Death Game

Death Game
Ayah


__ADS_3

 “Sial! Sampai kapan kita akan di sini?!” umpat Pangeran pertama pada adiknya. Tentu saja para bibit muda hydra lainnya juga setuju dengannya. Mengingat mereka sudah sebulan melaksanakan pelatihan yang dikatakan untuk memperkuat tubuh mereka.


Berendam dalam air yang sangat dingin. Duduk berlama-lama di bawah tetesan salju. Berlari seperti mendaki gunung melewati lembah dengan tanah seolah terbakar. Apa pun itu, sudah tidak terhitung banyaknya pelatihan yang dijalani demi memperkuat fisik mereka.


Sampai akhirnya salah satu latihan yang paling menyebalkan datang melanda semuanya. Pertarungan antar kelompok kamar dalam menaklukan salamander raksasa.


“Apa kita benar-benar dikirim untuk latihan? Entah kenapa aku merasa kita dikirim untuk mati,” keluh Trempusa tiba-tiba.


Dan Blerda yang kebetulan berada di dekatnya hanya melirik sekilas. Sampai akhirnya sorot matanya kembali memperhatikan pertarungan murid lain dengan Salamander beracun peliharaan Hadesia.


Di satu sisi, kepanikan melanda Aza dan Laravell. Karena Maximus Ergo, terlihat kesakitan setiap batuk menderanya.


Terlebih parahnya lagi, darah selalu keluar dari dalam mulutnya. Wajahnya begitu pucat sampai-sampai tenaga untuk menyiapkan makanan bagi putra-putranya seperti sudah tak tersisa.


“Ayah,” gumam Laravell sambil mengelus punggungnya. “Aza, kamu tolong jaga Ayah. Aku akan carikan obat,” sahutnya dan pergi terburu-buru dari sana.


“Ayah,” sang putra kedua tampak beruraian air mata.


Tapi, justru senyuman yang dibalaskan sang Pangeran perang kepadanya. Dielusnya kepala anaknya, sebagai tanda kasih sayang darinya.


“Jangan menangis. Kamu laki-laki, Aza. Jadi jangan menangis,” ucapnya. Bukannya menghentikan isakan itu, raungan sang putra justru kian menjadi-jadi kepadanya.


Membuat Maximus memeluk erat dirinya akibat sakit di dada menyaksikan kesedihan buah hatinya.


“Ayah baik-baik saja, Sayang. Jadi Ayah mohon, tolong jangan menangis lagi,” bisiknya dengan suara mulai berjeda.


Namun di tempat yang tak jauh dari sana, Laravell terus berlari sambil beruraian air mata. Melirik sekeliling dengan napas terengah. Sungguh dirinya tersiksa, diiringi doa di hati berharap agar ayahnya baik-baik saja.


Sampai akhirnya tubuhnya bertabrakan dengan seseorang yang tidak disangka-sangka.


“Kamu—”


“Tolong,” pinta Laravell sambil menyentuh ujung lengan sosok di depannya. “Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, tapi aku mohon tolong bantu ayahku. Aku mohon,” sungguh sendu tatapannya.


Dan Betsheba yang bergetar hatinya pun menyentuh bahunya. “Ayo,” ajaknya sambil meraih tangan putra muridnya.


Jujur saja, tiadanya kata kesepakatan antara sang Tetua dan Maximus membuat sosok dari gyges itu terpaksa pergi dari sana.


Bagaimanapun juga, dirinya juga harus melakukan sesuatu untuk bangsanya.

__ADS_1


Tapi sekarang, mungkin ia sangat menyesali keputusannya. Terlebih lagi melihat Maximus Ergo tergeletak tak jauh di depan mata sambil dihiasi tangis si kecil Aza.


“Ayah!” teriak Laravell berlari menghampirinya. “Ayah! Ayah!” paniknya sambil mengangkat kepala pria itu.


“Maximus!” Betsheba pun menyentuh lengannya. “Kau!” kagetnya menyadari apa yang terjadi.


“Ayah! Aku mohon tolong bantu ayahku, aku mohon,” pinta Aza pada Tetua dari bangsa gyges.


Tapi, justru tangan terulur yang dihadiahkan Maximus pada kedua putranya. Dengan mata berkaca-kaca juga senyuman di bibirnya, dilirihkannya kata tak terduga.


“Aku menyayangi kalian.”


“Aya—”


“Aku menyayangi kalian,” ulangnya sehingga Laravell tidak melanjutkan kalimatnya. Perlahan, gurangan hangat yang disunggingkan di bibirnya, tampak bergetar pinggirannya. Suara napas terengah dan susah dihempaskan bersenandung dari tenggorokan sang Pangeran empusa.


“Tak peduli apa pun yang terjadi, aku akan selalu menyayangi kalian. Anak-anakku, buah hati yang akan selalu kubanggakan. Aku sangat menyayangi kalian.”


