
“Baiklah, untuk assandiaku (petarungku) mana mungkin aku menolaknya?”
Dan mereka berdua pun berlalu menuju kediaman Hydragel Kers. Tapi, tak ada siapa pun di dalam ruangan, sehingga Aza dan Reve memilih duduk sebentar.
“Ke mana dia?”
“Mungkin ke sarang rekannya,” dan Aza pun memakan anggur yang ada di atas meja. “Cih! Asam! Apa-apaan seleranya ini?”
Reve hanya tertawa melihat ekspresi petinggi muda yang merasa tertipu akan buah di depannya.
“Dia mengerikan,” kalimatnya sontak membuat pengendali magma menoleh.
“Siapa?”
“Raja hydra.”
“Semua Raja pasti mengerikan,” sambil merebahkan tubuh di ranjang sang Raja ular.
“Apa dalam pertemuan itu semua Raja hadir?”
Aza Ergo yang rebahan pun menggeser tubuhnya untuk menyamping. Sehingga pandangannya, bisa bertemu dengan bocah ular yang berbicara.
“Tidak semuanya.”
“Apa itu berarti Noa Krucoa juga hadir?”
“Oh, si Raja api? Tentu saja. Seperti biasa, pak tua itu bersikap dengan elegan.”
“Begitu?”
Tangan Reve pun terulur untuk mengambil salah satu anggur hijau, dan ia sodorkan pada hewan kesayangannya. Tapi, sang ular tetap saja memalingkan wajah seolah tak suka akan buah yang ada di depannya.
Namun beberapa saat kemudian, sosok yang dinanti masih saja belum hadir. Sehingga salah satunya merasa jengkel karena menunggu terlalu lama.
“Ke mana keparat itu? Kau tunggu di sini, aku akan mencarinya sebentar,” Aza pun pergi meninggalkannya tanpa mendengar persetujuan rekannya.
Langkahnya keluar dari bangunan sayap kanan, berpapasan dengan beberapa pelayan Blerda yang terus memberi hormat padanya.
Jadi, ada di manakah sang Raja hydra? Keberadaannya masih samar di pandangan.
Sampai akhirnya di salah satu ruangan dengan pintu yang terbuka lebar, terdengar gelak tawa berkumandang di dalam sana.
Aza Ergo penasaran. Tanpa keraguan pijakannya pun memasuki tempat di depannya. Tak disangka, rupa-rupanya sedang ada perjamuan besar di dalamnya.
“Aza? Ke mana saja kau? Beltelgeuse sibuk mencarimu,” tanya Reoa. Seketika petinggi muda menjadi bintang utama karena penglihatan orang-orang terarah kepadanya.
“Mana Yang Mulia Kers?”
Entah sosoknya bertanya pada siapa, beberapa mata saling pandang. Dan Logan pun berbaik hati menjawab pertanyaannya.
“Tadi dia memang di sini. Tapi dia sudah kembali ke ruangannya karena kelelahan. Apa kalian tidak bertemu?”
__ADS_1
“Tidak. Kalau begitu, aku permisi dulu.”
“Mau ke mana?” Pertanyaan itu, seketika membuat langkah petinggi muda terhenti. Sorotan lewat sudut matanya menangkap sosok yang berbicara. Sang monster chimera, Heksar Chimeral dialah pelakunya. “Apa kau tidak ingin bergabung dengan kami?”
Aza pun membalik tubuhnya. Tersenyum hangat pada dia yang bersuara. “Aku ingin, tapi aku juga sibuk.”
“Sibuk? Apa yang kau lakukan?”
“Memperbaiki kemampuanku.”
Tawa pelan terukir di bibir Raja chimera. Didekatinya, sosok pemuda yang menatap tenang ke arahnya.
Beberapa orang yang sibuk makan pun memainkan matanya untuk menonton kejadian selanjutnya.
“Kemampuan? Apa kau baik-baik saja? Aza.”
“Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Karena itu aku memilih tidak ikut serta dalam perburuan.”
“Oh, Aza? Kamu sudah di sini?” Beltelgeuse yang baru datang menyela pembicaraan. Memandang bingung, akan kejadian di depannya. “Ada apa ini?”
“Adik seperguruanmu tampaknya kesusahan. Bukankah sebagai teman kamu harus membantunya?”
Kalimat Heksar mengundang kerutan bingung Ksatria Bintang. Ditatapnya Aza Ergo, pemuda bermulut pedas itu hanya diam memperhatikan Heksar Chimeral di depannya.
“Mm ... bagaimana kalau kita makan dulu? Ayo Yang Mulia, Aza, dan Orion. Hidangan ini takkan enak kalau dingin,” Hanzo ikut bersuara.
Berharap suasana yang mulai menarik tali ini masih bisa terkontrol alurnya.
“Cobalah ini Aza. Daging ini enak,” ajak Arjuna yang sedang memakan daging domba. Pemuda itu hanya mengangguk sekilas, dan orang di belakangnya masih saja memperhatikan dirinya.
“Yang Mulia? Berhentilah melihat dirinya. Atau jangan-jangan, anda jatuh cinta padanya?” tanya Hanzo dengan nada syok yang menjengkelkan. Tentu saja kalimatnya berhasil membuat Rajanya mendengus sebal.
