Death Game

Death Game
Masa lalu sebuah nama


__ADS_3

Kers terdiam. Walau hanya sorot matanya yang bergerak sekarang. Dirinya benar-benar merasa tidak berdaya. Energi telah tak ada di tubuhnya. Bahkan untuk menggerakan kelopak rasanya tak mampu dilakukan.


Sekarang, ia tersadar kalau ukiran mantra di lantai sudah dipenuhi oleh genangan airnya.


“Gumamkan abteriov, maka mantranya akan aktif.”


“A-ab-te-ri-ov (Terbukalah)”


Selesai melirihkan itu, tiba-tiba lantai bergetar hebat. Seperti dihantam gempa, namun tak meruntuhkan tempat yang bak aula di istana.


Ukiran yang ternyata lingkaran sihir itu memancarkan sinar merah menyala. Perlahan mulai mengambang, melewati tubuh Kers yang tergeletak tak berdaya.


Dan tiba-tiba hancur lalu meretakkan udara. Retakan yang bak kaca pecah akhirnya melukiskan kejadian sebenarnya di dalam sana.


Bebatuan bermunculan. Tak beraturan, tapi dihiasi kalimat kuno hampir semuanya. Beberapa batu melambangkan bendera bangsa-bangsa.


Semua prasati memancarkan energi yang berbeda. Sampai beberapa saat kemudian kabut hitam mulai memenuhi semuanya.


“Nigel (Muncullah)” ucap Loki tiba-tiba.


Dan semua tulisan yang ada di prasasti bergerak mengelilingi udara. Kers terbelalak saat mendapati nama tak terduga.


Di mana kalimat ‘Cindaku Aftoria’ kebetulan lewat di depan mata.


“Kamu hanya perlu memanggil apa pun yang kamu butuhkan di sini. Tapi ingat, satu orang cuma satu kesempatan. Satu organ dan juga satu nyawa. Jadi selesai mengucapkannya salah satu organmu akan hancur tapi kamu bisa melihat masa lalu kalimat yang disebutkan. Namun itu hanya terbatas sampai nyawamu habis. Mengerti?”


Tak ada balasan. Penjelasan Dewa Pengacau itu benar-benar di luar dugaan. Tak ia sangka kalau dirinya harus mengorbankan banyak hal gara-gara perjanjian brengsek dengan Cindaku menyebalkan.


Namun tak ada gunanya ragu-ragu. Mengingat nyawa Revtel berada di ujung tanduk sebagai taruhan.


Dengan mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa. Ia coba mengucapkan kata terpenting di sana.


“C-cinda—” tersentak. Kers terkesiap. Saat namanya melewati dirinya. ‘Hydragel Kers,’ kalimat itu berwarna merah dan terbang mengudara menuju langit-langit. Sungguh ia tidak mengira kalau tanda pengenalnya akan berada di aula prasasti.


“Kenapa? Ragu?” kekeh sosok yang duduk di sebelah tubuh tertidurnya. “Satu kesempatan satu nyawa. Pilihlah dengan benar, kalimat mana yang akan kamu ucapkan.”


Sekarang, Kers dihantam kebimbangan. Pilihan apa yang ia punya? Ada namanya di dalam sana. Itu berarti akan menjadi kesempatannya untuk melihat masa lalunya.


Haruskah ia panggil nama Cindaku? Mengingat sosoknya juga tak tahu dengan benar jati dirinya.  


Tangannya mulai mampu untuk terkepal akibat pemikiran berat di kepala. “Jadi kalimat mana?”


“Ci—”


“Aku akan melakukannya untukmu,” potongnya tiba-tiba. Lirikan mata Kers pun tampak menatap penuh selidik. “Kamu bisa panggil namamu. Dan aku akan panggil nama dari sosok yang kamu butuhkan. Bagaimana? Bukan ide yang buruk bukan?”


