
Perlahan namun pasti, Riz memalingkan muka. Matanya memerah seolah menahan tangis. Tanpa ia sadari mereka sekarang sedang berada di atas langit.
“Tolong, lakukan sesuatu,” gumamnya tiba-tiba. Ra hanya melirik lewat sudut mata, dengan posisi tetap rebahan. “Aku mohon, tolong hentikan pertarungan ini. A-aku, tak sanggup lagi melihat darah yang berserakan di depanku. Aku mohon,” ucapnya terisak-isak.
Hening berkumandang dari sang Dewa. Tatapannya menyapu segala sesuatu di atas sana. Sekarang sedang siang, dengan rentangan langit biru yang luas namun hanya satu awan berlalu lalang. Dan itu adalah awan yang sedang dinaikinya.
“Senka porta (gerbang bayangan)” lirih Ra tiba-tiba.
Embusan angin kasar menerpa mereka. Membuat Riz Alea terperangah jadinya. Terlebih nuansa di depan mata tak lagi sama. Selain sebuah pertarungan mengerikan yang disajikan orang asing di depannya.
“Kenapa kau melakukan ini?” seorang pria berbicara. Rambutnya ikal gelap hampir mencapai paha. Ada mahkota mirip sulur di dahi, berhiaskan batu zamrud sebagai pesona.
Dan di hadapannya, berdiri dua sosok yang masih sangat muda. Lelaki berambut hitam panjang namun ujungnya memutih. Sementara seorang lagi, berambut pirang ikal dengan menggenggam petir di tangan.
“Kenapa?” ulangnya kembali. “Kenapa Zeus? Kenapa kau ingin menghancurkanku? Dan kau Apophis, kenapa kau setega ini padaku?” tanyanya dengan suara bergetar.
Tiba-tiba air mata menetes dari sosok berambut hitam panjang. Ia menjatuhkan dirinya seolah bersimpuh di depan pembicara. Tapi tangannya mencengkeram tanah di pijakan, sampai-sampai energi hitam yang Riz yakini mirip dengan milik Hydragel Kers muncul di sana.
“Maafkan aku, Kronos.”
Sementara Zeus hanya tersenyum tipis. Perlahan tangannya menyentuh bahu Dewa di sampingnya, dan melirihkan kata tak terduga.
“Ini akan menjadi akhirmu, Yang Termulia.”
Kronos diam. Matanya menyipit namun memandang tajam. Dengan tubuh gemetar di angkatnya tangan kanan. Diarahkan tepat pada dua Dewa muda di depannya.
“Aku mengutukmu, Zeus. Aku mengutukmu, jika kau berhasil mengambil tahtaku!” hardiknya tiba-tiba. Dan lirikan matanya pun berlanjut kepada rupa lainnya. “Kita Termulia, kita pemimpin tiga belas singgasana, namun kau tega mengarahkan kegelapanmu padaku. Tidak, pada kami semua. Kau lebih memilih menusukku hanya karena aku menghukum pemujamu! Kekuatanmu memang bencana, tapi kau tak ubahnya seperti mereka. Aku menyesal menghormatimu, Apophis. Aku menyesal karena mengakuimu saudara Termuliaku!” pekiknya lantang sampai-sampai hembusan angin kasar menghantam sosok muda yang menjadi lawan.
“Ayo,” ajak Zeus tiba-tiba dan mengangkat tangan yang memegang petir.
Akan tetapi, semua kejadian itu lenyap seketika. Riz terkesiap, saat mendapati pemandangan atas langit di sekitarnya.
“T-tunggu! Apa yang terjadi? Aku belum selesai melihatnya!” pekiknya dan menoleh ke arah Ra.
Tapi, Dewa berkulit kuning langsat itu masih saja tampak seperti pemalas. Tak tahu kenapa, sosoknya seperti kehilangan arah.
“Itu masa lalu. Masa lalu keji yang dilakukan para Dewa. Walau menyaksikan semuanya, tapi sisi gelap ikut menyelimuti kami semua. Dan beberapa yang sadar dengan posisinya menginginkan pemulihan.”
__ADS_1
Riz terdiam. Jujur ia tak paham dan otaknya enggan mengerti ucapan. Terlebih kejadian tadi masih membuatnya penasaran.
“Orfeus berkata, kalau suatu saat dunia Guide akan dilanda bencana. Pertarungan para Dewa, juga konflik mengerikan di dunia Guide yang berkaitan dengan Yggdrasil. Aku tak percaya dulunya, sampai akhirnya semua ini benar-benar terjadi.”
Sang pemuda manusia mengernyitkan dahi mendengar kalimatnya. Jujur saja, entah apa yang ingin dilirihkan Ra tapi tersirat jelas kesedihan di sana. Juga sebuah rasa kecewa di balik wajahnya.
“Dan karena ucapannya itu, semua utusan langit juga daratan memilih seseorang untuk memegang kunci dunia. Sosok tak tercemar tak peduli apa pun menimpa. Sosok dengan nurani menyala bahkan jika godaan dan air mata memenuhi hatinya. Sosok yang menjadi juru kunci, jika kehancuran para makhluk mulai terjadi.”
Ia pun bangkit dari rebahan dan menoleh pada Riz Alea.
“Kembalilah, lihat semuanya. Lihat bagaimana hasil pertempuran itu. Dan temukan jawabannya, hasil apa yang kau ingin untuk dilakukan. Kami menunggumu, menunggu keputusanmu. Karena bagaimanapun kamulah sang pemegang kunci itu. Wahai garis keturunan mulia manusia, kami menantikan kebijaksanaanmu,” ucapnya tiba-tiba dan menyentuh wajah sang pemuda. “Kami semua bertaruh padamu.”
