
Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Semarak di Aula Kaca memenuhi pinggiran. Berupa sambutan, dari para ksatria Siren di sepanjang jalanan.
Setiap bangsa-bangsa, memiliki aula pertemuan itu. Tempat tersebut hanya bisa digunakan untuk melakukan perundingan tingkat tinggi bagi semuanya.
Dan Blerda Sirena, melakukan pertemuan untuk pertama kalinya sejak para Raja muda baru menjabat.
Beberapa orang mulai melewati belakang istana, karena jalanan ke tempat tujuan membelah danau sebagai lokasinya. Aula yang di bangun di atas air, dan dikelilingi pagar batu untuk melindunginya.
Mengingat danau Hertas merupakan sarang hewan buas.
Semilir angin menyapa, dan ikut serta menebarkan aroma sosok terhormat dari mereka yang datang.
Ada begitu banyak meja besar dan mewah membentuk huruf U, serta bagian depannya diukir lambang bendera dari masing-masing bangsa. Tentu saja, satu meja dihiasi beberapa kursi mengingat utusan terdiri dari beberapa orang.
Meja pertama dari kanan dihuni oleh bangsa tradio. Namun tak satu pun sosok dari bangsa hantu itu muncul untuk menampakan wajahnya. Walau nyatanya gagak pesan telah disebar ke seluruh penjuru sebagai pengumuman bagi kehadirannya.
Memang sangat sia-sia karena tak ada satu pun yang tahu bangsa itu berada di mana.
Meja kedua melambangkan bendera bangsa naga. Tapi sama seperti tradio, sosok-sosok legendaris dari sana tak satu pun memperlihatkan diri di sini.
Entah apa yang salah karena sampai sekarang kedua bangsa itu enggan memperlihatkan rupanya.
Pada meja ketiga, pesona bangsa gyges telah hadir. Serpens sang tangan kanan Raja Aegayon tersenyum ramah. Rambutnya yang putih serta jubah kebesaran seperti pendeta dengan warna senada terpampang nyata di dirinya.
Di sampingnya ada Reoa Attia. Sang elftraz (penyembuh) yang menatap tenang sosok sekelilingnya.
Sampai akhirnya di sebelahnya terlihat seorang laki-laki yang tampak frustasi. Beltelgeuse Orion. Sosok dengan julukan Ksatria Bintang dan pemilik firasat tertinggi di bahunya. Benar-benar bencana baginya, karena di meja samping ada Hydragel Kers yang terus mengganggunya.
__ADS_1
Menawarkan anggur masam kepadanya. Dan terlebih parahnya lagi, ikut menyuruhnya memegang keranjang buah kedua karena takut kalau Revtel akan membuangnya.
Sungguh petaka baginya karena bersebelahan dengan hydra di meja keempat. Di sebelah Raja hydra ada Hea Alcendia. Juga kesialan untuknya sebab duduk berdampingan bersama pemegang tahta tertinggi bangsa ular. Mengingat sosok Kers, memaksanya agar menumbuhkan tanaman anggur yang berbuah manis di bawah meja.
Itu jelas sangat mustahil. Bisa-bisa, Revtel memberikan tatapan membunuh padanya karena menodai lantai Aula Kaca. Andai bisa memilih, dirinya lebih senang berjarak dari utusan sebangsanya.
Dan Revtel yang duduk tenang, diapit oleh muridnya serta Libra Septor. Melirik sekeliling, memastikan wajah-wajah yang datang. Walau kebanyakan beberapa pasang mata enggan bertemu pandang dengannya.
Di meja kelima terdapatlah sosok dari bangsa dengan bendera berlambang dua wanita bersayap saling memegang harpa.
Siren.
Sosok yang menjadi pengundang dan tuan rumah di dalam pertemuan. Dan perwakilan mereka terdiri dari Tuan Criber, Arjuna serta Huldra. Tentu saja tak lupa Ratu Blerda Sirena. Gadis berusia 22 tahun yang mampu menggetarkan orang-orang di sekitarnya.
Namun pada meja keenam, tampak sosok yang kelelahan dengan ini semua. Barca Asera, pak tua pemilik toko antik atau rongsokan di mata beberapa orang. Seorang petinggi yang sama dengan Hanzo dan juga Zarca Aseral.
