
Tak disangka-sangka, ketukan berkumandang di balik pintu sehingga mereka bertiga menoleh ke arah sana.
“Siapa sih? Bukannya Blerda main masuk saja?” keluh Kers berjalan ke pembatas kayu itu. Dibukanya, tanpa firasat apa pun, sampai akhirnya wajah dia yang tak diharapkan muncul tepat di depan matanya.
“R-Revtel?”
Terkesiap. Dua pemuda yang duduk di sofa pun tersentak mendengar nama tergumam.
“Aku sudah lelah mencarimu. Tak kusangka bisa menemukanmu.”
Seketika keringat dingin mengucur di wajah Raja hydra, karena Wakilnya memamerkan tatapan tajam memandangnya. Masuk begitu saja, ke ruangan yang menjadi peristirahatan dirinya.
“B-bagaimana bisa kamu ke sini? Tempat ini tak bisa di datangi siapa pun tanpa izin Blerda.”
“Lalu?” Revtel menyelanya tanpa merasa bersalah. “Aku hanya ingin memastikan, apa yang kau dan Aza sembunyikan. Karena itulah aku mengikutinya. Apa yang salah dengan itu?”
Sungguh raut muka Kers dan Aza berubah menjadi masam. Sama-sama tak menyangka, kalau laki-laki berkacamata ini akan selancang itu.
Petinggi empusa, tak habis pikir akan kecerobohannya. Apa dia memang sebodoh itu? Atau, Revtel yang terlalu hebat dalam menyembunyikan hawa kehadirannya.
“Dan siapa ini? Mata biru, kau aneh,” tatapnya pada Reve Nel Keres.
Rasanya tak biasa. Tubuh pemuda ular itu gemetar hebat sekarang. Masih tak percaya, kalau sosok yang sering di dengarnya sebagai sosok menakutkan benar-benar hadir di depannya. Sensasi ini, lebih parah dari Blerda. Bukan sekadar lubang besar di pandangan. Tapi lebih mirip kegelapan yang menyesakkan.
Deru napas pemuda itu, seketika memburu karena ketakutan.
Petinggi empusa dan Raja hydra pun kaget dibuatnya.
“Hei! Kau baik-baik saja?!” panik Aza sambil memegang lengannya.
Tapi, gugup jelas menerpa assandia (petarung) langka. Tak tahu kenapa, dirinya malah seperti itu. Manik matanya bergetar dibuatnya. Tak sanggup lagi berhadapan dengan Revtel yang hanya diam melihatnya.
“Ayo kita pergi,” Aza pun memapah dirinya.
Namun ini benar-benar di luar dugaan. Wakil Raja Kers, menghalangi arah jalan mereka.
__ADS_1
“Mau ke mana?”
“Minggir.”
“Siapa dia?”
“Kau pikir kau siapa ingin tahu semuanya?” Aza mulai memamerkan ketidak ramahan di dirinya.
Dan senyum tipis pun terpatri di bibir Wakil Raja. “Kupikir, aku pantas mengetahuinya karena dia berhubungan dengan Raja hydra.”
Tiba-tiba Kers pun menyentuh bahu kakak seperguruannya. “Dia hanya bawahan Aza. Biarkan dia lewat, apa kau tak kasihan?”
Lirikan menekan pun tertulis jelas di wajah Revtel. Kers bergidik, namun ia mencoba untuk tetap tenang. Karena bagaimanapun juga, jangan sampai Reve Nel Keres berhadapan dengan wakil dirinya itu.
“Sepertinya kau lupa apa yang diajarkan gurumu. Mata seperti lautan, aroma layaknya batu kristal. Menurutmu, apa artinya itu? Kers.” Raja hydra pun terkejut bukan main karenanya. Terlebih Revtel, mencengkeram lengannya tanpa aba-aba. “Apa yang kau rencanakan? Yang Mulia.”
“Lepaskan aku, bodoh!” namun cengkeraman itu kian erat, sehingga Kers merasakan sakit di lengannya.
Dan dalam kesempatan ini, petinggi empusa pun mencoba membawa Reve secara terburu-buru. Sampai akhirnya pedang panjang dari es yang mendinginkan suasana, terarah tepat ke arah lehernya.
“Mau ke mana? Aza.”
Semua menoleh, ke arah pintu. Terlihat gadis muda dengan gaun kebesarannya menghiasi penampakannya.
“Blerda,” Kers bersyukur karena gadis ini muncul tanpa pemberitahuan.
“Apa yang anda lakukan di sini? Tuan Revtel.”
“Menurutmu, apa?” sosoknya pun melepaskan cengkeraman pada lengan Rajanya, dan juga pedang yang terarah ke leher sang petinggi muda.
“Aku tak ingat pernah mengizinkan siapa pun dari tamu undangan untuk memasuki kawasan ini.”
