Death Game

Death Game
Membunuh dalam diam


__ADS_3

Pertempuran semakin sengit. Di mana Heksar beradu serangan dengan Reygan, sementara Aza juga Revtel hanya membantu seenak hatinya.


“Lascarzio,” Trempusa menatap sosok yang mendatanginya.


“Apa kamu terluka?”


“Aku kehabisan tenaga.”


Sosok berkulit eksotis tersenyum padanya. “Ayo,” ucapnya sambil memapah Raja empusa.


Sementara Raguel tak henti-hentinya menyerang Kuyang dengan brutalnya. Ini benar-benar menjengkelkan baginya, mengingat wanita itu berwujud siluman sekarang. Menghindari serangan sambil memamerkan penampakan organ-organ melayang di tubuhnya.


Bagaimanapun juga, Raguel juga seorang pengendali petir. Bedanya dengan Logan Centrio serta Reygan Cottia, dia bisa membentuk senjata apa saja dari jurusnya yang dipadatkan. Dan sosoknya juga merupakan guider bangsa elf. Walau bukan seorang elftraz (penyembuh) setidaknya ia bisa memulihkan dirinya sendiri.


Tapi, ujung pertarungan Kuyang juga Raguel sepertinya hampir menuju tahap akhir. Di mana wanita itu menjerit karena ususnya tergores tombak petir laki-laki itu.


Teriakannya begitu bergema sampai-sampai mengundang perhatian Reygan.


“Kuyang.”


“Berani-beraninya. Berani-beraninya kau melukaiku!” marah wanita itu sehingga uap merah berkobar darinya. Perlahan namun pasti, wujud manusianya kembali padanya. Bersamaan dengan kemunculan tiba-tiba seekor serigala dengan perut bak terbuat dari kaca.


“Itu, hewan sihir?” kaget Raguel melihatnya.


Peliharaan Kuyang pun memekik keras di sana. Menimbulkan gelombang angin dahsyat saat menyentuh para musuhnya. Dan hewan tersebut maju dengan buasnya ke arah Raguel yang akan menyerang majikannya.


Sementara pertempuran Reygan juga Heksar begitu memekakan telinga. Terlebih saat cakar Raja chimera beradu dengan pedangnya.


“Sensasi ini,” seringai sang penyimpang tiba-tiba.


“Apa yang lucu?” bingung Heksar melihatnya. Tapi pria itu tertawa pelan entah kenapa. “Kutanya apa yang lucu? Bajingan.”


“Sopan santunmu begitu kurang, Nak.”


Tiba-tiba pedang Reygan terbakar oleh api biru. Tentunya mengejutkan Heksar yang menjadi lawannya, terlebih aroma khas mirip Reve Nel Keres menyeruak dari senjatanya. Pertanda kalau bilah putih tersebut memancarkan aroma orang-orang bangsa phoenix yang sudah dibantainya.


“Kau!”


“Nedierma! (Menyebar!)” lirih Reygan.


“Gawat! Perisai!” pekik Izanami tiba-tiba.


Revtel yang menyadari apa yang akan terjadi pun langsung mendirikan dinding magma di keempat sisi untuk mengepung mereka.

__ADS_1


Bahkan bukan hanya dirinya, Aza juga melakukan hal serupa, bersamaan dengan pusaran magma yang ia ciptakan, tebasan beruntun Reygan menghujani mereka.


Semuanya pun terpekik karena petir juga turut serta memandikan area pertarungannya.


Tersentak.


Aegayon terkesiap. Saat mendapati sang ayah berdiri tepat di hadapannya. Tusukan pedang yang melubangi dadanya membuat sosoknya tak bisa berkata-kata.


Terlebih lagi ketika sadar kalau orang-orang yang menantang ayahnya telah tumbang begitu saja. Mereka menerima serangan hantu dari jurus kedua Reygan Cottia.


“Kau tidak lupakan? Kalau ayahmu ini, juga bisa membunuh kalian lewat udara,” seringai pria itu sambil semakin memperdalam tusukan pedangnya. “Kalian takkan bisa mengalahkanku, selama masih bernapas di udara yang sama denganku. Itulah kelebihanku, wahai putraku,” ucapnya dengan tangan menyentuh kepala Raja gyges.


“A-apa-apaan itu?” syok Raguel melihatnya.


“Merlindia (penyihir) langka, itulah kemampuan Reygan sebenarnya,” Kuyang menyela sambil tertawa pelan diakhir kata.


“Apa!”


“Bahkan jika kalian bisa menghentikan petir dan pedangnya, kalian takkan mampu menundukkan kendali udaranya. Di mana dia bisa menyatu dengan udara, dan menjadi senjata pembunuh setiap kalian bernapas di sekitarnya. Kalian sudah tamat saat berada di jangkauan tatapannya.”


Raguel juga Blerda pun terperangah mendengar kalimat mengerikan wanita itu.


