
“Reve?” Tak terasa tubuh Toz gemetaran, keringat dingin perlahan mulai membasahi tubuhnya. “A-apa itu?”
Reve menyentuh wajahnya, lalu menyisir rambutnya ke belakang. “Toz, sepertinya ... ini hari terakhir kebersamaan kita.”
“Apa maksudmu?”
“Seperti yang kau tahu, aku sudah mendapatkan tujuanku di kota ini. Karena itu, aku akan segera pergi dari sini.”
“Tapi, itu ...” Toz tak melanjutkan ucapannya.
“Lagi pula kau sudah bertemu dengan Riz, jadi kau bisa ikut bersamanya. Jika tetap bersamaku, maka hanya bahaya yang akan kau dapatkan.”
Toz menunduk sedih mendengarnya, bagaimanapun ia sudah terbiasa dengan kehadiran Reve walau mereka tak begitu lama bersama. Toz mengangkat wajahnya, “Reve, apakah aku boleh tahu ke mana arah tujuanmu?”
“Aku akan menemui petinggi hydra.”
“Hydra? Kenapa? Jika mereka tahu kalau kamu sudah membunuh salah satu anggotanya, itu bisa berbahaya!”
“Takkan ada yang tahu selama tak ada yang bicara.”
“Tapi!”
“Besok pagi aku akan pergi. Karena itu, bagaimana jika kita habiskan hari terakhir di kota ini? Yah ... sebagai perpisahan antar teman,” Reve pun terkekeh.
Toz hanya bisa mengangguk pelan, karena bagaimanapun ia sudah tahu apa tujuan Reve sebenarnya. Menahannya sudah jelas tidak mungkin. Kalaupun iya, berarti Toz yang harus berkorban dan mengikuti Reve ke mana pun ia pergi.
Lagi pula mereka hanya teman, dan Riz yang merupakan teman sejatinya sejak awal sudah ia temui, bukankah akan lebih baik jika bersamanya?
Mereka berdua pun akhirnya pergi ke kota untuk menikmati wisata yang ada. Rencananya Toz ingin mengajak Riz, tapi di kamar mereka tak ditemukan siapa pun. Akhirnya, di sinilah ia sekarang.
Di sebuah pasar bukit Kristal. Ada begitu banyak pedagang yang berjualan. Hiruk-pikuk suasananya begitu meriah, terlebih lagi dengan adanya kembang api di langit-langit. Cahaya kelap-kelipnya begitu indah, menggantikan bintang yang tak muncul ke permukaan.
Mata Toz yang fokus menatap langit-langit akhirnya teralihkan oleh aroma menggoda. “Apa itu?”
“Entahlah, ayo kita lihat.”
Keduanya pun mendekat, tampak stan yang didatangi menjual makanan diasapkan.
“Aah ...” wajah Reve langsung lesu. Sementara Toz terbelalak matanya hendak keluar dari sarangnya.
Di depan mereka, terpancar sate yang terbuat dari berbagai jenis mata dalam keadaan dibakar. Aromanya sangat menggoda, tapi wujudnya begitu mengerikan.
Toz serasa ingin muntah, tapi ia terpaksa menahan mulutnya dengan kedua tangan, karena mengingat itu adalah sajian yang diminati sampai begitu banyak pelanggan di sekelilingnya.
“Ayo kita pergi,” ajak Reve akhirnya. Walau tak memperlihatkan muka jijik, tapi makanan itu jelas bukan seleranya. “Dasar kanibal,” gumam pelan Reve tak jelas ditujukan pada siapa.
“Loh, Toz? Reve? Kalian di sini juga?” sebuah suara menyapanya. Kedua pemuda itu beralih menatap orang yang memanggilnya.
“Riz?! Kamu di sini juga?” tanya Toz dengan wajah senang.
“Ya, aku sedang menikmati hiburan di kota ini. Bagaimana dengan kalian?”
“Kami juga.”
“Kalau begitu, bagaimana jika kita pergi bersama-sama saja? Lebih ramai lebih seru bukan?” ajak Riz.