Kers tak paham apa keinginannya. “Tapi jangan lupa kalau kamu berhutang kepadaku. Aku takkan memintamu membayarnya dengan cepat. Namun aku ingin kamu tahu, kalau aku benar-benar membutuhkan dirimu. Wahai saudaraku,” tangannya mulai menyentuh kepala bocah hydra.


Tak tahu kenapa sejuk sensasinya. Seolah berusaha mengobati setiap rasa sakit yang di deritanya. Dan Kers, akhirnya mampu duduk sekarang.


“Sebegitu inginnya kamu agar aku berhutang budi?”


“Ya. Karena aku hanya bisa meminta bantuan padamu.”


“Apa yang kamu inginkan?”


Mendengarnya, Loki pun menyeringai tipis. “Senjata Thor dan juga senjataku.”


“Bukankah kamu ingin membunuhnya?”


“Membunuh Dewa tak semudah yang diucapkan. Mengingat jumlah mereka ada banyak dan saling berkaitan. Aku hanya butuh senjata itu, jadi sebagai gantinya tolong bantu aku. Bagaimana?”


“Rencanamu tidak akan berhasil.”


“Kenapa?”


Kers tidak menjawabnya. Selain mengedarkan pandangan memperhatikan setiap tulisan melayang di depan mata.


“Aku Loki. Tak ada yang bisa menandingi kecerdasanku. Dan tawaran ini jelas tidak buruk untukmu. Karena kau akan tahu kekejaman apa yang sudah kau lakukan terdahulu.”


Dengan menghabiskan beberapa saat dalam diam. Kers pun terpaksa menurutinya. Jujur saja, ia sangat ingin menyelamatkan Revtel. Tapi di satu sisi sosoknya juga harus mengetahui masa lalunya.


Kenapa dia disebut sebagai Yang Termulia dan juga pengkhianat. “Baiklah.”


Tawa pelan pun langsung bermekaran di bibir sang Dewa. Sungguh Loki bahagia, karena Kers menyetujui keinginannya.


“Jika tebakanku benar, apa nama penyimpang tanpa kepala itu yang ingin kamu panggil?” Bocah hydra pun mengangguk. “Baiklah, jangan lupa dengan perjanjian kita, saudara. Cindaku Aftoria.”


Seketika nama yang dipanggil bergerak cepat mengelilingi Loki. Sampai menimbulkan sensasi angin walau tidak kasar. Dan Kers mulai tak bisa melihat sosok itu akibat diselimuti kabut merah.


Sepertinya, sekarang gilirannya untuk memanggil namanya.


“Tuan, apa adikku akan baik-baik saja?” pertanyaan Revtel membuyarkan fokus pak tua.


“Jangan cemas. Adikmu pasti akan baik-baik saja.”


“Anda tampak santai. Apa anda sudah tahu tentang hal ini dari awal?”


Butuh sejenak waktu bagi Sang Raja untuk menjawabnya. “Aku tahu jika adikmu takkan mati dengan mudah. Bukankah sudah kukatakan? Bangsa setengah Dewa seperti empusa memiliki kelebihan dalam insting dan juga ramalan.”


Revtel terdiam. Walau ia tahu kalau Kers mungkin saja tidak akan mati, tapi sosoknya tak bisa melupakan masa lalu mereka. Dirinya takut jika sang adik kehilangan kendali dan mengeluarkan kekuatan yang sudah membunuh ayahnya.


Sang Pangeran tak ingin adiknya kembali menjadi pembunuh seperti sebelumnya.

__ADS_1


Sementara Kers, terdiam melihat penampakan di sekelilingnya. Terlebih seseorang yang tampak luar biasa berdiri di depannya.  


Rambutnya berwarna hitam panjang. Namun separuh ke bawah agak keputihan. Maniknya merah hanya saja ada ukiran tato di pelipis. Sosok itu memiliki anting serupa kristal hitam yang memancarkan kilau pada sekelilingnya.


“Apa yang kamu lihat?”


Sontak saja Kers dan sosok di pandangan terkesiap dan menoleh ke sumber suara. Tampak olehnya, seorang wanita tersenyum kepadanya.


