
“Terima kasih,” ucap sang ular piton pada Riz sebelum lenyap sepenuhnya.
Riz terdiam, ia pun menyentuh dadanya dan merasa ada yang aneh dengan hatinya. Perlahan ia tersenyum dan menangis begitu saja.
“Kau sudah berhasil menyelesaikan rintanganmu, kenapa dirimu menangis?” tanya Crabius.
“Entahlah, aku juga tidak tahu.” Riz mengusap kasar pipinya yang basah.
“Rintangan ini untuk memastikan isi hati seseorang. Saat mereka sudah tahu apa yang diinginkan, maka mereka akan mendapatkan jawaban. Jawaban itulah yang akan mengantar mereka pada takdir kemampuan.”
“Apa itu berarti pilihanku adalah jawabannya?”
“Ya.”
“Bahkan jika itu pilihan yang salah?” tanya Riz.
“Tak ada pilihan yang salah. Hanya keadaan yang tak mengizinkan jalannya. Jika pilihan itu menghentikan langkahmu, maka kau hanya perlu membuat pilihan baru.”
“Ya, mungkin kau benar.”
“Nigel (muncullah)” ucap Crabius.
Mendadak lantai tempat mereka berpijak bergetar, batu amber yang tertempel di dinding mulai bercahaya, aroma pekat darah yang tadinya mengelilingi ruangan berganti dengan aroma bunga yang khas.
“Itu!” pekik Riz.
Di udara, muncullah retakan besar yang mengeluarkan hawa dingin. Pada retakan itu tampak sebuah gerbang merah yang unik dan aneh.
“Itu adalah gerbangmu. Masuklah ke sana, apa pun yang kau temukan akan jadi milikmu dan juga takdirmu,” jelas Crabius.
“Baiklah, terima kasih untuk semuanya Crabius.”
Crabius pun membalas perkataan Riz dengan menggoyangkan capit kepitingnya yang tampak lezat. Riz mendekati retakan yang sudah semakin membesar. Jarak posisinya hanya dua langkah dari gerbang di dalam retakan.
Tiba-tiba muncul celah cahaya yang menandakan gerbang akan terbuka. Semakin pintu gerbang terbuka semakin banyak asap putih mengepul keluar dari sana. Riz termangu menatapnya dan tak bisa berkata apa-apa.
“Masuklah,” lanjut Crabius padanya.
Riz menoleh dan mengangguk. Kaki kanannya yang pertama kali memasuki gerbang. Begitu masuk ke sana, apa yang menantinya benar-benar tak bisa dibayangkan Riz sebelumnya.
Di depannya tampak seperti sebuah aula besar yang aneh. Besar aula itu menyamai besarnya stadion sepak bola. Di tengah-tengah aula terdapat altar dengan sebuah meja batu yang dikelilingi bunga lily. Bau aroma lily terpancar jelas sepanjang ruangan itu.
__ADS_1
Riz pun bergidik ngeri, karena menatap hal aneh yang ada di belakang altar. Lima patung manusia, sekitar 15 meter tingginya pun berdiri kokoh mengelilingi Altar dalam posisi setengah lingkaran.
Riz tak bisa berhenti gemetaran, karena masing-masing patung memiliki wajah yang sangat seram.
Kelima patung itu menampilkan lima ekspresi yang berbeda, dengan sebuah mata terbuka lebar di dadanya. Masing-masing mata memiliki warna dan corak pupil yang berbeda.
“Mata itu! Bukankah sama dengan motif cincin yang dipakai Doxia? Itu motif assandia (petarung)!” Riz menyadarinya.
Mata itu memang menggambarkan lima cincin golongan yang menjadi lambang kemampuan para guider. Dimulai dari patung berlambang mata sebelah kiri merlindia (penyihir), tankeas (pelindung), assandia (petarung) berdiri di tengah, elftraz (penyembuh), scodeaz (pengendali) paling kanan.
“Apa itu berarti aku akan mendapatkan cincin di sini?” batin Riz. Ia menatap sekelilingnya, akan tetapi tak ada satu pun pintu di sana. Riz meneguk kasar ludahnya karena ia merasa kalau tempat ini takkan sama dengan tempat sebelumnya.
Tak ada suara, tak ada apa pun. Hening, dengan lampu gantung tua yang diterangi api sebagai sumber cahaya. Ingin rasanya ia bersuara, tapi keheningan itu membungkamnya.
Apa yang harus ia lakukan? Tak adakah penjaga gerbang di sini? Kesunyian pun semakin lama terasa seperti akan membunuhnya. Setidaknya itulah yang terlintas di benak ya sekarang.