“Ugh! Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Raguel terbatuk di sana. Bahkan terlebih parahnya lagi darah juga tersembur dari mulutnya. Perlahan ia menoleh dengan pandangan bergetar, saat mendapati Reygan Cottia ternyata menatap ke arahnya. “D-dia—”


Dan serangannya tertahan oleh dinding gravitasi yang diciptakan Blerda.


Sang Ratu yang jelas-jelas berdiri di samping saudara seperjanjiannya pun menatap tajam ke arah Reygan Cottia.


“Kau cukup cekatan,” puji pria itu semakin menekan ayunan pedangnya. Bahkan retakan gravitasi jelas terlihat antara dirinya juga Blerda. Semakin menyudutkan perempuan itu yang juga harus hati-hati pada Kuyang di belakangnya.


“Capricorn.”


Reygan pun terkesiap akan serangan tiba-tiba yang muncul dari atas sana. Untung saja refleksnya luar biasa, sehingga pedangnya mampu menangkis tebasan mengerikan yang berhasil memotong beberapa helai rambutnya.


“Itu—”


“Pelayan para Dewa?!” geram Kuyang melihatnya.


“Megalodon.”


Serangan bak kilat pun juga hampir membunuh Kuyang andai dia tak dilindungi serigalanya. Sosoknya terkejut saat melihat kondisi peliharaannya. Di mana hewan itu kehilangan kepala akan kemunculan Megalodon secara tiba-tiba.


Dua makhluk kayangan pun telah hadir untuk melindungi majikannya.

__ADS_1


“Sepertinya, kaulah yang paling menyusahkan,” ucap Reygan tiba-tiba.


Blerda yang memamerkan keadaan serupa Raguel, hanya diam membiarkan darah mengalir dari sudut bibirnya.


Perlahan wajahnya retak membentuk garis berwujud kupu-kupu di sana. Dan beberapa hewan itu pun tercipta dari goresan di rupanya. Seringai tipis juga berkumandang di bibirnya.


“Menarilah, wahai sang penyimpang.”


Capricorn dan Megalodon pun sama-sama mengangkat senjatanya. Sontak saja kedua sosok itu menyerang frontal Reygan juga Kuyang.


Tak ada jeda dalam serangannya. Bahkan bisa dipastikan, walau goresan tersemat dari peliharaan Blerda, tak membuat keduanya mundur begitu saja.


Selain semakin menggila dalam menikmati pertarungannya.


“Blerda,” lirih Raguel menyaksikan saudara seperjanjiannya. Karena bagaimanapun juga, serangan dalam diam Reygan jelas-jelas melukai organ tubuh mereka, tapi Blerda Sirena tetap berdiri kokoh di posisinya.  


Diiringi lirikan tajam lewat sudut matanya.


“A-Aegayon,” gumam Izanami tiba-tiba. Sosoknya yang terkapar, tersentak mendapati kondisi Raja gyges.


Di mana pemimpin bangsa raksasa, terduduk keadaannya namun dihujam pedang area punggungnya. Bahkan ujung bilah milik Aegayon itu tertusuk mencapai tanah sehingga membuat sosoknya tertunduk menyedihkan.


Tentunya ayah kandungnya lah pelaku penikaman.


Sementara Trempusa yang pingsan, senjata Dewanya mulai mengeluarkan aura kegelapan. Bergerak menyelimuti tangannya dan perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.


Lascarzio yang tumbang tepat di sampingnya, menatap tak berdaya ke arah saudara seperjanjian. Kecuali menonton secara saksama keanehan Raja empusa di sana. Di mana Trempusa itu mulai bangkit posisinya walau mata masih tertutup sepenuhnya.


Dia dan sabit gilanya, sekarang mengudara begitu saja.


“Sensasi ini,” lirih Reygan menoleh ke arah barat di sela-sela pertempuran. Tampak di mata, aura kegelapan menyeruak ke udara. Siapa lagi kalau pelakunya bukan Trempusa. “Dia—”


Sekarang, mata Trempusa berwarna hitam sepenuhnya. Bahkan kondisinya seolah sudah tak terluka. Tapi satu hal yang pasti di dirinya, perawakannya aneh dan seperti tak sadar akan sekelilingnya. Bahkan sabit yang terpegang mulai diarahkan kepada Lascarzio Hybrida.


Lascarzio terbungkam. Saat sosok tergeletaknya mendapati seseorang berdiri di hadapannya. “Kutukan?” ucap laki-laki yang menahan senjata Trempusa.


Sementara orang asing lainnya memegang pedang yang menghujam tubuh Aegayon Cottia.


“Kalian,” bisik pelan Raja gyges yang melemah kondisinya.


“Maaf terlambat, semuanya,” ucap orang itu sambil menarik pedang dari badan Raja bangsa raksasa.


 

__ADS_1


__ADS_2