“Ayah!” sela Aza tiba-tiba.


Dan tangan Maximus pun menyentuh lembut pipi putra keduanya.


Mereka pun terdiam.


“Maafkan Ayah tidak bisa melindungi Ibumu. Maafkan Ayah karena hanya bisa membesarkan kalian seorang diri. M-maafkan Ayah karena harus sakit-sakitan seperti ini. Tapi satu hal yang harus kalian tahu, ayah sangat menyayangi kalian. Ayah sangat mencintai kalian dan juga ibu kalian, karena itu—”


“Ayah!” kaget Aza dan Laravell bersamaan.


Deru napas Maximus mulai berjeda sekarang. Suara rintihan aneh pelan-pelan berkumandang, dan sorot matanya tak fokus pada wajah-wajah yang dipandang.


“T-te-taplah hi-dup, La-rav-ell, Az-a.”


“Ayah!” teriakan sosok-sosok tersayang pun memecah suasana di sana.


Tanpa bisa disangka, sang Pangeran perang empusa pun menutup mata di depan anak-anaknya. Betsheba Voskha terdiam. Batinnya tersentak dan kesedihan memeluk badan. Saat mengetahui kalau murid tersayang telah pergi untuk selamanya.


Tangisan memilukan sungguh menyiksa pendengaran. Di mana dua yatim piatu merangkul tanah pemakaman. Sebuah peristirahatan sang ayah yang sangat disayang.


Mereka terlalu kecil untuk kehilangan.

__ADS_1


Di dekat pohon Akasia, di tanah yang pernah menjadi lokasi kehidupan bangsa elf, Maximus Ergo dikuburkan.


Tapi nyatanya, kepergiannya yang tiba-tiba benar-benar meninggalkan luka besar untuk kedua putranya.


Dan itu ditatap lekat oleh Tetua gyges yang masih setia menemani juga membantu mereka. Bagaimanapun juga, keduanya sudah seperti cucu baginya.


“Sekarang, kita harus bagaimana?” tanya Aza di balik mata sembabnya. Wajahnya begitu keruh mirip kakaknya.


Sementara Laravell menatap kosong pada unggun di depan mata. Masih menyanyikan kesedihan jika dilihat ekspresinya.


“Bragi Elgo, sangat ingin cucu-cucunya kembali ke tangannya.”


Sontak saja pernyataan Betsheba membuyarkan pandangan putra pertama Laravell.


“Bragi Elgo?”


“Apakah Maximus, tidak memberitahukan apa pun pada kalian?” Aza dan kakaknya sama-sama terdiam tidak memberikan tanggapan. “Kalau kalian, sebenarnya merupakan keturunan mulia Raja empusa.”


“Mulia? Bukankah kita keturunan kotor?” sela Aza.


Rahang Betsheba pun menegas mendengarnya. Bagai dihantam atas pernyataan anak kecil di dekatnya. “Siapa yang mengatakan itu?”


“Pemburu dari empusa. Saat akan dibunuh ayah, mereka menyebut kami keturunan kotor yang menjijikan. Apa itu yang dinamakan dengan keturunan mulia?” bingung Aza.


Walau masih anak-anak, dia cukup bijak dalam berbicara. Hasil kasih sayang dan didikan Maximus dalam mengajarnya.


Tetua gyges itu pun tertunduk memikirkan kalimat yang harus dikatakannya agar tidak menyinggung perasaan keduanya.


“Anda tampak kesusahan. Tidak perlu ragu untuk mengatakannya, karena kami sudah tahu semuanya. Tentang Ayah yang mengeksekusi mati orang tuanya sendiri demi Ibu kami. Sehingga dia dicap pengkhianat oleh bangsanya sendiri dan harus lari demi keselamatan kami. Kami sudah tahu semuanya.”


Tersentak. Betsheba menatap tak percaya, kalau Laravell mengatakan sesuatu yang sangat ingin dijaganya.


Sepertinya, Maximus benar-benar tak ingin menutupi apa pun dari kedua putranya.


“Sejauh mana yang kalian tahu?” tanyanya.


Laravell muda pun memiringkan wajah menyedihkannya.


“Sejauh mana ya,” gumamnya dan menatap tajam api unggun di depan mata. “Kami tahu, kalau hubungan ayah dan ibu tidak direstui bangsanya. Mengingat Ibu merupakan guider misterius yang ditakuti oleh mereka. Kami juga tahu, kalau bangsa empusa ingin menjadikan aku dan Aza sebagai percobaan keabadian Raja dan Ratu sebelumnya. Karena kami berdua, anak pertama di sana yang menjadi guider di usia sangat muda. Dan aku juga tahu, kalau sebenarnya anda mengetahui fakta tentang diriku yang bukanlah anak kandung mereka.”   

__ADS_1


 


__ADS_2