Tak terasa keringat dingin sudah membasahinya, bahkan napas yang seharusnya bisa didengar iramanya seolah lenyap tertelan suasana. Riz benar-benar ketakutan dengan keadaan yang di hadapinya.
“Apakah tak ada siapa pun di sini? Aku mohon, siapa saja tak masalah. Tolong muncullah, aku mohon, keheningan ini benar-benar menakutkanku,” harapnya dalam hati.
“Deg!”
Sekarang, kelima patung yang tadinya menatap altar, sama-sama menoleh ke arah Riz sambil berseringai aneh. Tampang mereka yang seram sekarang berubah menjadi lebih mengerikan.
Semuanya seolah terhenti, tak hanya posisi kepala patung yang terdiam sambil tetap menatapnya, tapi fungsi otak Riz juga. Ia seolah tak bisa lagi berpikir hanya karena ditatap kelima patung yang berwajah seram itu.
“Apa yang harus kulakukan dewa? Ini benar-benar menakutkan,” batin Riz menangis.
“Manusia.”
“Deg!”
Salah satu patung yang mata di dadanya melambangkan elftraz (penyembuh) berbicara. Ia patung berwujud perempuan, hanya saja memiliki tanduk mirip rusa di kepala.
Bayangkan, walau patung tapi matanya melotot, dengan seringai aneh melebihi wajah makhluk berkulit merah yang ditemui Riz di ruang gelap.
“Manusia,” ucapnya sekali lagi.
“Krak!” kaki patung elftraz (penyembuh) menghadap ke arah Riz.
“Krak!” sekarang badannya yang menghadap ke arah Riz.
__ADS_1
“Krak!” lututnya terangkat.
“Braaak!” kakinya melangkah.
“Braaak! Braak! Braak!”
“Gyaaaaaaaa!” jerit Riz sejadi-jadinya.
Sekarang patung wanita berlambang elftraz (penyembuh) berjalan cepat hendak mengejarnya.
“Jangan kejar akuuuu! Aku mohon! Siapa pun tolooong! Tolong! Tolong ...!” teriak Riz ketakutan. Ia berlari berlari tunggang-langgang untuk menghindari kejaran patung itu.
“Bwuush!” mendadak sebuah api muncul membentuk lingkaran cincin besar di langit-langit.
“Bleedya (perjanjian)” ucap patung itu.
“Aemus obdeas riad sain (semua dimulai dari sini)” sambung keempat patung lainnya.
“Kraak!” kaki keempat patung sama-sama mengarah ke arah Riz berlari.
“Kraak! Braaak!” kaki yang terangkat dan
terpijak, mulai mengejar Riz yang sudah merasa akan mati sebentar lagi.
“Akura hersa bleedya flowda leyros (tunduk dalam perjanjian bunga lily), aemus obdeas riad sain (semua dimulai dari sini)” ucap kelima patung itu secara bersamaan.
“Braak!” patung elftraz (penyembuh) berhasil menghentikan langkah Riz yang sudah terengah-engah.
“Siapa kalian?! Aku mohon, tolong ampuni aku! Aku tidak tahu apa-apa! Aku hanya disuruh Crabius untuk masuk ke sini!” jelas Riz memohon.
Akan tetapi, kelima patung itu hanya mengucapkan kata perjanjian yang sama secara berulang-ulang. Sampai akhirnya mereka berlima berkumpul mengelilingi Riz.
Tubuh tinggi mereka, seolah seperti bayangan besar yang hendak meremukkan Riz. Ia menangis, menangis karena rasa takut yang muncul dari tekanan dan aura kelima patung.
“A-aku mohon, tolong jangan apa-apakan aku, aku hanya diminta masuk ke sini begitu saja,” pinta Riz sekali lagi.
Tiba-tiba semuanya hening, kelima patung itu berhenti bersuara, akan tetapi sorot mata tajam masih diarahkan pada Riz. Entah apa yang terjadi, tapi keheningan kembali lagi menyelimuti semuanya. Mendadak lima mata di dada para patung yang melambangkan golongan kemampuan para guider bercahaya.
“Tunggu! Apa ini? Apa lagi yang akan terjadi?! Oh dewa, tolong jangan kirimkan lagi sesuatu yang menakutkan jantungku! Aku masih belum mau mati! Aku belum mau mati sial*n!” teriak hati Riz.
“Kami sudah menunggu kedatanganmu wahai calon guider dari bangsa manusia,” sambut sebuah suara yang muncul entah dari mana. Suara yang sangat keras, sampai-sampai lantai tempat Riz berpijak pun bergetar hebat karenanya.
__ADS_1