Death Game

Death Game
Eksekusi di ruang bawah tanah


__ADS_3

Sementara dia yang merasakan siksa di badannya, perlahan mulai mengabur tatapannya. Seolah ada suara-suara pelan berbisik ke pikiran. Mencoba mengambil alih kesadaran agar bisa dikendalikan.


“Aza,” gumam seseorang tiba-tiba.


Hilang di depan mata. Wajah-wajah para petinggi yang tadi bersamanya tak tampak lagi di penglihatan sang pengendali magma.


Selain hamparan bunga lavender sejauh mata memandang.


Tapi anehnya, aroma mawar ikut bersenandung di sekeliling badan. Pemuda itu menoleh dan mendapati tubuh seseorang sedang membelakang.


“Kamu—”


Dan sosok berambut merah itu, berbalik sambil tersenyum kepadanya.


Tersentak. Mata Aza Ergo berkedip berulang. Tak tahu apa yang terjadi, tapi wajah-wajah para elftraz (penyembuh) tertangkap oleh sorotannya.


“Aza!” Reoa Attia memanggilnya.


Raut melongo sosok empusa itu akhirnya mengundang lega para petinggi di dekatnya.


“Sialan! Akhirnya kau sadar juga bajingan,” Toyotomi ikut bersyukur karenanya.


Bagaimanapun juga, Aza Ergo tetaplah rekan mereka.


“Ini,” gumam pemuda itu sambil memegang kepalanya.


“Kamu pingsan,” Horusca menyahut tiba-tiba. Membuat rekan seperjalanannya menoleh kepadanya. “Selama dua jam dan darah terus keluar dari mulut juga telingamu. Sekarang, bagaimana kondisimu? Apa yang kamu rasakan?” tanyanya dengan sikap seperti seorang tabib kawakan.


Di satu sisi Aza Ergo merasa tidak nyaman. Karena kepalan tangannya seolah bukan miliknya seorang. Dirinya juga bingung harus menjelaskan seperti apa, karena mungkin saja keadaannya takkan bisa dipahami logika orang-orang di sekelilingnya.


“Tuan Aza?” Hea Alcendia membuyarkan lamunannya. “Anda baik-baik saja?”


“Ya. Aku baik-baik saja. Kalian bersama-sama mengobatiku?”


“Begitulah.”


“Terima kasih kalau begitu.”


Hea mengangguk padanya. Tapi di satu sisi pandangannya juga enggan meninggalkan petinggi muda di sampingnya.


Masih merasa khawatir padanya, walau Aza Ergo memang sosok menyebalkan menurutnya.


“Kenapa menatapku seperti itu? Sepertinya Tuan Logan sangat cemas dengan kondisiku,” kekehnya saat menyaksikan sorot mata petinggi dracula kepadanya.


“Siapa pun pasti cemas jika anak berbakat sepertimu meregang nyawa tiba-tiba.”

__ADS_1


“Ah,” Aza Ergo menatap malas mendengar ocehannya. “Jadi bukan karena khawatir ya,” kekehnya tiba-tiba.


“Sepertinya jurusmu sangat beresiko. Apa kau baik-baik saja? Kemampuanmu tampak membebanimu.” Hanzo mendekati mereka.


“Mau bagaimana lagi, bukankah setiap jurus memang beresiko?”


“Kalau jurus terlarang, mungkin saja memang beresiko,” Ilhan yang tadi tidak bersuara akhirnya mengikuti pembicaraan mereka.


“Ah, Ilhan sang serigala. Dandananmu berantakan sekali.”


“Cih, aku lebih tua darimu, Aza Ergo,” jengkelnya akan nada tidak hormat petinggi itu. 


“Dan aku lebih berpengalaman darimu.”


“Sialan! Jangan bicara soal posisi di depanku.”


Tapi Aza cuma menanggapinya dengan senyum menyebalkan. Bahkan tangannya ikut mengibaskan rambut ke belakang. Semakin membuat sosoknya kian menjengkelkan di hadapan mereka.


Mungkin, suasana di sana cukup dirundung kedamaian. Berbeda dengan ruang bawah tanah istana bangsa dracula.


Di mana sang Raja, duduk di atas tumpukan mayat yang menggunung di dalam ruangan. Matanya serupa serigala namun berwarna emas menyala. Dan kedua tangannya berlumuran darah.


Parahnya lagi, lantai di sekitar juga digenangi cairan merah dari sosok-sosok yang dibantai tanpa kasihan.


Siapa lagi mereka, kalau bukan para Tetua serta bangsawan yang bersembunyi saat penyerangan cerberus.


“Selamat tinggal, bajingan,” lirihnya lalu melempar obor ke arah tumpukan dracula. Sehingga, sosok-sosok yang telah mati itu pun terbakar di depannya.