Mendengarnya membuat Toz berpaling ke arah Reve yang tampak tak acuh, lalu selanjutnya melirik ke arah tiga orang yang sedang bersama Riz. Mereka juga tampak tak peduli.
“I-itu ....”
“Bukan ide yang buruk,” ucap Rexcel akhirnya. Sepertinya ia menyadari tatapan Toz dan Riz yang sedikit canggung dengan mereka.
“Tidak masalahkan Horusca? Jika mereka ikut kita?”
“Mmm.”
“Kenapa kau hanya bertanya pada dia? Memangnya pendapatku tidak penting?!” gerutu Doxia.
“Tidak.”
“Sialan! Kau ingin kupotong lidahmu hah!”
“Diam kau bodoh!” ketus Rexcel. Sepertinya kedamaian takkan tercipta jika mereka berdua sudah bicara.
Akhirnya, Horusca pun mengambil langkah memilih jalan duluan meninggalkan mereka.
“Horusca! Tunggu! Kamu mau ke mana?” tanya Riz mengejarnya.
“Reve ayo!” ajak Toz untuk menyusul mereka. Sementara Rexcel dan Doxia dibiarkan tinggal begitu saja.
Di perjalanan, “oh ya Toz. Bagaimana perjalananmu begitu sampai di dunia ini?” tanya Riz.
“I-itu ... aku, bertemu dengan bangsa kurcaci dan tinggal bersama mereka.”
“Benarkah? Bangsa kurcaci? Seperti apa wujud mereka?”
“Seperti yang di hadapanmu,” sela Reve tiba-tiba.
“Duagh!” suara benturan.
“Aduh! Apa yang, ah! Maafkan aku,” ucap Riz membungkuk sopan. Sesosok makhluk setinggi dadanya dengan tanduk di kepala, taring dan mata besar seperti ingin melompat keluar beradu dengannya.
__ADS_1
“Tidak masalah,” ucap makhluk itu pergi meninggalkannya.
“Makhluk itu ...” Riz masih memandang ke belakang mengikuti jejak tubuh sosok yang menabraknya.
“Dialah kurcaci. Seperti yang dikatakan Reve,” sambung Toz.
“Jika kamu tahu aku hampir menabraknya, kenapa tidak beri tahu terlebih dahulu? Setidaknya aku bisa minggir kan?” oceh Riz pada Toz.
“Kau yang bodoh karena jalan tidak pakai mata.”
“Tentu saja tidak pakai mata! Karena aku jalan pakai kaki,” Riz menatap sebal Reve.
Toz pun tertawa mendengar ocehan Riz, sampai akhirnya langkah mereka terhenti karena Horusca yang berjalan di depan.
“Horusca? Ada apa?” tanya Riz padanya.
“Ada aroma yang tidak biasa.”
“Aroma?” Toz memandang heran.
“Aroma keputus asaan,” lirih Horusca berjalan ke arah pandangannya.
“Horusca?” panggil Riz.
“Ada apa?” Rexcel pun berhasil menyusul langkah mereka bersama Doxia.
“Itu ... Horusca,” tunjuk Riz.
“Ayo ke sana,” ajak Rexcel berjalan duluan.
“Hei! Tunggu!” cegat Doxia mengikutinya. Riz dan Toz saling memandang lalu juga melangkah ke arah yang sama diiringi Reve.
Bunyi keras dari teriakan seseorang terdengar jelas di sana, dengan hiruk-pikuk penonton yang melihatnya. Di antara celah yang ada, Horusca menelusup maju untuk bisa mengintip dari dekat. Begitu sampai, sebuah pemandangan sadis menari di depannya.
Di mana sesosok manusia sedang menghukum seseorang yang tampak seperti bawahannya.
“Apa-apaan itu?” ujar Riz dengan pandangan tak percaya.
“Penghukuman budak,” ucap Rexcel tiba-tiba.
“Penghukuman budak? Maksudnya?!”
