Death Game

Death Game
Saling menyalahkan


__ADS_3

“Gadis gila,” cerca Xavier meliriknya. “Kamu bahkan sudah berani menyebut dirimu seperti itu? Benar juga. Tak ada siren yang tersisa ya. Pantas saja kamu menyingkirkan semua sainganmu. Kamu benar-benar berambisi menjadi Raja.”


Murid lainnya tak ada yang bersuara. Kecuali melemparkan pandangan pada gadis muda hampir sebaya mereka.


Jelas di mata, kalau Blerda bukan orang normal sebenarnya. Dia lebih mirip seperti perempuan licik yang punya seribu satu cara untuk melakukan keinginannya.


“Apa salahnya? Bukankah kita datang ke sini untuk itu?”


Kers pun tiba-tiba bangkit dari duduknya. Berlalu di tengah ocehan Blerda dan Xavier yang menyakitkan kepala.


Sepanjang langkah, retakan di dinding menemani perjalanannya. Begitu juga dengan langit yang tak lagi hujan di atas sana.


Cipratan air yang diakibatkan kakinya, mengenai pakaiannya. Tapi ia tak peduli dan terus menyusuri jalanan. Sampai sosoknya menangkap raga Aza Ergo sedang memeluk nisan di ujung mata.


Tanpa keraguan dihampirinya. Dan ia pun meletakan anggur di tangan sebagai persembahan.


“L.A.E. Jadi, apa kepanjangannya?” tanyanya tiba-tiba. Seolah tak peduli bagaimana suasana hati lawan di depannya.


“Laravell Axadion Ergo.”


“Nama yang bagus. Dia kakakmu? Apa itu berarti namamu juga Azkandia Ergo?”  


“Aza Axadion Ergo.”


Kers pun terdiam. Tangannya terangkat menangkap sehelai daun tua yang gugur. Diperhatikannya dengan lekat, sampai kalimat tak terduga terlontar dari dalam mulutnya.


“Aku turut berduka cita, atas apa yang menimpa kakakmu. Semoga Dewa memberkatinya dan juga dirimu,” selesai mengatakan itu ia usap lembut gundukan tanah itu. “Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”


Aza hanya diam memperhatikannya. Tapi Kers, masih saja melanjutkan ucapannya.


“Anak-anak sedang sibuk membahas bagaimana nasib kita selanjutnya. Sebagai satu-satunya orang yang sudah menjadi petinggi, bagaimana pendapatmu? Aza.”


Tentunya aneh bagi putra Maximus mendengar nama aslinya dipanggil seperti itu. Dia tidak mengatakan apa-apa. Kecuali mengeratkan rangkulan pada nisan kakaknya.


Tampaknya masih sulit baginya lepas dari rasa kehilangan yang menimpa. Perlahan Kers pun bangkit dari duduknya dan menyentuh bahu sang petinggi muda.


“Jangan terlalu lama di luar. Kamu juga butuh istirahat, Aza Ergo.”

__ADS_1


Dan ia pun pergi dari sana. Meninggalkan adik seperguruan yang tak melirihkan apa-apa. Sesampainya di asrama, dirinya disambut dengan histeris Revtel di depannya. Tanpa keraguan dihampirinya kakak sepupunya.


“Revtel! Kamu baik-baik saja?” tanyanya.


Orion dan Trempusa pun mundur setelah gagal menenangkan sang Pangeran.


“Kers, a-aku, aku, aku sudah membunuh semuanya!” paniknya. “Aku sudah membunuh mereka, Kers! Aku sudah membunuh semuanya! Apa yang harus kulakukan?! Aku, a-aku—”


“Sudah berdosa,” timpal Blerda tiba-tiba.


Kers pun menyipitkan mata akan ucapan gadis menyebalkan itu. “Tutup mulutmu, Blerda,” jengkelnya. Dan sosoknya kembali menoleh pada kakak sepupunya. “Tenang Revtel. Semua akan baik-baik saja. Kamu tidak membunuh mereka, kamu hanya mencoba melindungi diri dari mereka. Jadi jangan takut lagi, karena semua akan baik-baik saja.”


“Bagaimana bisa semuanya baik-baik saja?! Kakakku, mereka berdua—” sosoknya pun beruraian air mata.


“Sudah mati,” tekan Kers tiba-tiba. Para pendengar lainnya pun meliriknya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. “Dengar Revtel, berhentilah menangis karena kamu laki-laki. Tak peduli apa pun yang terjadi, kamulah Raja selanjutnya dari bangsa kita.”


