
“Qatil!” Ilhan berhasil membebaskan dirinya dari serangan Ivailo Stoyan dan memburunya.
“Bukankah sudah kukatakan kalau aku lawanmu?!” petinggi manusia itu juga tampak gigih dalam menghentikannya.
“Ugh!” geram scodeaz (pengendali) tipe serigala itu. “Kau!”
“Maskasia evepadra (Tanah kematian)” gumaman Asus Sevka pun berhasil menyentak mereka. Terlebih lagi permukaan tanah berubah strukturnya dan tampak bahaya bagi beberapa orang.
“Melompat!” Ivailo memperingatkan.
Qatil yang terkesiap pun berusaha melompat ke pohon. Tapi, dia dikejutkan dengan kehadiran tiba-tiba yang ingin membunuhnya.
“Hampir saja,” seringai Mosia sambil melirik Logan yang menatap murka.
“Yang Mulia!” kaget laki-laki pemakai pedang itu.
“Hati-hati Qatil. Sepertinya, dracula itu sangat ingin membunuhmu.”
Sementara beberapa ghoul yang masih bertebaran dan menyerang Reoa serta Libra tanpa ampun pun berhasil ditenggelamkan oleh Asus Sevka.
“Kerja sama yang menarik,” Mosia tampak tersenyum remeh pada lawannya.
Dan di dalam kuil Dewa Nagagini yang gelap, para penyusupnya berhasil menemukan obor. Arigan pun membakarnya, sebagai penerangan di mata. Sampai akhirnya apinya menjalar ke seluruh lantai dan mengejutkan mereka.
Pemandangan yang tak terduga telah menyambutnya.
Dinding di ujung penglihatan, terbakar sepenuhnya. Tapi di balik itu semua, di depan mata mereka sebuah altar besar sudah menanti kedatangannya.
Dengan salib di tengah-tengah meja batu. Dihiasi tengkorak berjubah mewah yang terikat di sana.
Anehnya, aroma melati begitu pekat baunya. Lebih parah dibandingkan yang ada di luar kuil. Lukisan berupa wanita berbadan ular dengan trisula di tangan kiri serta kalung di tangan kanan tergambar di langit-langit batu yang ada.
Begitu jelas, terlebih lagi dua batu ruby sebagai penghias di matanya.
Thertera dan Arigan sama-sama menengadah, sampai akhirnya keduanya bertemu pandang namun memancarkan ekspresi yang berbeda.
Sang murid Hadesia dengan rupa tenangnya, sementara sosok dari siren itu menampilkan tampang ramahnya.
Dan sebuah suara, memudarkan fokus masing-masingnya.
“Lama sekali. Sepertinya ada pertarungan di luar sana.”
“Anda saja yang datang terlalu cepat,” Arigan menyindirnya.
“Mana Mosia?”
“Dia masih di depan.”
“Kita perlu darahnya.”
Arigan yang menjadi lawan bicara orang asing itu pun menghela napas pelan. “Ini tidak akan mudah. Karena lawannya petinggi berbahaya.”
“Zargion,” dan semua yang berada di sana pun menoleh ke arah sosok pemanggil itu. “Buka gerbang ketiga, biarkan ghoul memakan mereka.”
__ADS_1
Zeril pun terkesiap. “Yang Mulia, apa anda yakin? Itu berarti, mereka semua akan mati.”
“Tidak masalah. Demi Tuan kita, pengorbanan seperti itu memang harus terjadi.”
Mendengarnya sungguh membuat hati Zeril Septor terluka. Karena itu berarti, anaknya pasti akan mati oleh ghoul yang akan dibangkitkan rekan-rekannya.
“Kita sudah sejauh ini, Tuan. Apa anda sedang memikirkan keluarga?” Arigan mengagetkannya.
“Terserah kalian saja,” dan Zeril pun memilih membuang muka lalu mengitari kuil Dewa.
Lain halnya Thertera, dia hanya diam saja. Memperhatikan Zargion Elgo mengucapkan mantra tak bersuara untuk membuka gerbang ghoul garis ketiga. Di mana itu berarti, ghoul yang akan dibangkitkan jelas berbeda levelnya.
Hasil perjanjian dengan Raja Ghoul di dunia bawah, sehingga beberapa orang bisa memanggil bawahannya.
Tentunya, Hellbertha yang sudah tiada, Zargion Elgo serta Mosia juga bisa melakukannya. Karena dalam kubu pengkhianat, ada lima orang yang memegang terompet keong hitam termasuk mereka.
“Yang Mulia?” Qatil menyadari perubahan ekspresi wanita itu.
“Sudah berakhir.”
“Apa?”
“Ivailo!” panggil Mosia.
Dan sepertinya, petinggi manusia itu paham akan makna yang ingin disampaikan wanita hydra tersebut kepadanya. Sontak saja ia bacakan sebuah mantra, begitu mengejutkan Ilhan karena dia penah mendengarnya sebelumnya.
Seperti dugaannya. Api besar dimuntahkan Ivailo Stoyan dari mulutnya dan menari di udara. Seperti membentuk wujud ular raksasa, membakar pohon-pohon di sekitarnya akibat panas yang dirasa.