Bagaimana mungkin ia tidak jenuh, di sebelahnya ada Heksar Chimeral, Raja chimera yang sibuk menggerutu tak jelas. Tampaknya, dirinya masih menyimpan dendam pada Aza dan Kers karena dikatai pemimpin cebol.
Dan itu juga disaksikan oleh Kagura serta Estes yang menemani sang Raja untuk pergi ke pertemuan.
“Aku tidak melihat Bleria,” sahut Logan tiba-tiba yang duduk di meja kedelapan. Yang Mulia Lucian Brastok hanya diam mendengarkan, tapi tampang kantuk masih saja melekat di wajahnya.
Entah memang sudah hukum alam bagi bangsa dracula untuk sering tidur-tiduran atau bagaimana, tapi petinggi lainnya yaitu Hayato Sarutobi serta Toyotomi Evazio juga memperlihatkan ekspresi yang serupa. Mereka memamerkan muka tidur seperti Sang Raja di sebelahnya.
“Kupikir pertemuan ini akan menegangkan, rupanya tidak,” keluh seseorang tiba-tiba.
Julius Troya yang merupakan petinggi dari bangsa manusia pun menoleh pada rekannya. Terlihat, Ilhan Leandro tak bersemangat dengan pemandangan di depannya. Mereka berada di meja kesembilan, namun harus diakuinya kalau keadaan ini cukup membosankan.
__ADS_1
“Apa anda baik-baik saja, Tuan?” sapa Gandari pada Noa Krucoa yang duduk di meja kesepuluh. Wanita itu begitu sopan dalam bertutur kata. Beda dengan kedua rekannya yang jenuh itu.
“Aku baik-baik saja.”
“Jujur diriku merasa terhormat bisa bertemu dengan pemimpin bangsa kurcaci seperti anda.”
“Memang sangat mengagumkan bisa bertemu petinggi dari bangsa lain sepertimu.”
Walau pak tua bangsa krucoa mengatakan itu, nyatanya ekspresinya tak begitu melukiskan kalimat begitu. Sosoknya yang ditemani Asus Sevka serta Oa lebih memikirkan kenapa pertemuan ini bisa terjadi. Mengingat sang pemimpin siren hanya melukiskan muka tenang di wajahnya.
“Apa bisa pertemuannya kita mulai?” Kagura bersuara. Seketika ucapannya membuat orang-orang di sekitarnya menoleh kepadanya.
Dan Huldra yang menjadi petinggi siren sekaligus tuan rumah di pertemuan menatap tajam dirinya.
“Jadi, kenapa Yang Mulia Blerda Sirena mengadakan pertemuan tingkat tinggi ini? Kuharap, alasannya akan sangat masuk akal sehingga kedatangan tiba-tiba kami tidak sia-sia.”
Jujur Trempusa sangat tak suka mendengar ucapan dari Kagura. Tapi, bagaimanapun perempuan dari bangsanya itu merupakan bangsawan terhormat dari keluarga Masamune. Sehingga membiarkannya tetap bicara juga merupakan pilihan.
“Jaga bicaramu, Nona. Ratu kami tidak mungkin mengadakan pertemuan jika ingin membahas hal yang tidak berguna,” Huldra menyelanya. Jujur ia benci sikap tak sopan petinggi empusa itu. Namun Aza Ergo sebagai pendengaran di tepian hanya memilih tertawa pelan.
“Kers.”
Panggilan tiba-tiba itu pun menyentak pimpinan hydra. Benar-benar pemandangan yang memalukan karena pipinya membengkak dipenuhi buah-buahan kesukaannya.
Sontak saja ada tawa dari beberapa mulut yang merasa lucu dengan ekspresinya. Akan tetapi, hal berbeda diperlihatkan wakil bangsa ular. Sorot matanya menajam dan membuat nyali pimpinannya menciut karenanya. Buru-buru ia kunyah anggurnya sehingga perwakilan dari bangsa manusia bersuara.
“Jujur ini pertama kalinya bagiku bertemu dengan Yang Mulia Raja hydra. Tapi tak kusangka anda ternyata semenarik ini. Aku Ilhan Leandro, petinggi dari bangsa manusia. Salam kenal Yang Mulia, semoga kita bisa akrab ke depannya.”
__ADS_1
Akan tetapi, justru tawa pelan disemburkan Kers kepadanya. “Senang bertemu denganmu, Tuan Ilhan.”