Revtel yang terkesiap pun langsung mundur akibat ucapannya. Ia menggeleng seolah tak terima dengan kalimat sang sepupu.


“Aku bukan Raja. Aku hanya anak haram dari hydra. Aku sudah membunuh semuanya, aku-aku tak ingin jadi Raja!” teriaknya.


“Ya. Kamu bisa jadi Raja, Kers. Kamu, benar! Kamulah yang harus jadi Raja! Kamu tidak membunuh semuanya, kamu tidak berdosa. Kamulah yang pantas jadi Raja! A-aku, a-aku—”


“Menyebalkan!” potong Xavier tiba-tiba. “Punya kemampuan tapi hanya bocah penakut dan pecundang. Kau bisa diam tidak? Aku muak mendengar tangisanmu,” kesalnya ikut bersuara.


“Hei!” sela Trempusa dan Orion bersamaan.


“Aku benarkan? Dia cuma penakut dan pecundang. Mana keberanianmu itu? Asal kau tahu saja, kau lah yang sudah menghancurkan Hadesia! Kau dan dia,” tunjuknya ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. “Kalian berdua yang sudah merusak pelatihan dengan seenak hatinya, ingat itu!”


“Kau!” kesal Trempusa sambil menarik kerah baju Xavier Lucifero. “Kau bisa lihat situasi atau tidak?!”


“Tidak! Karena gara-gara mereka aku tidak jadi petinggi! Kalau memang mau menggila, lakukan setelah dapat kekuasaan! Bukannya membunuh guru besar yang bisa membuat kita dapat jabatan tinggi!”


Dan akhirnya, Trempusa pun langsung menghajar pipinya. “Dasar keparat egois!” kesalnya.


“Sudah-sudah, hentikan!” Beltelgeuse pun melerai mereka. Sehingga Xavier pun gagal membalas perbuatan sosok sebangsanya.


Sementara Aza sudah ikut berdiri bersama mereka. Dan tatapannya pun bertemu pandang dengan Revtel yang meliriknya penuh kebencian.

__ADS_1


“K-karena kamu, aku jadi seperti ini,” ucapnya tiba-tiba dan mengejutkan semua. “Seandainya kamu tidak menggila maka aku juga takkan lepas kendali. Karena kamu—”


“Mereka pantas mati.” Suasana pun langsung mendingin sekarang. Dan semua karena kalimat Aza yang tak berperasaan. “Dan kau juga harus sadar diri. Kalau kau terlibat dalam aksi ini. Jika tak terima, kau bisa mati. Aku akan membunuhmu dengan senang hati.”


Tiba-tiba tangannya terangkat dan memamerkan benang merah yang bergerak pelan.


Kers pun langsung merentangkan sebelah tangan dan menoleh pada adik seperguruan. “Mau apa kau? Aza Ergo.”


“Aza Ergo?” Thertera mengulanginya.


“Dia bukan Azkandia. Dia Aza Axadion Ergo. Dia sudah menipu kita semua.”


“Cih, terserahlah!” jengkel Xavier. “Hei, Blerda. Kau bilang rencanamu bisa membuatku jadi petinggi, apa itu benar?” Gadis itu tersenyum mendengarnya. Dan perlahan ia mengangguk sebagai balasan. “Jadi, apa rencanamu?”


“Kalau pun kukatakan, apakah kalian akan setuju?”


Entah kenapa tak ada yang menjawab pertanyaannya. Xavier pun melirik pada rekan-rekan sekelilingnya. “Kalian, apa tak ada niat jadi Raja atau petinggi?” tanyanya.


Thertera pun menggeleng. Begitu pula dengan Lascarzio Hybrida. Tampaknya dua sosok yang sering bersama dan berbagi makanan itu sama saja isi otaknya.


“Cih, terserahlah!” lagi-lagi Xavier merasa kesal.


“Aku ingin membunuh Tetua siren dan empusa.”


Ucapan yang tiba-tiba dilontarkan sosok berambut perak pun mengejutkan semuanya.


“Kau dari bangsa manusia kan? Ada dendam apa kau dengan Tetua dari bangsaku?” tanya Xavier kepadanya.


Tapi, sosok itu tidak mengatakan apa-apa. Memilih diam dan menatap lekat ke arah Blerda.


“Aku mengerti. Jika aku jadi Raja, akan kubantu dirimu membunuh Tetua dari bangsa itu.”


Sontak saja Xavier dan Orion terbelalak mendengarnya.


“Blerda,” sela Trempusa yang tak percaya. “Kamu—”


“Tidak suka? Bukankah kamu juga ditindas oleh tanah airmu?”

__ADS_1


__ADS_2