“Zeus ingin bertemu denganmu.”


Dan laki-laki itu mengikuti orang asing barusan. Tentunya Kers juga tak mau ketinggalan. Satu hal yang pasti, dua orang di depan mata sepertinya tak bisa melihatnya.


“Saudaraku! Kamu di sini?” Hades menyambutnya.


Seperti taman kaca raksasa. Tapi entah kenapa bunga di sana dominan lily juga mawar. Ada satu pohon apel besar berbuah lebat. Dan beberapa sosok duduk di sebuah hamparan permadani di atas rerumputan.


“Apophis.” Tersentak. Hydragel Kers terdiam. Saat panggilan itu disematkan pada sosok yang pertama ditemuinya. “Kronos sepertinya mulai menggila.”


Pernyataan dari Zeus yang tampak gagah di mata mengusik perasaannya. Dan laki-laki berambut hitam keputihan itu hanya tersenyum.


“Apophis. Apa yang lucu?” tanya Hera. Dialah yang membawa laki-laki itu ke sana.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?”


Aneh. Rasanya tidak asing. Kers tak tahu apa yang salah, tapi sosok bernama Apophis itu memancarkan hal tak biasa.


“Kita harus membunuhnya,” Zeus meyakinkan mereka.  


“Itu takkan mudah Zeus. Walau kita abadi, Ayah punya kemampuan untuk membatalkan kemampuan kita,” Hades memperingatkan


“Benar. Tapi, bukankah kita punya kartu as?” kekehnya sambil menatap ke arah Apophis. Tentunya sosok itu mengernyitkan dahinya. “Ramalan hanya menyebutkan kami. Tak ada namamu bukan?”  


Sekarang suasana mendadak hening. Kers yang menjadi penonton di dalam sana, memperhatikan ekspresi masing-masingnya.


“Baiklah. Aku mengerti.”


“Terima kasih, Apophis. Bagaimanapun juga, kamu benar-benar sudah seperti adikku sendiri.”


Selesai pertemuan, Kers tetap mengikutinya. Tak tahu kenapa, hatinya ingin melakukannya. Memasuki sebuah kediaman dan disambut sesosok orang tua di sana.


“Dipanggil lagi?” tanya orang itu kepadanya. Apophis mengangguk lalu merebahkan tubuh di sofa. Sekeliling ruangan dihiasi obor, namun aroma lavender terpancar di dalamnya. “Dan mereka berniat memakaimu untuk menusuknya?”


“Ayolah, Odin. Jika ada yang mendengarnya mereka akan salah paham.”


“Para Titan bukanlah tandingan mereka. Dewa-Dewa itu hanya ingin memanfaatkanmu, Apophis. Mereka cuma menginginkan kekuatanmu.”


“Apa benar begitu?”


Entah kenapa dirinya terlihat tak percaya dengan apa yang di ucapkan pria di depannya. Kers lagi-lagi diam. Sungguh ia masih menatap lekat sosok Apophis, dan menerka-nerka apa mungkin laki-laki itulah adalah dirinya.


Rahang menegas jelas terlukis di wajah menawan sang Dewa muda. “Aku dan Hades seorang Dewa Kegelapan. Jika benar hanya kemampuanku yang mereka inginkan, bukankah lebih baik meminta bantuan Hades saja?”


“Dia penguasa kematian. Kalian sangatlah berbeda.” Apophis terkekeh mendengarnya. “Dengar Apophis, di antara para Dewa muda, hanya kau yang berhasil duduk di singgasana. Jangan sampai gelar Yang Termuliamu ternoda karena mereka. Bagaimanapun juga, para Titan sangat menghormatimu. Ingat itu.”


Tak ada lagi pembicaraan. Apophis muda berbaring di ranjangnya. Menatap hamparan langit berbintang di atas sana. Seperti ucapan pak tua itu, dirinya seorang Yang Termulia. Lebih tinggi jabatannya dari para Dewa.


