Death Game

Death Game
Kawasan terlarang


__ADS_3

“Kau—” geram Doxia.


Toz yang tak habis pikir dengan kalimat Aza pun menoleh ke arah Reve. Pemuda santai. Sibuk mengelus kepala ularnya yang meliuk-liuk mengeluarkan lidah. Tapi, tak lama kemudian pandangan mereka bertemu dan laki-laki bermata biru malah tersenyum.


Aza lalu mengeluarkan pedang magmanya, menyayat tangan sehingga meneteskan darah. “Nigel (muncullah)” dan darah yang berjatuhan perlahan bergerak sendiri membentuk gelembung sebesar telapak tangan. Sampai akhirnya pecah memunculkan beberapa sosok burung gagak berwarna merah.


“I-itu!” pekik Rexcel menyadari hewan pembawa informasi di depannya.


“Masing-masing dari kalian silakan ambil gagak itu. Di dalamnya ada informasi tempat persembunyian dan juga orang-orang yang menjadi bawahanku. Sehingga kalian takkan kesusahan berkeliaran di dunia ini.”


Orang-orang itu terdiam.


“Begitu keluar dari sini, kita akan terpisah. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi,” tukas sang petinggi empusa dengan santainya.


Ucapan yang dilirihkan dengan mudahnya, benar-benar memberikan tekanan untuk beberapa pendengarnya.


“Tapi aku akan tetap ikut denganmu,” sahut Rexcel tiba-tiba.


“Kau tidak mengerti apa yang kukatakan?” Aza Ergo terkekeh pelan.


“Aku tahu. Kau pernah menceritakannya, tentang tujuanmu yang berbahaya itu. Tapi, aku juga tahu balas budi. Dari awal saat aku menerima gulungan, sudah kuputuskan untuk bekerja sama denganmu. Karena itu biarkan aku tetap pergi.”


“Terserahlah.”


“Aku juga!” sela Riz tiba-tiba. “Aku tahu jika anda dan Reve tidak ingin kami dalam bahaya karena mengikuti keinginan kalian. Tapi bukankah sebagai teman, jika ada yang meminta bantuan harus ditolong? Anda memohon padaku untuk menjadi pelindung di tim impianmu. Karena itu biarkan aku melakukannya. Aku akan berusaha lebih keras agar bisa menjadi kuat di samping kalian.”


Sejujurnya, saat malam Reve mengatakan itu pada Aza, Riz tidak tidur. Posisinya dekat dengan balkon makanya dirinya bisa mendengar semuanya.


“Keras kepala,” umpat Reve akhirnya.


Riz tersenyum mendengarnya. “Benar, bukankah itu artinya teman?” timpal Toz dengan senyum cerahnya.


Aza mengangkat sebelah alisnya. “Aku bahkan tak ingat pernah berteman dengan kalian. Sudahlah, bicara dengan kalian hanya membuatku semakin sakit kepala. Ayo jalan,” ajaknya sambil berekspresi jengkel.


Orang-orang yang diharapkan untuk keluar dari timnya justru tersenyum senang. Mungkin benar, jika tujuan masing-masingnya dipenuhi tanah terjal dan sangat berbahaya. Tapi, ikatan yang tercipta karena kebersamaan itu bukanlah suatu kebohongan.


Merasa terbiasa dan sudah melakukan pertarungan yang mempertaruhkan nyawa. Setidaknya, sedikit banyaknya hati mereka merasa yakin kalau bersama dan saling bergantung adalah keputusan terbaik untuk semua daripada sendirian.


Kelompok Aza Ergo pun berpamitan pada pemimpin kota Lagarise. Izakiel tersenyum mengantarkan kepergian mereka di depan pintu keluar rumah hitam.


“Semoga perjalanan kalian selanjutnya diberkahi para Dewa.”


Beberapa orang yang punya sopan santun menunduk mendengarnya. Siapa lagi kalau bukan Riz, Toz, Osmo, dan Rexcel. Sementara sisanya hanya memamerkan tampang seenak hatinya.

__ADS_1


“Tenang saja. Aku akan tutup mulut, semoga perjalananmu menyenangkan, Nak,” lirih pelan sang pengendali serbuk besi.


Reve Nel Keres pun memandang datarnya sekilas lalu mengedarkan penglihatannya. Mereka bahkan berpapasan dengan Redena dan Caprio.


“Baguslah. Orang gila itu pergi juga. Jujur aku sudah tidak sanggup menahan jengkelku melihat tampangnya,” gerutu wanita yang menatap masam petinggi sebangsanya.


Aza hanya tersenyum sinis mendengarkan, memilih berlalu dengan santainya. Sampai akhirnya pijakan mereka pun melewati Izanami yang memandang dingin semuanya.


“Kau akan menyesal jika tetap melanjutkan ini,” bisiknya pada Reve Nel Keres. Tapi, tiba-tiba Aza merangkul sang pemuda ular dan menyeringai pada pengendali darah yang dilewati mereka.


Seketika, jantung Izanami seolah tersentak kaget menatap ekspresi sang petinggi muda. Di balik guratan bibir yang dipamerkan, sebuah kalimat tak bersuara tercetus juga di sana.


Beberapa kata, telah menggetarkan raga mantan petinggi tradio begitu mengetahui artinya di balik gestur bibir yang ditatapnya. Sorot matanya pun menajam mengikuti punggung Aza dan komplotannya.


