
Sungguh semuanya dibuat bingung sekarang. Karena Blerda Sirena, jelas-jelas memancing dendam yang mereka punya pada bangsa masing-masingnya. Tak tahu kenapa gadis itu bisa mengetahui latar belakang murid-murid yang tersisa.
Tapi satu hal yang pasti, kalau melihat keyakinan gadis itu mungkin saja dia berencana melakukan hal tak terduga di masa depan mereka.
“Jadi apa rencanamu?” Kers akhirnya bersuara.
Revtel pun tersentak mendengar pertanyaan adiknya. “Kers, kamu—”
“Kita tidak punya pilihan, Revtel. Dua kakak sialanmu itu sudah mati. Jika kita tak bisa jadi Raja atau petinggi, nasib selanjutnya hanya eksekusi. Ratu jelas akan balas dendam mengingat hanya kita yang selamat dari Hadesia. Jangan lupakan insiden terakhir di mana kau dan aku sudah tak ada artinya di hydra.”
Tertohok rasanya. Karena semua yang dikatakan Kers ada benarnya. Revtel pun mengepal erat tangannya, karena tak tahu lagi harus mengatakan apa-apa.
“Tak perlu cemas. Karena kita, akan baik-baik saja setelah keluar dari sini,” tukas Blerda dengan penuh keyakinan. Perlahan dirinya berlalu dari sana. Mengambil sebuah wadah kristal yang memang ada di dalam asrama. “Bisa pinjamkan aku pisau itu? Lascarzio,” pintanya.
Tanpa keraguan pemuda eksotis pun menyodorkannya. Sampai akhirnya Blerda menyayat lengannya tiba-tiba dan memasukkan darah ke dalam tempat itu.
“Blerda,” Orion tampak heran dengan apa yang dilakukannya.
Dan akhirnya, sosok itu menyerahkan pisau dan wadah kristal berisi darah pada Xavier Lucifero yang berdiri di dekatnya.
“Giliranmu.”
“Ini untuk apa?”
Gadis siren hanya tersenyum kepadanya. Dan terpaksa sosok itu juga mengikuti apa yang ia lakukan tadinya.
Bukan hanya dirinya, tapi anak lain juga. Revtel yang jelas tak punya pilihan mau tidak mau menyayat lengannya demi adik sepupunya.
Sampai akhirnya tibalah giliran Aza Ergo yang tertegun melihat cairan kental di depannya.
“Kenapa? Tidak ingin ikut?” tanya Xavier.
Jujur saja, Aza tak tahu apa yang direncanakan Blerda dengan darah mereka. Tapi ia tetap mengikutinya, menggores lengan memakai pisau Lascarzio dan meneteskan darah pada wadah yang hampir terisi setengahnya.
Dan Blerda pun tak bisa menghentikan guratan puas di bibirnya akibat kesediaan para rekan seperguruannya. Tangannya pun menyentuh bibir wadah kristal dan melirihkan kata tak terduga.
“Hari ini, di tanah ini, perjanjian kerjasama pun tercipta. Atas nama kesepakatan Blerda Sirena, Trempusa Revos, Xavier Lucifero, Revtel Elkaztas, Hydragel Kers, Thertera Aszeria, Lascarzio Hybrida, Beltelgeuse Orion, Raguel Exon Vortha, dan Aza Axadion Ergo. Lewat darah kita mengukir janji, lewat ingatan kita sama-sama menulis mimpi, ikatan persaudaraan sehidup semati. Inilah janji kita wahai sepuluh murid Hadesia.”
Dan begitu kata terakhir diucapkan, kupu-kupu pun mulai bermunculan dari wadah kristal. Merah pekat warnanya, terbang mengudara mengitari mereka. Lalu masuk ke dalam tubuh masing-masingnya.
Sensasi aneh dan dingin pun merasuk ke raga seperti angin panas ke setiap tulang mereka.
__ADS_1
“Perjanjian persaudaraan?” Xavier pun terkekeh. “Bukan perjanjian saling berbagi kesalahan? Lagi pula, bukankah dia sudah jadi petinggi? Hanya sembilan dari kita yang nasibnya menunggu eksekusi.”
“Kau!” Trempusa pun lalu menjitaknya.
“Bocah sialan! Kau ada masalah apa denganku?!”
“Seharusnya aku yang tanya! Kau tidak bisa jaga mulutmu?!”
Akhirnya, hari itu diisi dengan perdebatan antara Xavier dan Trempusa. Esoknya, mereka sudah bersiap-siap. Menyaksikan Aza dan Revtel mengeluarkan kemampuannya untuk menutupi Hadesia.
Semua atas kesepakatan bersama sesuai perintah Blerda. Hanya area asrama yang tak terkena jurusnya.
“Apa harus begini? Kita semakin terkurung di sini,” ucap Orion yang kurang setuju sebenarnya.
“Percaya saja padaku.”