“Dia adalah budak. Jika dihukum di tempat seperti ini, maka itu berarti dia sudah melakukan kesalahan yang fatal,” jelas Rexcel.
“Bagaimana bisa ada budak di dunia ini?” sela Toz tiba-tiba.
“Tentu saja ada. Siapa pun yang membuat kesalahan tak termaafkan sebelumnya, mereka bisa berakhir dengan hukuman perbudakan yang sudah disetujui bangsa-bangsa,” sambung Doxia yang berdiri di belakang mereka.
Aliran air mata menetes di pipinya, namun tak ada satu pun yang mau bersuara. Bagi mereka itu adalah tontonan yang wajar, dan pantas diterima budak tersebut.
Setiap detik rasa sakitnya semakin parah, akibat siksaan yang terus berdatangan. Kulit punggung pria itu melepuh karena air panas yang disiramkan tuannya. Tanpa sadar Riz mengepalkan tangan, menahan rasa kesal karena pemandangan di depannya. Sedikit banyaknya itu mengingatkan dirinya saat masih dibully di sekolah.
“Ki-kita harus membantunya,” lirih Toz tiba-tiba.
“Jangan bodoh, lihat kalung budak dan gelang pemiliknya itu. Mereka tak bisa diganggu karena ketentuan hukumnya sudah seperti itu,” timpal Doxia.
“Tapi, jika dibiarkan terus orang itu bisa mati.”
“Lalu? Itu tak ada hubungannya dengan kita. Apa kau ingin melanggar hukum dunia Guide? Para majikan berhak melakukan apa pun pada budak pendosanya. Dan itu tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, bahkan para pemimpin bangsa-bangsa,” tukas Doxia dengan nada jengkel.
Riz dan Toz langsung terbungkam mendengar ucapannya. Tak peduli apa pun hukum yang ada, batin mereka masih tak bisa menerima.
Tubuh Riz bergetar hebat, rasa amarah berkumpul di sudut hatinya. Sungguh, ia benar-benar tak tahan melihatnya.
“Ayo kita pergi!” ajak Doxia.
“Tapi!”
“Jangan ikut campur! Memangnya pecundang seperti kalian bisa apa? Patuhi saja hukum di dunia ini, maka kalian juga akan bahagia,” gerutu Doxia pada Toz.
Benar katanya, mereka tak bisa apa-apa, karena hubungan majikan dan budak sangat mutlak di sana.
“Dasar brengsek! Jika kau tak bisa, maka katakan saja! Jadi aku tak perlu membelimu dan membawamu ke sana kemari!” gerutu orang yang menyiksa budak itu.
“Lebih baik kau mati, daripada menyusahkanku seperti ini!” teriaknya sambil mencabut pedang. Ia menyayat kaki budak itu. “Sudah cukup! Aku muak dengan teriakanmu! Mati kau!” ia pun mengangkat pedang hendak menebas lehernya.
“Trang!” tiba-tiba, sebuah tameng berlapis cahaya emas menyelimuti budak itu sehingga pedang yang hendak menebasnya terpental.
“Brengsek! Keparat! Siapa itu! Beraninya menggangguku!” teriak orang yang dari tadi menyiksa budaknya.
“Oi-oi! Kau ...” Doxia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tangan Riz terulur ke depan, sambil diselimuti cahaya emas.
“Kau!” geram orang itu kesal. Deru napasnya naik-turun, karena eksekusi yang hendak dilakukan malah diganggu sosok tak terduga.
Orang-orang pun melirik ke arah Riz, memandang tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. “Riz,” Toz menatap lekatnya.
Ia tak menyangka jika Riz akan melakukan itu, tapi ia lebih kaget saat menyadari Riz sudah memiliki kekuatan yang seperti itu.
“Lepaskan dia!” ucap Riz tanpa peduli lagi sekelilingnya.
“Lepaskan dia? Apa yang kau gumamkan bocah?” orang itu menatap menyeringai ke arahnya.