Perjalanan panjang pun ditempuh mereka, di mana Aza dan Horusca berjalan paling depan sementara Rexcel dan Osmo paling belakang. Sesekali berhenti untuk beristirahat. Sekarang, pijakan mereka sampai di hutan dengan pepohonan yang ditutupi lumut sepenuhnya.


Menyemburkan bau aneh seperti kayu bakar. Langit-langit hampir tertutup sepenuhnya, oleh semaknya tumbuhan besar yang saling berdekatan. Untung saja, cahaya dua bulan membantu langkah pijakan mereka.


“Kita sudah di mana?”


“Perbatasan menuju bibir kawasan terlarang.”


“Hah?!” pekik kaget Doxia dan Rexcel bersamaan.


“Ya, tujuan kita memang ada di sana. Di bagian terdalamnya.”


“Bukankah guider dilarang memasuki kawasan terlarang jika tidak ada izin dari Raja?”


Aza pun tersenyum dan melirik Rexcel. “Tapi aku punya izinnya. Ayo, jangan buang-buang waktu. Aku sangat lelah,” sambil tertawa pelan.


Reve hanya diam memperhatikan Aza. Jujur ia juga bingung kenapa harus ke sini. Sedikit penasaran, ulah apa yang dilakukan bangsa empusa sampai pimpinan hydra mengutus Aza Ergo untuk menanganinya.


Entah sudah berapa lama mereka berjalan, kaki Toz mulai kehilangan tenaga. Tiba-tiba di dekatinya sang elftraz (penyembuh) yang ada di depannya. “Mm, Horusca,” panggilnya karena pemuda itu sebaya dengannya. “Apa jurus tanamanmu tidak bisa membuat kita meluncur dengan cepat ke sana?”


“Tidak. Itu buang-buang tenaga dan mengundang musuh,” jelasnya singkat.


“Ah,” Toz pun tersenyum kikuk mendengarnya. Sampai akhirnya langkah mereka berhenti karena Aza Ergo berbalik tiba-tiba.


“Ada apa?” tanya Reve.


“Kita akan beristirahat di sini.”


“Benarkah? Kenapa tidak di sana saja? Tanah lapang itu tampak nyaman,” tunjuk Doxia ke bawah. Ke tempat yang tidak begitu jauh dari posisi tebing mereka berdiri.

__ADS_1


“Lebih baik di sini. Di sana bibir kawasan terlarang. Kecuali kau ingin tidurmu terganggu silakan saja,” tatapnya remeh.


“Cih, kalau begitu di sini saja,” setuju Doxia lalu menyandarkan tubuhnya ke salah satu pohon besar. “Aish! Batangnya berlumut dan lengket di baju!” gerutunya lalu mengusap-usap kasar pakaiannya.


Lainnya pun tertawa melihatnya. Tapi berbeda dengan Aza Ergo. Sorot matanya, memandang tenang kawasan terlarang yang dipenuhi pohon-pohon berhias daun merah. Tanahnya ditumbuhi rerumputan dan tampak nyaman untuk ditiduri.


Tapi, tak ada satu pun tahu apa yang ada di dalam sana kecuali sebuah kuil Dewa Susanoo di bagian penghabisannya.


Sebuah tempat dan kawasan yang tak boleh di datangi tanpa izin pimpinan bangsa-bangsa. Lokasi suci, dengan rahasia terpendam di dalamnya serta hanya beberapa orang tahu itu apa.


Jadi, kenapa beberapa sosok dari empusa menapaki kawasan terlarang itu? Aza Ergo mulai menyeringai menatap tempat yang sebentar lagi akan dihampirinya.


Perlahan, terik pagi menyapa. Beberapa mata yang masih dilanda lelap enggan bangun dari tidurnya. Inilah saat di mana langit malam tergantikan dengan cerahnya. Namun, tentu saja semua pesona masih diterangi dua bulan karena tak adanya matahari di sana.


“Mm? Aroma apa ini?” Toz menggeliat. Bau yang begitu wangi dan menggugah selera. Dirinya pun mendapati perbekalan berupa roti dibakar di atas unggun dengan Osmo serta Horusca sebagai pelakunya.


“Sudah bangun?” Osmo menyodorkan roti bakar itu padanya.


“Terima kasih. Tapi mana yang lain?”


“Aza ke bawah, sementara sisanya mencari perbekalan ke ujung sana,” tunjuk Horusca ke sampingnya.


“Tuan Aza ke bawah? Apa tak sebaiknya kita juga mengikutinya?”


“Dia bilang kita di sini saja. Mungkin dia sedang mencari pintu masuk.”


“Mencari pintu masuk?” Toz tak paham.


“Ya. Kudengar kawasan ini tak bisa dimasuki jika kita tak tahu di mana gerbangnya.”


“Benarkah?”


Horusca mengangguk dan Toz pun menurunkan pandangan ke bibir kawasan terlarang. Tak berapa lama kemudian, Reve dan yang lainnya pun datang.


“Apa ini? Si petinggi sialan masih belum balik? Jangan-jangan dia pergi duluan,” oceh Doxia.


“Siapa yang kau sebut petinggi sialan?” tiba-tiba Aza Ergo muncul di belakang mereka dan mengejutkan semuanya karena hawa kehadirannya yang tidak terasa.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2