“Pengalihan? Jangan pikir aku akan tertipu!” Logan mengeluarkan aliran petir dari tubuhnya.
“Dia! Masuklah duluan Qatil!” perintah Mosia.
“Tapi Yang Mulia!”
“Cepat!”
Akhirnya laki-laki itu pun lari ke arah Ivailo yang berdiri tak jauh dari gerbang.
“Jangan pikir kau bisa pergi setelah apa yang terjadi!” Ilhan pun berubah menjadi serigala.
Tapi Mosia berhasil menghentikan perubahannya dengan mendekatinya tiba-tiba. “Selamat tinggal, Nak!”
Sebuah jarum panjang pun ia keluarkan dari dalam mulutnya.
“Awas!” teriak seseorang menghentikan serangan wanita itu dengan sigapnya. Ayunan pedang terselubungnya yang beradu dengan jarum milik Mosia pun berhasil membuat sosok dari hydra terpukul mundur beberapa langkah.
Syok, tentu saja. Terlebih kehadiran tiga orang baru itu benar-benar mengejutkan semua penontonnya.
“Hanzo!” Ilhan menyapanya.
Tapi, raut wajah ketua kelompok pertama itu berubah setelah melihat seseorang tergeletak tak bernyawa di kanan dirinya. Berjarak sekitar enam meter dan dia tahu siapa sosoknya.
“Itu—”
__ADS_1
“Rekan kalian,” timpal Mosia tiba-tiba.
Dan rahang tiga pendatang itu pun menegang mendengar ucapannya.
“Kau!”
“Huldra!” Estes berlari mendekatinya. Tapi, apa yang ia dapatkan benar-benar pemandangan mengerikan. Sosok dari siren telah meregang nyawa dengan area perut sampai kepala terbelah menjadi dua.
Tentu saja, dirinya tak bisa menerima kenyataan yang ada.
Bahkan mungkin bukan hanya sosoknya. Tapi para petinggi lain juga memendam amarah di dada.
Terlebih Asus Sevka dan Ilhan Leandro. Karena bagaimanapun, Huldra merupakan anggota kelompok lima sekaligus rekannya. Keduanya, benar-benar tidak bisa menyembunyikan ekspresi murka di rupa akibat kehilangan yang mendera.
Tapi, ghoul-ghoul yang terus bangkit dari tanah itu hancur lagi akibat serangan petinggi kurcaci.
Jelas sekali ke mana tujuan monster pemakan makhluk hidup itu di mata mereka. Sang elftraz (penyembuh) dan juga tankzeas (pelindung). Reoa Attia, Estes, serta Huldra yang telah tiada, ditambah lagi Libra Septor, keempat orang itulah incaran para ghoul sekarang.
Entah apa maksudnya, tapi keempat orang itu memang memiliki kemampuan pendukung terbesar dalam pertarungan para guider yang menjadi rekan-rekannya.
“Tak kusangka kita bisa pergi. Apa kalian lihat tampang guruku? Dia seperti ingin memakan diriku.”
“Apa kau sadar sudah berapa kali kau mengatakan itu? Aku jadi muak mendengarnya,” sela Rexcel pada Doxia.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju Kawasan Terlarang. Di mana Kuil Nagagini berada sekarang.
Tapi, Horusca tiba-tiba menoleh ke kanan dan di sadari oleh Aza dan Reve.
“Ada apa?” tanya petinggi empusa.
“Sepertinya, bukan hanya kita yang mengarah ke sana.”
“Tentu saja. Kan ada dua kelompok lagi yang tujuannya sama dengan kita.”
“Apa kami akan baik-baik saja?” Aza pun tersenyum mendengar pertanyaan Horusca. “Bagaimanapun perburuan yang akan kalian lakukan berhubungan dengan nyawa.”
“Apa kau takut mati?”
Tak ada jawaban dari Horusca. Kecuali dia memilih mengedarkan pandangan sekilas sebelum melihat kembali rupa petinggi muda di sebelahnya. “Apa kamu tidak takut mati?”
“Aku lebih takut jika kehilangan jati diri.”
Dan Toz yang ikut mendengar pernyataan Aza, cukup terkejut dibuatnya. Karena jawaban sang pengendali magma, benar-benar di luar bayangannya.
Mengerikan.
Pemandangan di depan kuil Nagagini sungguh mengejutkan. Logan Centrio, terluka parah akibat serangan dari tiga orang yang mengeroyok dirinya.
Qatil, Arigan Arentio dan juga Thertera. Zeril Septor bersama Ivailo menyerang sisanya. Dan terlebih parahnya lagi, Zargion Elgo yang memegang kunci pemanggilan ghoul juga tiada ampun dalam mengundang pasukannya.
Monster mengerikan itu, begitu banyak jumlahnya dan membuat kubu petinggi benar-benar kewalahan. Andai Libra serta para elftraz (penyembuh) tidak siap sedia, bisa dipastikan anggota mereka sudah tamat dalam serangan yang membabi buta.
__ADS_1