Dan di kalangan mereka cuma dirinya dan Odin yang duduk di singgasana bersama para Titan. Tentunya, tak salah jika sosok itu berpikir kalau Zeus dan saudara-saudaranya mungkin saja memanfaatkan Apophis untuk tujuan mereka.


Sementara Kers yang masih melihatnya hanya diam menontonnya.


Esoknya, pertemuan tak terduga kembali terjadi. Tapi sekarang untuk mereka dengan tahta yang lebih tinggi.


“Kudengar Zeus memanggilmu.”


Pertanyaan Atlas itu berhasil menyentak Apophis. Tapi untung saja raut wajahnya datar. Sehingga tak terlihat jika dirinya kaget sebenarnya


“Benar.”


“Apa yang dia inginkan?”


“Cuma ingin memamerkan syair Orfeus untuknya,” dustanya. 


“Benarkah?”


“Ya. Apa anda juga mau syair darinya?”


Atlas terkekeh. “Tidak, terima kasih.”


Dan di singgasana mewah yang memiliki tiga belas kursi di dalamnya, duduklah para Termulia sesuai posisinya.


“Jadi, apa yang akan kita bahas?” salah satu Titan bersuara.


Kronos yang sibuk menggenggam kalungnya, mulai mengatakan kecemasannya. “Ramalan.”


Semua tersentak mendengarnya. “Jangan bilang ramalan kita lagi?”


Rhea yang mendengar tentang itu pun mengernyitkan wajahnya. “Jangan terlalu mempercayai ramalan. Tidak mungkin anak kita akan menghunuskan pedangnya pada orang tuanya.”


Apophis dan Odin yang mendengar itu hanya diam.


“Kalau seandainya benar, bagaimana?” Titan yang lain terkekeh.


“Maka kita hanya perlu menghukumnya. Bahkan para Dewa tidak lebih hebat dari kita. Apa aku salah?”

__ADS_1


Atlas yang merupakan pemimpin tertinggi mereka pun menghela napas pelan. “Odin, bagaimana menurutmu?”


Pak tua itu meliriknya lewat sudut matanya. “Entahlah. Daripada ramalan, aku lebih memikirkan nasib para pemuja.”


“Ah! Chimera. Kudengar dia bermasalah dengan Siren,” kekeh salah satu Titan.


“Ya.”


“Apophis. Bagaimana kalau kamu saja yang mengurusnya? Siren akrab denganmu kan?” pinta Kronos. 


“Baiklah.”


Nama-nama asing. Dan bahkan tak pernah di dengar Kers selama hidup di dunia Guide. Sosoknya hanya tahu beberapa nama para Dewa dan bukan Yang Termulia.


Tapi ia tahu pasti, kalau wajah-wajah yang hadir di sana, mereka memiliki kemampuan yang sangat luar biasa.


“Maaf karena tak bisa ikut denganmu.”


“Tak apa-apa,” Apophis tersenyum pada Odin yang berjalan bersamanya. Sesuai rencana, ia pun pergi menemui dua orang biang masalah di pertemuan.


Chimera Agora dan Siren Bertia.


Dua pemimpin dari kaum mereka. Di tepi tebing yang curam, terlihat Siren Bertia berada di salah satu bongkahan batu raksasa.


Memiliki penampilan dari perut ke bawah seperti ikan. Sementara bagian atas badannya serupa manusia. Telinganya mirip dengan kaum Elf namun dia mengenakan mahkota berumbai.


Sementara seekor singa bertanduk dengan sayap lebar layaknya elang serta ekor menyerupai ular melukiskan penampakannya. Mengambang di udara dan menyemburkan api dari dalam mulutnya. Dialah Chimera Agora.


Keduanya tampak terluka. Bahkan tangan kanan Siren putus sedangkan Chimera kehilangan telinga juga tanduk kirinya.


“Aku takkan pernah memaafkanmu siluman!”


“Seharusnya lihat dirimu sebelum memakiku!” kesal Chimera.


Sosoknya melesat cepat menuju sosok di batu dengan raungan keras bak hewan buas. Tapi, sebelum serangan dari kedua cakar mereka saling beradu, sesosok laki-laki muda tiba-tiba muncul di sana.