Sampai akhirnya langkah dari sosok tak disangka-sangka juga hadir di sana.
“Revtel?” sapa Beltelgeuse.
“Apa Yang Mulia Kers di sini?”
“Tidak. Dia sudah pergi dari tadi.”
“Cih!” Wakil Raja hydra itu pun mendecih tiba-tiba.
Tapi, sebuah senyuman aneh tersungging di bibir laki-laki yang menontonnya.
“Aneh, tadi Aza. Sekarang dirimu. Sepertinya Kers itu memang biang masalah ya.”
Sosok berkacamata itu pun memiringkan wajahnya. “Apa maksud anda?”
“Maksudku? Aku hanya penasaran, kenapa dia begitu dicari-cari padahal keberadaannya masih ada di istana ini. Tapi yang lebih anehnya, kenapa dia berada di sayap kanan? Bukankah para hydra ditempatkan di kawasan yang berbeda?”
Seketika hening mendera. Pertanyaan Heksar Chimeral, berhasil mengusik hati orang-orang di sekitarnya. Mulai merasa aneh akan kebenaran dari kalimatnya.
__ADS_1
“Jadi Yang Mulia Kers tidak bersama dengan para utusan sebangsanya?” Reoa ikut bertanya.
“Bukan hanya dirinya. Aza Ergo juga sama. Dia dan Raja hydra, ada di area sayap kanan yang menjadi hunian Raja siren. Bukankah itu cukup lucu untuk dipikirkan?”
Dan sosok pengendali magma yang masih sibuk memakan apelnya, tak mengatakan apa-apa. Membiarkan beberapa pasang mata menatap curiga ke arahnya.
“Benar juga. Ini, memang cukup aneh kalau dipikirkan,” bahkan Ilhan Leandro sang petinggi manusia juga ikut memberikan pendapatnya. “Ah, maafkan aku, Aza. Aku tidak bermaksud mencurigaimu. Hanya saja—”
Perkataannya terhentikan karena sang petinggi muda melirik ke arahnya.
“Fokus saja pada perburuan. Kuharap tak ada yang mati, karena mulut lebih hebat dari kemampuan,” dan ia pun beranjak dari posisinya sambil diiringi tawa pelan. “Jangan terlalu sibuk memikirkan hal konyol Yang Mulia. Bisa-bisa, tubuhmu malas tumbuh ke atas. Yah, menjadi yang terpendek tak begitu buruk. Kau, bisa bersembunyi di mana saja kan?”
“Aza!” geram Heksar tiba-tiba.
“Woah! Yang Mulia!” pekik kaget Hanzo dan Zarca yang menahan tubuhnya. Kalau mereka terlambat, bisa dipastikan tangan Rajanya itu menjambak rambut sang petinggi empusa.
Tapi, memang Aza Ergo namanya. Dirinya malah tertawa dalam melangkah pergi dari sana. Seolah apa yang diucapkannya bukanlah suatu masalah besar. Walau itu memang kenyataan di depan mata.
“Aku tak tahu apa yang kau rencanakan dengan Kers. Tapi, jika itu merugikan bangsaku, aku pastikan akan membunuhmu,” lirih Revtel tiba-tiba sambil melewatinya.
“Akan kunantikan itu, Yang Mulia.”
Dan lirikan tajam pun disuguhkan Wakil Raja hydra saat langkahnya kian menjauh dari Aza.
“Kau? Dari mana saja?” tanya Kers saat melihat Aza memasuki kamarnya. Tampak Raja ular dan assandia (petarung) langka itu, sedang berbincang sambil memakan sajian di meja tadinya.
“Seharusnya aku yang bertanya. Gara-gara kau, aku terlibat dengan si cebol dan es sialan itu.”
“Wah, Heksar dan Revtel? Kau ke tempat perjamuan?”
“Dan tentu saja itu gara-gara kau.”
Kers malah tertawa. Dan tangannya pun memasukkan lima buah anggur ke dalam mulutnya.
“I ebol mammang ayangan.”
“Apa yang kau ocehkan?” Reve menatap malas melihat wajah makan Raja di depannya.
“Si cebol memang bajingan. Masa hal sepele itu kau tidak paham.”
“Lagi pula, siapa yang bisa paham ocehan anehmu itu? Raja, tapi makan seperti bocah kelaparan,” sindir Reve padanya.
Tapi Kers cuma mengangkat sebelah alisnya dan tetap melanjutkan makan.
“Jadi, apa si ular sudah jadi dibaca ingatannya?”
Pemuda dengan mata layaknya samudera terdalam itu menggeleng. “Near menolaknya. Tiba-tiba dia berbicara padaku agar tak disentuh monster di depannya.”
“Oh, sepertinya, pemakan ini yang jadi sumber masalahnya. Kau membawa ularmu ke tiang gantungan, teman,” kekeh Aza padanya.
Akan tetapi, sepertinya mereka tidak sadar. Kalau sosok mengerikan sedang berada di luar pintu kamar dengan energi yang tak bisa dirasakan siapa pun juga. Mengepal erat tangan pada gagang pintu yang dipegangnya.
__ADS_1