__ADS_1
“Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?!” pekik Doxia. Sementara Rexcel, ia masih tak percaya dengan kenekatan Riz yang terlihat di depan mata.
“Dia sudah terluka, bagaimana bisa kau menyakitinya seperti itu? Membunuhnya? Memangnya dia apa? Dia juga makhluk hidup sepertimu!” teriak Riz dengan lantangnya. Sepertinya, nuraninya jauh lebih berfungsi dari otaknya.
“Apa kau bilang!”
“Sepertinya, dia sudah menarik talinya,” lirih Rexcel pada Doxia.
“Sialan! Ayo kita pergi! Jika ketahuan bersamanya, kita juga bisa ikutan bermasalah dengan hukum dunia Guide,” ketus Doxia.
“Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?!” orang tersebut lalu menendang budaknya hingga tersungkur dan berjalan ke arah Riz.
Hiruk-pikuk semakin memanas terlebih lagi Riz yang masih kukuh dengan sikap keadilannya. “Lepaskan dia!”
“Lepas? Kau pikir kau siapa mengatakan itu di depanku?!” orang itu memandang tajamnya. “Dia budakku, tak ada sangkut-pautnya denganmu!”
“Buaagh!” pukulan pun dilayangkan ke perut Riz sehingga ia terpental ke belakang.
“Aagh!” erang Riz kesakitan.
“Riz!” pekik Toz lalu menghampirinya. “Riz, kamu baik-baik saja?!” tanya Toz panik. Sedikit darah pun mengalir pelan di sudut bibir Riz akibat pukulan ia terima. “Riz, ada darah di bibirmu!”
“Buaagh! Aagh!” suara tendangan dan teriakan Riz pun berbunyi beriringan. Orang itu kembali melayangkan serangan ke perut Riz tanpa memberinya ampun.
“Hentikan! Aku mohon hentikan!” pinta Toz sambil menahan kaki orang itu agar tidak menyakiti Riz lagi.
“Minggir kau keparat!” ia pun melayangkan tendangan yang sama ke dada Toz sehingga bocah itu terpental.
“T-Toz!” panggil Riz penuh kesakitan. Tak ada satu pun yang mau menolong mereka.
Bahkan rekan yang tadi bersamanya hanya bisa diam saja. Karena bagaimanapun, orang itu memiliki perlindungan dari hukum dunia Guide mengingat status yang dimilikinya.
“Dasar! Berani-beraninya bocah sepertimu menggangguku?! Apa kau tahu apa yang sedang kau lakukan?! Kau sudah menggangguku saat sedang mendisiplinkan budakku!” Ia kembali melayangkan tendangan ke perut Riz sehingga pemuda itu muntah darah. Rasanya tulang dadanya remuk akibat tendangan keras orang tersebut.
“U-uugh, Riz ... Si-siapa pun tolong henti-kan,” ucap Toz terbata-bata.
Namun tak ada yang menanggapinya, mereka memilih diam menatapnya. Karena orang-orang tersebut sadar apa yang akan terjadi jika mereka ikut terlibat.
“Riz,” panggil Toz dengan wajah kecewa. Ia tak menyangka kalau orang-orang akan mengabaikan siksaan yang ia dan Riz terima. Tanpa Toz sadari, tendangan keras barusan ternyata mengenai tulang dadanya, sehingga ia pun juga ikut muntah darah.
“A-apa tak ada yang akan membantu kami?” gumam Toz beruraian air mata. Rasa sakit di dada menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi itu tak seberapa dengan apa yang dialami Riz saat ini. Ia babak belur tak berdaya, karena bagaimanapun orang yang menyiksanya adalah guider tingkat tinggi.
“Apa tak ada yang ingin menghentikannya? Bukankah ini sama dengan sebelumnya?” Toz terisak-isak. Siksaan di masa sekolah kembali membayanginya. Ini sama persis dengan sebelumnya, di mana ia tak bisa apa-apa dan Riz dihajar tanpa rasa kasihan yang tersisa.