Merentangkan tangan ke arah mereka berdua.


“Hentikan atau aku turun tangan.”


Mendadak Chimera terpaksa terbang ke arah yang berbeda. Berputar dengan gagahnya agar tak kehilangan martabat sebagai makhluk yang bisa terbang.


“Yang Termulia,” gumam Siren melihatnya. “Apa yang anda lakukan di sini?”


Apophis menghela napas pelan lalu menunjuk ke bawah.


“Kenapa dengan bangkai itu?” tanya Chimera heran. Karena di tempat yang ditunjuk sang Termulia, telah mengapung monster laut dalam dengan jumlah entah ada berapa.


“Kenapa? Apa kalian tidak tahu kalau pertempuran kalian itu sangat berisik? Atlas selalu mengeluh. Bahkan monster laut dalam mengadu pada Poseidon karena ulah kalian berdua.”


“Lalu?” tanya Siren dan Chimera secara bersamaan.


Rasa jengkel kian membubung tinggi di hati laki-laki itu. “Tolong hentikan atau kalian berdua akan dihukum karena merusak lingkungan.”


“Baiklah,” setuju Siren.


“Hah? Kau berhenti? Kau pikir akan kubiarkan?! Kau sudah memotong telinga dan tandukku!”


“Itu karena kau lemah makanya bisa terpotong. Salahkan kebodohanmu, singa busuk.”


“Apa kau bilang!”


“Aku bilang hentikan!” hardik Apophis tiba-tiba. Sontak saja keduanya langsung menutup mulut sambil meliriknya. “Berdamai mengerti? Aku pergi.” Dirinya yang pamit pun pergi entah ke mana.


Di antara beberapa Dewa, Apophis salah satu yang bisa terbang. Dan sorot matanya teralihkan saat melihat lambaian tangan ke arahnya. Bibirnya pun mengukir senyum dan berlalu menuju tempat yang menyapa.


“Yang Termulia. Habis dari tempat si gila?” ledek Hydra Leykaz. Dia berada di pinggiran danau. Wujudnya besar serupa raksasa, namun tubuh bagian bawahnya mirip ular dengan tujuh kepala naga.  


“Yah, begitulah.”


“Anda bisa beristirahat di sini, jika anda mau.”


“Terima kasih, Hydra.” Apophis pun tersenyum kepadanya. Merebahkan tubuh di samping sang monster di atas rerumputan hijau pemandangannya.


“Aku berpikir, akan sampai kapan kedamaian ini terjadi?”


“Kenapa?”


“Karena aku bisa saja mati.”


Apophis terdiam. Pernyataan Hydra jelas mengusik perasaan. Di mana perbedaan besar terjadi di antara mereka. Dia yang merupakan Dewa jelas abadi dibandingkan para pemuja.


“Semuanya bisa saja mati.”


“Tapi nyatanya beberapa abadi.”


Sang Dewa Kegelapan meliriknya lewat sudut mata. “Abadi di kalangan mereka yang tak mampu menjangkaunya. Namun lemah di mata sosok setara atau di atas pijakannya. Semua sudah sesuai takarannya. Tak ada yang perlu disesali, yang ada hanya perlu mensyukuri. Bukankah itulah arti hidup sebenarnya? Leykaz.”


Siluman ular itu pun terbungkam. “Aku pamit dulu.”


“Ya.”


Beberapa saat kemudian. “Sudah kukatakan bukan? Berteman dengan Dewa itu tidak mudah. Karena mereka ada di dunia yang berbeda. Bahkan jika jantungnya dikeluarkan akan tetap hidup kembali. Sementara kita, apa yang bisa kita lakukan? Cuma langsung mati.”

__ADS_1


Begitulah kekehan dari sosok yang muncul tiba-tiba. Siapa lagi kalau bukan Bartolomeo Kuyang dan Tukak Kuyang. Dua bersaudara dari klan manusia.


 


__ADS_2