Death Game

Death Game
Tiga Dewa Pengkhianat


__ADS_3

 


Tawa pun menyeruak dari kakak Aza. Tentunya mengejutkan para pendengarnya. Terlebih orang-orang yang terluka, sekarang sembuh dengan cepat akibat mantra anehnya pada dua elftraz (penyembuh) juga phoenix yang menjadi sumber energi.


“Inilah perbedaan era. Bahkan gyges jenius pun tumpul karena termakan usia,” ledeknya.


“Kau—”


“Ayo mulai,” ucap Lascarzio yang muncul di depan Laravell tiba-tiba. Sontak saja ia gerakkan lentera di tangan. Sehingga apinya menyeruak keluar dan menyelimuti kakak Aza. “Tapi aku tak yakin, apa ini akan berhasil.”


“Jangan begitu, Dewa pemalas sepertimu pasti bisa melakukannya.”


“Dewa?!” pekik kaget Laraquel.


“Lascarzio, kau—” syok Beltelgeuse dalam kobaran api hijau para elftraz yang menyembuhkannya.


Dan sensasi kejut pun tiba-tiba menghantam Laravell. Dalam keadaan telapak tangan masih menyatu dengan tanah, ia menggeram tiba-tiba. Mengakibatkan ular magma di belakangnya mendesis kasar.


“Apa yang ingin kau lakukan? Kau tidak terlihat seperti ingin melawanku,” bingung Reygan yang masih tenang memperhatikan ulah mereka.


“Memang tidak. Tapi pemilik tubuh ini, mungkin saja akan mengatakan hal yang berbeda,” lirih Lascarzio sambil melirik Laravell.


“Bocah magma? Kutukanku tak bisa dipatahkan. Kalaupun dia bangkit, apa yang bisa dilakukannya? Aku heran dengan kalian.”


Tapi tiba-tiba, bunyi keras muncul di tengah-tengah mereka. Pemiliknya adalah seorang wanita, yang fisiknya tadi terpisah, namun sudah menyatu dan hadir di sana.


Reygan yang sadar kalau sudah melumpuhkannya menatap tak suka pada kehadiran Blerda.


“Aku sudah memotong tubuhmu.”


Gadis itu malah menanggapinya dengan ekspresi yang tenang. Dia pun memalingkan wajahnya ke arah Raja hydra.


“Jangan lupakan tugasmu, Kers.”


“Sial!” kekeh laki-laki itu. “Hei, botak. Mari melakukan gencatan senjata,” ucapnya pada Perseus.


“Apa maksudmu?”


Kers pun tersenyum dan membantu Xavier yang sedang diselimuti api hijau milik elftraz. “Kau akan tahu nanti. Sampai jumpa,” ia dan rekannya pun melesat menuju tempat di mana Blerda, Lascarzio juga Laravell berada. “Jujur saja, aku selalu heran dengan otakmu. Sejak kapan kamu merencanakan hal-hal konyol itu?” bingungnya.


Blerda cuma tersenyum dan menoleh pada Laravell. “Sepertinya Aza, akan sangat berterima kasih padamu.”


“Perempuan licik,” Kers menatap malasnya.


Sementara Lascarzio, malah tersenyum miring.


 “Apa yang mereka rencanakan?” Laraquel masih bingung dengan rencana orang-orang yang tak jauh darinya. Sementara Aegayon, Sif, juga Beltelgeuse hanya diam memerhatikan.

__ADS_1


“T-tubuh-ku, s-sa-kit,” ucap Laravell tiba-tiba.


“Tubuh orang ini bukannya sudah tidak ada,” Xavier menatap bingung ke arahnya. “Kenapa di—”


“Ayo,” Blerda pun memotong kalimatnya tiba-tiba. “Megalodon!” panggilnya. Bunyi bergemuruh pun langsung bergema karena kemunculan peliharaan para dewa yang melesat dari langit sana. Sosok itu, berdiri tepat di hadapan Blerda seperti menghaturkan sembah kepadanya. “Maafkan aku, Megalodon.”


Makhluk itu pun bersimpuh di hadapan pemiliknya.


“Kamu memang dingin, Blerda,” Lascarzio menyindirnya. Kers yang tertawa pelan pun langsung menyentuh kepala Aza yang dirasuki Laravell. 


“Encanteri prohibit, towera armurus, collum larva est nomina (mantra terlarang, menara penjara, menjemput darah singgasana nomina)” ucap Blerda, Lascarzio, dan Kers bersamaan.


Tiba-tiba, teriakan Laravell memecah keadaan. Begitu pula pekikan Megalodon, membuat siapa pun terbelalak mendengarnya. Bak lolongan hewan yang akan dieksekusi predatornya.


“Apa yang mau mereka lakukan?!” kaget Kuyang melihat dari kejauhan.


Sementara Reve yang tak berdaya dan dijadikan sumber energi tak terbatas untuk elftraz, hanya diam menyaksikan. Walau sakit sudah tak ada, tapi entah kenapa ia tak punya tenaga untuk bangkit sekarang.


“Apa yang ingin mereka lakukan?” gumamnya.