“Hei!” teriak Xavier tiba-tiba. “Aku melihatnya, ada kereta kuda yang menuju Hadesia!” sosoknya sedang berlari di udara.
“Sepertinya menyenangkan bisa terbang,” sahut Lascarzio yang melihat kelebihan sosok dari empusa.
“Dia berlari bukan terbang,” sela Thertera membenarkan ucapannya.
Sejenak kemudian, kegemparan melanda para murid yang sedang berkumpul di asrama.
“Apa! Kau meminta kami menipu mereka? Kenapa?” bingung Xavier karenanya.
“Karena aku tak ingin ada yang tahu aku masih hidup,” ucap Raguel kepadanya.
“Tapi kenapa?” Xavier masih saja menekannya.
“Katakan saja, Raguel. Bukankah kita saudara seperjanjian?” Thertera menimpalinya.
Sosok itu pun menghela napas kasar karenanya. “Apa kalian tidak merasa aneh mendengar namaku?” tanyanya.
Beberapa murid pun menggeleng karenanya. “Memangnya apa yang aneh? Walau namamu memang jelek sebenarnya,” cela Xavier tanpa menyaring ocehannya.
“Kau!” lagi-lagi Trempusa jengkel mendengarnya.
Raguel pun langsung memamerkan tatapan malas pada tukang ledek itu.
“Raguel Exon Vortha. Aku, bukanlah guider dari bangsa manusia. Tapi aku keturunan bangsa elf yang sudah punah.”
__ADS_1
Seketika hening pun menerpa. Tak ada yang bersuara, seolah masing-masingnya masih mencerna pada ucapannya. Tapi hanya Blerda yang memamerkan senyum kepadanya.
“Aku mengerti. Tenang saja, kami akan menutup mulut. Jadi kamu tidak perlu cemas.”
Raguel pun mengangguk kepadanya. Walau ia tak yakin apa sembilan murid itu sudi berpura-pura tak tahu tentangnya, tapi mereka sudah terikat perjanjian darah. Di mana itu merupakan untaian kata suci dalam menjalin ikatan persaudaraan.
Cara yang sama dengan para Dewa di kayangan sana. Karena hal tersebut juga merupakan bukti untuk saling percaya dan takkan pernah mengkhianati satu sama lainnya. Dan Blerda merupakan tonggak utama mantra, sebab dia yang mengucapkan juga memakai kemampuannya agar darah mereka menyatu sekarang.
Sebagai tanda jika suatu saat nanti, kalau ada yang mati mereka akan saling merasakan. Itulah arti dari perjanjian persaudaraan.
Dan dari kejauhan tampak kemampuan elftraz (penyembuh) berkumandang. Membentuk jalan menuju asrama, entah siapa pelakunya. Tapi mereka hanya diam menyaksikannya.
“Kalau begitu, aku pergi dulu,” ucap Raguel sebelum undur diri.
Tapi kalimat Blerda menghentikan langkahnya sejenak. “Apa pun yang terjadi, jangan lupa bahwa kita saudara seperguruan Hadesia. Tak peduli di mana pun kalian berada, ikatan darah akan saling merasakannya. Dan suatu saat nanti, kita akan bertemu lagi wahai saudara seperjanjian Hadesia.”
Raguel pun tersenyum kepadanya.
“Perjuangan kita, akan dimulai dari sekarang. Karena rencanaku akan menjadi tombak di masa depan. Ingatlah sumpahku, semuanya.”
Selesai mengatakan itu, Blerda pun berbalik mengambil pisau. Bersamaan dengan lenyapnya Raguel Exon Vortha dari sana.
Tanpa keraguan, gadis itu menggores lehernya. Juga memotong tangan kanannya di hadapan para murid yang tersisa.
Tentunya rasa terkejut mendera mereka. Tapi kesepakatan sudah tercipta. Entah apa yang direncanakan Blerda, jelas bagi semuanya kalau itu termasuk ke dalam rencana.
Perlahan darah yang mengalir berubah menjadi kupu-kupu, sehingga mengeringkan luka namun masih menyisakan bekasnya. Gadis itu pun tersenyum kepada mereka.
“Silakan lihat pertunjukanku, semuanya.”
Dan ia pun keluar dari asrama dengan dandanan menyedihkannya.
“Sosok itu! Blerda Sirena?!” pekik pendatang yang sudah keluar dari kereta kuda. Tampaklah bagi para murid lainnya, dua orang pria dan seorang kusir kuda. Menatap tak percaya pada apa yang menimpa sosok dari bangsanya. “Kami datang karena ada getaran aneh dari Hadesia. Apa yang sebenarnya terjadi?! Kenapa semuanya jadi seperti ini?!” tanya Tuan Criber kepadanya.
Tiba-tiba isak tangis berkumandang dari sosok yang ditanya. “Semua karena ulah guru besar Remus Eterno, Tuan.”
__ADS_1