Selesai mengatakan itu, tubuh Riz pun bercahaya. Diiringi teriakan tak terduga yang menyebut namanya.
Bersamaan dengan itu, percikan darah juga menghiasi wajahnya. Di mana dua sosok yang sangat berarti baginya tertusuk tepat di depan mata akibat melindunginya.
Toz Nidiel juga Ellio.
Riz terbungkam.
Tak tahu apa-apa, tapi kedua pemuda itu sedang memeluknya. Dan punggung mereka dihiasi akar-akar Yggdrasil yang menghujamnya.
“Kenapa baru sadar? Kau hampir saja mati, Riz,” ia pun terkekeh pelan.
Rasanya tak dapat dilukiskan. Sesak memenuhi keadaan, terlebih lagi banyak para guider hebat sedang dililit dahan juga akar Yggdrasil.
Semua karena ulah Helga Nevaeh yang berwujud siluman dewa, dalam menghadapi Raja Hydra dengan penampakan Termulia. Dia pun mengerahkan kemampuan terlarang pohon kehidupan itu untuk menghisap guider di sana termasuk para Raja muda dan petinggi lainnya.
Sekarang yang tersisa dan masih berdiri kokoh di tanah gyges hanyalah Apophis yang menjadi lawan Helga, Reygan Cottia, Leduo Perseus, Dewa Ares, Seth atau Lascarzio, Riz, Toz, Ellio, dan juga Reve Nel Keres.
Andai Lascarzio tidak melepaskan kemampuan tertingginya, bisa dipastikan Riz dan teman-teman lainnya akan mati.
Tapi menyedihkannya, dirinya gagal menyelamatkan rekan-rekan lainnya. Mengingat mereka guider berkemampuan tingkat tinggi, membuat dahan juga akar Yggdrasil lebih menggila mengejarnya. Sehingga semuanya pun menjadi santapan lezat untuk pohon gila yang dikendalikan Helga.
Namun, apa yang di dapati Riz setelah sadar justru menyedihkan.
“Toz!” pekik Riz karena temannya itu melepaskan pelukan dan jatuh terduduk tiba-tiba.
__ADS_1
Sementara Reve yang tadinya berhadapan dengan Reygan terdiam sekarang. Menatap lekat ke arah teman-temannya, diiringi perasaan aneh memenuhi dada.
“Toz! Ellio! Apa yang terjadi?!” Riz terisak-isak. “K-kenapa jadi begini?!” aliran air matanya begitu deras. Dipegangnya tangan mereka, terlihat darah mengalir membasahi pijakan dari tubuh keduanya.
“Jangan menangis, Riz. C-cepatlah lari,” suruh Ellio tiba-tiba.
“Apa maksudmu?! Kalian sedang seperti ini! Tidak, tunggu! Dokter! Dokter! Horusca! T-tolong obati mere—” kalimatnya mendadak terpotong, setelah mendapati kengerian di depan mata. Di mana sosok yang dicari juga dililit dan dihujam Yggdrasil.
Mengerikan wujudnya, mirip seperti Aza Ergo yang tubuhnya koyak tak jauh darinya.
Ini neraka. Ini mimpi buruk untuk seorang anak manusia. Dia yang tak tahu apa-apa namun dihantam kengerian tiba-tiba. Tanpa sempat mencari tahu keadaan, justru kesedihan langsung menusuknya.
“R-Riz,” panggil Toz. Suaranya lemah dan terdengar deru napas yang berjarak. Akan tetapi, genggaman tangannya begitu erat pada teman baiknya. “J-jika aku mati, jika kamu diberi kesempatan untuk pergi, bisakah sampaikan pesan ini pada orang tuaku?” tangisannya pun tercerai-berai di sudut mata. “T-tolong katakan maafku, karena tak bisa pulang kembali.”
“J-jangan, aku mohon,” Riz semakin menunduk dan menarik tangan Toz untuk beradu dengan wajahnya. “A-aku mohon, tolong jangan katakan itu. Kita akan kembali, kita akan kembali ke dunia manusia dalam keadaan baik-baik saja.”
Akan tetapi tak ada balasan dari temannya. Hening yang di dapati membuat Riz menatap lekat wajah Toz. Mata berkaca-kaca, namun hilangnya sorotan kehidupan terpancar di sana.
Dan suara Ellio yang bergetar berhasil membuyarkan syok sang pemuda.
“Maafkan aku untuk semuanya, Riz.”
Genggamannya mendadak terlepas. Sama seperti Toz, sinar kehidupan tak lagi terlukis di mata Ellio. Tubuh mereka yang abu-abu, juga darah membasahi tanah menjadi saksi dari kematian keduanya.
Reve yang berdiri jauh dari sana pun perlahan mulai mengepal erat tangan. Sorotannya ikut memerah menyanyikan kehilangan di hatinya.
Tapi tiba-tiba, kalimat Reygan tanpa ampun merobek pendengaran.
“Mati juga. Sayang sekali masih ada yang tersisa ya?”
Pemuda berdarah phoenix itu pun melirik tajam. Guratan emosi tercetak jelas di rupa, menandakan kalau sosoknya benar-benar ingin mengoyak mulut sang penyimpang yang berbicara.
“Kau—” tekannya.
Sementara Riz Alea terdiam di posisinya. Walau kristal bening berjatuhan, bisikan aneh merasuk ke perasaan. Mencoba memeluk hati agar meneriakkan keadaan.
“Kami bertaruh padamu, wahai keturunan mulia manusia.”
__ADS_1