Perlahan, tangannya menyentuh pintu gerbang. Melewati pembatas tersebut dan membiarkan ruangan tadi diselimuti api sepenuhnya.


Bagaimanapun juga, kobaran merah menyala itu takkan bisa meninggalkan ruangan tersebut. Mengingat mantra yang ada, bisa saja aktif untuk memadamkan api jika sampai merembes keluar.


Sementara, Tetua yang tadi dijambak Blerda Sirena, kondisinya benar-benar menyedihkan. Tangannya patah akibat kemurkaan Ratunya.


“B-bu-nuh sa-ja aku.”


Tapi, lagi-lagi sosok siren itu mematahkan jarinya. Sehingga pak tua pun meraung keras di sana.


“Di mana makam para Vortha?”


Lambat laun, sorot mata pria lanjut usia itu mencoba menggapai Blerda. Memperhatikan tampang dingin pimpinannya. Benar-benar tiada iba tertoreh di sana.


“Di mana makam para Vortha?” sekarang, nada suaranya sungguh menekan keadaan.


Tak peduli sudah berapa lama waktu berlalu nyatanya pertanyaannya tetap sama. Rumah penghabisan para elf.

__ADS_1


“Sepertinya kau tak berniat mengatakannya,” kesal Blerda akhirnya. Dan tangannya menyentuh kepala pak tua itu sehingga terdengar bunyi aneh yang keras di sana.


Sang Ratu, dengan kemampuannya menghancurkan tulang tengkorak Tetua itu. Cairan merah perlahan mengalir pelan dari lubang-lubang di wajah pak tua. Sebagai tanda kalau dirinya sudah mati di tangannya.


Dan Blerda pun pergi dari sana sambil mengeluarkan kupu-kupunya. Di mana hewan itu hinggap pada tubuh tokoh terhormat bangsa siren sebagai santapan mereka.


Siapa yang akan menyangka, kalau binatang yang indah tampilannya merupakan kanibal sesungguhnya.


Dan di luar pintu gerbang, ternyata Otama sudah menanti kedatangannya.


Selain wangi khas bangsa siren, aroma darah juga terpancar dari sosok pemegang tahta. Membuat bawahannya meneguk ludah kasar terlebih lagi ekspresi Blerda Sirena ternyata sangat mendinginkan tulangnya.


“Heksar?” pak tua pedang rongsokan menyapanya.


Sosok scodeaz (pengendali) level monster itu cuma menatap tenang ke arahnya. Dia duduk di pagar pembatas balkonnya, di mana dirinya tadi sedang memandangi lukisan hancur daerah kekuasaan chimera.


"Empat bangsawan dan tiga Tetua yang tersisa meminta izin untuk mengadakan pertemuan."


“Aku lelah.”


“Ini benar-benar penting demi kelanjutan nasib bangsa kita.”


“Cih!” decihnya. Mau tidak mau, Raja cebol itu meninggalkan posisinya untuk menuruti keinginan petingginya.


Sampai akhirnya langkah Heksar yang dituntun Barca Asera tiba di aula besar dengan banyaknya kursi kosong bawahannya.


“Yang Mulia,” sapa Komandan Ksatria Kerajaan saat melihat kedatangannya.


Walau mengangguk sekilas, raut mukanya jelas tidak bersahabat. Raja chimera, duduk di kursi ujung sebagai tanda kalau dialah pemegang kekuasaan di sana.


“Bisa kita mulai rapatnya?” salah seorang Tetua dengan wajah kelelahan memulai pembicaraan mereka.


“Silakan, Tuan,” Barca Asera pun memberikan izin kepadanya.


“Ini benar-benar insiden terburuk yang pernah ada,” lirihan Tetua itu mendapat lirikan menekan dari Heksar Chimeral. “Dalam sejarah, tak pernah ada yang berani mengusik monster legenda. Sepertinya, informasi kalau pengkhianat itu berasal dari Hadesia memang benar adanya.”


“Hadesia?” Sang Raja menyela tiba-tiba. “Hanya satu murid dari Hadesia! Dan itu cuma Thertera! Dan anda melimpahkan tragedi ini pada mereka yang tidak ada hubungannya?!”


Sontak orang-orang terdiam dibuatnya.


“Yang Muli—”


“Berhenti menyalahkan mereka! Dan berhenti mempercayai ramalan konyol Tetua empusa! Sedikit masalah kalian kaitkan dengan bocah-bocah itu! Kalian tidak terima dengan kematian orang-orang yang dikirim ke Hadesia, jawab!” hardik Heksar tanpa peduli sekelilingnya.


Tapi, memang tak satu pun dari mereka mampu menjawab pertanyaannya. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka memberanikan diri menyela Rajanya.

__ADS_1


 


__ADS_2