“Mereka gila, karena akan memindahkan roh itu ke dalam peliharaan Dewa,” ucap seseorang yang membuat Reve terperanjat mendengarnya. Sontak ia pun menoleh pada sosok yang berbicara.


“Near?” kagetnya.


Ular itu malah mendesis dan melingkari lehernya. “Pura-pura tidur saja. Jika magma itu bangkit, penyakitnya bisa membunuh musuh. Jadi kita istirahat saja.”


“Aku memang bisa bicara.”


“Kupikir kau hanya mendesis saja.”


“Aku mengantuk, makanya tidak bersuara,” ucapnya dengan santainya. Bahkan ular itu juga menguap layaknya manusia.


Walau masih heran dan tak menyangka, Reve segera menepis pemikirannya. Sebab perhatiannya dialihkan oleh serpihan energi hitam yang muncul tiba-tiba dari Raja hydra.


“Near, apa maksudmu barusan?”


Ular itu meliriknya. “Yang mana?”


“Tentang penyakit Aza.”


Ular itu lagi-lagi menguap dan mengubah posisinya. Sekarang ia melingkari kepala Reve dan sama-sama menatap ke arah kehebohan di depan mata.


“Para penyimpang tidak bisa mati, bahkan jika para Dewa turun tangan.” Membuat Reve mengerutkan kening mendengarnya. “Jika dilanggar, hukuman penjara para Dewa akan diperpanjang. Perjanjian para Titan memang menyusahkan, tapi untung saja kalian punya keuntungan. Karena magma itu, punya penyakit yang berasal dari kutukan semua penyimpang. Jadi dia bisa membunuhnya.”


Reve pun terbelalak mendengarnya. “Kau serius? Tidak, tunggu! Reygan memanggilku Dewa. Apa aku—”


“Jangan mimpi, Bodoh!” celanya tiba-tiba. “Dewanya itu aku, dasar kalian makhluk keparat,” cibirnya yang membuat Reve tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


“Mereka ... sedang memindahkan roh bocah itu ke Megalodon,” lirih Perseus. “Tapi untuk apa?” bingungnya. Semakin ia melihat proses aneh itu, sosoknya bingung dengan tujuan musuhnya. “Putra Olea, aku yakin dia masih dikutuk Reygan.” Tiba-tiba sosoknya pun tersentak. Seolah sesuatu baru saja menghantam kesadarannya. “Jangan bilang—” matanya terbelalak. “Reygan! Kutukan penyimpang!” teriaknya tiba-tiba.


Sontak saja hal itu mengejutkan semuanya, terlebih lagi Kuyang juga Reygan Cottia.


“Sial!” Kuyang pun langsung bergerak ke tempat Blerda.


Dan Reygan yang juga menatap tak percaya ikut mengayunkan pedangnya. Menghantamkan serangan dahsyat untuk menggagalkan rencana mereka.


“Near?” syok Reve karena ular itu melompat dari kepalanya. Bersamaan dengan itu, muncullah seseorang yang menahan serangan Reygan.


Dia menghentikannya hanya dengan satu tangan kosong saja.


“Sejujurnya aku masih mengantuk.”


“Siapa dia?” kaget Xavier ikut menyaksikan.


“Ares,” panggil Lascarzio tiba-tiba. “Kenapa dirimu menyedihkan begini?”


“Entahlah. Aku kenapa y—” ucapannya terpotong akibat menguap tiba-tiba. “Aku mengantuk.”


“Kau, kau Dewa Ares?” Reygan menatap tak yakin padanya. “Omong kosong apa ini?”


“Apanya?” bingungnya. Reygan menatap aneh ke arahnya. “Apa-apaan tatapanmu itu? Aku memang Ares. Si lentera, Seth. Si anggur, Apophis.” Semuanya pun semakin tak bisa berkata-kata karena ucapannya. “Kami memang menyedihkan. Mau bagaimana lagi, jangan menilai terlalu tinggi,” ia pun jatuh terduduk sekarang.    


“Aku Raja hydra,” sela Kers riang.


“Kau pengkhianat,” sindir Ares padanya.


“Kita pengkhianat,” Lascarzio ikut berucap.


“Itu karena kau mau membunuh Osiris,” cibir Ares padanya.


Lascarzio malah tersenyum padanya. “Tapi dibanding kita, Termulia lebih parah,” dirinya pun melirik Kers yang masih fokus memindahkan roh Laravell ke tubuh Megalodon.


Ares pun memiringkan wajah menatap Raja hydra. “Aku bertaruh, ingatannya pasti sudah kembali.”


“Mau sampai kapan kalian bicara?” Perseus pun muncul tiba-tiba dan mengusik perhatian mereka. Tiga Dewa itu sama-sama memandang ke arahnya. Terlebih Perseus mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.


“Itu, Medusa?!” kaget Aegayon melihatnya.


 


 


 Terima kasih untuk yang sudah mengirim pesan, juga mensupport karyaku. Maaf belum kubalas komentar-komentar itu. Dan terima kasih untuk masih setia menunggu. Salam hangat otor untuk para readers Death Game. 🤗


 

__ADS_1


 


__ADS_2