“Aku hanya ingin bertemu dengan Rajaku, apa yang salah dengan itu?”
Revtel, benar-benar tak peduli akan kerusuhan yang diciptakannya. Sosok idealis serta penjunjung keadilan pun mulai ternoda karena sikap menyebalkannya.
__ADS_1
Dia benar-benar membuat Blerda yang memamerkan tampang tenang, semakin menekan keadaan.
“Jangan melewati batasanmu, Revtel.”
Sosok yang disebutkan pun memiringkan wajahnya. Angkuh, tentu saja. Namun hal tersebut memang pantas disandangnya, karena ia memiliki kemampuan yang menunjangnya.
Kers dan Aza, sama-sama tak bersuara. Lain halnya Reve Nel Keres yang masih bertopang pada petinggi di sebelahnya. Dia benar-benar tak berdaya, akan kehadiran Revtel yang entah kenapa menakuti dirinya.
Mereka, terlarut pada posisi masing-masingnya.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kau, sudah melewati batasanmu, Blerda.” Raja siren sedikit menundukkan kepalanya. Kalimat Revtel, membuat pandangannya serasa akan menusuk sosok di hadapannya. Memang menawan, tapi sensasinya hendak berlari ke dalam kengerian. “Kau dengan lancang mengeksekusi bangsawan bangsa lain. Apa tak pernah terpikirkan olehmu kalau itu akan memicu tindakan yang sama nantinya? Kau membuka jalan, agar bangsa lainnya juga melakukan hal serupa seperti yang kau lakukan. Raja muda yang angkuh dan juga arogan.”
“Revtel!”
Tanpa sadar Kers pun menghardiknya. Tapi, ucapan sang wakil memang tak bisa ditolerir lagi. Mereka hanya tamu, dan kalimatnya malah mengusik tuan rumah. Blerda Sirena, tak pernah dilihatnya sosok itu memamerkan tatapan setajam di pandangan pada siapa pun juga. Bahkan jika Hadesia runtuh di depan matanya, walau darah bangsanya berserakan di penglihatannya, Sirena muda ini pasti tenang-tenang saja.
Dan Revtel, sekarang berhasil mengganggu lambang itu darinya.
“Karena akulah Rajanya, Yang Mulia.”
Terbungkam. Bukan hanya Kers dan Aza, tapi Revtel juga sama. Senyuman yang terukir di bibir rekan seperguruan mereka, bukanlah amarah terpendamnya, melainkan kengerian milik dirinya.
Sensasi pekat seperti ingin mengoyak kulit masing-masingnya, jelas terasa. Semua terpancar dari diri Blerda yang bersuara.
“Jika kau tak bisa menerimanya, silakan angkat senjata dan lawan aku. Peperangan dengan hydra, bukanlah hal yang buruk. Bukankah ini saatnya? Membalaskan kematian Guru Besar yang kau bunuh dengan tanganmu.”
Laksana hujam asam ke dalam hati. Revtel dipaksa diam olehnya, lewat kata-kata yang menderu kesadarannya. Tangan terkepal erat mewakilkan dirinya, seolah-olah gadis itu memang ingin memprovokasinya.
“Hentikan, Blerda. Ocehan apa yang kamu katakan?” dan Kers pun menoleh ke arah rekannya. “Revtel, lebih baik sekarang kamu kembali. Ayo lupakan semua ini seolah-olah tak pernah terjadi.”
“Monster.” Raja hydra pun menatap tak percaya atas apa yang diucapkan Wakil dirinya. “Aku memang membunuhnya. Lalu bagaimana denganmu? Penipu terbesar dalam Hadesia. Kau diam bahkan jika pelayan Dewa tunduk di kakimu. Menikmati tragedi itu, di atas langit tanpa merasa bersalah. Dibandingkan aku ataupun Aza, kau lah yang lebih mengerikan, Blerda. Kaulah yang lebih berdosa.”
Hening beberapa saat menghantui mereka. Di mana gadis yang menjadi Raja sekaligus tuan rumah di sana, bertemu pandang dengan tamunya. Saling melukiskan ekspresi penuh arti di kedua sisinya.
Seolah lupa kalau ada orang lain di sekitar diri masing-masingnya.
__ADS_1
Tapi, entah kenapa senyum tipis layaknya meremehkan tersembur di bibir sang gadis muda. Tak merasa marah atau apa pun atas sindiran yang dilayangkan kakak sepupunya.
“Dan bukankah kau sudah menikmati dosaku? Dirimu, dan juga kalian semua. Aku bernoda, sehingga kita bisa sampai ke titik ini.” Tiba-tiba Blerda pun membalik tubuhnya. Menyentuh udara kosong secara tak biasa. Berjalan pelan seperti hendak mengitari mereka. “Jadi, jangan lagi bicara soal salah dan benar di hadapanku. Karena kita, bukan orang suci untuk menjunjung semua itu.”