“Mati kau! Mati kau! Mati kau!” teriak orang itu menendang Riz berkali-kali. “Inilah hukuman untuk makhluk sok pahlawan seperti dirimu!” teriak orang tersebut sambil menyeringai mengerikan. Guratan senyum kadang tertoreh di sana karena ia sangat menikmati penyiksaan yang dilakukannya.
“Wussh!” suara ayunan pedang tiba-tiba mengarah ke lehernya dan berhenti tepat sebelum menghunusnya.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau juga ingin bersikap sok pahlawan?” tanya orang itu pada sosok yang mengarahkan pedang ke lehernya.
“Hentikan, kau sudah keterlaluan,” ucap Reve tanpa keraguan.
Orang itu pun terkekeh, “apa kau tahu, apa yang akan terjadi pada mereka yang mengganggu hukum antara majikan dan budaknya?”
Reve mengedarkan pandangannya. Ia memutar bola matanya sekilas sebelum kembali menatap pria itu. “Memangnya aku peduli, jauhkan kakimu darinya.”
“Sepertinya kau juga ingin dihukum,” seringai orang itu sambil meregangkan jari-jari tangannya.
“Reve,” gumam pelan Toz begitu melihatnya.
Sementara Riz, hanya bisa menatap sayu pada sosok yang baru saja menyelamatkannya. Tak ada kata yang keluar, karena rasa sakit sudah menyelimuti seluruh tubuhnya.
“Aku tak ingin terlibat, tapi jika kau bersikeras, maka aku takkan menahan diri,” kilah Toz menarik pedang dari arah leher orang tersebut.
“Dasar bocah sombong! Mati ka-”
Suara teriakan tiba-tiba memecah suasana. Orang itu tersentak kaget sebelum sempat melayangkan tinju ke arah Reve yang menatap tenangnya. “Ada apa ini?” tanya seseorang dengan ekspresi dingin yang menusuk.
“Ya-yang mulia!” ucap orang itu sambil membungkuk hormat. Tak hanya dirinya, bahkan beberapa orang yang mengetahui sosoknya juga ikut membungkuk hormat.
“Ada apa ini?”
“Yang Mulia, maafkan saya. Saya tak bermaksud mengganggu jalannnya Yang Mulia, tapi saya terpaksa, karena sedang mendisiplinkan budak saya dan anak-anak ini mengganggunya,” jelas orang itu pada gadis tersebut.
“Mengganggu hukum Guide antara budak dan majikan?” tanya wanita itu dengan suara menekan.
“Sepertinya mereka calon guider dari dunia manusia, sehingga masih tidak tahu tentang hukum di dunia Guide. Bagaimana jika tak perlu diperpanjang lagi? Lagi pula ini juga bukan yang pertama kalinya,” timpal seseorang di sebelah wanita itu.
“Tapi Yang Mulia! Orang ini bahkan mengarahkan pedangnya padaku!” tentang orang itu sambil menunjuk ke arah Reve.
“Dia, wajah itu. Kamu, bukannya kamu pemenang sayembara?” Bleria kembali mengingat-ingat wajah Reve.
“Pemenang sayembara?!” timpal orang-orang di sekeliling mereka.
“Benar juga! Itu dia, sang pemenang yang menghilang entah ke mana. Bagaimana bisa kau ada di sini? Menimbulkan kehebohan yang mencolok begini, benar-benar anak yang luar biasa ya,” tukas Hea sambil turun dari kudanya.
“Reve,” Toz menjadi cemas dengan keadaan sekelilingnya. Padahal besok Reve sudah harus pergi untuk mengejar tujuannya, tapi sekarang ia terlibat masalah akibat dirinya dan Riz.
“Kamu mengarahkan pedang pada orang yang dilindungi hukum dunia Guide? Apa kamu tahu bayaran dari tindakan yang kamu lakukan?”
Reve menyipitkan matanya. “Ya, dia sudah melukai rekanku. Tentu saja aku harus membayar harganya,” jelas Reve sambil tersenyum sinis padanya.
__ADS_1