat penyiksaan dan umumnya dimiliki masing-masing bangsa. Walau nuansa isinya terkadang beda-beda untuk setiap pemiliknya.
Sementara Blerda, langkah angkuhnya berhenti tepat di hadapan wanita itu. Entah apa yang ia pikirkan, namun sosok di sampingnya benar-benar penasaran.
“Mau anda apakan dia Yang Mulia?” tanya Tuan Criber kepadanya.
“Kamu tidak lupa kan kalau mantraku tak berpengaruh pada mereka?” Raja hydra juga ada di sana.
Dan gadis itu pun melirik Serpens yang berdiri di sisinya. “Dia dari bangsamu. Menurutmu apa yang harus dilakukan?”
Walau lirikan saling bertemu, tapi cukup lama bagi Wakil Raja gyges menjawab pertanyaannya. Sampai akhirnya ia mendekati Hellbertha yang juga memandanginya.
“Nyonya.”
“Jangan harapkan apa pun dariku, Serpens. Bunuh aku karena itu lebih baik.”
__ADS_1
Hati laki-laki itu dibuat mencelos olehnya. Karena bagaimanapun dirinya tak bisa melupakan fakta tentang sosok tabib milik bangsanya. Hellbertha salah satu senior yang berharga bagi mereka.
“Yang Mulia. Aku tahu kalau ini sangat keterlaluan, tapi aku mohon tolong ampuni Nyonya Hellbertha. Biarkan kami membawanya kembali ke bangsa gyges,” pinta Orion tiba-tiba.
Dirinya juga berada di sana. Dan permintaannya jelas-jelas mengundang beragam ekspresi pendengarnya.
“Memang keterlaluan.” Kalimat singkat Blerda berhasil menyentak mereka. “Aku tidak keberatan. Tapi, satu petinggi kami mati karenanya. Ada harga untuk itu semua, dan aku membiarkan kalian datang kemari karena ingin memperlihatkan seperti apa hukuman yang pantas untuknya.”
Lalu dirinya mengangguk sekilas pada dua ksatria yang berada di sana.
“Bawa dia!” perintah salah satu bawahan entah pada siapa. Dan dua orang penjaga pintu meninggalkan Exedia menuju gerbang kokoh di kanan mereka.
Membuat orang-orang semakin penasaran dengan rencana Sang Ratu selanjutnya.
Akhirnya, teriakan keras berkumandang dari seorang gadis muda. Begitu memekakan telinga, membuat siapa pun yang ada di sana syok melihat kedatangannya.
Kecuali sosok-sosok yang memang sudah tahu permasalahannya.
“Bleria?!” kaget Tuan Criber dan Beltelgeuse bersamaan.
“Apa-apaan ini?!” petinggi siren pun memandang tak percaya pada Ratu di depannya.
“T-Tuan Criber!” pekik Bleria Sirena lalu berlari menghampirinya. “Tolong aku, Tuan! Tolong lepaskan aku!” dirinya terisak di hadapan mereka.
“Blerda, apa yang kamu—” Ksatria Bintang itu terdiam. Karena sorot mata Sang Ratu tidak memperlihatkan keramah-tamahan.
“Tenang Bleria. Tenang,” sahut Tuan Criber sambil memegang bahunya. Lalu wajahnya beralih pada gadis yang hanya diam saja melihat itu semua. “Yang Mulia. Apa-apaan semua ini?! Bleria adik anda Yang Mulia. Dia juga petinggi siren yang berkuasa!”
Benar-benar di luar dugaan. Situasi tampak menegang untuk beberapa orang. Sementara Raja kurcaci, Hydragel Kers serta Serpens yang juga bersama mereka memilih diam menontonnya.
Tapi, cukup lama bagi Blerda menjawab itu semua, membuat Tuan Criber melanjutkan kembali kalimatnya.
“Apa yang sebenarnya ada di pikiran anda? Eksekusi bangsawan kita, dan sekarang ini? Bahkan jika anda berkuasa, anda tidak berhak menghakimi Bleria, Yang Mulia. Dia juga Sirena murni seperti anda! Dia juga keturunan Raja sebelumnya!”
Barulah akhirnya Blerda memalingkan tubuhnya dan menatap dua petinggi bangsanya yang berbeda kondisinya.
Perlahan, seringai tipis pun terpatri jelas di bibirnya.
__ADS_1